Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 39


__ADS_3

Selamat BerpuasašŸ™


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


ā™”Happy Readingā™”


*****


CHRISTIAN


"DEANDRA!!" suara teriakan dari arah depan mengalihkan pandangan dari rekan bisnisku. Membuatku terkejut, dan terlihat orang-orang di dalam ruangan ini seperti mengerumuni sesorang. Ku sadari sebuah teriakan yang meneriaki nama Deandra, wanitaku. Segera berlari ke arah depan tanpa pamit terdahulu pada rekanku. Kini pikiranku hanya tertuju pada Deandra semoga ia baik-baik saja.


"Apa yang terjadi?" khawatirku ketika melihat Deandra yang sudah tidak sadarkan diri dengan kepala di pangkuan salah satu teman wanitanya.


"Saya tidak tahu Pak. Tiba-tiba terjadi begitu saja," ucap karyawanku yang bernama Emilly.


"Theo segera panggilkan dokter ke kamarku," titahku tanpa melihatnya. Mengangkat Deandra bride style berjalan pergi meninggalkan pesta.


"Marco kau atasi semuanya," lanjutku dengan titah pada Marco.


"Percayakan padaku," balasnya terakhir ku dengar sebelum aku benar-benar berlalu dari sana.


Membaringkan Deandra pelan, melepaskan sepatu high heelsnya serta menyelimuti sebatas dada. Duduk di sisi kasur di sampingnya sambil memegang tangan kirinya, membawa pada bibir untuk ku ciumi.


"Maafkan aku Sweety tidak menjagamu. Harusnya aku tidak meninggalkanmu dengan kemarahan. Egoku membuatku menyesal telah membuatmu seperti ini, bangunlah sayang, " ucapku mengusap-usap tangannya.


Terdiam terpaku ketika melihat rona merah-merah pada tangan Deandra. Ku lihat tangan kanannya juga sama seperti itu. Leher dan wajahnya sama terdapat bintik-bintik merah namun tidak separah lengannya.


Ting...!! Tong...!!


Suara bell membuatku berhenti menelusuri wajah Deandra. berjalan ke arah pintu yang ternyata Theo bersama seorang dokter ketika pintu ku buka.


"Cepat masuk," ucapku sebelum Theo akan berbicara.


Melihat dokter yang sedang menjalankan tugasnya, memeriksa Deandra yang masih belum sadar juga.


"Kirimkan aku rekaman cctv berada di ballroom. Apa yang terjadi pada Deandra," titahku pada Theo yang berdiri di belakangku.

__ADS_1


"Baik, Tuan" jawab Theo patuh.


"Bagaiamana keadaan calon istri saya?" tanyaku ketika dokter sudah selesai memeriksa Deandra.


"Apa sebelumnya pasien memiliki riwayat alergi pada sesuatu?" tanya balik dokter padaku membuatku terdiam. Entah harus ku jawab apa?! Setahuku Deandra tidak memilki alergi apapun baik itu makanan atau hal lainnya, batinku.


Ting...!! Tong...!!


Suara bell membuyarkan lamunanku mengalihkan ke pada pintu yang sudah di bukakan oleh Theo.


"Tuan. Teman-teman Nona di luar ingin bertemu dengan Nona," ucap Theo.


"Suruh mereka masuk," titahku datar.


"Baik Tuan," ucapnya patuh.


"Maaf Pak sebelumnya. Bagaimana dengan keadaan Deandra? " tanya salah satu teman Deandra.


"Masih belum sadarkan diri, " ucapku tanpa melihatnya. Masih betah memandang Deandra.


"Keadaan pasien baik-baik saja. Hanya saja pasien memiliki alergi terhadap sesuatu. Apa kalian tahu terakhir kali pasien berkontak dengan apa?" tanya dokter pada karyawan-karyawanku.


"Masa, iya. Tangannya yang sudah di cium vokalis band bisa membuatnya alergi," ucap polos teman Deandra, Joya. Membuatku menatap tajam padanya.


"I....tu Pak. Maksud teman saya Deandra di beri bunga oleh vokalis band. Ciuman tangan hanya tanda terima kasihnya," jelas Emilly sambil menyenggol lengan temannya.


"Ahh! Ternyata pasien Deandra memiliki riwayat alergi terhadap serbuk bunga. Sepertinya serbuk bunganya terhirup, hingga membuat pasien pingsan, dan timbul bintik-bintik merah. Kalau begitu, saya akan resepkan obat alerginya, dan harus segera di tebus pada apotek terdekat, " jelas dokter malah membuatku tersenyum miris. Karena ku sadari dulu hingga sekarang, aku memang tidak pernah memberikannya satu pun bunga. Ketika Deandra marah pun, selalu ku diami hingga ia yang selalu mengalah betapa egoisnya aku.


"Theo antar kembali dokter serta kau tebus obatnya ke apotek sebelum kembali lagi," ucapku datar tidak secara langsung mengusir mereka semua.


Kini tinggal aku berdua bersama Deandra ketika mereka sudah pergi, dan pintu tertutup rapat. Mengusap-usap kepalanya lembut serta mencium keningnya lembut. Pergerakan dari kedua matanya yang terpejam membuatku mengangkat kepala, duduk tegak.


"Kamu sudah bangun, sayang" ucapku ketika melihat kedua matanya sudah terbuka sepenuhnya.


"Apa ada yang sakit?" tanyaku khawatir.


"Tidak ada. Aku kenapa?" lirihnya sambil memegang kepala.


"Kamu pingsan sayang," ucapku sambil membantunya untuk duduk bersandar pada dashboard ranjang.


"Kamu alergi terhadap bunga makanya kamu pingsan, dan memiliki rona-rona merah ini" tunjukku pada lengan dan wajahnya.


"Hemmm, sudah ku duga." ucap Deandra tanpa mengalihkan pandangan dari lengannya.


"Bisa tolong ambilkan kotak warna biru di koperku," lanjutnya yang sudah menatap ke arahku.


"Tentu Sweety," ucapku berjalan ke arah kopernya berada.


"Ini," ucapku sambil memberikan kotak warna biru pada pangkuannya.


Melihatnya mengambil sebuah obat, dan meminumnya dengan segelas air, yang sudah berada di sampingnya di atas nakas aku berkata, "Apa itu obat khusus alergimu," tunjukku.


"Hemmm, " gumamnya.


"Aku tidak pernah tahu kamu alergi terhadap bunga," ucapku melihat sedang mengoleskan cream pada lengannya.

__ADS_1


"Wajar jika kamu tidak tahu. Lagian kamu memang sama sekali tidak pernah memberiku bunga,kan? Makanya kamu tidak tahu kalau aku alergi terhadap bunga" ucapnya menunduk sambil meniupi lengan yang sudah ia beri cream alerginya.


Mendengar ucapannya membuatku menjadi pria paling brengsek, yang tidak mengetahui hal sebesar ini.


"Aku menyesal sejak dulu sikap ku yang terlalu dingin menjadikan aku kurang memperhatikan mu. Aku janji saat ini aku akan mengetahui hal apa saja yang tidak boleh, dan juga hal apa saja yang kamu sukai. Apa ada suatu hal lagi yang bisa membuatmu alergi?" tanyaku setelah menjanjikan hal padanya.


"Tidak ada. Hanya bunga saja, itu pun bunga mawar saja yang tidak ku sukai, " ucapnya menatapku.


Sebuah suara bunyi dari perut Deandra membuatku tersenyum lebar, apalagi melihatnya menunduk malu.


"Berbaringlah kembali sambil menungguku memesan makan malam untukmu," ucapku sambil membantunya berbaring serta mencium keningnya lama, dan berlalu berjalan ke arah pintu keluar.


*****


"Apa kau sudah makan," ucap Deandra ketika makanan sudah tiba dengan ia menyuap makanan pada mulutnya. Ku gelengkan kepala sambil mengusap noda di sisi bibirnya.


"Belum. Nanti saja aku akan makan," ucapku membuat ia berhenti menyuap. Mengangkat alis ketika ia menyodorkan sendok berisi makanannya.


"Buka mulutmu. Jangan menunda makan sampai harus kamu merasakan lapar terlebih dahulu," ucapnya membuatku tersenyum merekah, dan segera melahap suapan darinya. Kami pun saling menyuapi bergantian membuatku sangat senang dengan debar kebahagian di hatiku.


Setelah usai dengan acara makan malam berdua yang saling suap-menyuap. Kami sudah berbagi ranjang untuk tidur, karena jam sudah menunjukkan tengah malam. Sebelumnya kita sempat mengobrol tentang pekerjaan, juga tentang penikahan yang sebentar lagi akan tiba menunggu waktu satu bulan lagi dari sekarang.


Memeluknya yang sudah berada di pelukanku sambil mengusap-usap punggungnya lembut.


"Hemmm, aku ngantuk sekali" ucap Deandra lirih membuatku memeluknya erat.


"Tidurlah sayang, aku akan tetap terjaga sampai kamu menutup matamu," ucapku menciumi puncak kepalanya.


"Kamu juga harus segera tidur, kita akan pulang besok ke New York," ucapnya mendongakkan kepala menatap ke arahku. Selanjutnya yang terjadi membuatku menegang sesaat. Ketika Deandra menarik tengku, dan mencium bibirku sangat lembut membuatku terbuai untuk membalasnya. Membalas ciumannya sambil ku pejamkan mataku. Saling memagut, ******* serta menghisap. Ku gigit-gigit kecil bibir mungilnya yang selalu membuat ku gemas untuk melahapya habis Heran tidak ada pergerakan dari Deandra, membuka mata dan melepaskan tautan kami. Melongo ketika Deandra sudah tertidur pulas membuatku terkekeh pelan dengan tindakannya yang selalu saja membuatku terkejut.


"I Love You, Sweety. You're Mine." ucapku sambil ******* bibirnya, dan memejamkan mata untuk menyusulnya tidur.


*****


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Next Chapter....


Like, Follow, and Vote nya Guys !!!

__ADS_1


See UšŸ˜‰


__ADS_2