
♡Happy Reading♡
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
📖
☆¤☆¤☆¤☆¤☆
Sebuah ruangan yang berdominasi warna putih, serta hari yang sudah gelap terlihat di balik jendela dengan tirai yang sedikit di buka. Belum membuat Deandra yang berbaring koma sadarkan diri. Christian masih setia berdiri di luar ruang ICU, dan menatap sosok istrinya di balik kaca pintu, karena ia belum berani melihat keadaan istrinya dari dalam.
"Chris?" Suara Marissa membuat ia menoleh ke asal suara.
"Dad," Lirih Christian saat melihat Stevano berjalan bersampingan dengan ibunya yang berjalan ke arahnya.
"Tenangkan hatimu. Daddy percaya istrimu wanita yang kuat," Ucap Stevano sambil menepuk bahu anaknya pelan.
"Kapan Dad pulang?" Tanya Christian karena ia tahu Daddy nya sedang pergi perjalanan bisnis keluar kota.
"Beberapa menit yang lalu daddy tiba, mendapatkan telpon dari mommy ketika istrimu masuk rumah sakit daddy langsung pulang." Ucap Stevano.
"Kemana Andrew, dan Flora?" Lanjut Stevano.
"Aku menyuruh mereka pulang dad, setelah melihat keadaan istriku. Apalagi dengan kesehatan ayah mertua yang kurang baik." Jawab Christian di angguki Stevano.
__ADS_1
"Bersihkan dirimu, baju dan tanganmu masih ada darah istrimu." Ucap Marissa membuat Christian menatap kedua telapak tangannya. Christian menerima papper bag dari tangan ibunya.
"Daddy, dan mommy pulang saja." Ucap Christian.
"Tapi kamu sendirian disini," Protes Marissa.
"Ada Brian kok, mom. Dia tengah pergi keluar dulu sebentar. " Ucap Christian.
"Ya sudah. Kami pulang dulu, dan besok pagi kami kesini lagi. Kamu segera ganti baju, dan makan makanan yang mommy bawa. Cepat masuk lihat kondisi istrimu, apa kamu tidak ingin melihat anakmu juga." Ucap Marissa.
"Ya, mom." Ucap Christian.
"Ayo sayang kita pulang. Kamu besok saja melihat cucumu waktu besuknya sudah habis," Ajak Marissa.
"Kami pulang dulu kalau ada apa - apa telpon kami, ya" Ucap Stevano.
"Iya dad, kalian hati - hati di jalan." Ucap Christian.
"Ya." Ucap mereka dan berjalan pergi meninggalkan Christian yang masih berdiri di dekat pintu ruangan istrinya.
Ia pun pergi untuk membersihkan dirinya, dan setelah selesai ia akan menemui istrinya di dalam. Christian yang berjalan kembali ke ruangan istrinya melihat Brian yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.
"Brian pulanglah aku yang akan menjaga istriku sendiri," Ucap Christian membiat Brian mendongak dari ponselnya.
"Akan ku temani saja kakak ipar," Ucap Brian.
Brian pun mengela napas pelan saat kondisi ayahnya drop lagi. Kemungkinan ayahnya tidak akan bekerja dulu.
"Baiklah aku pulang. Kalau ka Deandra sadar cepat hubungi kami." Ucap Brian.
"Ya." Ucap Christian. Masuk ke dalam di mana Deandra berada setelah Brian pergi.
Christian duduk di kursi yang berada di samping ranjang Deandra, menatap dalam kondisi istrinya serta memegang tangan Deandra yang bebas dari infusan. Mengecupnya pelan serta menempelkan pada pipinya.
"Sayang, bangunlah. Kamu tidak ingin melihat anak kita? Dia pasti merindukanmu, dan juga aku." Ucap Christian meski tak dapat balasan.
"Maafkan aku telah menyakitimu. Mungkin kata maaf tidak akan bisa menebus kesalahan pria tidak tahu diri ini. Terlalu besar kesalahannya hingga membuat mu menjadi seperti ini. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak akan melukaimu lagi, tapi aku akan selalu menutupnya dengan memberikan kebahagiaan untukmu. Agar celah untuk menyakitimu tidak akan pernah ada. Aku tidak akan sanggup jika hari - hariku tanpa dirimu. Apalagi sudah ada anak di antara kita.
Aku belum memberinya nama, karena aku tahu kamu sudah memiliki nama untuknya. Maka dari itu, cepatlah bangun sayang. Buka matamu kita berdua yang akan menjaga, dan mengasuh anak kita.
Aku dan anak kita sangat membutuhkan mu.
I love you more, dear. " Ucap Christian mendekatkan bibirnya pada bibir pucat Deandra menciumnya lembut, dan lembut dengan air mata yang mengalir.
__ADS_1
☆¤☆¤☆¤☆¤☆
Sudah satu jam yang lalu Christian berdiri di dekat inkubator di mana anaknya yang tengah berbaring di dalamnya. Begitu banyak kesedihan yang terpancar di matanya, ketika melihat anaknya yang harus di rawat intensif dengan selang oksigen yang berada di hidungnya serta sebuah infusan di tangan mungilnya membuat hati Christian sangat sakit dan sesak. Mengelus kaca inkubator dengan tangan gemetarnya, seolah tengah mengelus anaknya yang terlihat rapuh.
"Papi yakin kamu adalah anak yang kuat, dan tidak akan lama lagi kamu pasti akan keluar dari sini.
Papi, dan mami sangat mencintaimu. Cepat sehat sayang agar bisa bertemu dengan ibu mu. Pasti dia sudah sangat merindukanmu." Lirih Christian menekan rasa sesak di hatinya.
"Chris," Panggilan seseorang membuatnya mengusap cepat sudut matanya yang berair. Berbalik pada asal suara, ternyata ibu mertuanya.
"Dokter ingin berbicara denganmu. Pergilah, mommy yang akan menjaga cucu mommy. " Ucap Flora dengan senyum meneduhkan. Christian mengiyakan, dan sebelum pergi dari ruangan anaknya ia menatap kembali anaknya dengan sayang.
Christian berjalan ke ruangan di mana istrinya, tepat ia tiba pintu ruangan istrinya terbuka dengan dokter yang menangani istrinya keluar.
"Mr. Miller saya akan memindahkan istri anda dari ruangan ini, "
"Apa terjadi sesuatu pada istri saya?" Sela Christian datar menatap dokter paruh baya itu meski gurat wajah khawatirnya selalu ada.
"Tidak Mr. justru kondisi istri anda sudah membaik. Maka dari itu, pagi ini saya akan memindahkannya ke ruang rawat inap. Saya harap tidak akan lama lagi istri anda akan segera sadar." Jelas Claudya sambil tersenyum menenangkan.
"Pindahkan istri saya ke ruangan dengan fasilitas yang terbaik." Ucap Christian datar yang di iyakan dokter Claudya.
Christian yang hendak pergi untuk mengurus administrasinya terhenti, ketika orang tuanya sudah datang, dan akan menggantikannya untuk mengatasi semuanya. Hingga Deandra yang di pindahkan ruangan Christian terus mengikuti dengan tangannya yang tidak pernah lepas untuk menggenggam tangan istrinya. Sampai di mana Deandra di tempatkan.
Ruangan VVIP yang sangat mewah membuat Christian bangga, dan bersyukur pada orang tuanya yang tahu keinginannya. Soal biaya yang di keluarkan tidak membuatnya masalah berapa pun itu, asal membuat istrinya nyaman dan akan segera membuka matanya.
Pintu ruangan terbuka dan nampaklah kedua orang tuanya yang datang, serta ibu mertuanya.
"Chris mommy membawakan sarapan untukmu, dan akan mommy lihat kamu makan. Karena mommy tahu kamu tidak makan makanan yang mommy bawa semalam." Ucap Marissa sambil melotot tajam anaknya membuat Christian meringis, karena semalam dirinya kelelahan membuatnya lupa untuk makan makanan dari ibunya, dan malah tertidur di samping ranjang istrinya.
"Daddy tidak ke kantor?" Tanya Christian mengalihkan pembicaraan karena dengan tidak begitu ibunya akan mencecar dia terus menerus.
"Setelah ini daddy akan pergi ke kantor, kamu temani saja istrimu biar urusan kantor daddy yang handle sementara." Ucap Stevano sambil melihat istrinya yang memberikan sarapan untuk Christian sambil melotot membuat Christian menerimanya pasrah, ia terkekeh geli melihat anak dan istrinya.
"Jaga kesehatanmu Chris. Jangan sampai Dendra sadar dan malah kamu yang menggantikannya di sana karena terlalu kelelahan dan kurang asupan." Ucap Stevano menasehatinya, dan pamit pergi untuk segera berangkat ke kantor. Serta Flora yang akan kembali pulang untuk menjaga suaminya di rumah setelah ia menata baju Deandra, menantunya, dan cucunya yang tadi ia bawa ke rumah sakit.
Tinggalah Marissa, dan Christian yang berada di ruangan itu menemani Deandra yang masih belum sadar.
☆¤☆¤☆¤☆¤☆
Next Chapter....
__ADS_1
Vote⭐, like👍 and follownya✅ say.
See U 😉