Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Paksaan Elvan


__ADS_3

Karena Shanika tidak membalas sapaan Elvan, saat itu juga dengan reflek Nadine berkata “Tentu saja Shanika ingat! Lagipula, wanita mana yang bisa melupakan wajah Kak Elvan? Hehe,” puji Nadine dengan nada bicaranya yang manis dan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat memuja Elvan.


Yang seketika itu juga membuat Elvan cukup senang. Tapi, ia justru semakin merasa penasaran kepada Shanika yang hanya diam memperhatikannya.


Beberapa detik kemudian, Nadine yang terus berusaha mencari topik tanpa sengaja melihat kertas kecil berwarna kuning yang saat ini digenggam oleh Elvan dan dengan reflek kembali berkata “Hm? Itu kertas apa?” tanya Nadine dengan tatapan lekatnya ke arah tangan sebelah kanan Elvan.


“Ya? oh ini… pagi ini tiba-tiba ada wanita tua yang memberiku jimat ini, dia bilang kalau terus membawanya aku akan terhindar dari makhluk jahat!” jawab Elvan sambil tertawa pelan seakan tidak percaya dengan perkataan wanita tua yang memberikannya jimat.


“Haha! Jangan bilang, kalau kakak percaya hal seperti itu?” goda Nadine sambil tertawa pelan juga seperti Elvan yang saat ini masih berdiri dihadapannya.


Sedangkan Shanika yang mendengarkan perkataan Elvan, saat itu juga berpikir “Ah! Jadi, sosok hantu wanita bermata merah tidak bisa mengikutinya kerena ada benda itu!” sambil menganggukkan kepalanya, karena apa yang saat ini ia pikirkan sangatlah masuk akal.


Tapi, tiba-tiba Elvan yang sedang bicara dengan Nadine berkata “Aku juga tidak mau percaya dengan benda-benda seperti jimat ini. Apa lebih baik kalau aku hancurkan saja?” tanya Elvan kepada Nadine sambil meremas kertas jimat yang saat ini masih berada digenggaman tangan kanannya.


Shanika yang percaya seratus persen kalau jimat itu dapat membuat Elvan terhindar dari makhluk jahat, detik itu juga langsung menggapai tangan kanan Elvan sambil berkata “Jangan!” yang seketika itu juga membuat Elvan dan Nadine terkejut secara bersamaan, karena tingkah aneh Shanika.


“Ah, maksudku… tidak ada salahnya untuk percaya dengan jimat ini, siapa tahu kakak benar-benar bisa terhindar dari makhluk jahat!” sambung Shanika sambil menarik tangannya kembali, dengan senyuman canggungnya dihadapan Elvan dan Nadine yang saat ini terus menatapnya dengan lekat.


“Oh, begitu ya,” gumam Elvan dengan suara yang sangat pelan.


“Sejak kapan kamu percaya hal-hal begitu? Setauku kamu sangat membenci hal-hal mistis,” tanya Nadine dengan reflek sambil berusaha menyembunyikan ekpresi kesalnya yang terlihat cukup jelas di mata Shanika.


“Belakangan ini, aku memutuskan untuk percaya,” jawab Shanika sambil membalas tatapan Nadine dengan tatapan ramahnya.

__ADS_1


“Haha! Karena Shanika bilang begitu, aku akan menyimpan jimat ini dengan sebaik mungkin!” balas Elvan dengan nada bicaranya yang tiba-tiba menjadi sangat bersemangat, yang seketika itu juga membuat Shanika menganggukkan kepalanya dengan canggung, sedangkan Nadine hanya mengerutkan dahinya seakan tidak suka dengan apa yang Elvan katakan.


 ***


Sekitar dua puluh menit kemudian, teman-teman Elvan yang merupakan anggota basket datang memasuki kantin secara bergerombol dan segera mengajak Elvan untuk ikut latihan, yang saat itu juga membuat Nadine ingin melihat sesi latihan mereka.


Sedangkan Shanika yang hingga saat ini masih menghindari beberapa lokasi di kampusnya karena takut bertemu sosok makhluk yang jahat. Tanpa banyak bicara dan secara perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari dalam kantin.


“Huh… akhirnya aku bisa bebas dari mereka berdua,” gumam Shanika dengan perasaan leganya, sambil terus melanjutkan langkah kakinya hingga hampir sampai di depan gedung Kampusnya.


Tapi, tepat sebelum Shanika menghentikan mobil taksi dipinggir jalan, tiba-tiba ia mendengar suara Elvan yang memanggilnya dari belakang “Shanika!” yang seketika itu juga membuatnya segera menolehkan kepalanya dan menunjukkan kewaspadaan yang tinggi kepada Elvan.


“Ji-jimatnya?” tanya Shanika saat Elvan sudah berdiri tepat dihadapannya.


“Pastikan untuk terus membawa jimat itu,” pinta Shanika dengan sangat tegas, yang seketika itu juga membuat Elvan semakin senang “Hm, tentu saja!” balas Elvan dengan senyuman lebarnya.


Detik itu juga, Shanika yang melihat senyuman Elvan langsung berpikir kalau dirinya sudah melakukan hal yang salah “Ah… seharusnya aku tetap menjaga jarak dari pria ini!” dengan perasaan menyesalnya, sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Elvan.


Elvan yang ingin terus menarik perhatian Shanika, dengan percaya diri kembali berkata “Kamu mau pulang, ya? Bagaimana kalau aku antar? Kamu tinggal dimana?” tanya Elvan secara bertubi-tubi dengan nada bicaranya yang terdengar sangat manis dan penuh perhatian kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa


sangat terganggu.


“Bukannya kakak mau latihan bakset? Kenapa tiba-tiba mau mengantarku pulang?” balas Shanika sambil terus berusaha menjaga jarak berdirinya dari Elvan yang entah kenapa terus berusaha untuk mendekatinya.

__ADS_1


“Sepertinya kamu belum tahu ya, kalau aku ini anggota terbaik mereka… Jadi, aku bebas mau latihan kapan saja!” ucap Elvan dengan penuh percaya diri lagi, seakan-akan sedang berusaha menunjukkan pesonanya kepada Shanika.


“Ah, begitu ya.” balas Shanika dengan ekspresi tidak pedulinya.


Elvan yang melihat reaksi dingin dari Shanika, bukannya menyerah ia justru merasa semakin tertantang dan dengan reflek kembali berkata “Ayo, biar aku antar! Rumahmu tidak begitu jauh dari sini, kan?” tanya Elvan sambil menggapai pergelangan tangan kanan Shanika dengan santainya.


Yang seketika itu juga membuat Shanika terkejut dengan tingkah Elvan yang sangat berani untuk memegang pergalangan tangannya tanpa permisi terlebih dulu “Ya? aku bisa pulang sendiri kok,” balas Shanika dengan ekspresi paniknya.


“Tidak perlu malu, aku akan mengantarmu pulang dengan selamat!” ucap Elvan dengan senyuman lebarnya kepada Shanika, sambil menarik Shanika untuk pergi mengikutinya.


“Tu-tunggu,” gumam Shanika yang kebingungan untuk menolak ajakan Elvan.


“Aku akan mengantarmu dengan motor, hitung-hitung… aku bisa membantumu menghemat biaya transportasi!” kata Elvan lagi tanpa memperdulikan perasaan atau penolakan yang Shanika tunjukkan kepadanya dengan sangat jelas.


Shanika yang kebingungan dengan caranya menolak ajakan Elvan, saat itu juga mengharapkan seseorang datang untuk menolongnya dan tanpa disangka-sangka, tiba-tiba Shanika mendengar suara Xyan “Berhentilah memaksa!” yang seketika itu juga membuat Shanika dan Elvan menolehkan kepalanya secara bersamaan.


“Xy-xyan?!” ucap Shanika dengan perasaan senangnya saat melihat kedatangan Xyan di depan gedung kampusnya.


“Daripada membantu… kamu lebih terlihat seperti sedang menculik!” sambung Xyan sambil menarik tangan kanan Shanika yang sejak tadi terus digenggam dengan sangat erat oleh Elvan.


Elvan yang mendengar perkataan Xyan dan melihat tingkah Xyan yang sangat mengganggunya itu pun langsung mengerutkan dahinya sambil melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Shanika,


Setelah itu, Elvan memasang ekspresi tidak sukanya sambil berkata “Kamu siapa? Shanika, kamu mengenal pria ini?” tanya Elvan dengan tatapan tajamnya kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa takut dan dengan reflek menggenggam tangan kiri Xyan dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2