
***
Di sisi lain, Zoya yang merupakan Kakak tiri Xyan sedang memperhatikan Shanika dan Xyan dari kejauhan dan dengan santainya duduk di pinggir rooftop gedung lainnya tanpa merasa takut jatuh sedikit pun.
Zoya yang melihat interaksi Xyan dan Shanika yang semakin akrab itu pun hanya bisa memasang senyuman sinisnya sambil mengusap burung gagak hitam kesayangannya yang bernama Clay dan beberapa detik kemudian, Zoya pun mendengar perkataan burung gagak hitamnya yang mengatakan “Dia masih belum putus asa,” yang hanya bisa dimengerti oleh Zoya.
“Benar… Adikku itu memang harus diberikan pelajaran lagi,” balas Zoya dengan nada bicaranya yang terdengar sangat serius dan penuh penekanan disetiap kata-katanya “Tapi, salahku juga karena sudah terlalu meremehkannya,” sambung Zoya sambil melepaskan burung gagak hitam kesayangannya itu untuk terbang bebas.
“Mau tidak mau aku harus langsung menyerang titik kelemahannya,” ucap Zoya lagi sambil bangkit dari duduknya dan membalik tubuhnya sambil melangkah pergi untuk menyusun rencana barunya.
Detik itu juga, burung gagak hitam yang mendengar perkataan Zoya langsung mengeluarkan suaranya yang sangat mengerikan untuk didengar oleh manusia, setelah itu langsung terbang dengan sangat cepat mengarah pada gedung rumah sakit yang saat ini masih di tempati oleh Shanika dan keluarganya.
Yang seketika itu juga membuat firasat buruk Shanika kembali datang dan membuatnya merasa tidak nyaman setelah mengantar kepergian Xyan dari rumah sakit “Ada apa denganku?” gumam Shanika sambil mengusap leher bagian belakangnya dengan tangan kanannya.
“Shanika,” panggil Neneknya sambil melambaikan tangannya kepada Shanika dari kejauhan, yang saat itu juga berhasil membuat Shanika mengabaikan firasat buruknya dan langsung berjalan mendekati Neneknya dengan langkah kakinya yang cepat “Ada apa, Nek?” tanya Shanika dengan senyuman sumringahnya.
“Nenek mau ajak Ibumu berkeliling taman belakang rumah sakit. Ayo ikut,” ajak Neneknya Shanika sambil menyiapkan kursi roda untuk Ibunya Shanika “Iya, Nek,” balas Shanika dengan senyum lebarnya dan segera membantu Neneknya untuk membawakan kursi rodanya yang cukup besar.
***
Keesokan harinya, karena kondisi kedua orang tua Shanika sudah berada dalam kondisi yang sehat. Dengan wajah cerianya Shanika memulai hari barunya dan segera bersiap-siap untuk berangkat Kuliah.
Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, akhirnya Shanika sampai di Kampusnya dan tanpa berlama-lama lagi segera bergegas untuk keluar dari dalam mobil taksinya setelah melakukan pembayaran “Terima kasih, pak,” ucap Shanika sebelum ia menutup pintu mobil taksinya.
__ADS_1
Shanika yang sudah bertekad untuk memulai harinya dengan penuh kebahagiaan, detik itu juga menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya dengan lembut untuk menikmati udara segar di sekitar kampusnya.
Shanika juga mulai menatap langit yang saat ini terlihat sangat cerah dengan perasaan senangnya. Tapi, tidak lama kemudian entah kenapa langit yang cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung dan dapat dengan jelas Shanika melihat beberapa burung gagak hitam yang sedang berterbangan mengelilingi gedung kampusnya.
“Hm? Kenapa mendadak cuacanya jadi begini?” keluh Shanika dengan ekspresi bingungnya.
Bahkan beberapa mahasiswa disekitar Shanika juga ikut kebingungan, sekaligus juga merasa takut karena mereka juga melihat burung gagak yang berterbangan dengan sangat brutal di atas langit-langit gedung kampusnya “Dari yang aku tahu, burung gagak itu tanda sial atau kematian!” ucap salah satu mahasiswa saat sedang berjalan melewati Shanika.
“Seram sekali, kenapa burung gagak ada di Kampus kita?” balas mahasiswa yang lainnya dengan ekspresi takutnya.
Yang seketika itu juga membuat Shanika kembali mendangakkan kepalanya dan melihat beberapa burung gagak hitam yang masih berterbangan “Sial… atau kematian?” gumam Shanika dengan wajah seriusnya.
Setelah itu, Shanika pun berusaha untuk mengabaikan apa yang barusan ia pikirkan dan tanpa banyak berpikir lagi segera melanjutkan langkah kakinya untuk pergi ke dalam gedung kampusnya, karena mata kuliahnya akan segera dimulai.
“Apa-apaan burung itu?” keluh seorang mahasiswa.
“Tapi, kenapa burung itu bisa menabrak jendela kelas ini? seperti ada yang melemparnya saja,” balas salah satu mahasiswa wanita dari belakang dengan perasaan takutnya.
Sedangkan Shanika yang berusaha untuk tetap tenang, beberapa detik kemudian mulai memberanikan dirinya untuk menolehkan kepalanya ke arah jendela lagi dan karena ia duduk di dekat jendela kelasnya itu, saat itu juga Shanika melihat mayat burung yang sebelumnya menabrak jendela kelasnya tergeletak di pinggiran gedung kampus dan saat ini mayat burung itu sedang dimakan oleh satu burung gagak hitam dengan mata merahnya yang bertatapan langsung dengan Shanika.
Shanika yang terkejut dengan tatapan burung gagak hitam itu pun langsung memejamkan matanya dan membekap mulutnya dengan sangat erat menggunakan kedua tangannya. Hingga beberapa detik kemudian, saat Shanika melirikkan matanya keluar jendela kelasnya lagi burung gagak hitam itu sudah menghilang entah kemana menyisahkan mayat burung penuh darah dipinggir gedung kampusnya.
“Hah… mengerikan sekali,” gumam Shanika sambil menghela nafasnya secara perlahan-lahan dan juga berusaha mengembalikan fokus belajarnya.
__ADS_1
***
Beberapa jam kemudian, saat semua kelas mata kuliah Shanika sudah selesai, saat itu juga Shanika memutuskan untuk memasuki toilet yang saat ini cukup ramai orang. Tapi, tidak lama setelah Shanika selesai membasuh tangannya di wastafel, tiba-tiba toilet yang Shanika masuki itu menjadi sangat sepi dan ia hanya tinggal seorang
diri.
“Ah… ada apa dengan hari ini? kenapa semuanya terasa sangat tidak nyaman bagiku?!” keluh Shanika sambil mengelap kedua tangannya dengan tisu kering secara bergantian.
Dan saat Shanika merapikan riasan wajahnya, tiba-tiba ia mendengar suara hantu wanita berwajah pucat dari belakang tubuhnya yang sedang mengeluh “Astaga, aku tidak bisa kabur kemana-mana lagi!” keluhnya dengan ekspresi lelahnya.
Shanika yang mendengar suara hantu wanita itu pun langsung membalik tubuhnya dan berkata “Oh, kamu!” sambil menunjuk wajah pucat hantu wanita dihadapannya itu.
“Kamu dari mana saja? ah, bukan hanya kamu… hantu-hantu lain yang biasanya sering aku lihat juga tidak ada, aku kira kalian sudah tidak ada di Kampus ini lagi,” tanya Shanika dengan tatapan lekatnya tanpa perasaan takut sedikit pun.
Sedangkan hantu wanita dihadapan Shanika itu langsung bergegas mendekati Shanika sambil berkata “Mereka menangkap kami semua!” dengan wajah paniknya yang terlihat cukup mengerikan di mata Shanika “Me-mereka?” tanya Shanika dengan tatapan bingungnya sambil melangkah mundur.
“Maksudku… para penunggu lama tanah ini, mereka menangkap para hantu lemah dan mengurung kami di alam mereka!” ucap hantu wanita dihadapan Shanika itu lagi dengan kedua tangannya yang bergetar karena ketakutan.
“Kenapa begitu?” tanya Shanika lagi, masih dengan wajah bingungnya.
“Semua ini karena perintah Iblis wanita itu! Dia berusaha membangkitkan sisi tergelap dari tanah ini… dan mengurung semua hantu lemah di alam ini untuk dijadikan budak!” jawab hantu wanita dihadapan Shanika dengan nada bicaranya yang bergetar.
Yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan memutar otaknya “Iblis… wanita katamu?” gumam Shanika yang saat itu juga teringat wajah Kakak tirinya Xyan yang bernama Zoya.
__ADS_1