
☆Happy Reading☆
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Enjoooy.....!!!
*****
DEANDRA
Tepat pada hari ini, jam 7 malam. Acara anniversary perusahaan akan berlangsung lima menit lagi. Aku yang sudah selesai berpakaian, serta berdandan baru saja mendapatkan pesan dari Christian. Bahwa ia sudah berada di ballroom di mana pesta akan di adakan. Melihat dan mengecek tampilan lagi, apalagi make-up yang ku gunakan merias diri. Aku poles senatural mungkin, agar terlihat serasi dengan gaun yang aku kenakan saat ini.
(Cast gaun seperti di atas)
Long dress lengan pendek dengan memakai brukat bagian depan yang memperlihatkan punggung telanjangku. Karena pesta bebas memakai gaun apa saja. Maka dari itu, aku mengenakan gaun yang sudah ada, yang sempat aku bawa dari indonesia.
Setelah semuanya, Ok. Aku segera bergegas menghampiri pintu keluar. Setelah mengambil sling bag yang sudah di siapkan. Karena resort ini besar maka dari itu, aku berjalan memasuki lift untuk turun ke lantai bawah di mana acara di adakannya.
Teman-teman yang lain pun, sudah memberitahukan bahwa mereka sudah berada di sana.
Apalagi sling bag ku bergetar memberitahukan Christian dari tadi sudah meneleponku yang tidak aku angkat sama sekali. Semua gara-gara salahku sendiri. Setelah pulang jalan-jalan bersama Emilly, dan Joya. Aku mengistirahat diri dan tidur sebentar yang ternyata kebablasan. Jika bukan Emilly yang meneleponku mungkin aku tidak akan bangun, dan akan melewatkan pesta.
Pertama kali memasuki ballroom kesan pertamaku adalah elegant dan mewah. Desain ruangan perpaduan antara gold, dan purple sangat cantik. Apalagi warna gaunku kebetulan sangat cocok, jika di sandingkan dengan tema ruangan ini. Entah hanya perasaanku atau memang iya, saat masuk semua orang memperhatikanku, mengendikkan bahu tak peduli.
Aku pikir acara sudah mulai. Terlihat di depan sana Christian tengah berdiri di atas podium yang sudah di sediakan sedang memberikan pidato singkatnya kepada karyawan, dan juga beberapa relasi bisnis yang ia undang. Memiliki rahang tegas serta bahu tegap nan kekar yang di balut tuxedo seharga jutaan dollars itu, membuatnya terlihat menawan. Sehingga membuat para kaum hawa berada di ruangan ini terpesona olehnya.
"Sssstt.....Deandra, " sebuah suara dari samping mengalihkan pandanganku dari Christian berada di depan sana, kepada Tommy yang saat ini memanggilku beserta teman-temanku yang lainnya duduk dalam satu meja besar. Menghampiri mereka dan duduk di salah satu kursi kosong antara Tommy, dan Joya.
"Kamu sangat cantik, " ucap Tommy setelah aku duduk di antara mereka.
"Jika kamu masih single. Aku akan menjadikanmu calon istri tanpa pacaran terlebih dahulu, "sahut Jack berada di samping Tommy yang menopang dagu melihat ke arahku.
"Walaupun Deandra single. Ia tidak akan mau pada pria playboy sepertimu " sahut sarkasme Emilly di samping Joya.
"Bilang saja kau iri, karena belum pernah menjadi pacarku, " decak Jack.
"Lagian mana ada, pria yang mau pada wanita secerewet kau, " lanjut Jack sarkasme balik.
"KAU! " tunjuk Emilly marah pada Jack yang segera di lerai oleh Joya.
"Kalian ini, tidak di mana-mana selalu saja ribut mempersalahkan hal kecil " ucap Joya menatap mereka kesal.
__ADS_1
"Mungkin mereka jodoh, " celetukku.
"GOD FORBID!! " ucap mereka heboh bersamaan, dan bergidik ngeri yang membuat meja ini menjadi pusat perhatian tamu.
"Kalian membuat malu saja!" ucap Joya kesal sambil menundukkan kepala bersembunyi dari pandangan orang-orang, tapi tidak lama mereka acuh tak acuh lagi. Bertepuk tangan sambil berdiri saat, melihat ke arah depan Christian yang sudah turun dari podium. Pesta sudah mulai dengan para tamu yang berbaur serta mengarah pada stand-stand makanan yang sudah siap untuk di santap.
"Kau sangat Cantik.......juga sexy," ucap Christian yang sudah berada di hadapanku sambil mengusap punggung telanjangku.
"Maafkan aku, karena pekerjaan yang menumpuk. Acara berdua kita batal, dan kita tidak bisa berjalan bersama selama disini " lanjut Christian sambil merangkul pinggangku. Serta membawaku pada relasi-relasi bisnis untuk di perkenalkan. Lama sudah aku bersama Christian mengobrol dengan beberapa relasi bisnisnya yang tidak kehabisan bahan obrolan. Saat ini aku berada di stand makanan yang sangat menggiurkan dari pada di sana bersama Christian. Hanya membuat kakiku pegal saja, apalagi perutku yang memang sudah lapar sejak tadi. Mengambil beberapa makanan dan juga dessert, aku bergabung bersama Emilly, dan Joya tengah menyantap hidangan juga.
"Aku suka gaunmu Deandra. Di mana kamu membelinya? "tanya Emilly sambil menatap gaun yang kukenakan.
"Ini gaun lamaku yang ku bawa dari Indonesia," ucapku sambil menyuap makanan.
"Apakah kamu tidak sadar? Sejak kamu masuk semua orang menatapmu, " ucap Joya yang kubalas mengedikkan bahu.
"Terutama wanita-wanita yang memakai gaun sexy, seolah kamu adalah saingan mereka, " ucap Emilly membuatku mengangkat kepala, melihat sekitar. Memang benar rata-rata wanita di dalam ruangan ini memakai gaun yang kekurangan bahan. Gaun Emilly dan Joya yang dikenakan masih terlihat sopan.
"Apalagi si Bos, semakin terpikat saja olehmu " ucap Joya membuatku mengalihkan pandangan padanya.
"Itu..." lanjutnya sambil menunjuk arah yang ku ikuti, ternyata Christian sedang menatapku walau ia tengah mengobrol dengan relasinya.
Cukup lama kami saling pandang, ku lambaikan tangan agar ia kemari menghampiriku yang langsung ia turuti. Setelah berpamitan terlebih dahulu.
"Seharian bekerja terus kamu belum makan, kan? Biar aku ambilkan, " ucapku yang di tahan olehnya.
Dari dulu hingga sekarang, hal inilah yang tidak berubah darinya. Selalu menghabiskan makananku yang tengah ku makan.
Kurasakan sling bag ku bergetar, mengambil ponsel di dalamnya ku lihat Steven yang meneleponku.
"Aku akan angkat panggilan dulu," ucapku pada Christian dan beranjak dari sana. Menjauhi keramaian, taman yang aku tuju.
"Ya hallo, Stev? " ucapku setelah panggilan tersambung.
"Apa lo masih di pesta? " ucap Steven.
Steven memang sudah tahu anniversary perusahaan akan di adakan disini, "Iya. Ada apa? " tanyaku balik.
"Lo bisa keluar dulu sebentar? Ada hal yang gue mau omongin, ke lo" ucap Steven.
"Hemm. Lo ke taman gue ada di sini, " ucapku yang di balas panggilan sudah terputus.
"Dasar teman tidak tahu diri, " gerutuku.
"Siapa yang tidak tahu diri?" tanya Steven berjalan ke arahku.
"Lo. Orang yang tidak tahu dirinya, " ucapku kesal.
"Lagian lo cepat amat ke sininya, " lanjutku heran melihat Steven sudah ada di hadapanku.
"Gue memang sudah ada di luar pintu pesta lo, " ucap Steven.
"Kenapa gak masuk aja sih, lo? " tanyaku.
"Buat apa? Di undang tidak, yang ada malu-maluin," ucap Steven kubalas decakkan.
"Ya udahlah jangan di bahas. Tujuan lo ketemu gue di sini apa?" ucapku pada topik pembicaraan.
__ADS_1
"Gue mau pergi malam ini," ucap Steven.
Mengkerutkan kening, heran apa yang di maksud steven. "Lo mau balik ke Indonesia?"
"Bukan. Gue mau ke Spanish masih ada urusan pekerjaan di sana, " jelasnya.
"Bareng Carlos?" tanyaku.
"Iya. Sekalian dia juga mau balik ke rumahnya," ucap Steven.
"Modus, lo! Bilang kerjaan, tapi ternyata...." kataku menggantung melirik sinis padanya. "Lo gak balik ke Indonesia? Kasihan orang tua lo punya anak enggak pernah balik, " lanjutku.
"Salah mereka juga ngusir gue dari rumah," sanggah Steven.
"Anak tidak tahu diri! Lo tahu sendiri apa alasan mereka ngusir lo. Agar lo tidak melenceng dan membuat mereka bangga," ucapku kesal dengan kekeraskepalaan Steven.
Menatap sendu Steven berkata, "Pulang Stev, terakhir gue tahu. Kondisi nyokap lo memprihatinkan terbaring di rumah sakit. Lo gak mau kan?! Sebelum pulang, lo tidak akan pernah bertemu kembali dengan nyokap yang selalu sayang sama lo. Buang ego lo jauh-jauh. Sebelum lo menyesal!"
Cukup lama terdiam dan merenung. Akhirnya Steven mengeluarkan suarabya, "Berikan gue pelukkan perpisahan," ucap Steven merentangkan tangannya.
Menganggukkan kepala serta berjalan masuk kedalam pelukkannya, "Sure. " ucapku dan kami saling berpelukkan.
"Gue pasti akan pulang. Setelah mengantar Carlos terlebih dahulu," ucap Steven membuatku memutar bola mata. Namun tetap menganggukkan kepala.
"Salam buat orang tua lo di sana, "ucapku.
"Pasti. Ngomong-ngomong lo tambah sexy pakai gaun ini, dan juga cantik " ucap Steven dengan kami masih berpelukkan.
"Lo baru tahu! Dari dulu gue dilahirkan memang sudah cantik, dan juga sexy" narsisku.
"Kenarsisan lo, sudah akut" ucap Steven menyandarkan kepalanya pada bahuku.
Ketika kami akan melepaskan pelukkan anting di telinganya tersangkut di brukat bagian bahuku.
"Adaaaw.....telinga gue!" ringis Steven.
"Lo juga! Ngapain pake anting sebelah segala. Sekalian harusnya dua-duanya bila perlu, " ucapku kesal.
"Salahin aja gaun lo yang ribet banget," protes Steven sambil mencoba melepaskan.
Berdecak dengan perkataannya yang mengesalkan.
"Ahhh! Akhirnya lep.....," belum usai Steven berkata sebuah suara atau bentakkan mengagetkan kami, dan akan salah paham dengan kondisi dan posisi seperti ini.
"APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN!!"
*****
.
.
.
.
.
.
*Next Chapter ......
Like Vote and Follow!!!
See U😉*
__ADS_1