Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Menghabiskan Tenagaku


__ADS_3

Di sisi lain, Shanika yang baru saja sampai di dalam kamarnya dan menutup pintu Apartementnya dengan rapat tiba-tiba merasa sangat lemas, ia benar-benar tidak menyangka kalau ia bisa sampai bicara seberani itu.


“Ah… apa aku terlalu gegabah? Pria itu pasti merasa sangat tersinggung! Ugh, lupakan saja!” gumam Shanika yang sedang bicara pada dirinya sendiri sambil berusaha melepas sepatu kets nya.


“Srek-srek!” detik itu juga tiba-tiba Shanika mendengar suara aneh dari dalam Apartementnya yang sebagian masih gelap “Suara dari mana itu?” batin Shanika dengan perasaan kaget sekaligus takut dan tanpa berlama-lama lagi Shanika segera menyalakan semua lampu yang ada di dalam Apartementnya.


Setelah itu Shanika berusaha mendengarkan suara-suara disekitarnya. Tapi, bukannya mendengar suara aneh lagi, entah kenapa Shanika merasa sangat merinding dan terintimidasi di dalam Apartementnya sendiri.


“Uh… tenanglah Shanika, di sini tidak akan ada yang berani menyakitimu!” ucap Shanika kepada dirinya sendiri lagi sambil mengusap dadanya sendiri agar ia merasa jauh lebih tenang untuk melanjutkan aktifitasnya di dalam Apartement seorang diri.


***


Keesokan harinya, saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Shanika pun bergegas pergi ke Universitas Nivella sesuai jadwal yang sudah ditentukan untuk mengambil Jas Almamater-nya.


Dan pada saat Shanika sudah berhadapan langsung dengan seoarang petugas wanita, saat itu juga petugas wanita itu terkejut dengan kondisi wajah Shanika yang terlihat sangat kelelahan “Kamu baik-baik saja, kan? Kamu terlihat sangat pucat,” tanya pegawai wanita itu dengan tatapan khawatirnya, sambil memberikan Jas Almamater milik Shanika.


“Ya? ah, tadi malam saya hanya kurang tidur saja. Terima kasih Jas-nya,” jawab Shanika dengan memaksakan senyumannya sambil menerima Jas Almamater menggunakan kedua tangannya.


“Lebih baik, setelah dari sini kamu langsung tidur atau ke rumah sakit ya,” balas pegawai wanita itu dengan tatapan khawatirnya yang semakin lekat kepada Shanika “A-apa kondisiku terlihat sangat buruk?” pikir Shanika sambil mengusap pipinya sendiri sekilas.


“Ba-baik,” jawab Shanika sambil menganggukkan kepalanya dengan perlahan, setelah itu Shanika segera melangkah pergi dari ruangan pegawai wanita itu.

__ADS_1


Dan sesampainya koridor kampus, Shanika yang melihat cermin segera memastikan kondisi wajahnya dan benar saja, saat ini wajahnya terlihat sangat pucat seakan-akan ia belum makan selama berhari-hari “Ada apa denganku? Aku terlihat seperti orang sakit!” gumam Shanika sambil terus menatap bayangan wajahnya pada cermin.


Saat Shanika sedang fokus pada dirinya sendiri, tiba-tiba ia merasa merinding dan melalui cermin secara sekilas ia melihat asap hitam yang beterbangan di belakang tubuhnya, yang seketika itu juga membuat Shanika segera menundukkan kepalanya “Apa itu?!” panik Shanika dengan ekspresi takutnya.


Tapi, tidak hanya ada di belakang tubuhnya. Shanika juga melihat kumpulan asap yang beberapa kali melewati kakinya dengan sangat cepat “Sebelumnya… aku hanya merasakan gangguan di dalam Apartement berupa suara-suara aneh. Tapi, sekarang… aku terus melihat asap hitam yang sepertinya adalah makhluk halus!” pikir Shanika dengan perasaannya yang semakin takut tidak karuan.


Karena tidak ingin terus berada di koridor kampus yang sepi, dengan cepat Shanika melanjutkan langkah kakinya untuk pergi dan semakin mempercepat langkah kakinya lagi, saat ia melihat sebuah asap hitam yang besar seakan sedang berusaha menangkapnya dari belakang.


Beberapa detik kemudian, setelah menuruni tangga tanpa sengaja Shanika menubruk bahu seorang pria dengan sangat kencang “Brak!” yang seketika itu juga membuat dirinya merasa sangat kesakitan.


Detik itu juga, saat Shanika menolehkan kepalanya untuk meminta maaf “Maaf-“ perkataan Shanika terputus dan ia langsung tersentak dengan apa yang saat ini ia lihat dibelakang tubuh pria yang barusan ia tubruk.


Tapi, Shanika yang sedang fokus ke arah lain sama sekali tidak mendengarkan perkataan pria dihadapannya itu, karena apa yang saat ini ia lihat benar-benar sangat jelas. Bukan berupa asap hitam, saat ini Shanika melihat sosok wanita bersimbah darah dan memiliki mata berwarna merah yang terus menatap pria dihadapannya.


Lagi-lagi Shanika pun tersentak, saat tiba-tiba sosok wanita di belakang pria itu melirikkan mata tajamnya kepadanya “Ah! Maaf!” panik Shanika dan dengan cepat langsung berlari meninggalkan pria yang tidak ia kenal itu.


“Hm? Dia kenapa sih?” ucap pria yang Shanika tubruk dengan tatapan bingungnya.


Sedangkan Shanika yang merasa sangat ketakutan dengan apa yang terus ia lihat disekitarnya mulai kehilangan arah, sampai akhirnya ia berhasil keluar dari dalam gedung kampus dan memasuki salah salah satu mobil taksi dengan nafas yang sangat terengah-engah “Antarkan saya ke Apartement XX, pak!” pinta Shanika sambil terus memejamkan matanya dan menutup telinganya dengan kedua tangannya.


“Baik,” balas supir taksi dengan ekspresi bingungnya saat melihat kondisi kacau Shanika.

__ADS_1


Selama berada di dalam mobil taksi, walaupun tidak membuka mata Shanika terus melihat bayangan sosok yang sangat menyeramkan dan juga mendengar suara jeritan yang sangat mengerikan “Apa yang terjadi padaku?! Sesak… aku takut!” panik Shanika di dalam hati terdalamnya.


Hingga sekitar sepuluh menit kemudian, mobil taksi berhenti dan supir taksi berkata “Anda sudah sampai, Nona.” Yang seketika itu juga membuat Shanika segera membuka pintu mobil taksi dan melangkah pergi dengan kakinya yang semakin lemas.


“Nona! Anda harus bayar dulu!” teriak supir taksi dari dalam mobil taksinya.


Tapi, bukannya membalas perkataan supir taksi. Shanika yang terus kehilangan fokusnya karena semakin banyak melihat hal mengerikan disekitarnya mulai merasa kacau di dalam kepala hingga hatinya.


“Wanita itu sudah bisa melihat kita!” ucap salah satu sosok pria yang tubuhnya terlihat kurus kering dimata Shanika.


“Hihi! Akhirnya!” tawa sosok wanita dengan suara yang melengking dari atas pohon yang ada di halaman Apartement, yang disusul juga dengan sosok lainnya yang ikut tertawa dan menatap Shanika dengan tajam.


“Ha-haha! Aku pasti sudah tidak waras!” ucap Shanika dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat kacau dan saat seluruh tubuhnya benar-benar sudah kehilangan tenaga, saat itu juga Shanika terjatuh ke belakang.


Dan tanpa Shanika sangka, ada seorang pria yang menopang tubuhnya dan mendekapnya dengan sangat hangat “Kamu,” gumam Shanika dengan wajah pucat dan matanya yang sudah hampir terpejam, saat ia melihat wajah tampan Xyan.


“Kamu memang cukup pemberani,” ucap Xyan saat ia tahu berapa banyak makhluk mengerikan yang sempat dilihat oleh Shanika secara langsung.


Sedangkan Shanika yang kehabisan tenaga, detik itu juga jatuh pingsan di dalam pelukan Xyan dan tanpa berlama-lama lagi Xyan segera menggendong tubuh Shanika, setelah itu menatap tajam para makhluk tak kasat mata yang ada disekitarnya, yang seketika itu juga membuat semua makhluk itu kabur ketakutan.


“Untuk sementara ini, kamu aman.” Ucap Xyan sambil membawa Shanika pergi dengan langkah kakinya yang penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2