Married With My Ex

Married With My Ex
CHAPTER 94


__ADS_3

♡Happy Reading♡


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


📖


☆¤☆¤☆¤☆¤☆


Satu bulan telah berlalu di mana kesehatanku sudah di nyatakan baik dan sudah bisa di ijinkan untuk keluar dari rumah sakit. Tapi tidak dengan bayiku yang masih harus mendapatkan perawatannya. Maka sejak satu bulan ini, aku selalu berulang - aling pergi dan pulang ke rumah sakit. Hubunganku dengan Christian seakan memiliki jarak, setelah aku di rawat satu minggu di rumah sakit dan aku pulang ke rumah orang tuaku. Orang tuaku yang menyarankan aku untuk tinggal di sana sekalian untuk menjaga kesehatan, dan menemaniku juga. Agar selalu ada yang mengawasiku apabila Christian tengah bekerja. Aku yang memang masih belum melupakan perlakuan Christian kepada ku, sehingga saran orang tuaku segera aku setujui meski Christian sempat protes, namun pada akhirnya Christian pun mengalah. Dan dalam satu bulan ini aku tinggal bersama orang tuaku, tetapi yang membuat aku kesal adalah Christian juga menginap di sana walaupun tidak sampai tiap hari juga. Mungkin dia sadar diri, jika aku butuh waktu untuk semua yang hal yang sudah terjadi padaku.


Hari ini aku dalam perjalanan pulang setelah menjenguk anakku, memberikannya ASI eksklusif membuat ku bahagia, dan lebih bahagia lagi besok anakku sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Aku yang tidak pernah selalu absen untuk memberikan ASI membuat perkembangan anakku cepat pulih, dan ia akan keluar dari Berada di dalam mobil dengan Christian yang tengah mengemudi dengan keadaan hening. Hampir setiap saat kami pergi bersama ke rumah sakit. Christian meluangkan waktunya di sela ia sibuk bekerja di kantor.


Mengerutkan kening heran ini bukan jalan menuju rumah orang tuaku, tapi menuju kediamanku. Ternyata benar Christian membawaku pulang ke rumah. Mobil telah berhenti di halaman rumah yang sudah satu bulan tidak ku tempati perasaan rindu merasuk ke hatiku. Namun segera ku tutupi dengan ekspresi datar saat Christian membukakan pintu mobil untukku. Berjalan keluar serta menuju teras depan rumahku dengan Christian berada di samping.


Pintu utama yang sudah terlebih dahulu di buka dari dalam oleh Elida menyambut kami berdua.

__ADS_1


"Selamat datang kembali Nyonya," Sapa ramah, sopan Elida kepada ku.


"Bagaimana kabar anda?" lanjutnya.


"Baik, tapi lebih baik lagi jika anakku sudah berada di dekatku." Ucapku tanpa menutupi raut sedihku hingga membuat Elida turut bersedih.


"Kamar kita kembali di atas Sweety, dan aku pergi dulu ke sana." Sela Christian yang ku jawaban gumaman, berjalan menaiki tangga di mana kamar utama kami berada sebelumnya.


"Saya yakin Tuan muda akan segera sehat, serta dapat berkumpul dengan Nyonya, dan juga Tuan." Ucap Elida tersenyum ramah mengalihkan pandanganku dari Christian.


"Ya Elida, dan besok anakku sudah bisa aku bawa pulang." Ucapku tersenyum bahagia.


"Saya senang mendengarnya Nyonya," Ucap Elida.


"Aku ke kamar dulu Elida." Pamitku.


"Apa anda ingin saya buatkan sesuatu Nyonya, dan juga untuk Tuan?" Tanya Elida.


"Baik Nyonya akan saya antarkan nanti."Ucap Elida sebelum ia pergi ke dapur dengan perasaan bingungnya. Permintaan majikannya sedikit aneh, karena di musim dingin begini majikannya ingin minum minuman yang dingin. Tapi Elida yang seorang pelayan di rumah ini hanya bisa membuatkan tanpa harus banyak bicara.


Setelah membuka pintu kamar objek yang ku lihat adalah Christian tengah berdiri tegap di depan balkon. Membelakangiku menatap hamparan bunga yang berada di bawah.


"Kenapa kau membawaku kesini?" Ucapan pertama yang kulontarkan memang sudah sejak tadi ingin ku katakan kepadanya.


Ia berbalik, menatap ke arahku dengan mata tajamnya. Berjalan mendekat seperti predator yang tengah ingin menerkam mangsanya.


"Apa aku salah membawa istriku kembali ke rumahnya?" Tanya Christian dengan tatapan datarnya. Namun tidak dengan tangan kanannya yang mengelus pelipis hingga pipiku.


Ku palingkan wajahku sedikit sehingga tangannya mengambang di udara tidak menyentuh wajahku lagi.


"Apa kau lupa Christian dengan apa yang telah kau lakukan padaku." Ucapku menatapnya sinis berbeda dengannya yang masih mempertahankan raut datarnya yang~~~sedikit dingin.


"Kecemburuan serta keegoisan mu membuat kau kehilangan akal. Sehingga tidak memikirkan apa dampak dari perbuatan mu itu."Ucapku memandangnya tak kalah datar.

__ADS_1


"Ergan Mario Geoff adalah mantan ku saat aku berada di Indonesia, itukan yang ingin kau ketahui?!" Lanjutku.


"AH!! Mungkin kau sudah mengetahuinya. Apa yang tidak bisa di lakukan oleh seorang pembisnis billionare nan muda seperti dirimu. Mencari informasi data seseorang adalah hal mudah bagimu, tapi aku yakin hanya sebatas itu yang kau tahu. Satu lagi, kau sudah mengetahui jika aku pernah memiliki hubungan juga dengannya. Benarkan, suamiku?!" Ucapku sarkas.


"Diamnya dirimu berarti iya."Ucapku saat ia tidak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya.


"Mungkin dulu saat kau berpisah dengan sepupumu itu, karena status kalian yang sedarah dan juga dia berselingkuh lalu mencampakkan mu. Benar, kan?" Ucapku tersenyum. Apalagi saat melihat ekspresinya sedikit berubah mungkin~~kaget kenapa aku bisa mengetahuinya.


Tok! Tok!


Suara ketukkan dari pintu menghentikan ku bicara, dan berjalan ke arah pintu setelah ku buka ternyata Elida yang mengantarkan pesanan ku.


"Terima kasih Elida," Ucapku.


"Sama - sama Nyonya." Ucap Elida dan berlalu dari hadapanku. Setelah pintu ku tutup kembali dan membawa nampan dengan minuman di atasnya menyimpan di atas meja yang berada di balkon. Dengan tatapan Christian yang tak pernah lepas untuk memperhatikan ku dari awal.


"Duduklah," Ucapku sambil menunjuk ke arah kursi di depanku. Ia berjalan, duduk dengan elegannya di hadapanku membuatku sedikit berdecak kesal. Pakaiannya yang sedikit kusut pun tetap saja ia terlihat menawan. Menatap tubuh diri sendiri yang terdapat beberapa lemak membuatku meringis.


"Kenapa harus yang dingin?" Tanya Christian menatapku yang tengah menyesap minuman jeruk dinginku.


"Untuk saat ini aku membutuhkan cairan yang dingin, karena sesuatu yang akan ku katakan menguras emosiku." Ucapku setelah menyimpan gelas kembali.


"Kita bertemu terus berhubungan sebagai sepasang kekasih, tapi masalalu mu yang datang kembali membuat kau mencampakkan ku. Sehingga hubungan kita berakhir dan aku pergi menjauh dari mu serta keluargaku juga." Ucapku tanpa basa basi melanjutkan masalah tadi yang sempat tertunda.


"Saat aku tinggal di kelahiran ayahku. Aku bertemu dengannya, Mario atau biasa ku sebut dengan Rio. Pria yang menarikku dari rasa kesakitan yang telah kau torehkan. Kami menjadi sepasang kekasih, ia memberikanku kebahagian dengan rasa cintanya yang dalam padaku." Jedaku menatap ekspresi Christian yang cemburu terlihat dari bagaimana ia mencengkram gelas kopinya.


"Namun rasa cintanya yang dalam membuatku tereset dalam kegelapan, hingga membuatku menutup diri dari dunia luar."


Memegang gelas tinggi yang berisi es jeruk itu tak membuat gemetarku berhenti. Christian yang menyadari gelagatku hendak berdiri.


"Duduklah. Aku akan menceritakan semuanya apa yang ku sembunyikan selama ini, dan kau harus tahu. Sehingga kau akan memutuskan apa untuk hubungan kita." Cegahku meminta ia untuk duduk kembali.


"Saat itu~~~" tatapanku kosong, menerawang ke masa lalu di mana aku pernah mengalami yang begitu suram sehingga membuatku memiliki rasa trauma pada beberapa hal.

__ADS_1


__ADS_2