
***
Keesokan paginya, karena sama sekali tidak bisa tidur atau menghubungi nomor telepon Nadine kembali. Saat Shanika melihat langit sudah cukup terang, tanpa banyak berpikir lagi ia segera menghubungi kedua orang tua Nadine menggunakan handphone pribadinya.
“Ha-halo, Om? Apa Nadine ada di rumah?” tanya Shanika dengan nada bicaranya yang cepat. Tapi, tepat sebelum ia mendengar jawaban dari Ayahnya Nadine, tiba-tiba Shanika mendengar suara tangisan Ibunya Nadine yang sangat menggema dan juga suara beberapa orang yang berusaha menenangkannya.
“A-apa yang terjadi?” tanya Shanika lagi dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar dan perasaan khawatirnya, yang seketika itu juga membuat Ayahnya Nadine berkata “Lebih baik kamu datang ke sini, om akan mengirimkan alamatnya,” dengan nada bicaranya yang sangat pelan dan sedih, setelah itu langsung mematikan telepon dari Shanika begitu saja.
Shanika yang mendengar perkataan Ayahnya Nadine itu pun segera bangkit dari duduknya dan bersiap-siap untuk pergi ke alamat yang baru saja dikirimkan oleh Ayahnya Nadine kepadanya.
Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, Shanika yang mengira kalau alamat yang dikirimkan oleh Ayahnya Nadine adalah alamat salah satu rumah sakit merasa sangat terkejut, karena alamat yang ia datangi saat ini adalah alamat rumah peristirahatan atau pemakaman.
Tanpa berlama-lama lagi Shanika segera berlari ke dalam rumah peristirahatan itu dan ia dibuat semakin terkejut lagi saat tiba-tiba ia melihat foto Nadine yang menandakan kematiannya di pajang di tengah-tengah ruangan duka.
Detik itu juga, Shanika tersentak dan merasa sangat lemas, ia masih tidak percaya dengan kepergian Nadine yang sangat mendadak itu. Hingga beberapa detik kemudian, Shanika mendengar suara Ibunya Nadine yang memanggil namanya sambil menangis pelan “Shanika… hiks,” yang seketika itu juga membuat Shanika menolehkan kepalanya.
Dan dengan reflek, Ibunya Nadine langsung memeluk Shanika dengan sangat erat sambil menangis, yang seketika itu juga membuat Shanika ikut menangis sejadi-jadinya “Tidak mungkin… bagaimana bisa Nadine pergi seperti ini?” ucap Shanika sambil terus menangis dengan sangat kacau.
Sekitar lima menit kemudian, Shanika yang tidak bisa berhenti menangis akhirnya memutuskan untuk pergi keluar dari dalam rumah pemakaman dan berusaha menenangkan dirinya dengan sekuat tenaganya, dengan menarik dan menghembuskan nafasnya secara teratur.
__ADS_1
Saat dirasa sudah jauh lebih tenang, tanpa sengaja Shanika melihat Ayahnya Nadine yang sedang duduk merenung sendirian di taman belakang rumah pemakaman, yang saat itu juga membuat Shanika merasa khawatir dan bergegas berjalan mendekatinya.
“Saya turut berduka atas kepergian Nadine… Om baik-baik saja, kan?” tanya Shanika dengan tatapan khawatirnya, karena Ayahnya Nadine terlihat sangat sedih dan pucat.
Ayahnya Nadine yang mendengar pertanyaan Shanika itu pun langsung menggelengkan kepalanya dan dengan reflek berkata “Semua ini salahku, seharusnya aku tidak memarahinya dan mengusirnya!” dengan nada bicaranya yang bergetar dan sedikit meninggi.
“Ya?” kaget Shanika setelah mendengar perkataan Ayahnya Nadine yang sangat mendadak itu.
Detik itu juga, Ayahnya Nadine pun menolehkan kepalanya dan menatap Shanika dengan sangat lekat sambil bertanya “Jangan bilang kamu juga sudah tahu, kalau Nadine hamil dan membantunya untuk menyembunyikan kehamilannya dari kami?!” yang seketika itu juga membuat Shanika kembali terkejut dan melebarkan kedua bola matanya.
“Ha-hamil?! Maksud om… Nadine sedang mengandung?!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang sangat tinggi dan ekspresi terkejutnya yang sama sekali tidak dibuat-buat.
Ayahnya Nadine yang melihat reaksi spontan dari Shanika itu pun langsung menghela nafasnya dengan kasar dan bergumam “Ternyata kamu juga tidak tahu apa-apa,” dengan gerakkan tubuhnya yang terlihat lemas.
“Saat mengalami kecelakaan beruntun dan kamu menghubungi kami… ada seorang dokter yang memberitahu kami kalau Nadine sedang hamil, dengan umur kandungan yang masih sangat muda. Ukh, entah siapa Ayahnya… anak bodoh itu tidak mau memberitahukami!” ucap Ayahnya Nadine dengan sangat frustasi, seakan sedang menyalahkan dirinya sendiri juga.
Shanika yang mendengar perkataan Ayahnya Nadine itu pun hanya bisa terdiam, hingga beberapa detik kemudian tiba-tiba ia mendengar suara samar dari belakang tubuhnya dan suara samar itu adalah suaranya Nadine yang memanggil Ayahnya dengan sangat sedih.
Dengan reflek Shanika pun membalik tubuhnya dan benar saja, ia melihat arwah Nadine yang sedang berjalan ke dalam rumah pemakaman, yang seketika itu juga membuat Shanika segera berlari ke dalam mengikuti arwah Nadine.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, saat arwah Nadine menyadari kalau ada seseorang yang mengikutinya, ia pun langsung menolehkan kepalanya dan melihat Shanika yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam “Shanika?” gumam arwah Nadine dengan ekspresi bingungnya.
“Ikuti aku!” pinta Shanika dengan berbisik, setelah itu langsung bergegas melangkahkan kakinya untuk memasuki salah satu ruang ganti pakaian, yang mau tidak mau juga diikuti oleh arwah Nadine.
“Shanika… bagaimana bisa kamu melihatku?” tanya Nadine dengan suara yang bergetar dan ekspresi tidak percayanya kepada Shanika, saat ia sudah berada di dalam ruangan ganti pakaian berduaan saja.
Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Nadine, dengan perasaan kacaunya Shanika berusaha menahan tangisannya hingga beberapa detik kemudian ia memberanikan dirinya untuk menatap arwah Nadine sambil berkata “Apa yang terjadi? Kenapa kamu bunuh diri, bodoh?!” bentak Shanika dengan ekspresi marah sekaligus sedihnya.
“Shanika,” gumam Nadine dengan ekspresi kagetnya.
“Sial! Setelah menghina dan menjauhiku… berani-beraninya kamu bunuh diri?! Dan apa? Aku dengar kamu sedang hamil!” sambung Shanika lagi dengan nada bicaranya yang sangat meninggi dan penuh frustasi.
Arwah Nadine yang melihat reaksi Shanika itu pun langsung menangis dan aura di sekeliling tubuhnya berubah menjadi sedikit gelap karena perasaan sedihnya, sedangkan Shanika yang masih belum puas melampiaskan amarahnya detik itu juga kembali bertanya “Siapa? Siapa yang sudah melakukan hal buruk itu kepadamu?!” tanya Shanika dengan nada bicaranya yang penuh penekanan sambil berjalan mendekati arwah Nadine yang masih menangis.
Arwah Nadine yang mendengar pertanyaan Shanika, dengan reflek melangkah mundur dan menggelengkan kepalanya sambil berkata “Semua ini salahku, hiks!” yang seketika itu juga membuat Shanika merasa semakin kesal.
“Siapa pria itu? Apa yang dia janjikan kepadamu, sampai kamu masuk ke dalam perangkapnya?” tanya Shanika lagi. Tapi, arwah Nadine tetap tidak ingin menjawab dan memilih untuk terus menangis dengan aura yang semakin menggelap.
“Kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaanku, aku akan mencari tahu sendiri… siapa pria hina itu!” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang dipenuhi dengan amarahnya dihadapan arwahnya Nadine.
__ADS_1
“Akan aku pastikan, hidupnya menjadi berantakkan setelah melakukan hal buruk kepadamu!” sambung Shanika dengan nada bicaranya yang penuh penekanan, setelah itu tanpa banyak bicara lagi Shanika segera melangkahkan kakinya untuk pergi melewati arwah Nadine.
“Tunggu, Shanika!” ucap arwahnya Nadine. Tapi, bukannya melihat Shanika berhenti ia justru melihat langkah kaki Shanika yang semakin cepat, entah akan pergi kemana.