Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 30


__ADS_3

Happy Reading!!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Enjooooyy....


*****



Deandra, dan Christian turun ke lantai bawah di mana teman-teman yang lain sudah berada di restorant resort. Dengan Christian yang masih merangkul pinggang Deandra posesif, walaupun mereka sudah tiba disana bergabung dengan yang lainnya.


"Hai! Kalian duduk di sini, " tunjuk Theo pada dua kursi yang masih kosong berada di dekatnya


"Sepertinya kalian sudah membaik. Baguslah! Dengan begitu aku tidak akan merasakan lagi kesuraman ketika makan " ucap Marco ketika melihat Christian menarik kursi untuk Deandra tempati.


Marco yang salah berbicara meneguk ludahnya kasar, setelah mendapatkan tatapan tajam Christian.


Serta injakan di kakinya dari Theo, yang sudah melotot tajam pada Marco. Entah kenapa, sahabatnya ini bisa sebodoh itu. Tidak bisakah, ia membuat suasana nyaman dan tentram untuk malam ini saja?. Namun melihat Christian yang sudah biasa lagi, membuatnya bernafas lega. Begitu pun dengan yang lain, khawatir pesta akan bubar.


"Kau ini sakit tahu! " bisik Marco dengan ringisannya.


"Padahal aku ingin sekali lebih dari itu!" ucap Theo geram.


Sebuah suara menghentikan perdebatan mereka, dan mengalihkan pandangan mereka pada kedua sosok.


"Dean, little girl! " sebuah panggilan suara seorang pria, membuat Deandra yang mendengarnya memutar kedua bola mata.


"Waahh! Siapa kedua pria tampan itu? Memangnya di antara kita ada yang bernama Dean?" tanya Laura heran yang duduk di sebelah Marco.


Deandra berdiri serta melambaikan tangan ke arah mereka yang tidak lain Steven bersama Carlos temannya. Membuat Laura mengerti, yang mereka maksud adalah Princessa.


Mereka saling bertos ria di akhiri berpelukkan. Apalagi Steven dengan beraninya mengecup singkat puncak kepala Deandra, tidak tahu saja seseorang sudah terbakar emosi melihatnya.


Suasana yang tadinya sudah tenang membuat mereka kembali merasakan dingin yang hampir membuatnya menggigil. Apalagi ketika melihat Boss mereka yang sudah beraura tajam.


"Guys! Kenalkan mereka temanku Steven dan Carlos. Ku harap mereka bisa bergabung dengan kita " ucap Deandra yang masih berdiri, karena tidak ingin terlalu lama membuat mereka tidak nyaman. Ia tahu Christian yang sudah membuat suasana di meja tidak enak.


Perkataan Deandra membuat Christian menghela napas pelan saat mendengarnya. Protes pun percuma, karena ia tidak ingin ribut. Apalagi sampai Deandra menghindar darinya lagi. Jadi yang ia lakukan hanya menerima, dan memendam kekesalannya.

__ADS_1


"Tentu saja dengan senang hati, kami menerima kalian" ucap Hellen tiba-tiba sambil merapihkan rambutnya yang tidak berantakan.


"Kalian duduk di sini saja " ucap Laura yang mencoba mengusir Marco.


"Tidak! Kalian duduk di sini saja" sahut Hellen sama mencoba mengusir kedua temannya.


"Hey! Kalian berdua, lebih baik membantu kami di sini " ucap Jack yang sedang memanggang daging barbaque untuk makan malam ini, dengan para pria lainnya. Karena para wanita tidak akan membantu.


"OK. Ladies, sepertinya aku harus membantu disana. Aku tidak ingin melihat kalian kelaparan, harus menunggu terlalu lama " ucap Carlos mengedipkan sebelah matanya membuat para wanita di meja menjerit senang bersamaan. Kecuali Deandra yang menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Sambil menunggu makanan siap. Bagaiamana jika aku menyanyikan sebuah lagu untuk kalian" ucap Steven yang sudah memegang sebuah gitar. Entah dari mana ia mendapatkannya.


"10 lagu pun, aku siap mendengarkannya" ucap Emilly bertopang dagu melihat Steven berbinar.


Deandra yang mendengar itu, mengalihkan pandangannya pada Emilly. Andai mereka tahu...di pastikan, akan patah hati masal, pikirnya dengan raut iba.


Namun di salah artikan, oleh Christian. Menurutnya tatapan Deandra adalah kecemburuan, dan itu membuatnya geram. Sehingga yang dilakukan Christian, langsung merangkul bahu Deandra erat. Serta menggenggam satu tangan Deandra, membawa pada bibirnya untuk ia cium. Membuat Deandra keheranan, dan tentu saja malu. Apalagi didepan mereka langsung.


"Chris...." bisik Deandra sambil mencoba melepaskan genggaman Christian, malah membuat semakin erat.


Melihat Christian yang terlihat emosi, akhirnya Deandra mengusap punggung tangan Christian. Dan berhasil amarahnya sedikit reda.


"Malam ini aku perlu penjelasanmu" bisik Christian di telinga kanan Deandra membuat si empunya merinding. Ketika terpaan hangat nafas Christian ia rasakan.


"Steven nyanyikan satu lagu lagi. Kau membuatku melayang" suara Hellen menyadarkan Deandra kembali. Mengalihkan pandangan pada Steven yang baru selesai dengan lagunya, yang sama sekali tidak ia dengar. Semua gara-gara Christian, dengus Deandra kesal.


"Steven, apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Laura membuat yang lain penasaran. Deandra pun sama, apa yang akan temannya itu jawab.


"Jika aku tidak memiliki kekasih, apa kau mau menjadi kekasihku , honey?" tanya Steven balik membuat mereka menjerit histeris.


"Dari pada aku yang bernyanyi. Bagaimana jika di antara kalian membawakan lagu, di iringi gitar yang ku mainkan" usul Steven langsung di respon Hellen cepat, yang sudah duduk di sampingnya.


"Tentu saja bisa! " ucap Hellen bangga.


"Memangnya kamu! Hanya bisa berlenggak lenggok menyanyi pun tak bisa" lanjut Hellen membuat Laura mendelik sinis padanya. Karena apa yang di katakan Hellen memang benar. Ia memang tidak bisa bernyanyi.


"Ayo cepat mulai! Aku ingin mendengar, sebagus apa suaramu" tantang Laura geram. Perseteruan Hellen, dan Laura di tengah pesta barbaque. Menjadi hiburan menarik untuk mereka tonton. Membuat suasana semakin ramai.


"Minumlah, " ucap Christian sambil menyodorkan segelas susu coklat hangat pada Deandra. Setelah ia meminta pada pelayan resortnya. Tanpa peduli pada keadaan sekitar.


"Terima kasih " ucap Deandra setelah meminum susunya sedikit, menyimpan gelas di atas meja.


Every night in my dreams


I see you, I feel you.....


That is how I know you go on


Suara bernyanyi Hellen mengalihkan pandangan Deandra, dan Christian. Dua-duanya meringis saat mendengar suara Hellen akan membuat sakit telinga orang yang mendengarnya.


Far across the distance


And spaces between us


You have come to show you go on.......


Near, far, wherever you are

__ADS_1


I believe that the heart does go on.....


Once more you open the door


And you're here in my heart


And my heart will go on and on


"Hellen lebih baik kau berhenti! " ucap Emilly sambil menutup kedua telinga dengan tangannya, yang di acuhkan Hellen.


"Suara panggilan kematian, kau sebut bagus!" sarkas Laura. Namun tidak mendapatkan respon dari Hellen yang bernyanyi menghayati.


Love can touch us one time


And last for a lifetime


And never let go 'til we're gone


Love was when I loved you


One true time I'd hold to


In my life we'll always go on......


"Baby Steven, pasti telingamu sakit" lanjut Laura yang sudah menutup kedua telinga Steven dari belakang.


Hellen yang melihat itu berhenti bernyanyi membuat yang lainnya bernafas lega.


"Singkirkan tanganmu! Jangan sentuh Steven ku!" jerit Hellen sambil mencoba menyingkirkan tangan Laura dari kepala Steven yang teraniaya.


"Jangan mengklaim Steven milikmu! Di milikku!!" sahut Laura tidak mau melepaskan tangannya dari kepala Steven yang sudah mulai marah.


"Milikku!!"


"Hey!! Milikku!!"


"STOP!!"


*****


.


.


.


.


.


.


.


.


*Next Chapter......

__ADS_1


Like, Vote, Follow nya guys!!!


See U 😉*


__ADS_2