Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 92


__ADS_3

♡Happy Reading♡


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


📖


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


Sudah tiga hari berlalu Deandra dalam kondisi yang masih sama belum sadarkan diri. Membuat Christian yang setia menunggu masih di rundung belenggu diri, dan hatinya. Namun sekarang ini, ia sudah mulai tegar menghadapi ujian yang menyakitkan dalam hidupnya. Masih ada istri, dan anaknya yang membuatnya harus tetap waras.


Sebuah ketukkan membuat Marissa yang berada di ruangan menunggu menantunya menatap ke arah pintu, dan seorang Dokter serta satu orang perawat memasuki ruangan.


"Permisi, saya akan periksa dulu pasiennya." Ucap seorang Dokter pria muda membuat Christian yang tengah duduk di kursi langsung bangkit, dan menatap tajam Dokter pria itu.


"Di mana Dokter yang biasanya?" Tanya Christian dengan nada datarnya, karena bukan Dokter Claudya yang biasanya memeriksa istrinya, kini malah Dokter pria yang berada di hadapannya, dan itu membuatnya kesal.


Kesal karena cemburu jika istrinya harus di sentuh pria lain walaupun itu Dokter sekalipun.


"Maaf Mr, karena sekarang Dokter Claudya tengah melakukan operasi maka saya yang ambil alih untuk menggantikan beliau." Tutur Dokter pria itu ramah.


"Silahkan Dokter jika anda akan memeriksa menantu saya," Sela Marissa ketika anaknya hendak protes.


"Bagaimana dengan kondisi menantu saya, Dok? Kenapa sampai sekarang belum sadar juga, ya?" Tanya Marissa cemas.


"Keadaan pasien sudah mulai membaik. Sebagai keluarganya kalian bisa melakukan interaksi dengan pasien agar merangsang otaknya. Walaupun pasien masih koma, tapi apa yang kita katakan pasien akan mendengarnya tergantung pada pasien yang memiliki keinginan untuk bangun." Jelas Dokter Renzo dengan name tag di jas putihnya.


"Apa mungkin dengan keberadaan bayinya di sampingnya menantu saya akan segera bangun." Ucap Marissa menatap Deandra sedih.


"Apa bisa anak saya di pertemukan dengan ibunya, mungkin dengan itu istri saya bisa merasakan keberadaan anak kita hingga membuatnya tersadar dari koma." Ucap Christian meski nada bicaranya datar. Namun sebuah harapan dapat terdengar dari kalimatnya. Membuat Dokter Renzo yang mendengar serta melihat ke arah Deandra merasa prihatin.

__ADS_1


"Saya akan membawa anak pasien ke sini hanya dengan waktu sebentar, karena si bayi masih dalam perawatan khusus." Ucap Dokter Renzo menyetujui.


"Terima kasih Dok," Ucap Marissa tulus.


"Sama - sama Nyonya." Balas Dokter Renzo tersenyum ramah.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


Bayi laki - laki yang baru saja di letakkan di atas dada Deandra itu menggeliat dengan matanya yang masih tertutup. Meski begitu, bibir si bayi bergerak kecil seolah tengah mencari sumber makanannya.


Marissa, dan Christian yang menyaksikan itu terharu serta takjub dengan menggemaskannya anak, serta cucu mereka.


"Sweety buka matamu, dan lihatlah betapa menggemaskannya anak kita. Anak kita merindukan ibunya, dan aku tahu kamu juga sangat merindukan anak kita. Cepatlah buka matamu. Ayo kita bangun keluarga kecil kita dengan adanya anak laki - laki kita." Ucap Christian tersenyum miris dengan ibu jarinya yang tengah di genggam oleh anaknya. Serta Marissa yang menahan tubuh si bayi di sisi ranjang sebelahnya dengan mengusap air mata yang mengalir terus.


"Cucu Oma sangat tampan persis seperti dirimu Chris saat bayi, tapi Mommy belum tahu matanya seperti kamu atau Deandra." Ucap Marissa membuat Christian tersenyum hangat menatapnya anaknya lembut.


Seseorang masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Permisi, Mr, Mrs. Saya akan mengembalikan bayinya kembali." Ucap Dokter Renzo bersama satu perawat yang berada di belakangnya setelah memberikan waktu pada mereka. Setelah mencium pipi anaknya dengan lembut, Christian pun menyerahkan anaknya untuk kembali pada ruangannya dengan hati yang tidak rela.


Melihat kepergian mereka dengan berat hati, kini pandangannya kembali pada istrinya. Mendekatkan tubuhnya serta memeluk Deandra menyembunyikan wajahnya di sela leher istrinya yang selalu membuatnya nyaman.


"Wake up, sweety. I love you so much. " Lirih Christian dengan air mata yang lolos begitu saja dari sudut matanya.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


"Nak, jika kamu sedang sibuk lebih baik ke kantor saja. Deandra dan cucu Mommy yang akan Mommy jaga di sini." Ucap Flora saat ini tengah berjaga bergantian dengan Marissa menatap ke arah menantunya yang tengah berkutat dengan laptop di pangkuannya serta berkas - berkas lainnya.


"Tidak Mom. Aku akan tetap di sini. Pekerjaan ku bisa aku kerjakan di sini. Masalah di kantor biar asisten ku yang mengerjakannya di sana." Ucap Christian meminta pengertian.


"Baiklah, tapi kamu jangan terlalu kelelahan juga. Ada istri, dan anakmu yang selalu membutuhkanmu.: Ucap Flora lembut.


Tok..tok...


Suara ketukkan pintu membuat mereka menatap ke arah pintu dan Flora menyerukan suaranya untuk orang yang di luar untuk masuk.


Seseorang membuka pintu, dan memasuki ruangan. Membuat Christian, serta Flora memiliki ekspresi berbeda. Flora menatap seorang pria muda di depannya dengan ekspresi bingung penuh tanda tanya, dan ia pun berkata.


"Maaf, anda siapa? Tanya Flora pada pria muda di hadapannya yang tengah menampilkan senyum ramahnya.


"Saya Ergan rekan bisnis Mr. Miller serta teman Deandra. Saya kesini ingin melihat keadaan Deandra." Ucap Mario masih dengan senyum ramahnya memperkenalkan diri pada Flora. Tanpa peduli dengan ekspresi Christian yang sudah dingin, serta tajam sejak awal Mario masuk ke ruangan istrinya.


"Oh, ternyata kalian sudah saling kenal. Chris, Mommy tinggal dulu ya sebentar." Pamit Flora yang di angguki oleh Christian.


"Silahkan duduk Nak," Lanjut Flora pada Mario sebelum ia pergi dari ruangan. Meninggalkan atmosfer yang sangat suram.


"Apa belum ada perubahan?" Tanya Mario memecahkan keheningan di antara mereka. Duduk di dekat ranjang Deandra setelah menyimpan buah tangannya di atas nakas. Menatap Deandra dengan pandangan lembutnya.


"Belum, dan jaga matamu!!" Peringat Christian datar menatap tak suka pada Mario yang begitu intens menatap istrinya.


"Meski dengan keadaan seperti ini pun, Deandra tetap terlihat cantik." Ucap Mario mengabaikan ucapan Christian dengan terus menatap Deandra.


"Anda sangat beruntung mendapatkan wanita seperti dirinya. Aku menyesal telah bertindak bodoh dan membuatnya lepas serta jauh dariku. Andai waktu bisa di ulang, dan saya tidak melakukan kesalahan besar itu, mungkin sekarang saya masih bersama dengannya." Lanjut Mario menghela napas kasar mengalihkan pandangannya dari Deandra keluar jendela menatap langit sore yang memantulkan semburat warna jingga. Pikirannya menerawang mengingat masa lalunya, membuat dirinya menjadi seorang pria brengsek juga pecundang.


"Itu semua hanyalah masalalu, dan kau harus tahu di mana kau menempatkan diri. Karena sekarang Deandra adalah istriku wanita yang selalu aku cintai sampai kapan pun." Ucapan Christian membuat Mario menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Apakah Deandra tidak pernah mengatakan kepadamu apa yang pernah terjadi kepadanya saat ia berada di Indonesia?"


"Sepertinya memang benar Deandra tidak pernah mengatakan apapun yang telah terjadi kepadanya, dan itu semua karena diriku." Sambung Mario yang melihat pandangan Christian tidak tahu apapun.


"Apa yang terjadi kepada istriku? Dan apa yang kau lakukan kepadanya?!" Ucap Christian dengan nada datar dan tajam.


"Aku tidak bisa mengatakannya hanya Deandra lah yang berhak mengatakannya padamu." Ucap Mario sambil menundukkan kepalanya serta tangan yang mengepal di atas pahanya. Dan semua itu tidak luput dari pandangan Christian.


"Ehhemm, terima kasih sudah mengijinkan ku menjenguk Deandra. Aku harap ia segera sadar dan segera sembuh." Ucap Mario berdiri dari duduknya.


"Saya permisi Mr. Miller," Ucap Mario yang di balas gumaman dingin Christian. Sebelum Mario keluar dari sana, ia sempatkan menatap Deandra sendu dan segera berjalan kembali keluar dari sana. Pintu yang sudah tertutup rapat meninggalkan keheningan serta sebuah bunyi dari alat medis.


Christian bangkit dari duduknya berjalan ke arah ranjang istrinya serta duduk di samping. Mengambil tangan Deandra yang bebas dari infusan, mengecup tangannya lama dengan lembut.


"Apakah aku melewatkan sesuatu yang pernah terjadi kepadamu, sweety? " Ucap Christian sambil menempelkan telapak tangan Deandra pada pipinya.


"Apapun itu aku menerimanya, sayang." Lanjut Christian.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


Christian yang merasa baru saja tertidur mengerjapkan matanya. Menegakkan badannya yang terasa pegal karena posisi tidur dengan duduk di kursi serta badan dan wajahnya berada di atas ranjang pasien. Tirai jendela yang terbuka sedikit memperlihatkan hari sudah malam, serta sebuah box yang berlogo nama restoran berada di meja dekat dengan kertas- kertas pekejaannya.


Pasti ibu mertuanya yang membelikan dirinya makanan, pikir Christian.


"Bisakah kau ambilkan aku minum, aku haus." Suara pelan yang serak namun bisa terdengar oleh Christian sehingga ia menjawab kata iya dengan pandangan masih mengarah pada langit malam. Namun belum sampai lima detik, Christian pun seolah sadar siapa yang berbicara. Menolehkan kepalanya cepat membuat seseorang yang melihatnya meringis, dan itu pun Deandra.


"Sayang! Kamu sudah sadar?!!" Ucap Christian kaget dan segera memeluk Deandra erat menciumi seluruh wajah Deandra serta memeluknya kembali dengan rasa haru.


"Air," Ucap Deandra sambil mendorong tubuh Christian pelan. Christian segera mengangkat tubuhnya, dan mengambil air minum serta membantu Deandra duduk untuk minum.


Deandra yang memang sangat kehausan menelan habis air meneralnya hingga tandas.


"Kapan kamu sadar sweety? Dan maaf aku ketiduran," Ucap Christian bersalah setelah menyimpan gelas kosong di atas nakas.


"Sepuluh menit yang lalu. Di mana anakku?" Ucap Deandra karena melihat perutnya yang sudah rata.


"Aku harus panggil dokter terlebih dahulu," Ucap Christian mengalihkan pembicaran serta menekan tombol di atas ranjang Deandra.


"Di mana anakku Christian?!!" Tanya Deandra menatap Christian tajam.


"Anak kita baik - baik sweety, nanti kita bersama akan melihatnya."Ucap Christian sambil menggenggam tangan istrinya, tapi segera di tepis oleh Deandra yang memalingkan wajahnya.


Christian yang mendapat perlakuan seperti itu merasa sesak di hatinya, menatap istrinya sendu yang tidak ingin melihat dirinya. Hingga sebuah ketukkan dan seorang dokter serta perawat yang berjalan di belakang masuk ke dalam ruangan.


Melakukan berbagai pemeriksaan, dan berucap syukur bahwa Deandra sudah melewati masa komanya.Dengan Christian berdiri di samping istrinya, mendengarkan semua perkataan dokter bahwa istrinya sudah mulai baik - baik saja, serta masa pemulihan akan berjalan cepat.


Pemeriksaan pun selesai, dan Deandra meminta ijin ingin melihat anaknya yang sudah ia ketahui dari dokter yang memeriksanya. Bahwa kini bayinya masih dalam perawatan khusus membuat Deandra sakit mendengar semua itu, dan lebih menyakitkan lagi ia tidak bisa melihat anaknya sekarang juga. Dengan alasan ia harus tetap istirahat berbaring di ranjangnya, serta jam besuk sudah tidak di perbolehkan.


Sampai dokter, dan perawat lainnya telah keluar Deandra membalikkan tubuhnya mengarah ke arah jendela membelakangi Christian yang terdiam menatap sendu punggung istrinya yang mulai bergetar hingga suara tangisan menyayat hatinya.


Christian menaiki ranjang dan berbaring miring di belakang serta memeluk istrinya hingga membuat suara tangisan Deandra semakin keras. Christian pun mengeluarkan air matanya menangis bersama Deandra dengan terus melapalkan permintaan maafnya.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


Next Chapter.....

__ADS_1


Vote, like, follownya, and ⭐ guys !!


See U 😉


__ADS_2