Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 23


__ADS_3

Happy Reading.....


.


.


.


.


.


.


.


Enjooooooyy.....


*****


DEANDRA


Sejak tiga hari yang lalu, di mana terakhir kalinya Christian masih mengabariku. Dan sesudah itu, kami tidak saling komunikasi lagi. Aku pikir, mungkin saja dia sangat sibuk dengan pekerjaannya, dan karena itu , aku pun tidak mengirimnya pesan sama sekali.


Terlalu gengsi, iya, dan bingung harus mengirim pesan, yang seperti apa. Tanpa dirinya akhir-akhir ini, aku bisa bebas melakukan apapun yang aku mau, tidak harus selalu merasakan seperti, ada yang mengawasi.


Tiba di depan kantor, setelah memarkirkan mobil. Berjalan masuk pada pintu kantor, yang telah di buka, oleh seorang security. Entah, hanya perasaanku saja atau memang benar ada yang aneh.


Awal memasuki kantor, sampai di dalam lift, semua pandangan karyawan mengarah atau tepatnya tertuju padaku. Berbagai ekspresi yang ku tangkap dari mereka, yang membuatku langsung melihat penampilanku sendiri. Namun tidak ada yang salah, karena style pakaianku selalu sama seperti hari-hari sebelumnya, celana katun kerja, dan kemeja panjang.


"Deandra! "


Suara panggilan dari Emilly terdengar olehku, yang baru saja keluar dari lift.


"Apa kau baik-baik saja ? " tanya Emilly dengan wajah khawatirnya, yang langsung memegang tanganku erat, saat aku sudah di depannya, berada di kubikelku, serta anggukan Joya yang terlihat cemas.


" Ya, tentu saja" jedaku, menatap satu persatu raut wajah team kerjaku "Ada apa dengan kalian? Apa ada masalah ?" lanjutku.


Aku curiga! Pasti mereka tengah menyembunyikan sesuatu, yang berhubungan denganku.

__ADS_1


"Jangan buat aku...." belum selesai aku berbicara, Emilly berkata, "Aku yakin ! Kamu wanita yang kuat ! Jangan percaya pada berita itu, yang belum tentu benar. " potongnya, yang membuatku bingung.


"Maksudmu berita apa ? Apa pekerjaan kita dalam masalah ? tanyaku.


"Apa kamu belum mengetahuinya ? " tanya Joya, yang membuatku menaikan satu alis heran. Seolah tahu apa maksudku, Joya memainkan ponselnya sebentar, dan memberikannya padaku.


Ternyata ini, yang membuat para karyawan menatapku simpatik, dan sinis. Serta teman kerjaku, yang sangat mengkhawatirkan keadaanku.


"Young billionaire Christian Miller. CEO and owner of the Miller Group. One of the companies included in the five largest property and hospitality companies in the world.Terpegok oleh beberapa wartawan sedang makan malam bersama seorang model cantik di restoran mewah di Central London. Mereka diketahui kemudian bermalam di Hotel Miller London. Apa hubungan mereka? Bagaimana dengan wanita yang sudah menjadi tunangannya?"


 


 


Sebuah artikel yang memuat Christian bersama wanita, selama ia di London. Pantas saja! Dia tidak ada menghubungiku lagi beberapa hari ini. Ternyata dia sedang sibuk berkencan, Hehh! Batinku.


Sebuah suara yang tidak ingin ku dengar, menyapa masuk ke dalam telingaku.


"They really are a perfect match, right guys? " ucap Hellen kepada dua wanita, temannya.


"Yes, I totally agree, " ucap wanita berambut merah, bernama Lena terbaca dari name tag di bajunya.


"Sangat di sayangkan. CEO kita memiliki tunangan, wanita sepertimu" ucap wanita rambut pirang, yang melihat penampilanku dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan, alias Gaby.


"Wajah cantik, tubuh sexy lebih jauh aku kemana-mana" ucap Hellen sambil membusungkan dadanya ke depan, yang membuat Jack dan Tommy berdehem canggung bersamaan.


"Apa mungkin, kau menjual tubuhmu "


"KAU...." mengangkat telapak tanganku untuk menghentikan teriakan Emilly, menggelengkan kepala agar tetap diam.


Ku alihkan pandanganku, menatap Hellen dengan kedua temannya bergantian, "Apa otak di kepala kalian, hanya di gunakan untuk mencampuri urusan oranglain? Kenapa tidak di gunakan untuk segera selesaikan laporan kalian, yang sangat banyak di revisi? " ucapku datar sambil melipatkan kedua tangan di dada.


"Aku baru tahu! Bahwa perusahaan sebesar ini bisa juga meloloskan orang berotak udang untuk di jadikan karyawan! "


"Kau...."


"Apa mungkin, mereka menjual tubuhnya agar bisa di terima bekerja di sini. " sarkasku cepat sebelum Hellen berbicara, dan melempar hinaan balik padanya.


Hehh! Kamu salah besar! Jika berpikir aku akan diam saja, batinku.

__ADS_1


"Jangan merasa senang sudah menjadi tunangan pemilik perusahaan ini, " jedanya " Karena tidak lama lagi, kau akan segera di campakkan, oleh Mr.Miller! " sinis Hellen dengan angkuhnya.


Sepertinya, ia tidak ingin berhenti mencecarku, pikirku.


Menghela napas pelan, dan ku edarkan pandanganku ke sekeliling, yang sudah menjadi pusat perhatian karyawan. Menatap ketiga wanita, yang sudah menghancurkan semangat pagiku menjadi suram.


"Selesaikan laporan kalian hari ini, berikan padaku sebelum jam pulang kantor ! Jika tidak! Besok, divisi kalian tidak akan bisa ikut dengan yang lainnya " kata akhirku dengan penuh penekanan.


Berjalan ke meja kerja, masih tanpa ekspresi.


"Wahh! Kau keren, Deandra" ucap Joya


"Harusnya kamu bisa lihat tadi, wajah marahnya Hellen persis penyihir " ucap Emilly dengan tawanya.


"Apa kalian mau besok tidak akan pergi ?" tanyaku sarat akan makna.


"Jangan! Kami akan segera pergi " Ucap Emilly, dan Joya. Segera berlalu pergi ke meja kerja mereka masing-masing.


"Christian sialan! Pria pembual! "


" Ternyata kau masih saja seperti dulu, pria sepertimu memang tidak dapat di percaya" kesalku pelan.


Menghembuskan napas berat, sebelum memulai bekerja dengan suasana hati yang sudah buruk.


*****


Next Chapter....


.


.


.


.


.


Like and Comment

__ADS_1


Follow and Vote


See U 😉


__ADS_2