
***
Di sisi lain, Xyan yang berusaha menyusul kepergian Shanika menggunakan mobil mewahnya, akhirnya sampai di Gedung Universitas yang Shanika datangi dan tanpa berlama-lama lagi, Xyan segera keluar dari dalam mobil mewahnya dan melangkah pergi memasuki gedung Kampus yang besar dihadapannya itu.
Tanpa membutuhkan waktu yang lama, Xyan dapat dengan mudah menemukan keberadaan Shanika dan saat Xyan melihat Shanika di dalam salah satu ruangan dari balik jendela, saat itu juga Xyan melihat Shanika yang sedang dimarahi oleh Dosen dari salah satu mata kuliahnya.
“Mau sampai berapa kali kamu memohon? Lihat sekarang sudah jam berapa? Dan kamu ingin saya mengupload ulang nilai?! Yang benar saja,” ucap Dosen pria dihadapan Shanika dengan ekspresi kesalnya sambil merapikan semua barang bawaannya ke dalam tas untuk bergegas pulang.
Sedangkan Shanika yang ingin mengumpulkan tugasnya hanya bisa mengucapkan maaf berkali-kali dihadapan Dosen itu, yang seketika itu juga membuat Xyan cukup kesal dan segera melakukan trik kotornya kepada Dosen dihadapan Shanika itu.
“Sekali lagi, saya mohon maaf pak! Saya tidak akan mengulanginya lagi… Saya benar-benar membutuhkan nilai tugas kali ini, pak!” pinta Shanika dengan wajah memelasnya sambil terus mengusap kedua tangannya dihadapan Dosennya itu.
Beberapa detik kemudian, Shanika yang tadinya ingin memohon lagi langsung tersentak karena tiba-tiba melihat sinar merah dari bola mata Dosennya “Eh? Pak?” panggil Shanika dengan ekspresi bingungnya, saat Dosen dihadapannya itu hanya diam dan melamun.
Hingga beberapa detik kemudian, seperti terhipnotis Dosen dihadapan Shanika itu segera mengambil tugas laporan yang ada di tangan Shanika dan berkata “Baiklah, lain kali jangan diulangi lagi,” dengan nada bicaranya yang datar, setelah itu segera menyalakan komputer yang sejak tadi sudah ia matikan.
“Ya?! Kenapa tiba-tiba?” gumam Shanika dengan ekspresi bingungnya dan detik itu juga, Shanika tersadar kalau ada seseorang yang sudah melakukan sesuatu kepada Dosennya.
Tanpa berlama-lama lagi, Shanika pun berpamitan kepada Dosen dihadapannya itu dan segera melangkah keluar dari dalam ruangan Dosennya itu, untuk menemui orang yang sudah menghipnotis Dosennya.
Dan benar saja, saat Shanika keluar dari dalam ruangan Dosennya dapat dengan jelas ia melihat Xyan yang sedang berdiri menunggunya di tengah-tengah lorong Kampusnya “Kamu! Apa yang sudah kamu lakukan kepada Dosenku?!” tanya Shanika dengan tatapan kesalnya sambil berjalan mendekati Xyan.
Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Shanika. Detik itu juga, dengan penuh percaya diri Xyan berkata “Apa sekarang kamu masih berpikir, kalau kamu tidak membutuhkanku lagi?” yang seketika itu juga membuat Shanika merasa sangat frustasi dan kehilangan akal sehatnya.
__ADS_1
“Hah… yang benar saja,” keluh Shanika sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Xyan dan berusaha untuk mengatur emosinya.
Xyan yang melihat betapa frustasi dan kesalnya Shanika kepada dirinya, detik itu juga dengan reflek berkata “Aku tidak akan melepaskanmu!” yang saat itu juga membua Shanika tersentak dan kembali menatapnya dengan sangat lekat “A-apa katamu?” tanya Shanika dengan ekspresi bingungnya.
“Aku akan selalu berada di sisimu! Bukan karena perasaan kasihan atau tanggung jawab. Tapi, karena aku ingin bersamamu! Apa sekarang kamu sudah paham?” sambung Xyan dengan nada bicaranya yang sangat tegas dan serius kepada Shanika.
Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung kehabisan kata-katanya dan jantungnya mulai berdebar-debar tidak karuan, seperti ada seseorang yang sudah memasang bom waktu di dalam jantungnya “Akh! Tidak peduli!” keluh Shanika dengan reflek sambil melanjutkan langkah kakinya melewati Xyan.
“A-apa maksudmu dengan tidak peduli?!” balas Xyan yang dengan reflek juga langsung mengikuti langkah kaki Shanika dari belakang tubuh wanita itu.
“Lupakan! Lupakan saja!” pinta Shanika sambil mempercepat langkah kakinya, yang saat itu juga membuat Xyan tersenyum senang karena melihat tingkah lucu Shanika.
***
Dan tiba-tiba Shanika kembali teringat dengan perkataan Xyan yang mengatakan kalau ia ingin bersama dengannya “Akh! Sebenarnya apa maksud dari perkataannya itu?” gerutu Shanika sambil terduduk dari tidurnya dan memasang ekspresi cemberutnya.
“Ugh… aku benar-benar tidak bisa menebak perasaannya kepadaku!” gerutu Shanika lagi dengan perasaan kacaunya, sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Detik itu juga, Shanika yang tidak mau pusing memikirkan Xyan lagi akhirnya memutuskan untuk pergi mandi dan setelah selesai mandi ia bergegas untuk makan. Tapi, tetap saja, semua kegiatannya itu tidak membuatnya dapat melupakan Xyan dengan mudah dari dalam kepalanya.
“Hah, ini lah alasannya… pengalaman dalam berpacaran sangat dibutuhkan!” gerutu Shanika lagi setelah ia menghabiskan semua air minumnya dari gelas yang sangat besar.
Sekitar sepuluh menit kemudian, tepat setelah Shanika mencuci semua peralatan makannya tiba-tiba ia mendengar suara bel Apartementnya yang berbunyi “Ting-Nung!” dan tanpa berlama-lama lagi Shanika segera bergegas mendekati pintu Apartementnya.
__ADS_1
Tapi, tepat sebelum Shanika membuka pintu Apartementnya tiba-tiba ia mendengar suara benturan keras dari luar “Brak!!!” yang disusul juga dengan suara Xyan “Jangan dibuka!” yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan langsung melangkah mundur dari hadapan pintu Apartementnya.
“A-ada apa?” gumam Shanika dengan perasaan khawatirnya.
Shanika yang merasa penasaran, beberapa detik kemudian berusaha memastikan keadaan di luar dengan mengintipkan matanya pada lubang intip pintu Apartementnya dan secara samar Shanika melihat ada begitu banyak butiran debu berwarna hitam kemerahan yang berterbangan di depan pintu Apartemennya “A-apa yang terjadi?” panik Shanika.
Saat Shanika merasa kalau keadaan di luar sudah aman, saat itu juga Shanika segera membuka pintu Apartementnya dan melangkah keluar untuk menemui Xyan yang sedang terduduk lelah di lantai lorong Apartement “Kamu baik-baik saja?!” tanya Shanika sambil berjalan mendekati Xyan dengan ekspresi khawatirnya.
“Ya, tentu saja. Tapi, energiku lumayan terkuras… sial,” keluh Xyan dengan ekspresi kesal sekaligus lelahnya.
“Ba-barusan itu ada apa?” tanya Shanika lagi sambil menunjuk lorong Apartementnya yang saat ini sudah kosong.
“Sepertinya ada beberapa Iblis berwujud hewan yang ikut datang ke dunia ini, saat aku menolongmu keluar dari dunia lain dan mungkin… di luar sana masih ada banyak lagi,” jawab Xyan yang seketika itu juga membuat Shanika terkejut dan merasa takut.
Xyan yang melihat reaksi Shanika itu pun langsung bergegas untuk bangkit dari duduknya, setelah itu berkata “Mereka tidak akan bisa melukaimu. Jadi, jangan khawatir,” ucap Xyan dengan tatapan lekatnya.
“Jangan bilang… kamu akan melawan mereka semua seorang diri? Lihat, energimu saja sudah terkuras seperti ini! Melihat mereka mati, entah kenapa membuatku khawatir kalau kamu akan mati juga!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang agak meninggi dan penuh dengan rasa frustasinya.
Dengan reflek Xyan pun menggapai wajah Shanika dengan kedua tangannya, yang seketika itu juga membuat Shanika berhenti bicara “Aku tidak akan mudah mati, percayalah padaku, Hm? Lagipula… energiku sangat cepat pulihnya!” ucap Xyan dengan senyuman termanisnya kepada Shanika, yang sengaja ia tunjukkan agar Shanika
merasa tenang.
Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan Xyan, detik itu juga langsung menggapai kedua tangan Xyan dari wajahnya dan tanpa bicara sedikit pun, Shanika langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Xyan untuk memberikan kecupan lembut pada bibir Xyan “Cup!” yang seketika itu juga membuat Xyan terkejut dan melebarkan kedua bola matanya.
__ADS_1