Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Kekuatan Mata Pengantin Iblis


__ADS_3

***


Keesokan harinya, sama seperti hari-hari sebelumnya setelah bersiap-siap di dalam Apartementnya Shanika segera melangkah keluar dari gedung Apartementnya untuk berangkat ke Kampus, menggunakan mobil taksi seorang diri.


Selama diperjalanan menuju Kampus, Shanika juga tidak lupa untuk memberikan kabar kepada Xyan kalau dia sudah berangkat sendiri dan tanpa membuang waktunya, Shanika juga memutuskan untuk membaca buku catatannya.


Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, sesampainya Shanika di depan gedung Kampusnya ia langsung melangkah keluar dari dalam mobil taksi dan bergegas memasuki gedung Kampusnya dengan perasaan cerianya.


Saat Shanika sudah berada di dalam kelasnya, tidak lama kemudian seorang Dosen pria memasuki kelas dan mata pelajaran pun dimulai dengan cukup serius, hingga sekitar tiga puluh menit kemudian tiba-tiba Shanika merasakan aura gelap yang sangat kuat di sekitar tubuhnya.


“Kenapa firasatku jadi buruk begini?” pikir Shanika sambil membenarkan posisi duduknya dan sesekali melirikkan pandangannya ke arah semua mahasiswa yang masih fokus belajar.


Shanika yang awalnya berusaha untuk tetap tenang, tiba-tiba dikejutkan dengan jatuhnya Dosen pria di depan kelasnya ke lantai “Bruk!” dengan cukup keras, yang disusul juga dengan semua mahasiswa di dalam kelasnya secara satu per satu.


“Kenapa? Apa yang terjadi?!” panik Shanika yang dengan reflek langsung bangkit dari duduknya dan melihat ke seluruh ruang kelasnya dengan ekspresi bingungnya.


Tanpa banyak bertanya lagi, Shanika segera berusaha untuk membangunkan orang-orang di dekatnya, ia bahkan berusaha untuk meminta pertolongan dari luar kelasnya. Tapi, tepat pada saat Shanika berusaha membuka pintu kelasnya, saat itu juga pintu kelas terkunci dan tidak bisa dibuka sama sekali.


“Ugh, apa yang terjadi?! Tolong!” teriak Shanika sambil memukul-mukul pintu kelas yang ada dihadapannya itu dengan sangat kencang, berharap akan ada yang mendengar dan segera menolongnya.


Tapi, saat Shanika sedang panik dan fokus pada pintu yang terkunci, tiba-tiba ia mendengar suara tawa seorang wanita dari belakang tubuhnya yang disusul juga dengan perkataan “Percuma saja, kamu hanya membuang tenagamu saja!” yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan berhenti memukul pintu dihadapannya.

__ADS_1


Dengan perasaan yang penuh waspada, Shanika pun memberanikan dirinya untuk membalik tubuhnya dan sesuai dengan dugaannya, wanita yang barusan bicara dengannya adalah Zoya, seorang Iblis wanita yang merupakan kakak tirinya Xyan.


“Hm, sudah lama tidak bertemu!” sapa Zoya sambil melambaikan tangan kanannya dan duduk santai di pinggir meja Dosen.


“Kamu,” gumam Shanika dengan tatapan kesalnya, sambil berjalan menghampiri Zoya dengan penuh berani.


Tapi, sebelum Shanika melanjutkan perkataannya. Dengan reflek Zoya kembali berkata “Apa kamu sudah mempertimbangkan saranku waktu itu?” yang seketika itu juga membuat Shanika berhenti melangkahkan kakinya dan kembali menunjukkan kewaspadaannya.


“Saran?” gumam Shanika sambil mengerutkan dahinya.


“Ya, soal memberikan matamu itu kepadaku!” balas Zoya dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan disetiap katanya.


Shanika yang mendengar perkataan Zoya itu pun dengan cepat langsung berkata “Aku tidak pernah punya niat untuk memberikan mata ini kepadamu atau pun merelakan Xyan!” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang sangat penuh percaya diri.


“Aku sudah tidak kaget lagi dengan jawabanmu,” sambung Zoya sambil berusaha menahan tawanya, seakan sedang mengejek keberanian Shanika yang tidak pernah berguna untuk melawannya.


“Berhenti banyak bicara, sekarang juga… hentikan semua kekacauan ini! Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita berdua!” pinta Shanika dengan nada bicaranya yang meninggi kepada Zoya.


Yang seketika itu juga membuat Zoya menolehkan kepalanya ke berbagai arah dan melihat semua orang di dalam kelas yang jatuh pingsan karena pengaruhnya “Pft! Lucu sekali, kenapa bisa tidak ada sangkut pautnya? Kalian kan sama-sama manusia… dan aku membenci manusia!” balas Zoya sambil menginjak tangan kanan Dosen pria yang pingsan di dekat kakinya dengan sangat kasar.


“Hentikan!” teriak Shanika sambil berlari mendekati Zoya dan langsung mendorong tubuh Zoya agar berhenti menginjak tangan Dosennya yang sama sekali tidak bersalah “Kamu sudah tidak waras, ya!” bentak Shanika kepada Zoya.

__ADS_1


Yang lagi-lagi berhasil membuat Zoya tertawa dan merasa puas dengan reaksi yang Shanika tunjukkan kepadanya “Ah, sial! Sekarang aku paham kenapa Xyan sangat menyukaimu! Ternyata sangat seru sekali menggodamu,” ucap Zoya sambil terus tertawa dihadapan Shanika yang sudah semakin marah.


“Aku bilang hentikan! Kenapa kamu tidak mau dengar juga?” tanya Shanika dengan reflek sambil terus menatap Zoya dengan tatapan tajamnya dan tepat pada saat Zoya menolehkan kepalanya untuk membalas tatapan mata Shanika, saat itu Zoya melihat kilatan merah di dalam mata Shanika.


Yang seketika itu juga membuat Zoya yakin dengan perkataan para Iblis berwujud hewan, mengenai mata Pengantin Iblis yang memiliki kekuatan adalah benar.


“Sial, aku jadi semakin ingin memusnahkannya!” gumam Zoya sambil memasang senyuman menyeringainya kepada Shanika.


Sedangkan Shanika yang masih menatap Zoya, detik itu juga tiba-tiba melihat bayangan masa lalu Zoya saat sedang jatuh cinta pada seorang manusia dan manusia itu adalah Karis. Tapi, rasa cinta Zoya tiba-tiba berubah menjadi sangat liar dan demi dirinya sendiri, Zoya pun membunuh dan mencengkram jantung Karis yang berlumuran darah dengan tangannya sendiri.


“Jadi… begitu,” gumam Shanika dengan ekspresi wajah melamunnya, yang seketika itu juga membuat Zoya bingung dan menganggap Shanika aneh “Hm? Ada apa denganmu?” tanya Zoya dengan ekspresi tidak pedulinya.


Dengan senyuman tipisnya, Shanika pun kembali menatap Zoya dan berkata “Ternyata kamu juga pernah mencintai manusia,” yang seketika itu juga membuat Zoya tersentak dan melebarkan matanya “Apa maksudmu?” tanya Zoya lagi.


“Tidak aku sangka, wanita yang membunuh Karis adalah kamu… padahal dia sangat tulus mencintaimu,” sambung Shanika, yang membuat Zoya semakin kebingungan.


“Karis? Bagaimana kamu bisa mengetahui nama itu?” gumam Zoya dengan ekspresi tidak percayanya kepada Shanika.


Tapi, bukannya membalas pertanyaan Zoya, Shanika justru dengan santainya kembali berkata “Apa sekarang kamu merasa puas, setelah membunuh manusia yang mencintaimu?” yang seketika itu juga membuat emosi Zoya meluap-luap dan ia pun kembali teringat saat-saat dirinya membunuh Karis dengan kedua tangannya sendiri.


“Aku tanya! Bagaimana kamu bisa mengetahui itu semua?! Apa Xyan yang memberitahumu? Iblis gadungan yang pura-pura jadi manusia itu, bilang kalau aku membunuhnya?!” tanya Zoya dengan nada bicaranya yang sangat histeris dan ekspresi marahnya yang penuh emosi, saat menatap Shanika.

__ADS_1


Shanika yang tidak suka dengan pertanyaan Zoya, detik itu juga langsung mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat dan dengan reflek membentak Zoya “Aku melihatnya!” yang seketika itu juga membuat Zoya terdiam.


“Aku melihatnya… dengan mata kepalaku sendiri,” sambung Shanika dihadapan Zoya dengan penuh keberanian, walaupun ia tahu kalau Zoya sudah sangat marah dan mulai kehilangan kendali pada dirinya sendiri.


__ADS_2