
Dengan senyuman canggungnya Shanika pun kembali mengajukan pertanyaan kepada Nadine yang saat ini masih menatap foto pria yang ia sukai melalui handphonenya “Kenapa kamu bisa menyukainya?” dengan tatapan yang sangat lekat.
“Karena dia tampan? Haha! Dia itu sangat populer di Kampus kita Sha,” jawab Nadine dengan nada bicaranya yang terdengar semakin bersemangat kepada Shanika.
“A-aku yakin, ada banyak pria populer di Kampus kita selain dia. Iya, kan?” balas Shanika lagi dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar, yang seketika itu juga membuat Nadine merasa aneh dengan tingkah Shanika.
Detik itu juga Nadine mengerutkan dahinya dan segera memasukkan handphone ke dalam saku pakaiannya sambil berkata “Sebenarnya kamu kenapa sih? Kenapa kamu bicara begitu?” dengan ekspresi kesalnya kepada Shanika.
“Ja-jangan marah dulu! Barusan aku hanya berpikir… kalau kamu terlalu cepat menyukainya. Lagipula kita belum tahu, dia itu pria yang baik atau bukan!” jawab Shanika dengan wajah paniknya setelah melihat reaksi ketus dari Nadine.
“Entahlah, mau dia pria baik atau jahat! Aku akan tetap menyukainya,” balas Nadine sambil menghela nafas dan memasang ekspresi tidak pedulinya, sambil bangkit dari duduknya.
“Tapi,” sebelum Shanika kembali bicara dengan cepat Nadine memotong perkataannya dengan mengatakan “Sudah, kita lupakan saja! Tadi sebelum datang ke sini aku membeli mie instan, ayo kita masak!” ucap Nadine sambil mengambil kantung plastik di dalam ranselnya, setelah itu bergegas pergi menuju dapur yang ada di dalam Apartement Shanika.
Sedangkan Shanika yang melihat tingkah temannya yang berusaha mengabaikan perkataannya hanya bisa terdiam sambil berpikir “Kalau sampai diikuti oleh hantu seperti itu… pasti ada yang tidak beres dengan pria itu, kan?” dengan perasaannya yang campur aduk.
“Shanika? Kenapa malah diam saja? Ayo, bantu aku memasak!” panggil Nadine yang seketika itu juga membuat Shanika segera bangkit dari duduknya dan berusaha melupakan semua hal yang membuatnya merasa pusing “Iya, tunggu sebentar.” Balas Shanika dengan senyuman tipisnya.
Hingga beberapa jam kemudian, setelah Shanika mengantar Nadine pulang hingga pintu depan gedung Apartementnya. Saat itu juga Shanika menatap punggung Nadine yang semakin menjauh sambil bergumam “Dia memang teman dekatku. Tapi, entah kenapa… aku merasa kurang diterima olehnya,” dengan perasaan sedihnya terhadap Nadine.
“Hah… apa yang harus aku lakukan?” sambung Shanika sambil membalik tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya dengan langkah yang lemas.
__ADS_1
***
Dan di sisi lain, Xyan yang baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya di Kantor. Tanpa berlama-lama lagi segera pulang ke Apartementnya dan menaiki lift dengan harapan semoga ia tidak bertemu dengan Shanika lagi, karena bagi Xyan wanita seperti Shanika cukup merepotkan.
Tapi, tepat pada saat pintu lift menuju Apartementnya terbuka, saat itu juga Xyan dikejutkan dengan Shanika yang sedang berjongkok tepat di depan pintu lift “Ah! Akhirnya kamu pulang!” kata Shanika sambil bangkit dari jongkoknya dan merapikan pakaiannya dengan ekspresi yang sangat ceria kepada Xyan.
“Jangan bilang… kamu sedang menungguku?” tanya Xyan dengan ekspresi tidak percayanya, sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, yang seketika itu juga membuat Shanika dengan reflek menganggukkan kepalanya.
“Hah… yang benar saja!” keluh Xyan sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika dan segera melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari dalam lift.
Tanpa perasaan takut sedikit pun, Shanika pun segera mengikuti langkah kaki Xyan sambil berkata “A-ada yang ingin aku tanyakan… menurutmu, kenapa hantu bermata merah mengikuti seseorang?” tanya Shanika tanpa banyak basa basi.
Dan dengan santainya Xyan menjawab “Tentu saja, karena dendam! Begitu saja tidak tahu,” dengan nada bicaranya yang terdengar sedikit ketus kepada Shanika.
Xyan yang sudah menggenggam gagang pintu Apartementnya, detik itu juga menolehkan kepalanya ke arah Shanika dengan sangat cepat sambil kembali berkata “Sebenarnya ada apa?” sambil berusaha untuk bersabar kepada Shanika.
“Sepertinya aku akan segera bertemu lagi dengan satu sosok hantu bermata merah di Kampusku!” jawab Shanika dengan tatapan lekatnya kepada Xyan, seakan sedang meminta bantuan.
“Menurutku tidak hanya satu tuh,” balas Xyan yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak “Ya?!” kaget Shanika dengan kedua bola matanya yang melebar.
“Asal kamu tahu saja, di Kampusmu itu... ada banyak makhluk mengerikan!” sambung Xyan dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan disetiap katanya.
__ADS_1
“Kamu… sedang menakut-nakutiku, kan?!” bentak Shanika dengan reflek sambil melangkah muncul dari hadapan Xyan.
“Ya sudah kalau tidak percaya, pergilah! Aku lelah. Jadi, jangan ganggu aku!” ucap Xyan lagi sambil menekan nomor sandi pada pintu Apartementnya dan segera meninggalkan Shanika ke dalam Apartementnya.
Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan Xyan dan ditinggal masuk ke dalam Apartement oleh Xyan, saat itu juga memerucutkan bibirnya sambil bergumam “Sangat tidak membantu! Aku kira, aku bisa mengandalkannya!” keluh Shanika sambil memasuki salah satu pintu lift yang terbuka.
Selama di dalam lift, Shanika pun terus terdiam dan merenungkan nasibnya yang sudah sangat berbeda dari sebelumnya dengan perasaan campur aduk, di satu sisi ia merasa sangat bersyukur dan di sisi lain ia merasa sangat takut sekaligus tidak percaya diri.
“Aku payah sekali,” keluh Shanika lagi saat pintu lift sudah terbuka dan dengan cepat Shanika melangkahkan kakinya menuju pintu Apartementnya.
Saat Shanika sedang menekan nomor sandi di pintu Apartementnya, tiba-tiba ia mendengar suara wanita yang memanggil namanya di ujung lorong “Siapa di sana?” tanya Shanika karena ia pikir ada seorang OB yang baru saja memanggilnya.
Karena merasa penasaran, Shanika pun mulai melangkahkan kakinya menuju ujung lorong yang memiliki jendela yang sangat besar “Permisi?” ucap Shanika tanpa perasaan curiga sama sekali, sambil memastikan di ujung lorong itu ada orang atau tidak.
“Hm? Apa barusan aku salah dengar, ya?” gumam Shanika sambil mengusap telinganya sendiri.
Dan tepat sebelum Shanika membalik tubuhnya. Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan dari jendela besar yang saat ini berada tepat dihadapannya, yang saat itu juga membuat Shanika yakin kalau saat ini ia sedang diganggu oleh makhluk tak kasat mata.
Awalnya Shanika ingin segera pergi. Tapi, untuk melawan rasa takutnya Shanika memutuskan untuk menghadapi langsung makhluk yang mengganggunya itu dengan semakin mendekatkan dirinya pada jendela besar dihadapannya untuk melihat ke bawah jendela.
Tapi, tepat sebelum Shanika berhasil melihat keluar jendela. Tiba-tiba Xyan datang menarik lengannya dan segera mendekap tubuhnya dengan sangat erat sambil mengucapkan sebuah mantra yang sama sekali tidak Shanika mengerti.
__ADS_1
“A-apa-apaan ini?!” tanya Shanika sambil berusaha melepas dirinya dari pelukan Xyan yang sangat erat “Diamlah! Jika ingin selamat!” pinta Xyan sambil terus menahan dan memeluk tubuh Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa berdebar-debar “Deg-deg!” karena untuk pertama kalinya ada seorang pria yang memeluknya selain Ayahnya sendiri.
“Ugh! Lama-lama aku bisa tidak waras!” batin Shanika selama berada di dalam pelukan Xyan.