
♡Happy Reading♡
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
📖
*****
Deandra, dan Christian sudah kembali masuk kantor. Setelah 4 hari yang lalu, mereka mengadakan pesta pernikahan yang mewah, dan saat ini sudah waktu nya mereka kembali bekerja. Suasana berbeda ketika Deandra mulai masuk kantor, para karyawan memberi salam hormat padanya sebagai seorang nyonya pemilik perusahaan. Deandra pun di buat tersenyum canggung.
Apalagi dengan lengan Christian yang bertengger merangkul pinggangnya. Sejak mereka turun dari mobil tidak pernah lepas sampai mereka masuk lift khusus pemilik perusahan. Lantai di mana tempatnya bekerja membuat Deandra harus berpisah lebih dulu, ia berjalan keluar lift. Setelah Christian melepasnya dengan ciuman di keningnya.
"Selamat datang kembali Mrs. Miller" sambutan dari teman-teman kantornya.
"Panggil aku seperti biasanya saja." ucap Deandra sambil mengibaskan tangannya.
"Bagaimana bisa begitu, kamu sekarang sudah menjadi istri dari pemilik perusahaan ini. Aku dan lainnya merasa tidak enak, jika memanggil mu seperti biasanya." ucap Joya di angguki yang lainnya.
"Panggil saya seperti biasanya sajalah. Lagian,
saya tidak mempermasalahkannya." ucap Deandra.
"Bagaimana kalau kalian panggil saya Mrs. Miller, jika kita masih di jam kerja saja. "saran Deandra tidak ingin membuat semuanya ribet.
"Baiklah." ucap Emilly.
"Ya, aku setuju." ucap Joya dengan Jack, dan Tommy.
"Ok, lebih baik kita ke kubikel masing - masing, jam kerja sudah mulai juga. "ucap Deandra sambil berjalan ke arah mejanya.
"Berita hot news nih! Seorang pengusaha tampan sekaligus pengacara hebat, yang akhir -akhir ini kesuksessannya menjadi bahan buah bibir semua orang. Di kabarkan juga menjadi saingan tempat kita kerja.
__ADS_1
Apalagi membuat kalangan wanita sosialita yang mencoba mendekati pria tampan ini semakin gencar." heboh Emilly yang tengah melihat ponselnya. Joya yang mendengar itu menggeser kursinya pada kubikel Emilly ikut nimbrung.
"Deandra, suami kamu punya saingannya, tuh. Kalau dua orang pengusaha tampan, dan muda di sejajarkan. Bakalan membuat hasrat wanita lajang semakin berkobar. Tapi sayangnya, para wanita harus patah hati ketika si bos menikah."
"Menurutku pria ini sangat misterius."ucap Emilly.
"Maksudmu?" tanya Joya.
"Kehidupan pribadinya sangat tertutup." ucap Emilly.
"Tapi, bagaimana dengas statusnya? Lajang, kah atau sudah berkeluarga?" ucap Joya.
"Dalam informasi di sini tertulis ia masih lajang. Tidak pernah di kabarkan dekat dengan seorang wanita manapun." ucap Emilly.
"Pasti type wanitanya sangat tinggi. Apalah aku yang wanita biasa - biasa ini tidak akan bisa mengharapkan pria sesempurna itu." keluh Joya.
"Kenapa tidak? Menurutku di dunia ini tidak ada orang yang sesempurna itu. Belum tentu orang yang terlihat sempurna ia tidak memiliki cacat sedikit pun, mau itu fisiknya atau sifatnya. Celah sedikit pun, itu tidak akan bisa di sebut sempurna." sahut Deandra di kursinya yang tiba - tiba menghadap ke arah mereka.
"Hmm...benar juga." ucap Emilly serta anggukkan dari Joya.
"Cepat kembali pada tempatmu Joya, Pak Marco sedang melihat kalian berdua." ucapan Deandra membuat mereka berdua langsung menatap ke arah ruangan berdinding kaca, yang ternyata si manager menatap mereka tajam. Joya pun segera kembali ke kubikelnya dan menyibukkan diri.
Ponsel di mejanya berdering, Deandra pun mengangkatnya ketika Christian orang yang meneleponnya.
"Ya hallo?" jawab Deandra.
"Sweety, bisakah kamu datang ke ruanganku? Ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu," ucap Christian di sebrang sana.
"Ke......"
"Hmm... tunggu 5 menit lagi, aku selesaikan pekerjaanku dulu." ucap Deandra dan memutuskan sambungannya.
"Hal apa yang ingin di bicarakan Christian? Jam istirahat sebentar lagi tiba." gumamnya sambil menatap ke arah jam di layar komputernya.
Deandra pun segera mengoreksi data laporan hasil kerja team- nya. Sebelum ia berikan langsung pada Christian, suaminya.
Christian yang tengah membubuhkan tanda tangan pada sebuah kertas dokumen mendengar pintu ruangannya di ketuk.
"Masuk." ucapnya, dan merapihkan serta menyimpan dokumen yang sudah ia kerjakan. Ketika tahu, istrinya lah yang datang. Berdiri serta menghampiri istrinya, dan berjalan ke arah sofa besar yang empuk berada di ruangannya.
"Ada apa Chris?" tanya Deandra ketika mereka sudah duduk, lebih tepatnya Deandra di dudukkan di pangkuan Christian tanpa ada protes sama sekali.
"Sweety, aku ingin membicarakan tentang honeymoon kita." ucap Christian sambil memainkan jari Deandra yang terdapat cincin perkawinan mereka.
"Kira - kira kamu ingin berbulan madu ke mana Sweety? Paris negara romantis yang cocok untuk kita yang pengantin baru ini, atau kita ke negara Eropa seperti Barcelona, Zurich, Salzburg. Kamu ingin kemana Sweety? " oceh Christian meminta pendapat.
"Bagaimana jika kita ke Korea pa......."
"Tidak Sweety, negara itu tidak ada dalam list kita untuk honeymoon. Terlalu bahaya untuk bisa menjaga mata mu Sweety. Aku tahu, dari dulu kamu masih suka pria - pria cantik di sana." potong Christian cepat.
"Apa maksudmu? Memberi ku pilihan, tapi tidak menyetujui." dengus Deandra kesal dengan Christian yang plin plan.
"Bukan begitu Sweety. Aku tidak mau bulan madu kita terganggu, dengan kamu nanti minta konser idol mu itu." ucap Christian.
__ADS_1
"Terserah kamu mau di mana saja. Bila perlu pergi saja sendiri," ucap Deandra sambil mencubit pipi Christian, yang di cubit tidak merasa di sakit. Malah ia rasa, itu adalah elusan.
"Jangan marah Sweety, maafkan aku, hm? Aku akan terima usulan kamu untuk kita pergi honeymoon kemana pun, kecuali negara itu. Dari pada kita tidak jadi berbulan madunya." ucap Christian mengalah.
"Ok. Nanti akan aku pikirkan ke mana kita akan pergi. Berapa lama kita akan berbulan madu?" tanya Deandra.
"Dua minggu atau sebulan juga bisa, akan aku luangkan waktu untuk kita berdua Sweety, lagian aku bosnya." ucap Christian sombong yang mendapatkan cubitan dari Deandra lagi, tapi kali ini tepat di pinggang yang membuatnya meringis kecil.
"Sebaiknya aku kembali ke ruangan lagi, waktu istirahat sudah tiba." ucap Deandra sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Justru itu, aku menyuruh mu ke sini untuk sekalian kita pergi istirahat bersama." ucap Christian.
Sebelum menurunkan Deandra dari pangkuannya, ia terlebih dahulu mencium istrinya dengan lembut. Deandra mengusap noda kecil lipstik di bibir Christian pelan, setelah mereka melepas pagutannya.
"Kita makan siang di mana Sweety?" tanya Christian sambil merangkul pinggang Deandra. Serta membuka pintu ruangannya.
"Aku membawa bekal makan siang Chris, dan harus kita ambil dulu di mobil, tadi aku meninggalkannya di sana" ucap Deandra.
"Tidak perlu, Theo ambilkan kotak bekal di mobilku ini kuncinya." ucap Christian berbalik arah menghadap sekertarisnya yang hendak pergi juga.
"Nanti saya antarkan ke mana, Pak?"
"Bawa ke kantin saja Theo." sela Deandra cepat membuat Christian mengernyitkan kening pada istrinya. Theo yang mendengar pun menatap Deandra, bukan karena apa-apa, bos nya ini tidak pernah pergi ke kanton perusahaannya sendiri. Bukan karena kotor atau kecil, bosnya ini tidak terlalu suka keramaian.
"Sweety, kenapa tidak di ruanganku saja?" usul Christian.
"Tidak! Kita makan siang di kantin." ucap Deandra tanpa menerima penolakan.
"Baiklah. Aku ikut apa kata mu, Sweety." pasrah Christian menatap Deandra lembut.
Si bos sudah menjadi budak cinta istrinya, batin Theo yang melihat bos nya pasrah-pasrah saja.
"Cepat kau antarkan ke kantin Theo." ucapan Christian membuyarkan lamunannya.
"Baik." ucapnya, dan segera berlalu dari sana dengan memasuki lift yang berbeda dari atasannya.
*****
.
.
.
.
.
.
*Next Chapter.....
Like Follow, and Vote Guys!!
__ADS_1
😉*