
♡Happy Reading♡
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
📖
☆¤☆¤☆¤☆¤☆
Deandra berjalan memasuki taman, serta melihat seorang pria yang tengah duduk di salah satu kursi panjang yang berada di taman. Setelah malam ia menerima sebuah pesan dari Mario di mana mereka akan bertemu untuk berbicara. Meski ragu untuk Deandra menemuinya, tapi ia harus menyelesaikan masa lalu yang belum sempat ia selesaikan. Dengan ke hati -hatian ia berjalan ke arah Mario yang sudah menunggunya.
Melihat Deandra yang berjalan ke arahnya, Mario segera berdiri dan tak lupa senyum mempesonanya yang ia tampilkan. Namun harus pudar saat yang di beri senyumannya tidak membalasnya, menatap pun tidak sama sekali.
Deandra duduk di atas kursi panjang, sambil terus mengusap perutnya yang besar. Kegiatan Deandra tidak lepas sama sekali oleh Mario yang terus menatapnya.
"Jika hanya untuk memperhatikan lebih baik saya pulang." Ucap Deandra datar setelah beberapa saat terjadi keheningan. Mario tersenyum miris dengan panggilan Deandra seolah memberitahukan kepadanya bahwa mereka memiliki jarak yang tidak bisa ia jangkau.
"Aku senang kita kembali bertemu kembali Dee, dan maaf......untuk semua yang pernah aku lakukan kepadamu dulu." Ucap Mario menatap Deandra penuh penyesalan.
"Maaf atas kebodohan ku dulu yang sudah membuatmu membenci ku Dee," Belum selesai Mario berkata.
__ADS_1
"Deandra. Panggil saya Deandra" Sela Deandra yang merasa risih dengan panggilan Mario kepadanya. Mario tersenyum miris dengan Deandra yang sudah tidak sudi lagi dengan panggilan sayangnya. Dengan menghela napas pelan yang merasa dadanya sesak Mario berkata kembali.
"Aku menyesal telah melakukan hal yang tidak pantas itu padamu. Namun percayalah aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu, dan tidak ingin kehilanganmu." Ucap Mario.
Deandra yang mendengar perkataan Mario pun mengalihkan pandangannya yang sedari menatap lurus ke depan, kini menatap Mario tajam.
"Jika memang mencintai saya, seharusnya kamu bisa menjaga kepercayaan saya. Dengan kamu melakukan itu, apa anda pikir saya menyukainya?! Tidak Mario?! Yang ada saya sangat membencimu." Ucap Deandra tajam.
"Ya. Pria seperti ku memang pantas di benci olehmu, dan untuk bertemu denganmu aku sangat malu. Apalagi aku meminta permohonan maaf kepadamu membuatku menjadi pria bre*ngsek dan tidak tahu diri." Ucap Mario sambil menundukkan kepalanya.
"You jerk!! Mario." Umpat Deandra yang di balas anggukkan oleh Mario.
"Katakan..... alasan kenapa kamu melakukan itu." Tuntut Deandra yang masih tidak menerima dengan penjelasan Mario tadi kepadanya. Mario yang di tatap seperti itu, mau tidak mau ia memang harus menjelaskan semuanya.
"Saat salah satu perusahaan keluargaku mengalami masalah, dan hampir bangkrut. Aku di perintahkan oleh ayahku untuk pergi ke Jerman untuk menyelesaikan perusahaannya itu, yang tidak bisa ku bantah sekalipun. Aku tidak ingin pergi, apalagi sampai meninggalkanmu. Dan pikiran ku terbutakan hingga hilang kendali, karena tidak ingin meninggalkanmu hingga kamu di miliki pria lain. Maka dari itu, aku melakukan sesuatu hal hina agar bisa menandaimu hanya untuk kamu jadi milikku.
Tetapi aku salah, dengan aku seperti itu, malah membuatmu membenciku. Dengan kamu yang tidak ingin bertemu lagi denganku saat hari itu.
Aku benar - benar menyesal dan bersalah telah melukaimu. Aku pergi ke Jerman dengan membawa semua rasa penyesalanku. Maafkan aku Deandra...maaf. Maafkan aku yang hampir saja akan mengambil sesuatu darimu." Ucap Mario berakhir dengan suara lirihnya, menatap Deandra dengan raut kekacauannya.
"Bagaimana dengan kuliah hukummu, bukankah kamu ingin menjadi pengacara?" Tanya Deandra setelah diam membisu dengan penjelasan Mario yang membuatnya sulit untuk mengatakan kata.
"Saya memang sudah memaafkan mu," Ucapan Deandra membuyarķan lamunannya membawa ia pada kenyaataan. Tersenyum haru saat mendengar perkataan Deandra, namun hanya sesaat setelah Deandra kembali berbicara.
"Bukan berarti saya melupakannya yang pernah kau lakukan kepada ku." Lanjut Deandra dengan tatapan kosong ke arah depan.
"Ya. Aku memang pantas kau benci Deandra, gelap mata dan tanpa berpikir panjang membuatku sangat menyesalinya." Ucap Mario tersenyum miris.
"Tapi setidaknya, mendengar kamu sudah memaafkanku membuat beban berat yang kurasakan sedikit membuatku lega, dan aku sadar diri untuk tidak mengharapkan lebih untuk sekedar menjadi temanmu." Lanjut Mario.
Mendengar perkataan Mario, Deandra menatap ke arahnya.
"Cukup saya mengenalmu sebagai rekan kerja suamiku Mario, karena dengan itu tidak membuatku terganggu." Ucap Deandra datar. Meski merasakan sakit hati pada ulu hatinya saat mendengar perkataan Deandra, tapi Mario menerima hal itu. Tersenyum tipis dengan paksa, dan menganggukkan kepalanya.
"Aku turut senang saat mengetahui kamu sudah menikah, apalagi kamu tengah mengandung. Aku berdoa untuk kamu sehat selalu, dan juga calon anak kalian." Ucap Mario tulus. Meski hatinya sakit, karena wanita yang di cintainya sudah milik orang lain, dan tidak ada kesempatan bagi dirinya kembali.
"Terima kasih Mr. Geoff, jika begitu saya permisi." Ucap Deandra.
__ADS_1
"Akhh," ringis Deandra
"Hati - hati."
Deandra yang hendak berdiri terburu - buru, hampir saja oleng dan akan terjatuh jika Mario tidak sigap menahan pinggang Deandra.
"Apa kamu baik - baik saja atau perutmu sakit? Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Ucap Mario setelah membantu Deandra berdiri dengan benar.
"Tidak apa - apa. Tiba - tiba anakku menendang sangat kuat." Ucap Deandra yang di angguki Mario.
"Apa kamu ke sini sendiri, jika begitu biar aku antar kamu pulang." Tawar Mario.
"Tidak usah Mr. Geoff saya bisa sendiri. Saya tidak ingin terjadi kesalah pahaman saat saya tiba di rumah. Saya permisi." Ucap Deandra segera pergi tanpa ingin mendengar balasan Mario.
Melihat Deandra yang pergi berjalan jauh, dan sudah menaiki sebuah taxi. Mario pun mulai pergi dari taman, dan berjalan ke arah mobilnya. Namun sebelum menjalankan mobilnya, ia sempat menatap ke arah taman dengan hati yang berkecamuk, dan segera menjalankan mobilnya berlalu dari sana.
☆¤☆¤☆¤☆¤☆
Deandra yang sudah tiba kembali di rumah orang tuanya sejak tadi siang, ia berdiam diri di dalam kamar sampai waktu sudah malam. Melihat ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Karena sejak terakhir kali Christian memberinya kabar setelah ia tiba di sana, sampai sekarang suaminya itu belum ada kabar kembali hingga kini. Dengan menyingkirkan rasa gengsinya, serta pula anaknya yang terus menendang perutnya, karena merindukan ayahnya. Deandra pun mengambil ponselnya, dan mendial nomer Christian.
Panggilan pertama tidak di angkat, ia mencoba kembali menelpon. Meski lama di angkat, tapi akhirnya panggilan pun di angkat.
"Chris......" Ia kembangkan senyum di bibirnya, namun sebuah suara tak di inginkannya saat itu juga membuat senyum itu perlahan memudar.
"Di mana Christian?!" Tanya Deandra dingin pada seseorang di sebrang sana.
"Saat ini Christian tengah mandi..." Belum usai seseorang itu berbicara Deandra sudah menyelanya.
"Kau lancang sekali memegang ponsel atasanmu. Katakan padanya segera hubungi aku kembali." Potong Deandra dengan menekankan sebuah kata, dan menutup panggilan sepihak.
"Aku harap kamu tidak akan mengecewakan ku kembali Christian." Ucap Deandra dingin, serta tangannya yang mencengkram selimut di sampingnya. Namun sayang, hingga malam sudah larut dan Deandra tidur dalam mimpinya. Tidak ada satu pun panggilan Christian yang masuk ke dalam ponselnya.
☆¤☆¤☆¤☆¤☆
Next Chapter.....
Vote, like, and follownya sayangkuh 🤗
__ADS_1
See U 😉