Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Melawan Api!


__ADS_3

Beberapa detik kemudian, setelah melihat perubahan fisik para Iblis berwujud hewan menjadi butiran debu berwarna hitam pekat. Xyan pun segera membalik tubuhnya dan melangkah keluar dari dalam Goa dengan kondisi mata yang secara perlahan berubah warna menjadi mata normalnya lagi.


Dan sesampainya Xyan di luar Goa, saat itu juga ia merasa energinya semakin melemah secara drastis, yang seketika itu juga membuat Gavin merasa khawatir dan langsung bertanya “Jangan bilang… Tuan menggunakan sisa kekuatan Tuan untuk membunuh mereka semua? Tuan sudah terlalu berlebihan,” dengan tatapan lekatnya kepada Xyan.


“Hah… saya kira anda akan mengembalikan semua Iblis itu ke dunia kegelapan saja, tanpa membunuh!” sambung Gavin dengan nada bicara dan ekspresi wajah frustasinya.


Xyan yang sedikit pusing mendengar perkataan Gavin itu pun sekilas menekan dahinya, setelah itu berkata “Kalau mereka tidak dibunuh, mereka pasti akan datang ke sini dan mengganggu hidupku lagi!” dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan kepada Gavin.


Gavin yang mendengar perkataan masuk akal dari Tuannya itu, dengan reflek memiringkan kepalanya dan menganggukkan kepalanya. Tapi, karena Xyan sudah keterlaluan dalam menggunakan kekuatannya, lagi-lagi Gavin menunjukkan ekspresi khawatirnya “Kalau begini… Tuan benar-benar akan kehilangan seluruh kekuatan Iblis Tuan,” batin Gavin dengan wajah murungnya.


Sedangkan Xyan yang sama sekali tidak peduli dengan kondisi dirinya sendiri, detik itu juga kembali melanjutkan langkah kakinya sambil berkata “Sekarang aku ingin tahu lokasi keberadaan Zoya,” dengan nada bicaranya yang sangat serius kepada Gavin yang saat ini mengikuti langkah kakinya dari belakang.


“Nona Zoya? Begini Tuan… masalahnya, belakangan ini saya dan yang lainnya sedikit kesulitan menemukan keberadaan Nona Zoya,” ucap Gavin, yang seketika itu juga membuat langkah kaki Xyan terhenti.


Dan dengan tatapan tajamnya Xyan langsung menolehkan kepalanya ke arah Gavin sambil berkata “Apa katamu?” dengan ekspresi yang sangat mengerikan di mata Gavin dan seluruh anak buahnya yang sedang menunggu perintah disekitarnya.


“Se-sepertinya Nona Zoya sudah berhasil menemukan tempat persembunyiannya dengan baik! A-atau bisa jadi… Nona Zoya sudah kembali ke dunia kegelapan, kan… Tuan?” sambung Gavin dengan nada bicaranya yang penuh dengan keraguan sekaligus perasaan gugup karena tatapan tajam Xyan.


Detik itu juga, dengan reflek Xyan pun menghelakan nafasnya dengan kasar setelah itu kembali berkata “Aku tidak peduli apa alasannya! Sekarang juga, kita harus bisa menemukannya!” dengan nada bicaranya yang sangat serius dan tegas kepada semua anak buahnya.

__ADS_1


Yang saat itu juga, mau tidak mau harus Gavin dan anak buah Xyan lain turuti “Ba-baik Tuan!” ucap semua anak buah Xyan sambil menundukkan kepalanya dengan penuh sopan santun.


Setelah itu, tanpa berlama-lama lagi Xyan segera memerintahkan semua anak buahnya untuk pergi bersamanya dan masuk ke dalam mobilnya yang mereka bawa masing-masing, sambil fokus mencari keberadaan Zoya dengan radar yang Siluman miliki.


***


Di sisi lain, Shanika yang saat ini masih bersama dengan kedua orang tuanya tiba-tiba merasa ingin membeli makanan ringan yang ada di toko kue dekat Apartementnya dan ia pun berinisiatif untuk pergi seorang diri, karena melihat kedua orang tuanya yang sepertinya sudah kelelahan.


“Biar Ayah antar, kamu kan sedang sakit!” ucap Ayahnya Shanika sambil berusaha bangun dari duduknya di atas sofa ruang tamu.


“Tidak perlu, Ayah! Lagipula, toko kuenya kan sangat dekat! Ayah istirahat saja bersama Ibu sambil menonton televisi,” balas Shanika sambil melirikkan matanya sesekali ke arah Ibunya yang sedang tertidur pulas di atas sofanya.


“Ah… kamu ini,” keluh Ayahnya Shanika sambil memperhatikan wajah putrinya yang terlihat sudah sangat segar dan penuh energi “Baiklah, Ayah akan tunggu disini… kalau ada apa-apa langsung telepon Ayah ya,” sambung Ayahnya Shanika dengan penuh perhatian.


Dengan langkah kakinya yang cepat, Shanika segera memasuki pintu lift Apartementnya. Setelah itu langsung berlari keluar dari dalam pintu lift saat pintu liftnya sudah kembali terbuka, karena ia tidak ingin berlama-lama atau membuat Ayahnya khawatir selama menunggunya.


Tapi, bukannya cepat. Sesampainya Shanika di dalam toko kue, ia diserang dengan kenyataan kalau antrean di dalam toko kue itu sangatlah panjang “Ah, benar… aku lupa kalau toko kue di sini sangat terkenal!” gumam Shanika sambil mengambil beberapa potongan kue nya sendiri ke atas nampan yang ia bawa-bawa sejak masuk ke dalam toko kuenya.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya Shanika sampai di depan kasir dan membayar semua kue yang ia beli. Tapi, tiba-tiba ia dan semua pengunjung toko kue dikejutkan dengan suara sirine pemadam kebakaran yang sangat kencang “Ada apa?!” panik seorang pengunjung yang dibalas oleh pengunjung lainnya “Di Apartement sebelah sepertinya ada kebakaran!” dengan nada bicaranya yang panik juga.

__ADS_1


Shanika yang mendengar perkataan pengunjung lain dan sudah selesai membayar, tanpa berlama-lama lagi di dalam toko kue langsung berlari keluar dari toko kue dan betapa kagetnya Shanika saat ia melihat ada api besar sedang melahap salah satu unit Apartementnya, yang tepat berada di bawah lantai kamar Apartementnya.


“I-ibu… Ayah!!!” panik Shanika saat ia tiba-tiba teringat kedua orang tuanya yang masih berada di Apartementnya.


Shanika pun langsung berlari, tanpa peduli dengan kendaraan atau orang-orang yang berada di sekitar jalan dan langkah kaki Shanika sempat terhenti, saat ia melihat ada banyak orang yang berlari keluar dari dalam gedung Apartement dalam keadaan batuk-batuk dan sesak nafas.


“Apinya sudah semakin menyebar dan semprotan airnya tidak mau menyala!” ucap seorang penjaga keamanan kepada salah satu pemadam kebakaran, sambil berusaha mengevakuasi orang-orang untuk keluar dari dalam gedung Apartement.


Sedangkan Shanika yang masih berada di depan gedung Apartementnya terus berusaha menemukan kedua orang tuanya, hingga ia mendengar perkataan seorang wanita yang mengatakan kalau di lantai atas Apartement masih ada orang yang terjebak api.


Shanika yang panik, detik itu juga semakin dibuat yakin kalau Ibu dan Ayahnya masih terjebak di dalam Apartementnya karena tiba-tiba ia dapat melihat kondisi Ibunya yang sedang ketakutan, sedangkan Ayahnya sedang berusaha mencari cara untuk keluar, dengan kedua bola mata pengantin Iblisnya.


“Tidak! Ayah… Ibu!” ucap Shanika sambil menggelengkan kepalanya dan tanpa banyak berpikir lagi, Shanika segera berlari ke dalam gedung Apartementnya melawan arus orang-orang yang ingin keluar dari dalam gedungnya.


“Nona! Anda tidak boleh masuk ke dalam!” teriak seorang pemadam kebakaran saat ia melihat Shanika berlari ke dalam gedung dan segera menaiki tangga darurat.


Shanika terus berlari tanpa peduli dengan kepulan asap kebaran yang semakin pekat dan membuatnya sulit untuk bernafas ataupun melihat, hingga beberapa menit kemudian akhirnya ia sampai di tangga terakhir menuju lantai Apartementnya dan merasakan aura panas yang semakin ganas melahap tembok Apartementnya.


“Uhuk-uhuk! I-ibu! Ayah!!” panggil Shanika sambil menahan nafasnya dan berusaha menghindari kobaran api yang membuat beberapa benda berat berjatuhan.

__ADS_1


Hingga beberapa detik kemudian, dengan langkah kakinya yang semakin berat untuk menaiki tangga dan pandangan matanya yang sulit untuk melihat, tiba-tiba Shanika mendengar suara tawa wanita yang bukan lain adalah Zoya yang disusul juga dengan suara langkah kaki, yang sedang menuruni tangga Apartementnya.


Dengan perasaan takutnya, Shanika pun dengan reflek melangkah mundur dan benar saja, secera perlahan dan semakin jelas, Shanika melihat wajah Zoya yang berjalan melewati api hingga asap kebakaran dengan mudahnya sambil menunjukkan senyuman sinisnya kepada Shanika “I-ini semua ulahmu?” gumam Shanika dengan perasaan takut sekaligus marahnya kepada Zoya.


__ADS_2