Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 90


__ADS_3

♡Happy Reading♡


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


📖


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


BRAAKKK!!


"OH MY GOD!!! APA YANG TERJADI?!!" Suara dobrakan pintu yang keras serta suara seseorang membuat Christian menoleh ke asal suara, ternyata itu adalah Mommynya.


"Chris....darah, Chris. " Suara panik Deandra menyadarkan Marissa dan Christian.


"Cepat angkat istrimu bawa kerumah sakit Chris," Ucap Marissa panik, dan khawatir ketika melihat keadaan menantunya. Christian bergerak cepat memakai bajunya kembali, Marissa menyandarkan tubuh menantunya pada dirinya.


Christian berjalan dan mengangkat tubuh Deandra dengan tubuhnya istrinya yang masih di gelung oleh selimut mereka. Berjalan cepat keluar rumah di ikut oleh Marissa yang terlihat sangat khawatir.


"Arlo nyalakan mobil," Teriak Christian pada pengawalnya yang segera di lakukan. Marissa membuka pintu mobil, dan segera cepat masuk di ikuti oleh Christian yang masih menggendong Deandra.


"Anakku, selamatkan anakku." Ucap Deandra dengan tangisannya, karena ia merasakan cairan dari bawahnya terus menerus mengalir.

__ADS_1


"Kalian akan selamat, sayang. Kalian akan selamat hiks...hiks...," Ucap Marissa yang sudah menangis melihat kondisi menantunya, memegang tangan Deandra yang sudah berkeringat dingin membuat Marissa semakin khawatir.


"Anakku....hiks," Tangis Deandra yang mulai melemah.


"Tetap terjaga, sayang. Tetap terjaga....buka matamu." Ucap Christian menepuk pipi istrinya pelan saat Deandra yang akan mulai kehilangan kesadarannya.


"Jalankan lebih cepat sialan!!" Teriak Christian pada Arlo yang tengah mengemudi. Perjalanan ke rumah sakit membuatnya sudah tidak sabar untuk segera tiba di sana.


"Sakit...anakku," Lirih Deandra.


"Kamu kuat sayang. Kalian akan baik - baik saja. Mohon maafkan aku...bertahanlah, sayang. Aku mohon. " Pinta Christian sambil mendekap tubuh Deandra dengan setetes air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Maafkan aku. Maafkan aku, kumohon. Jangan tinggalkan aku." Lirih Christian tubuh yang gemetar lalu kemudian suara isakkan yang mulai terdengar.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


"BREN*GSEK!!BREN*GSEK!!" Amuk Christian pada dirinya sendiri dengan kepalan tangan yang terus memukul pada tembok rumah sakit. Menunggu di luar ruangan operasi dengan lampu yang masih berwarna merah dari beberapa menit lalu yang membuatnya semakin frustasi.


Sudah beberapa menit berlalu Deandra di larikan ke ruang UGD, dan saat ini tengah melakukan tindakan operasi caesar. Terjatuhnya Deandra hingga mengeluarkan darah di haruskan melakukan operasi caesar di saat kandungannya belum genap 9 bulan, dengan kata lain anak mereka akan terlahir prematur.


Dan semua itu karena dirinya, membuat istrinya tidak bisa melahirkan secara normal seperti apa yang istrinya harapkan. Tetapi, harapan tinggallah harapan semuanya hancur karena ulah baji*ngannya.


"Jangan tinggalkan aku sayang," Ucap Christian dengan perasaan yang sangat bersalah.


PLAAKK!!


"Apa yang telah kau perbuat pada menantuku Christian?!" Ucap Marissa setelah menampar pipi anaknya.


"Mom, aku..." Ucapan Christian terpotong.


"Kau berbuat kasar padanya?! Apa yang kau pikirkan, HAH?!!" Sela Marissa menatap anaknya marah. Dirinya tahu ada sesuatu hal yang terjadi, karena terlihat dari tubuh menantunya yang


merah - merah serta kebiruan. Pasti anaknya berbuat hal yang sudah kelewatan batas.


"Baru saja Mommy, dan istrimu selesai chek-up kandungan di sini tadi pagi, tetapi sekarang harus masuk lagi ke rumah sakit dengan kondisi istrimu seperti itu. Apa yang kau pikirkan, Chris?!" Lanjut Marissa membuat Christian terhenyak.


"Apa maksud Mommy baru selesai dari sini?" Tanya Christian panik meminta penjelasan membuat Marissa bingung dengan tingkah anaknya.


"Mommy, dan istrimu tadi pagi chek_up kandungan, karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Sehingga mengantar untuk lihat kondisi anakmu saja kamu tidak bisa." Jawab Marissa sinis.


Christian yang mendengar penjelasan ibunya menjadi kaku, sesak dengan perasaan bersalah. Mestinya, ia mencari tahu kenapa istrinya belum tiba juga sampai rumah. Perkataan maaf pun tidak bisa menebus untuk dosa yang telah ia lakukan pada istrinya.

__ADS_1


"Marissa?" Panggilan seseorang mengalihkan pikiran mereka pada asal suara.


Di sana, Andrew, Flora, dan Brian yang berjalan berada di belakang orang tuanya yang sangat khawatir terlihat dari wajah masing - masing.


"Apa yang terjadi pada anakku? Kenapa Deandra bisa mengalami hal ini?" Ucap Flora dengan air mata yang terus mengalir.


"Deandra terjatuh, Flo" Jawab Marisaa membuat Flora terhuyung yang langsung di tahan oleh Andrew.


"Oh anakku," Lirih Flora menangis keras hingga Andrew mendekapnya erat menenangkan.


Brian yang berdiri di antara mereka hanya terdiam, meski di dalam hatinya ia juga sangat sedih dengan kondisi kakaknya. Apalagi melihat kakak iparnya yang tampak terlihat frustasi serta di landa kesedihan yang sangat dalam juga.


Lampu operasi telab berubah warna hijau menandakan bahwa operasi telah selesai di lakukan. Mereka semua menunggu untuk seseorang keluar dari sana harap - harap cemas akan berita buruk membuat mereka takut terjadi. Seseorang keluar dari dalam pintu, ketika membuk maskernya ternyata dokter Claudya.


"Keluarga pasien?" Panggil Claudya.


"Bagaimana keadaan istri, dan anak saya?" Tanya Christian tenang meski dapat terlihat wajah khawatirnya tidak dapat di sembunyikan.


"Karena mereka cepat di bawa ke sini dan segera di tangani. Anak Mr. selamat kami tolong, dan anak Mr. seorang bayi laki - laki. Namun karena kelahirannya yang belum waktunya. Anak Mr. harus menerima perawatan khusus, di karenakan anak Mr. lahir prematur." Jelas Claudya.


"Dan istri anda, karena mengalami pendarahan yang cukup hebat istri anda sempat mengalami masa kritis. Meski kondisinya sekarang sudah stabil lagi, tapi maaf.....istri anda koma." Lanjut Claudya prihatin.


Meski mereka semua senang mendengar anak, dan cucu mereka lahir selamat, tetapi jika mendengar Deandra yang harus koma membuat mereka sangat sedih bersamaan.


Christian yang mendengar penjelasan dokter Claudya terhuyung kebelakang, sehingga ia terduduk di kursi tunggu yang mencengkram kepalanya frustasi.


Sebuah berita yang membuat syok, serta kehilangan arah membuat Brian yang sedari tadi diam mendengarkan perlahan maju, berinisiatif untuk bertanya lebih lanjut ke pada dokter Claudya.


"Apa sekarang kami boleh melihat keadaan mereka?" Tanya Brian.


"Bisa. Setelah mereka kami pindahkan dulu pada ruangan khusus bayi, serta si ibu kami pindahkan ke ruang ICU untuk mengawasi kondisi pasien. Kalau begitu saya permsi." Ucap Claudya.


"Iya, terima kasih dok." Ucap Brian yang di balas anggukkan sebelum dokter Claudya masuk ke dalam ruangan kembali.


Marissa yang melihat keadaan anaknya sangat kacau, meski marah dan kecewa, tetapi sebagai seorang ibu. Ia merasa sangat kasihan melihat kondisi anaknya yang begitu berantakkan. Menghampirinya duduk di samping, dan membawa Christian pada pelukkannya. Christian yang mengetahui Marissa di sampingnya pun, segera memeluk sang Mommy erat, menumpahkan semua kesedihannya terlihat dari bahu yang bergetar serta isakkan yang tertahan. Membuat mereka yang melihat pun tidak bisa menahan kesedihan mereka, dengan air mata yang lolos dari mata mereka lagi.


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


Next Chapter.....


Vote, follow, and likenya sayyy...

__ADS_1


See U 😉


__ADS_2