Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 26


__ADS_3

WARNING!! 17+


Happy Reading...


.


.


.


.


.


.


Enjooooyy.....


****


DEANDRA



Deburan ombak menyapu hamparan pasir pantai yang luas. Langit biru seakan mendukung di pagi hari yang cerah ini. Banyaknya pengunjung muda mudi membuat pantai jadi ramai. Serta beberapa dari mereka yang sudah berkeluarga membuat suasana pantai terasa nyaman dan hangat.



Aku dan temanku yang lainnya menikmati sinar matahari dengan berjemur. Terlihat excited-nya mereka. Apalagi temanku satu ini, Emilly. Baru saja kami selesai breakfast. Ia sudah meminta ingin segera pergi ke pantai.


"Kurang pas jika di pantai seindah ini kita harus melewatkan bikini. Seharusnya kamu memakai bikinimu, yang kita beli bersama waktu itu. Sepertiku dan Joya, " ucap Emilly menatapku yang berbaring di kursi santai pantai di sisi kananku.


"Terus kamu apakan bikini itu? Aku pikir kamu akan memakainya juga " ujar Joya menatap ku heran di sisi kiri ku.


"Ohh, aku tahu! Pasti kamu ingin memperlihatkannya hanya pada Pak Christian seorang kan?! " tebak Emilly membuatku memutar bola mata di balik kaca mata hitam yang ku pakai.


Memang benar saat ini aku tidak memakai bikini. Hot pants warna biru dengan rumbai di ujungnya, serta kemeja putih pas body yang saat ini ku kenakan. Tidak memakai bikini bukan untuk memperlihatkan padanya. Hanya saja, belum terlalu ingin memakainya juga.


"Tidak ada kaitannya dengan ia juga " jawabku.


"Selesaikanlah masalah kalian. Beri ia waktu untuk menjelaskannya. Apa kamu akan selalu menghindarinya terus, aku lihat dan Joya semalam ia terlihat sangat merindukanmu?! Perlakuannya terhadap kamu yang tertidur. Tatapannya seakan kamu lah wanita satu-satunya yang ia cintai. " ujar Emilly dan Joya yang tiba-tiba duduk berkata,


"Beliau sangat mencintaimu aku yakin! Buktinya ia datang ke sini. Tapi...." ucapannya yang belum selesai serta raut keheranannya di belakangku. Membuatku duduk cepat dan menolehkan kepala, seketika membuatku marah. Mengalihkan kembali pandangan ke depan, karena tidak ingin terlalu lama melihat kedua makhluk itu sedang berjalan ke arah sini.


"Gila!! Bukankah wanita itu si model yang di bicarakan dengan bos kita akhir-akhir ini?! " pekik Emilly.


"Deandra " suara berat yang maskulin serta ketegasan. Membuat Emilly dan Joya menyapa hormat pada Christian yang hanya di angguki saja.


"Cessa apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa, " suara wanita yang langsung membuatku berdiri dan hendak berjalan. Namun sebuah tangan kekar mencengkram pergelangan tanganku dengan erat.


"Mau sampai kapan kamu menghindariku? " tanya Christian tajam.


"Cessa kami bisa jelaskan, tentang berita yang tersebar itu. Semuanya hanya salah paham, tidak seperti itu kenyataannya " jelas Laura.


Ya dia lah wanita yang di gosipkan bersama Christian tempo hari lalu. Wanita yang sama seperti dulu yang membuatku harus pergi dari keluargaku.


Mendengar ucapannya. Aku membalikkan tubuhku, menatap kedua orang berada di hadapanku dengan datar. Mungkin saja tak terlihat, karena tertutupi oleh kacamata yang ku kenakan. Melihat Laura yang tersenyum ke arahku membuatku muak.


Melepaskan cengkraman Christian di tanganku dengan paksa. Ku angkat kacamata pelan, ku simpan di atas kepalaku seperti bandana dan tersenyum. Namun hanya sesaat, setelah ke sinisan ku perlihatkan. Laura, Dan Christian yang sempat tersenyum kecil langsung pudar.

__ADS_1


"Haruskah aku percaya pada kalian! Hehh!! " jedaku melipatkan kedua tangan di dada, "Aku bukan Cessa seperti dulu kalian kenal yang mudah kalian bodohi, "


Menatap mereka bergantian "Jika kalian ingin merajut cinta kasih kalian yang belum usai.


Silahkan!! Dari pada harus sembunyi-sembunyi di belakangku. Sama seperti dulu "


"Memangnya kamu mau di labeli wanita murahan perebut pria wanita lain. Well, jika kamu masih memiliki harga diri, " ucapku menatap Laura terlihat ia mulai marah, "Jika itu bisa melepaskan ku dari ikatan tunangan yang sangat konyol ini!! Aku pasti akan sangat bahagia " ucapku menatap Christian.


Wajah datarnya berubah sangat tajam membuat aura di sekitarku terasa terintimidasi. Membuat Emilly, dan Joya yang masih duduk di tempatnya membuat mereka berdua menciut dan menunduk dalam.


"Emilly, Joya " panggil ku kepada mereka untuk pergi dari sini. Berbalik dan berjalan, setelah kedua temanku berdiri di sisiku. Namun tiba-tiba, sesuatu terjadi sangat cepat terhadapku. Benturan keras saat sebuah tangan menarik tubuhku dan syok setelahnya apa yang terjadi.


Sebuah benda kenyal mendarat di bibirku. Membuat aku terpaku diam dan melototkan kedua mataku. Memagut, menghisap bibirku kasar dengan tergesa-gesa. Seolah tidak ada hari esok. Hingga sebuah gigitan di bibirku yang sangat sakit kurasakan. Langsung menyadarkan ku apa yang telah terjadi.


"Chirss...tii...aann " berontakku yang mencoba melepaskan diri dari rengkuhannya, malah semakin erat pelukkannya. Tangan besarnya menahan tengkukku untuk memperdalam ciuman sepihaknya.


Berontak pun percuma. Apalagi Christian masih dalam kemarahannya yang ia tahan sedari tadi.


Aku harap apa yang akan aku lakukan dapat merendahkan amarahnya, batinku.


Aku berhenti berontak dan mengangkat telapak tangan kananku serta meletakkannya di dada bidang Christian. Mengusapnya pelan, ku arahkan tangan kiriku merangkul tengkuknya serta mengusapnya pelan. Ku lihat mata amarahnya sudah meredup tidak setajam tadi. Ku lepas cepat pagutannya pada bibirku membuat napasku dan Christian memburu menerpa wajah kami masing-masing.


"ARE YOU CRAZY! " teriakku yang sudah bernapas normal, dan melihat sekitar membuatku malu saat itu juga. Ia menciumku di tengah-tengah pantai yang ramai ini. Segera ku lepaskan kan paksa rengkuhannya yang masih memeluk tubuhku erat. Mundur selangkah memberi jarak di antara kita.


"Apa yang kau pikirkan menciumku di tempat umum yang ramai ini. Apa urat malu mu sudah putus?! " ucapku mengepalkan kedua tanganku.


"Kau yang membuatku begini Deandra!


Jika aku mendengar ucapanmu seperti tadi lagi! Apa yang akan aku perbuat padamu nanti. Bisa saja lebih dari sekedar ciuman kita barusan. Jika itu bisa membuatmu bertahan disisi ku akan aku lakukan!! " tegasnya dengan sorot mata yang tajam.


"SINTING" ucapku keras padanya memakai bahasa lain membuat ia tak akan mengerti.


"****!! Apa yang barusan ku lihat tadi, Pak Christian dengan ciuman Hot-nya padamu, Deandra. Your live scenes excite me!! " ucapan Emilly mengingatkan hal memalukan beberapa menit lalu, dan itu membuatku ingin sekali menendang Christian.


"Ahhh!! Aku juga mau di perlakukan seperti itu terlihat sangat romantis " jerit Joya sambil memegang kedua pipinya yang tengah membayangkan sesuatu.


Melihat tingkah mereka semakin membuatku kesal saja.


"Deandra! " ku tolehkan kepala, pada suara yang telah memanggilku yang ternyata Jack tengah melambaikan tangan padaku. Mengahampiri Jack yang sedang bermain volleyball bersama dengan karyawan kantor lainnya.


"Ada apa? " tanyaku tiba di hadapannya.


"Bagaimana kalau kita tanding volleyball. Dari pada aku melihat wajahmu yang suntuk itu " ucap Jack.


"Tanding seperti apa yang kau maksud? Aku harus masuk ke team mana? " tanyaku heran. Bukannya menjawab Jack malah memanggil Hellen dengan para pengikutnya.


"Di bagi menjadi dua team, team wanita lawan team pria. Jika di antara team kita ada yang jadi pemenang dia bisa meminta permintaan apa saja pada team yang kalah. Bagaimana? " jelas meminta persetujuan.


"Tidak bisa begitu! Itu tidak seimbang, kalian para lelaki pasti akan menang. Lagipula kekuatan wanita tidak sebesar pria " protes Hellen tidak terima.


"Benar kau Hellen " Emilly menatap Hellen setuju,


" Kenapa tidak di bagi dua saja pria dan wanitanya. Itu baru akan adil " lanjut Emilly bertolak pinggang menatap Jack garang.


"OK, deal. " sahutku tiba-tiba mereka menatapku serempak.


"WHAT THE HELL!! Apa yang kau lakukan! Kau pikir kau bisa mengalahkan mereka!" ujar Hellen dan umpatannya.


"Deandra kalau team wanita kalah, tamatlah kita " ucap Joya lesu.

__ADS_1


"Aku yakin! Kalian mampu untuk menang. Buang jauh pesimis kalian. Tunjukkan pada mereka, bahwa tidak semua wanita itu lemah! " ucapku tegas.


"I am strong! Let's start" semangat Emilly dengan satu kepalan tangannya ia angkat. Membuat yang lainnya menyetujui walau masih ada keraguan di hati masing-masing.


Babak pertama dan kedua poin kami seri, dan babak ketiga ini adalah penentuan tim mana yang poin nya tinggi maka tim itulah keluar menjadi pemenangnya.


Aku melakukan time out pada tim ku memberi mereka intruksi dan semangat tentunya.


"Heh!! Hellen apa waktu sekolah kau tidak di ajari cara passing bagaimana? Makanya sekolah itu belajar jangan kebanyakan absen! Untung kepala ku tidak gegar otak " semprot Emilly masih kesal yang kepala nya terkena lemparan bola voly dari Hellen.


"Aku tidak sengaja. Salah kan saja bola nya yang mendarat ke kepala mu. Kau tidak lihat kuku-kuku cantik ku rusak begini " sahut Hellen kesal saat melihat kuku nya ada yang patah.


"Kuku patah sedikit saja heboh, bagaimana kalau itu jarimu yang lepas " sarkas Joya sebal dengan tingkah manja Hellen.


"Sudah, sudah!! Jangan ribut. Hellen lihat! Kedua temanmu saja bisa berusaha keras untuk menang. Haruskah kau mengeluh terus, dari mulai tanding hingga sekarang. Jika kau tidak ingin main lagi silahkan keluar!! Berarti kau seorang teman yang egois, mementingkan diri sendiri. Orang seperti itu tidak pantas memiliki seorang teman " ucapku datar namun tegas membuatnya terdiam.


Merentangkan tangan ke titik fokus tengah yang langsung di ikuti oleh mereka.


Teriakku meneriakkan slogan "FIGHTING" kemudian dijawab oleh yang lainnya secara bersamaan dengan suara nyaring lantang, "WINNER".


****


PLAYLIST


JFlow - Unbeatable Ft. Dira Sugandi


Babak ketiga ini kami bertukar sisi lapangan, pertandingan di mulai dari servis lawan. Babak terakhir yang semakin memanas dengan poin saling kejar dengan banyaknya penonton yang mendukung tim masing-masing. Walau terik matahari sangat menyengat tidak membuat kami gentar hanya ada kata semangat yang terus ku rapalkan di dalam hati.


Ku lihat Christian dari awal pertandingan hingga kini. Ia masih setia berdiri di pinggir lapangan bersama Marco juga Theo yang menjadi wasit pencatat skor.


"Deandra lepaskan saja kemeja basah itu, agar gerakanmu tidak terhambat, dari pada harus mengibas-ngibas terus " ucap Joya yang kini berada di luar lapangan.


Sesuatu terjadi begitu saja padanya. Saat Joya yang tidak memperhatikan langkah kakinya di saat ia akan passing bola. Membuat pergelangan kaki kanannya terkilir, dan sudah tidak memungkinkan untuk ikut bermain. Dan kami harus tetap melanjutkan walau hanya ada 5 pemain.


Benar saja kemeja ku sudah basah oleh keringat sehingga Bra sport hitam yang ku kenakan terjiplak.


Hanya aku saja yang memakai baju lengkap seperti ini yang lainnya memakai bikini. Hellen memakai bikini merah cabe warna terangnya menyilaukan. Membuat orang yang melihatnya sakit mata termasuk aku. Melihat timku yang sudah berjuang keras .Tidak ada pilihan lain selain aku melepaskan kemeja. Entah apa yang akan terjadi nanti.


.


.


.


.


.


.


.


.


Next Chapter....


**Warning!!!


Like Follow Commen And Vote.

__ADS_1


See you 😉**


__ADS_2