
“Kenapa aku merasa kesal setiap melihat Shanika tersenyum pada pria lain? Padahal itu bukan urusanku!” pikir Xyan lagi sambil melangkah keluar dari dalam mobilnya yang sudah ia parkirkan dengan rapi.
Tanpa mau melihat ke arah Shanika sedikit pun, Xyan pun bergegas memasuki gedung Apartement dengan langkah kakinya yang kasar, yang seketika itu juga membuat Shanika menolehkan kepalanya ke arah Xyan dan melihat Xyan dengan tatapan bingungnya.
Beberapa detik kemudian, saat Xyan memasuki lift yang kosong tiba-tiba Shanika berlari untuk memasuki lift itu juga sambil membawa kotak kardus yang cukup besar dan Xyan yang tahu kalau pagi ini Shanika sedang berusaha menghindarinya, kali ini memutuskan untuk tidak bicara sedikit pun.
“Kenapa dia diam saja?” pikir Shanika sambil sesekali melirikkan matanya ke arah Xyan yang berdiri di sampingnya.
“Ba-barusan, ada kurir paket yang membawakan pesanan Ayahku untukku! Sepertinya ini hadiah ulang tahunku yang Ayah lupakan tahun lalu, hehe.” Cerita Shanika yang berusaha memancing pembicaraannya dengan Xyan yang terlihat sangat cuek kepadanya.
Sedangkan Xyan yang mendengar perkataan Shanika, seketika itu juga merasa lega karena pria yang barusan ditemui oleh Shanika hanyalah sekedar pengantar paket dan lagi-lagi Xyan tersentak, saat tiba-tiba Shanika berkata “Kamu marah kepadaku ya?” dengan wajah memelasnya.
“U-untuk apa aku marah hanya karena melihatmu bicara dengan pria lain?” balas Xyan dengan reflek, yang seketika itu juga membuat Shanika ikut tersentak “Ya?!” dan memasang ekspresi bingungnya.
“Ekhem! Lupakan saja,” sambung Xyan sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika yang hingga saat ini masih terus menatapnya dengan lekat.
Shanika yang baru menyadari maksud dari perkataan Xyan itu pun mulai tersenyum dan dengan reflek, berusaha menahan senyumannya sendiri dengan sekuat tenaganya sambil berpikir “Apa dia sedang cemburu?” dengan perasaannya yang berbunga-bunga.
“Kamu, bukannya pagi ini kamu berusaha menghindariku?” tanya Xyan dengan tiba-tiba juga, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa kebingungan sekaligus malu.
“Hm? Kata siapa? Kamu pasti hanya salah paham saja!” jawab Shanika sambil memasang ekspresinya yang pura-pura bodoh dihadapan Xyan.
“Aku tidak mungkin salah paham, jelas-jelas kamu menghindar!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat cuek dan dingin kepada Shanika.
Tapi, entah kenapa bukannya membuat Shanika merasa takut, Xyan justru terlihat imut dan lucu di mata Shanika “Aku pasti benar-benar sudah tidak waras!” gumam Shanika dengan reflek, yang seketika itu juga membuat Xyan menolehkan kepalanya dan bertanya “Apa katamu?” dengan tatapan bingungnya.
__ADS_1
“Ya? Ah, tidak!” balas Shanika sambil tertawa pelan dan tepat pada saat pintu lift terbuka, dengan perasaan senangnya Shanika melangkah keluar dari dalam lift.
“Dasar aneh,” gerutu Xyan sambil menekan tombol lift untuk menutup pintu liftnya dengan lebih cepat.
***
Hari-hari pun berlalu dengan cukup damai, hingga tibalah di hari pertama perkuliahan Shanika yang di mulai dengan berbagai macam mata pelajaran dan tentu saja, hal ini membuat Shanika merasa sangat pusing, karena ia harus bisa fokus belajar sekaligus juga menghindari para makhluk atau hantu yang terus melewatinya di berbagai tempat.
“Jika sekali saja… aku melakukan kontak mata dengan mereka, pasti mereka akan terus menggangguku!” pikir Shanika sambil terus fokus ke papan tulis yang ada di depannya.
Hingga beberapa jam kemudian, saat kelas terakhirnya sudah selesai Shanika segera melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul jam 4 Sore dan tanpa berlama-lama lagi ia segera merapikan semua peralatan tulisnya ke dalam tas, setelah itu Shanika segera keluar dari dalam kelas dan ia pun langsung bertemu dengan Nadine yang ternyata sudah menunggunya.
“Akhirnya keluar juga!” ucap Nadine saat ia melihat wajah Shanika.
“Karena aku mau mengajakmu main! Eh… jangan bilang, kalau kamu mau langsung pulang! Ini kan hari pertama kita kuliah… Ayo kita keliling kampus dulu!” ajak Nadine sambil merangkul lengan Shanika.
“Kamu sendiri saja,” balas Shanika sambil terus waspada dan sesekali menundukkan kepalanya seakan sedang menghindari sesuatu, yang seketika itu juga membuat Nadine kebingungan dengan tingkahnya “Kamu sedang kenapa sih?” tanya Nadine dengan tatapan khawatirnya.
Tapi, karena Shanika tidak menjawab pertanyaan Nadine, dengan cepat Nadine menarik lengan Shanika dan mengajaknya untuk berkeliling Kampus “Sudahlah, ayo ikut!” dengan penuh semangat. Sedangkan Shanika yang ditarik oleh Nadine mau tidak mau mengikuti langkah Nadine dengan perasaan was-wasnya, karena ia takut jika tiba-tiba bertemu dengan hantu bermata merah atau berwajah seram.
Dan sekitar tiga puluh menit kemudian, Shanika yang mulai terbiasa dengan melihat asap hitam di sekitarnya, saat itu juga duduk dihalaman belakang kampus bersama dengan Nadine sambil menikmati minuman dingin mereka.
“Sepertinya di halaman belakang hanya ada asap hitam saja,” batin Shanika, karena sejak pagi ini ia terus melihat sosok wanita hingga pria dalam berbagai bentuk di dalam gedung kampusnya.
Saat Shanika sedang merasakan hembusan angin yang sejuk, tiba-tiba Shanika mendengar perkataan Nadine “Oh! Itu dia orangnya!” yang seketika itu juga membuat Shanika segera menolehkan kepalanya dan dapat dengan jelas melihat dua orang pria yang sedang bersama gerombolan wanita di dekat lapangan basket.
__ADS_1
Detik itu juga firasat buruk Shanika datang dan firasat buruknya semakin besar, saat kedua orang pria di dekat lapangan basket itu melihat ke arahnya dan berjalan menghampirinya “Ugh, sial!” batin Shanika sambil terus menundukkan kepalanya.
Sedangkan Nadine yang merasa sangat senang, dengan reflek menyapa kedua pria yang menghampirinya itu “Aku dengar, besok akan ada perlombaan basket antar kampus!” kata Nadine yang sepertinya sudah sangat akrab dengan kedua pria itu.
“Iya, benar. Kamu harus lihat pertandingannya ya! Oh ya… apa ini temanmu Nadine?” tanya salah satu pria yang melihat Shanika yang masih duduk terdiam.
“Hm? Shanika! Ayo kenalan,” ajak Nadine sambil menarik Shanika agar bangkit dari duduknya.
Shanika yang awalnya merasa takut, detik itu juga mulai berkenalan dengan salah satu pria dihadapannya dan saat pria yang satunya lagi juga menjabat tangannya, saat itu juga firasat buruk Shanika menjadi kenyataan karena pria yang saat ini sedang menggenggam tangannya adalah pria yang sebelumnya sempat ia tubruk.
“Namaku Elvan! Sepertinya kita pernah bertemu ya,” ucap pria dihadapan Shanika, yang seketika itu juga membuat hantu yang berlumuran darah dan bermata merah segera muncul tepat dibelakang pria itu sambil memelototi Shanika.
“Namaku Shanika!” balas Shanika dengan perasaan takutnya dan segera menarik tangannya dengan sangat kasar dari genggaman pria bernama Elvan itu.
Nadine yang melihat tingkah aneh Shanika itu pun dengan reflek bertanya “Kamu kenapa?” dan tanpa banyak berlama-lama lagi Shanika segera mengambil tasnya sambil berkata “Aku lupa kalau sudah ada janji! Aku pulang duluan ya,” setelah itu Shanika langsung berlari dengan sangat cepat untuk pulang, walaupun kakinya mulai
terasa lemas.
Sedangkan pria bernama Elvan hanya bisa terdiam melihat kepergian Shanika dengan tatapan anehnya. “Apa dia menghindariku?” tanya temannya Elvan dengan reflek sambil menggaruk kepalanya.
“Tidak mungkin!” jawab Nadine sambil tertawa dengan canggung.
“Lain kali, ajaklah temanmu lagi!” ucap Elvan dengan senyuman manisnya kepada Nadine, yang seketika itu juga membuat Nadine tersentak “Ya?” kaget Nadine.
“Oh… sepertinya Elvan tertarik pada Shanika! Dia memang sangat imut sih, haha!” goda temannya Elvan yang seketika itu juga membuat Elvan tersenyum lebar. Tapi, membuat Nadine merasa sangat kesal.
__ADS_1