
Dengan cepat Shanika pun berjalan mendekati arwah Ibunya yang ada di dalam Apartement Xyan itu sambil bertanya “Ibu sedang apa di sini? Seharusnya Ibu tetap di rumah sakit,” dengan ekspresi bingung dan perasaan tidak nyamannya.
“Awalnya Ibu hanya penasaran saja. Tapi, tanpa sadar Ibu sudah sampai di sini,” jawab arwah Ibunya Shanika sambil melirikkan matanya sesekali ke arah Xyan yang masih berdiri di dekat meja makannya.
“Apa maksud Ibu? Jadi, sudah sejak kapan Ibu ada di sini?” tanya Shanika lagi dengan tatapan matanya yang semakin lekat dan Intens kepada arwah Ibunya itu.
Arwah Ibunya Shanika yang mendengar pertanyaan putrinya itu pun langsung menunjukkan senyuman malunya, setelah itu mulai berbisik kepada Shanika “Sejak kamu menggenggam tangan pria itu,” sambil tertawa pelan, yang seketika itu juga membuat Shanika terkejut lagi dan wajahnya memerah.
“A-apa?! Ugh, yang benar saja!” keluh Shanika sambil berusaha menyembunyikan perasaan malunya.
Sedangkan Xyan yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua, dengan reflek langsung berjalan mendekat setelah itu mulai memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan kepada arwah Ibunya Shanika “Perkenalkan nama saya Xyan, Tante.” Ucap Xyan dengan senyuman manisnya.
“Oh… namamu Xyan? Nama yang sangat keren!” puji Ibunya Shanika dengan wajah cerianya kepada Xyan.
“Terima kasih,” balas Xyan dengan senyuman manisnya lagi, yang seketika itu juga membuat perasaan Shanika menjadi sangat canggung.
Beberapa detik kemudian, Shanika pun dibuat terkejut lagi oleh perkataan Ibunya “Apa kamu sudah punya pacar?” kepada Xyan dengan tatapan lekatnya “I-ibu!” panik Shanika dengan ekspresi kagetnya.
“Kalau belum… bagaimana dengan putriku?” sambung arwah Ibunya Shanika, yang seakan-akan sedang menawarkan putrinya sendiri kepada pria yang baru ia kenal “Hentikan! Ibu membuatku malu!” pinta Shanika dengan reflek sambil menghalangi pandangan Ibunya dari wajah Xyan.
“Tidak perlu malu,” balas arwah Ibunya Shanika dengan senyuman menggodanya kepada Shanika.
__ADS_1
Shanika yang mendengar perkataan Ibunya itu pun langsung mengerutkan dahinya, sedangkan Xyan dengan tiba-tiba berkata “Akan saya pertimbangkan,” yang seketika itu juga membuat Shanika langsung menolehkan kepalanya kepada Xyan dengan ekspresi bingungnya yang aneh.
“Bagus! Haha,” balas arwah Ibunya Shanika dengan wajah cerianya lagi dan Xyan punkembali memasang senyuman ramahnya.
Tidak lama kemudian, Xyan pun membiarkan arwah Ibunya Shanika untuk melihat-lihat seisi Apartementnya sambil berdiri di samping Shanika yang sedang menikmati susu cokelatnya dan detik itu juga, dengan perasaan gugupnya Shanika mulai mengajukan pertanyaan kepada Xyan “Kenapa kamu bicara seperti itu kepada Ibuku?” dengan lirikkan matanya sekilas.
“Biarkan saja, lagipula… saat kembali ke dalam tubuhnya, Ibumu akan melupakan segala hal yang ia lihat atau dengar saat ini,” jawab Xyan dengan nada bicara dan ekspresi santainya kepada Shanika.
“A-apa? Ibuku akan melupakan semua ini? termasuk juga dengan rahasiaku yang bisa melihat hantu?” tanya Shanika dengan tatapan tidak percayanya kepada Xyan.
“Hm, benar.” Jawab Xyan sambil menganggukkan kepalanya dengan perlahan, yang saat itu juga membuat Shanika merasa kecewa “Padahal aku cukup sedikit lega saat Ibu mengetahui semua ini,” ucap Shanika dengan ekspresi sedihnya.
“Tidak masalah, yang penting Ibumu selamat, kan?” tanya Xyan yang berusaha membuat Shanika kembali bersemangat “Ya, kamu ada benarnya!” jawab Shanika dengan senyuman tipisnya, setelah itu langsung bergegas untuk menghabiskan susu cokelat yang ada di dalam gelasnya.
***
Keesokan harinya, setelah berpakaian rapi Shanika segera pergi keluar dari dalam gedung Apartementnya untuk membeli makanan dan tanpa berlama-lama lagi Shanika segera melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit, untuk menemui Ayah dan Ibunya.
Dan sesampainya di rumah sakit, saat itu juga Shanika dibuat senang dengan kondisi Ayahnya yang sudah semakin membaik, bahkan dokter berpendapat kalau Ayahnya akan segera pulih total dan bisa kembali bekerja seperti biasanya.
Tidak hanya itu saja yang berhasil membuat Shanika senang, karena tidak lama kemudian Shanika diberi kabar oleh seorang parawat kalau Ibunya baru saja sadarkan diri dan benar saja, sesampainya Shanika di dalam ruang rawat Ibunya, ia melihat Ibunya yang saat ini sudah terduduk dan menunjukkan senyuman manisnya kepada
__ADS_1
Shanika.
“I-ibu?” gumam Shanika dengan perasaan terharunya, sedangkan Ayahnya Shanika tanpa banyak berpikir lagi langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat dan penuh kasih sayang “Terima kasih… terima kasih karena sudah kembali,” ucap Ayahnya Shanika sambil menangis sesegukan.
“Kamu ini, seperti anak kecil saja!” balas Ibunya Shanika dan dengan cepat Shanika juga ikut memeluk Ibunya bersamaan dengan Ayahnya “Uwa… Ibu!” yang ikut menangis juga “Astaga, kalian berdua!” keluh Ibunya Shanika yang dipeluk oleh dua orang sekaligus sambil tertawa pelan.
Sekitar dua puluh menit kemudian sehabis melakukan pemeriksaan oleh Dokter, Shanika segera memastikan ingatan Ibunya dan sesuai dengan perkataan Xyan, saat ini Ibunya tidak mengingat satupun kejadian saat dirinya menjadi arwah gentayangan “Ya, lebih baik seperti ini,” batin Shanika dengan perasaan syukurnya.
“Kamu baik-baik saja kan, Shanika? Kenapa kamu menanyakan hal-hal aneh begitu?” tanya Ibunya Shanika sambil menatap Shanika yang ada di dekatnya itu dengan sangat lekat.
“A-aku hanya iseng saja! Aku baik-baik saja kok,” jawab Shanika dengan reflek sambil tertawa pelan di hadapan Ibunya itu.
Setelah itu, Shanika pun memutuskan untuk keluar dari dalam ruang rawat Ibunya dan membiarkan Ibunya menghabiskan waktu bersama dengan Ayah dan Neneknya. Tidak lupa juga Shanika mengucapkan terima kasih kepada Dokter dan beberapa perawat yang sudah menjaga keluarganya.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba Shanika juga teringat kepada Xyan dan entah mengapa merasa kalau saat ini Xyan berada di sekitarnya, yang seketika itu juga membuat Shanika segera berlari ke atas rooftop gedung rumah sakit yang sepi.
Dan benar saja, dari kejauhan Shanika melihat Xyan yang saat ini sedang menatap kalung berbentuk kunci di tangan kanannya dan secara perlahan kalung berbentuk kunci itu berubah menjadi butiran debu yang terbang terbawa angin.
“Xyan,” panggil Shanika, yang saat itu juga membuat Xyan menolehkan kepalanya dan melihat Shanika yang sedang berjalan ke arahnya.
“Bagaimana dengan kondisi Ibumu saat ini?” tanya Xyan dengan senyuman tipisnya kepada Shanika.
__ADS_1
Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Xyan, detik itu juga Shanika memeluk Xyan sambil berkata “Terima kasih!” yang seketika itu juga membuat Xyan dengan reflek ikut memeluk tubuh Shanika dan membuat Shanika sedikit terkejut, karena ia tidak pernah menyangka kalau kali ini Xyan akan membalas pelukannya.
“Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu, Shanika.” Ucap Xyan yang saat itu juga membuat Shanika dapat dengan jelas mendengar suara hingga debaran jantung Xyan, yang membuatnya merasa nyaman.