Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 95


__ADS_3

♡Happy Reading♡


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


📖


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


BRAK!!


BRAK!!


"BRENGSEK!!"


Suara dobrakan pintu dan umpatan setelah pintu kamar berhasil di buka. Membuat


Mario yang berniat melecehkan Deandra terhenti, sampai dirinya terlempar menjauh dari tubuh Deandra, oleh Steven.


"ASTAGA DEANDRA?!" Dan suara jeritan dari Raisa membuat ruangan sangat berisik. Raisa segera menghampiri Deandra dan menutup tubuh sepupunya yang hampir telanjang. Memeluk tubuh Deandra yang gemetar hebat.


"Deandra hiks......," Raisa menangis melihat sepupunya yang tengah di lecehkan. Tangisan Deandra dengan seluruh tubuh yang gemetar membuat hati Raisa tersayat.


"Ayo kita keluar hiks...lo bisa jalankan hiks...

__ADS_1


gue yakin lo kuat," Ucap Raisa masih dengan air mata yang mengalir membantu Deandra berdiri, dan berjalan keluar dari kamar sebelum itu ia menghentikan langkahnya.


"Habisi dia Stev, laki - laki ba*jingan seperti dia tidak pantas hidup," Ucap Raisa marah saat melihat Steven tengah memukuli Mario membabi buta hingga Mario sudah babak belur dengan wajah yang di penuhi darah. Melangkahkan kakinya keluar kamar dengan mendekap Deandra yang masih menangis juga gemetar.


"BRE*NGSEK!! BAJ*INGAN LO MARIO!! APA YANG ADA DI OTAK LO MELECEHKAN DEANDRA!! DIA KEKASIH LO SIA*LAN!!" Ucap Steven menghajar terus - terusan Mario.


"Gue nyesel mengenalkan Deandra pada laki - laki ba*jingan seperti lo," Ucap Steven dengan berhenti memukul wajah Mario.


"Gue...mencintainya..ukhuk..karr. rena itu gue tidak mau kehilangan..ukhuk Deandra," Ucap Mario dengan napas tersenggal - senggal dengan mulut yang berdarah.


"Jika lo mencintainya harusnya lo jaga dia bukan lo mau merusaknya," Ucap Steven berdiri memandang Mario yang berusaha duduk dari terlentangnya tanpa ada rasa kasihan.


"Hahh, lo gak akan ngerti Steven gak akan pernah mengerti besarnya cinta gue pada Deandra, " Ucap Mario menundudukan wajahnya.


"Percuma gue ngomong sama orang yang gak punya otak seperti lo, jangan pernah temui Deandra kalau tidak lo gue hajar, " Ucap Steven dan berjalan keluar ruangan. Mario mendongakkan wajahnya menatap kepergian Steven.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


Sudah tiga hari berlalu di mana kejadian itu terjadi dan Deandra tinggal di rumah Raisa mengurung diri kamarnya. Membuat Raisa serta keluarganya khawatir dengan kondisi sepupu serta keponakan mereka. Apalagi Deandra melarang mereka untuk memberi tahukan kondisinya pada kedua orang tuanya yang berada di New York.


"Apa sebaiknya kita berita tahu mereka saja, Pah?" Ucap Dewita ibu Raisa adik dari Andrew ayah Deandra itu kepada suaminya, Rezan.


"Tidak bisa Mah. Mamah tahu sendiri kan Deandra sendiri ingin semuanya di rahasiakan," Sanggah Raisa kepada ibunya.


"Menurut Papah juga begitu Mah, mungkin nanti Deandra sendiri yang mengatakannya," Ucap Rezan kepada istrinya.


"Biarkan Deandra menyindiri dulu Mah. Dia gadis yang kuat tidak akan lama lagi cepat bangkit kembali." Ucap Rezan mengusap lengan Dewita menenangkan.


"Ayo kita lanjutkan lagi makannya, nanti Raisa kamu antarkan sarapan untuk Deandra," Ucap Rezan menatap putrinya.


"Iya Pah." Ucap Raisa dan mereka melanjutkan sarapan pagi mereka yang tertunda.


Rezan yang pergi ke kantor serta Dewita yang pergi ke toko kuenya, kini tinggal Raisa dan Deandra yang berada di rumah. Serta pembantu rumahnya yang baru saja menyiapkan makanannya untuk Raisa bawa ke kamar Deandra.


"Dean, gue masuk ya?" Ucap Raisa membuka pintu kamar yang di tinggali oleh Deandra.


"Lo udah mandi ternyata," Ucap Raisa lagi saat melihat sepupunya yang tengah menyisir rambut di depan meja rias.


"Nih makan, sehabis ini kita jalan - jalan yuk? Suntuk juga gue di rumah apalagi gue masih pengangguran," Ucap Raisa dengan wajah penuh harap menatap Deandra.


"Males." Ucap Deandra singkat dan datar membuat Raisa murung. Bukan karena penolakan Deandra yang membuat Raisa sedih, tetapi kini perubahan sikap Deandra yang dingin, serta pendiam yang irit bicaralah membuat Raisa sangat sedih.


"Ahh lo gak asyik. Masa mau di rumah aja sih?" Kesal Raisa sambil menatap Deandra yang sedang melahap sarapannya sangat tenang membuat Raisa jengkel di buatnya.

__ADS_1


"Apa sudah terjual?" Ucap Deandra tanpa menatap Raisa.


Raisa yang tahu apa maksud Deandra mengeluarkan sebuah map yang sengaja ia bawa terlebih dahulu dari kamarnya.


"Apartement lo yang dulu udah gue jual, dan ini


surat - surat serta kunci apartement lo yang baru. Tempatnya lumayan jauh dari apartement yang dulu," Ucap Raisa sambil menyerahkan sebuah barang yang ia sebutkan tadi.


"Thank you, lo udah bantu gue," Ucap Deandra.


" Sama - sama lagian kita juga sepupuan, gue harap apartement nanti ngebuat lo nyaman. Tapi lo yakin gak mau tinggal di sini aja bareng gue dan orang tua gue juga?" Tanya Raisa, ia harap sepupunya ini bisa tinggal bersama dengannya.


Deandra menggelangkan kepala singkat, "Gue gak mau ngerepotin kalian," Ucap Deandra.


"Ngerepotin apa sih, kita kan keluarga. Lagian gue, sama Mamah, Papah gak terbebani lo mau tinggal selamanya juga di sini. Kami khawatir jika lo tinggal sendiri lagi di apartement," Ucap Raisa pelan di akhir kalimatnya.


"Kali ini gue bisa jaga diri sendiri." Ucap Deandra menatap balik Raisa datar.


Menghela napas pelan Raisa menganggukkan kepalanya.


Tok! Tok!


"Permisi Non, ada tamu yang ingin bertemu dengan Non Deandra," Ucapan pembantu wanita paruh baya Raisa membuat mereka mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka.


"Siapa mbok Nur ?" Ucap Raisa berjalan ke arah pintu.


"Ndak tahu Non, tapi tamunya seorang pria," Ucap mbok Nur membuat Raisa dan Deandra saling pandang.


"Ya udah suruh masuk saja, dan tolong ya mbok buatkan minum untuk tamunya," Ucap Raisa.


"Iya Non, "Ucap mbok Nur dan berlalu.


"Steven mungkin ya? Karena beberapa hari ini dia nanyain keadaan lo terus. Lebih baik kita temuin dulu Steven kasihan dia ngekhawatirin lo yang ngurung diri terus," Ucap Raisa sambil menarik paksa Deandra yang hanya bisa pasrah di tarik - tarik keluar kamar serta menuruni tangga.


Mungkin memang udah waktunya untuk ia mengakhiri menyindiri di dalam kamar.


"LO!! MASIH PUNYA MUKA LO DATANG KE SINI!!" Teriak Raisa saat mereka tiba di ruang tamu dan seseorang yang bertamu adalah orang yang mereka benci.


"Dee," Ucap Mario lirih hendak menghampiri Deandra.


"Berhenti di situ," Cegah Raisa menghadang Mario.


"Dean lebih baik lo balik aja ke kamar. Manusia laknat ini biar gue yang urus, " Ucap Raisa menatap benci Mario.

__ADS_1


"Dee beri aku waktu untuk berbicara denganmu.


Ku mohon dengarkan aku," Ucap Mario menatap Deandra yang memandangnya dingin.


__ADS_2