
◇Happy Reading◇
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Enjoooooy!!
*****
"Laura!! " ucap Christian melihat sepupunya datang ke acara pernikahannya. Melirik Deandra, takut sang istri tidak suka dengan kedatangan Laura. Christian kaget diam membisu. Apa yang tengah di lakukan Laura, lebih tepatnya mereka berdua.
..Flashback on..
*Sebulan sebelum pernikahan*
Deandra yang tengah menyetir mobilnya seorang diri, dengan hanya sebuah suara audio dari mobil yang menemaninya saat ini. Kerja lembur membuatnya harus pulang malam sendiri, karena sudah 3 hari ini Christian tengah pergi untuk perjalanan bisnis ke Canada. Menambahkan kecepatan mobilnya, hanya membuat Deandra ingin segera tiba di apartemen untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Hingga suara dering panggilan dari ponselnya membuat ia harus mengurangi laju mobilnya. Mengambil ponsel yang berada di atas dashboard, dan menekan tanda hijau pada layar ponselnya untuk menjawab panggilan yang sudah ia sambungkan pada audio mobil.
"Kak sepeda motorku mogok tolong jemput aku di club yang waktu itu sekarang, " cerocos Brian membuat Deandra mendengus kesal.
"Dasar adik tidak tahu diri yang main perintah seenaknya saja!! Pulang sendiri. " ucap Deandra dan akan mematikan panggilan. Namun terhenti dengan ucapan Brian selanjutnya.
"Hehe......sorry kak. Lagian kakak sepertinya juga sedang ada di luar, terdengar ramai jalanan. Jadi aku mohon tolong jemput aku ya kak, please? " mohon Brian.
"Tunggu 5 menit kakak akan segera tiba, " ucap Deandra dan memutuskan sambungannya, serta berbelok arah pada tujuan yang akan ia tuju.
*****
Membuka pintu mobil dan menutupnya keras, berjalan ke arah Brian yang sudah menunggu Deandra di luar club.
"Malam-malam begini kamu masih saja berada di tempat ini. Kakak yakin, pulang kuliah kamu tidak pulang terlebih dahulu ke rumah dan malah ke sini. Memang, Mom dan Dad tidak melarangmu untuk pergi ke sini. Tapi kamu juga harus tahu, mereka memiliki batasannya untukmu Brian!! " semprot Deandra saat sudah berada di hadapan Brian.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini, sampai tidak berganti baju terlebih dahulu? Tanpa di tanya pun kakak tahu kamu tidak ijin pada orang rumah, kan? " lanjut Deandra masih merasa kesal.
"Maaf Kak, aku lupa. Temanku mengajak party terlalu tiba-tiba membuatku tidak sempat menghubungi Mom atau Dad dulu. "jawab Brian yang malah mendapatkan tendangan di kaki tulang keringnya dari Deandra.
"****!! " umpat Brian dengan ringisan kesakitannya. Sialnya lagi, ia mendapatkan jitakkan di kepalanya dari Deandra.
__ADS_1
"Jangan mengumpat! " ucap Deandra melotot sambil bertolak pinggang.
"Maafkan aku. "ucap Brian dengan wajah normalnya kembali. Dengan menahan sakit di kakinya.
"Pesta seperti apa yang harus di lakukan di sini? " tanya Deandra sambil melipatkan tangannya di dada.
"Salah satu temanku baru saja ada yang jadian. Jadi dia mentraktir kami di sini. " jawab Brian.
"Dasar anak muda sekarang, baru jadian saja sudah begini. Bagaimana dengan pernikahannya nanti?! " sarkas Deandra.
"Memang kakak tidak pernah muda? Ahh! Wajar sih, kakak, kan langsung tua. " ejek Brian membuat Deandra melotot padanya.
"Ayo cepat pulang! "titah Deandra pada Brian yang akan hendak kembali ke dalam mobilnya.
"Tunggu kak, aku pamit dulu pada teman-temanku. Sekalian, kakak ikut denganku juga. " ucap Brian sambil menggenggam, dan menarik tangan Deandra.
"Kenapa bukan sekalian saat kamu keluar tadi. Kakak capek sudah lembur malam ini, ingin cepat-cepat istirahat tahu. " kesal Deandra.
"Bentar saja kak. Aku yang akan menyetir mobil kakak, ok? " ucap Brian yang tidak di respon Deandra.
"Guys !! I go back with my sister first. For you, congratulations on your relationship. " ucap Brian.
"Ok Bravo, take it easy. Hello, Ms. Dean, nice to meet you. How are you? " ucap salah satu teman Brian yang sudah mengenal Deandra, yang hanya di balas tatapan datar oleh Deandra. Brian meringis melihat itu, sudah tahu jika kakaknya sudah marah.
"Then, I will go back first friend until I meet again. " ucap Brian dan segera membawa Deandra pergi dari sana.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, lebih tepatnya Deandra yang berhenti. Sebelum Brian akan berkata Deandra sudah pergi ke arah jalan yang berbeda. Brian yang melihat itu hanya mengikutinya.
"Apa yang akan kakak lakukan? " ucap Brian yang tidak d respon Deandra. Karena suara musik yang keras membuat suara Brian teredam.
Di satu sisi lainnya, Deandra melihat seseorang yang ia kenal. Entah apa yang ia pikirkan, sehingga membuat Deandra mengikutinya begitu saja. Seseorang yang ia kenal bukan hanya seorang diri. Namun ada satu orang yang bersamanya saat ini, entah siapa itu tidak Deandra pedulikan. Ketika melihat mereka yang pergi menjauhi keramaian membuat Deandra mengikutinya, dan yang terjadi mereka berdua sedang akan melakukan hal yang menjijikan di tempat seperti itu. Tapi jika di perhatikan lagi, sepertinya itu hanya keinginan seorang saja. Deandra pun mengerti apa yang tengah terjadi sebenarnya.
"Haiish!! Sepertinya aku salah arah. " ucap Deandra cukup keras membuat mereka berdua yang tengah bercumbu tersentak. Namun mereka tidak dapat melihat Deandra terlalu jelas.
"Deandra, " ucap lirih seorang wanita yang berada di bawah kungkungan seorang pria.
"Siapa kau?! Apa yang kau lakukan di sini? " tanya seorang pria yang tengah mengukung seorang wanita.
"Saya akan ke toilet, hanya saja salah arah dan melihat adegan dewasa kalian. Apa tidak bisa melakukan itu di tempat privasi. Misalnya, kalian sewa hotel?" ucap Deandra sambil melipat kedua tangan di dada.
"Apa urusanmu terserah kami melakukannya di mana saja. " ucap sang pria yang sudah mulai kesal.
"Ingin ************ tapi tidak modal. "sarkas Deandra.
"Kau.......!" tunjuk pria itu pada Deandra yang sudah marah. Deandra abaikan, dan berbalik serta berjalan pergi. Namun langkahnya terhenti oleh suara dari seorang wanita.
"Cessa......" panggil lirih seseorang membuat Deandra mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Cessa itukah kamu? " tanya wanita itu yang tidak mendapat balasan dari Deandra yang memunggunginya.
"Kau mengenalnya? " tanya pria itu entah kepada siapa.
"Cessa please....help me. " suara memohon dengan lirih membuat Deandra membalikkan badannya ke arah mereka.
"Tolong aku Cessa, pria ini akan memperk...... " ucap wanita itu yang belum usai, karena mulut wanita itu sudah di tutup cepat oleh tangan si pria yang terlihat sangat panik.
"Tahu gini aku tidak akan ke sini. Apalagi harus berurusan dengan pria brengsek di hadapanku. " ucap Deandra malas.
__ADS_1
"Hey! Kau! Lepaskan wanita itu. " titah Deandra kepada si pria dengan gerakan tangannya yang malas.
"Untuk apa aku menurutimu?! Kau mengenal wanita ini? Jika tidak lebih baik kau pergi saja, "ucap si pria.
"Atau, kau ingin menggantikannya. " lanjut si pria membuat wajah malas Deandra menjadi dingin.
"Wajar jika kau tidak mengerti bahasa manusia, karena kau binatang hina. " tekan Deandra masih dengan wajah dan suara dingin dan datarnya.
Si pria yang mendengar hal itu sontak melepaskan si wanita hingga terjatuh, dan berjalan ke arah Deandra dengan amarahnya yang membara.
"Damn you ***** !!" umpat si pria serta hendak menampar Deandra. Deandra yang melihat pergerakan si pria segera menghindar. Namun tidak di sangka-sangka, Deandra menggerakan kaki kanannya cepat untuk menendang kelamin si pria keras. Sontak hal itu membuat si pria menjerit kesakitan sambil memegang barang privasinya.
"Ouch! Kakak kau kejam sekali. " sebuah ringisan dari arah belakang Deandra tanpa di lihat pun sudah tahu. Jika Brian sudah berada di belakang Deandra, yang sedang merasakan linu juga di area barang pribadinya sendiri.
"Brian bawa wanita itu, "titah Deandra kepada Brian yang masih memegang barang pribadinya.
"Cepat Brian. "lanjutnya.
"Iya, iya. " jawab Brian cepat sambil menghampiri si wanita yang terduduk. Menarik si wanita untuk berdiri dan memapahnya.
"Ayo kak kita pergi. Apa yang masih kakak lakukan disini? " tanya Brian pada Deandra yang masih berdiam diri tidak beranjak pergi mengikutinya.
"Keluarlah duluan dan bawa wanita itu. Kakak masih ada urusan dengan pria ini. "ucap Deandra tanpa melihat Brian.
"Ta....." belum usai Brian berkata Deandra menyela.
"Cepat Brian! "tegas Deandra. Mau tidak mau, Brian harus menuruti perkataan kakaknya, dan pergi dari sana.
Entah kenapa dalam pikirannya malah berdoa kepada laki-laki itu, agar ia baik-baik saja. Brian berjalan ke arah pintu keluar, dan meninggalkan kakaknya. Sesekali ia menengok ke arah belakang, khawatir.
*****
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Next Chapter.......
Like, Vote, and Follow!!!
See U😉*
__ADS_1