
Happy Reading....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Enjooyy....
******
DEANDRA
Jam pulang sudah berlalu beberapa menit lalu, kini aku sedang duduk di sofa yang ada di lobby. Bersama seorang pria berkacamata, tubuh yang berisi, wajah cukup tampan untuk seorang pria barat atau pria bule dia, Tommy. Rekan kerjaku orangnya cukup pendiam, tapi frendly dan juga care.
"Kenapa kamu tidak pulang? " tanyaku menatapnya dari samping.
"Malas saja untuk pulang " jawabnya acuh tak acuh.
"Sorry, kamu ada masalah? " tanyaku to the point.
Dan ia mengalihkan pandangannya padaku.
"Haissh!, kamu ternyata orangnya tidak suka bertele-tele ya? "
"Hemmm, jadi? "
"Masalah keluarga saja, seorang ibu yang ingin anaknya segera menikah " ucapnya lesu.
"Kenapa tidak! , jika kau sudah memiliki calonnya" ucapku heran.
"Karena itu, aku tidak memiliki calon apalagi kekasih,"
"Seminggu yang lalu aku baru saja putus, kekasihku selingkuh dengan temannya, dan orang tuaku ingin segera aku menikah. Karena, adik perempuanku sudah di lamar kekasihnya." lanjutnya tersenyum miris dan menunduk.
"Ahh! Saya mengerti, Kamu tidak beda jauh juga dengan saya " ucapku dan Tommy menengadah kepalanya menatapku penasaran.
"Saya juga pernah di posisi kamu, di khianati dan di bohongi " ucapku sambil menerawang yang pernah terjadi padaku dulu.
"Dan karena itu, saya tidak ingin lagi mencintai apalagi berkomitmen dengan pria " lanjutku.
"Tapi kamu sama Pak Christian ? "
"Kamu pasti tahu, bagaimana seorang anak mempertahankan perusahaan orangtuanya, yang sudah di bangun dengan susah payah, di ambang kebangkrutan."
Menganggukan kepala seolah ia cukup mengerti "Jadi....." belum selesai apa yang akan ia ucapkan di sela olehku.
__ADS_1
"Well, cukup hanya kamu saja yang tahu, " potongku.
"Dan Tommy, mungkin apa yang akan ku katakan akan sedikit aneh tapi, bangkitlah dan move on dari mantanmu, tunjukkan padanya bahwa kamu baik-baik saja, saat dia sudah mencampakkan mu. " lanjutku menepuk bahunya pelan.
"Ya!. Benar apa yang kamu katakan, dia saja bisa berpaling cepat dariku kenapa aku tidak bisa ? Apa itu juga yang kamu lakukan ? "tanya Tommy dengan mengkerutkan dahinya karena penasaran.
"Ya bisa di bilang begitu, namun cukup rumit!. Dan Tommy sepertinya kamu harus berguru pada temanmu itu, soal wanita!" ucapku dengan segera mengalihkan pembicaraan.
"Maksudmu ,Jack?!" tebaknya
"Ya!, siapa lagi kalau bukan Jack dalam pakar memikat wanita " ucapku dan membuat kami tertawa.
"Sweety....." suara lembut datar nan tajam itu, membuatku yang mendengarnya saja merinding.
Ku alihkan pandanganku ke depan, pada seorang pria yang tengah berdiri tidak terlalu jauh dariku. Lengan kemejanya yang di gulung sampai siku, dengan jas kantornya yang ia pegang sebelah kiri, dengan tas hitam kantor berkulit yang cukup mahal itu ia jinjing sebelah kanan. Raut wajah yang terlihat lelah sehabis kerja, tidak menutupi wajahnya yang tampan itu.
Terlalu terpana akan dirinya, segera ku alihkan pandangan ke arah lain sesaat, dan segera berdiri saat ia menghampiriku.
"Sore Pak " sapa Tommy dan menunduk hormat yang, di balas deheman dan anggukan oleh Christian.
"Ayo kita pulang! " ucapnya yang masih terdengar datar. Segeraku iya kan, karena tidak ingin terlalu canggung apalagi masih ada Tommy.
"Tom, saya pulang duluan " pamitku.
"Baik, hati-hati di jalan Bu, Pak Christian " ucapnya dan menunduk hormat lagi.
Aku dan Christian pun berjalan keluar, berjalan ke arah mobil Christian yang sudah terpakir di depan kantor.
Aku masuk ke dalam mobil saat Christian, sudah membukakan dan menutup pintu penumpang di samping kemudi. Setelah Christian duduk di balik kemudi, ia menyalakan mesin mobilnya dan segera berlalu dari sana dengan kecepatan sedang.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu beli, sebelum kita tiba di apartemen ? " tanyanya dan melihatku sesaat sebelum ia melihat ke depan mobilnya.
"Mau membeli apa? " tanyanya lagi.
"Ada bahan yang kurang di kulkas, untuk memasak" ucapku sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
"Kita bisa makan di luar saja, pasti kamu lelah sehabis kerja seharian ini "
"Tidak! Aku ingin masak dan makan di apartemen saja! Lagian pekerjaannya tidak terlalu berat juga. " ucapku menatapnya yang tidak ingin di bantah.
"Oke, jika itu mau mu "
"Apa yang kamu bicarakan dengan karyawanku tadi! , hingga kalian tertawa?!" desaknya memecah keheningan, yang sempat terjadi di antara kita tidak ada yang berbicara lagi, selain suara musik audio di dalam mobil.
"Ya,hanya memberi saran padanya. Untuk berguru pada rekan kerjanya yang ahli dalam memikat seorang wanita, dan itu sangat lucu membuat kami tertawa " jelasku.
"Kamu tidak pernah tertawa, jika sedang bersamaku" ucapnya yang langsung membuatku menatapnya dengan heran.
"Benarkah ? "ucapku sambil menghadapkan badan padanya.
"Hemmm " jawabnya yang membuatku meringis.
Dipikir-pikir benar juga selama kami bertemu, tidak ada sesuatu hal yang membuatku tertawa padanya kecuali senyum paksa. Heii! , Siapa juga yang mau berhubungan lagi, dengan orang yang pernah mengkhianatimu jika bukan karena terpaksa,batinku.
"Apa dia memiliki masalah pada wanita " ucapnya yang membuyarkan lamunanku yang masih menghadap padanya.
"Ya, putus cinta karena kekasihnya selingkuh dengan temannya sendiri " ucapku dengan menekan di tengah kalimat, sambil menyandarkan diri kembali ke kursi.
Namun tidak ada jawaban setelahnya, membuatku menatapnya dari samping. Terlihat dari wajahnya yang berubah muram, membuat keadaan di dalam mobil terasa aneh.
Well, mungkin saja ia sedang memikirkan perbuatannya dulu padaku, batinku.
__ADS_1
*****
Setelah kami tiba di depan pintu apartemen, dengan barang yang sempat aku beli di supermarket tadi, yang di bawa oleh Christian. Ku buka pintu, dan menyalakan saklar lampu di ruang tamu.
Segera bergegas ke kamarku, dan begitupun Christian yang masuk ke kamarnya. Setelah menyimpan barang belanjaan terlebih dahulu di meja bar dapur.
Usai mandi dengan berpakaian piyama kesayanganku yang aku bawa dari Indonesia.
Duduk di meja rias dan mengeringkan rambut yang basah, sehabis keramas tadi dengan hairdyer . Setelah cukup kering, segera aku keluar kamar dan berjalan ke arah dapur untuk memasak. Cukup 45 menit untuk menggoreng dan menumis, hanya untuk memasak sederhana saja.
Ku rasakan sebuah tangan kekar, dan aroma wangi yang maskulin tercium oleh hidungku. Membuatku berhenti sejenak yang sedang menggoreng.
"Christian, lepaskan aku sedang memasak! " ucapku sambil berusaha melepaskan pelukkannya yang malah bertambah erat.
"Hei! , bagaimana aku akan selesai masaknya! , jika kamu menggangguku! " ucapku kesal.
"Aku merindukanmu " gumamnya dengan menyusupkan wajahnya pada samping leherku, mengecupnya pelan, membuat bulu kudukku berdiri. Yang memang rambutku, aku ikat kuda yang memperlihatkan leher jenjangku, dan ia melepaskan pelukkannya menjauh dari tubuhku.
Ku balikkan tubuhku setelah, selesai memasak serta menyajikan pada piring dan akan di simpan di meja makan.
Christian yang masih belum beranjak dari tadi masih di depanku, dengan memakai piyama berwarna navy yang sangat pas di tubuh tinggi kekarnya. Wajah capai dan lesunya hilang sehabis mandi. Bulu di sekitar dagu yang di cukur habis, memperlihatkan betapa tegas dan kokoh rahangnya.
Ku acuhkan dia, dengan berjalan ke meja makan yang di ikutinya duduk di kursi. Mengambil piring yang di depan Christian dan ku sajikan makanan yang ku buat tadi, " Kau ingin memakai sambal " tunjukku.
"Boleh, sambal buatanmu sangat enak " ucapnya, tersenyum saat aku menyerahkan piring yang sudah ku isi.
"Maaf hanya ayam goreng, dan tumis kangkung, juga sambal yang bisa cepat aku memasaknya. " ucapku sambil mengisi piringku sendiri.
"Tidak apa-apa ini pun sudah sangat cukup." ucapnya menatapku sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Aku yang memang sudah sangat lapar, fokus dengan makananku. Dan acuh tak acuh dengan Christian yang mungkin saja masih menatapku.
Selanjutnya, hanya suara alat makan yang saling berdenting yang mengisi keheningan di meja makan.
Saat melihatnya makan dengan lahap, serta keringat yang mengucur di dahinya, membuat acara makanku terhenti dan mengingatkanku akan pada suatu hal.
******
.
.
.
.
.
.
*Next Chapter.......
Like And Comment
Follow And Vote Me
See You😉*
__ADS_1