Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 75


__ADS_3

♡Happy Reading♡


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


📖


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


"Hmmm," gumam Deandra yang sedang melahap rujak begitu nikmatnya. Berbeda dengan semua orang yang di ruang tamu. Meringis ketika Deandra melahap mangga yang belum matang itu.


"Chris, aaa...." ucap Deandra sambil menyodorkan sepotong buah mangga ke hadapan Christian dengan senyumannya.


"Tidak usah sayang, buat kamu saja." tolak Christian membuat Deandra yang tadi tersenyum berubah murung dengan mata berkaca - kaca. Christian yang melihatnya pun gelagapan, serta mendapatkan pelototan dari kedua orangtuanya, dan mertuanya juga tak lupa juga dengan Brian.


"Baiklah sweety," pasrah Christian yang langsung membuat wajah Deandra cerah kembali.


"Aaaaa......" kata Deandra. Christian pun menelan ludahnya kasar sebelum membuka mulutnya.


Ia pun mengepalkan tangannya saat buah mangga yang asam itu masuk ke dalam mulutnya.


"Enak, kan?" tanya Deandra.


"Ya, enak sayang." jawab Christian sambil tersenyum dengan kepalan tangannya yang semakin mengerat.


"Kalau begitu makan lagi," ucap Deandra sambil menyodorkan buah apelnya dengan tatapan berharapnya. Mau tidak mau Christian membuka mulutnya kembali, hanya saja kali ini rasanya tidak asam, melainkan rasanya aneh.


"Brian?" panggil Deandra saat melihat adiknya yang akan beranjak dari sofa. Brian pun sontak menghentikan langkahnya saat suara memanggilnya.

__ADS_1


"Iya kak?" sahut Brian menatap kakaknya heran.


"Makanlah. Aku tahu kamu ingin, kan? Sedari tadi tidak berhenti menatap rujak kakak," ucap Deandra menyerahkan mangkuk rujak pada Brian.


Sebelum Brian berkata Deandra sudah menyelanya.


"Jangan menolak. Kakak sudah berbaik hati memberikannya padamu, loh? Habiskan saja semuanya, lagian kakak sudah kenyang." ucap Deandra lagi sambil mengusap perutnya.


"Ah! Jika kalian mau juga....." belum selesai Deandra berkata Andrew sudah menyelanya cepat.


"Tidak usah sayang, berikan saja semua pada Brian. Kasihan dia sudah dari tadi menginginkannya," ucap Andrew.


"Dad!!" ucap Brian kesal. Dirinya di korbankan oleh Daddynya sendiri.


"Brian!!" kini giliran Flora yang memplototi anaknya, dengan gerakan dagu untuk menyuruh Brian mengambil mangkuknya cepat.


Posisi Christian yang berada di sebelah Deandra memundurkan badannya. Saat tatapan Christian dan Brian bertemu.


"Mobil sport terbaru di tanganmu." ucap Christian tanpa mengeluarkan suaranya. Brian yang mengerti apa maksudnya tanpa berpikir lagi segera mengambil mangkuk rujak di tangan kakaknya.


"Kakak ipar memang yang terbaik." ucap Brian dengan mulut yang terus melahap rujak tanpa henti. Meski rasanya ingin mati, tapi demi mobil terbaru dari kakak iparnya. Ia rela memakan habis rujaknya.


Para orangtua hanya bisa meringis melihat Brian yang sudah menghabiskan rujaknya.


Poor Brian.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


"Iya mom," ucap Deandra.


"Kenapa tidak menginap saja di sini, sih. Lagian hari sebentar lagi akan malam," ucap Flora masih terus membujuk Deandra untuk menginap.


"Tidak sekarang mom. Besok Christian sudah mulai bekerja kembali," ucap Deandra.


"Sudah - sudah kalau kalian terus berdebat yang ada waktu sudah malam." lerai Andrew menghentikan perdebatan istri, dan anaknya.


"Chris pamit dulu dad. Kapan - kapan kalianlah berkunjung ke rumah. " ucap Christian.


"Tentu." ucap Andrew.


"Jangan terlalu lelah, ingat dengan kandunganmu." lanjut Andrew kepada Deandra sambil mengelus kepala anaknya.


"Iya dad," ucap Deandra.


"Jaga istrimu Chris. Jangan buat dia kelelahan!!" ucap Andrew menatap Christian penuh arti.


"Pasti." ucap Christian dengan mantap meski sebagian dirinya meronta - ronta.


"Ayo sweety," ucap Christian setelah membukakan pintu bagian penumpang.

__ADS_1


"Bye dad, mom." ucap Deandra setelah mencium kedua pipi orang tuanya. Deandra pun masuk mobil dengan telapak tangan Christian yang berada di atas kepala istrinya agar tidak terbentur dengan sisi atas pintu mobilnya. Menutup pintu penumpang dan memberikan anggukan sopan kepada mertuanya. Kemudian ia berjalan masuk, dan mulai menjalankan mobilnya menjauh dari kediaman Kartawijaya.


Sepasang suami istri paruh baya segera masuk kedalam rumah, setelah mobil anak, dan menantunya sudah tidak terlihat lagi. Berjalan menaiki undakan tangga dan pergi ke kamar mereka, tapi sebelum pintu kamar terbuka sebuah suara memanggil mereka.


"Mom, dad, " ucap Brian lirih. Andrew, dan Flora menatap Brian sontak mereka segera menghampiri Brian dengan wajahnya yang sudah pucat.


"Brian, kamu kenapa nak?" tanya Flora menangkup wajah Brian.


"Mom, argghh....." ringis Brian yang berjalan masuk kembali kedalam kamarnya dengan tangan yang terus memegang perutnya. Flora, dan Andrew segera masuk ke dalam kamar Brian, tapi pintu kamar mandi sudah tertutup keras.


"Honey, sebaiknya kamu telpon dokter. Aku akan membuatkan teh hangat untuk Brian, sepertinya ia sakit perut." ucap Flora berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban suaminya.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


"Bagaimana dengan Brian, John?" tanya Flora khawatir saat Brian sudah selesai di periksa.


"Brian sudah tidak apa - apa setelah meminum obatnya tadi. Untungnya cepat di tangani sehingga Brian tidak perlu di opname. Untuk saat ini, biarkan Brian istirahat dulu agar cepat pulih. Obatnya harus di minum dengan teratur." jelas dokter pria paruh baya, tak lain adalah sahabat Andrew.


"Kalau begitu aku permisi," ucap John.


"Terima kasih John sudah membantuku," ucap Andrew sambil mengantar John keluar dari kamar.


"Tidak perlu sungkan. Kita, kan sahabatan sudah lama. Hal seperti ini, aku tidak keberatan." ucap John sambil menepuk pundak Andrew.


"Terima kasih," ucap Andrew.


"Iya." ucap John.


"Apa yang di makan Brian sehingga sakit perut seperti itu?" lanjut John bertanya.


"Dia makan makanan pedas, dan asam atas permintaan kakaknya." ucap Andrew.


"Hmmm?" gumam John mengangkat sebelah alisnya heran.


"Putriku Deandra tengah hamil, dan permintaan ngidamnya sangat aneh." jelas Andrew.


"Ah!! Selamat kalau begitu, kau akan menjadi kakek." ucap John.


"Bersabarlah, wanita hamil memang seperti itu. Harap di maklum saja." lanjut John.


"Iya. Kau benar." ucap Andrew.


"Kalau begitu aku pergi," ucap John yang langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, terima kasih sudah datang ke sini." ucap Andrew yang di balas suara klakson oleh John. Melihat mobil sahabatnya sudah tidak terlihat lagi, Andrew kembali masuk ke dalam rumahnya.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


Next Chapter......

__ADS_1


Vote, like, and Follow!!


See U 😉


__ADS_2