
Detik itu juga, bukannya membalas perkataan Karis mengenai perubahan warna matanya, Shanika justru hanya terdiam selama beberapa detik karena tiba-tiba ia melihat memori masa lalu Karis sebelum meninggal dunia secara samar.
Saat itu, Shanika merasa kalau Karis sedang bahagia karena ia baru saja melamar kekasihnya. Tapi, tiba-tiba Shanika kembali merasakan sakit di bagian dadanya karena wanita yang Karis cintai menusuk dada Karis tanpa sepatah kata pun.
“Ukh… aku melihatnya,” ucap Shanika lagi sambil terus berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan dari memori masa lalu Karis.
“Melihat? Apa yang kamu lihat?!” tanya Karis dengan reflek sambil terus menatap mata Shanika yang hingga saat ini masih berwarna merah.
Dengan suara yang bergetar, Shanika pun menjelaskan setiap detail yang ia lihat dan ia rasakan kepada Karis “Wanita itu… menusuk… dan mengambil jantungmu,” ucap Shanika dan secara samar Shanika juga berusaha untuk melihat wajah wanita yang sudah membunuh Karis.
Tapi, ia sama sekali tidak bisa melihat wajah wanita dihadapannya itu, Shanika hanya bisa merasakan kalau wanita itu “Dia tidak merasa… menyesal sedikit pun, karena sudah membunuhmu!” dengan nada bicaranya yang masih bergetar.
Karis yang mendengar perkataan Shanika, saat itu juga merasa sangat murung dan hanya bisa duduk terdiam dihadapan Shanika. Hingga beberapa detik kemudian, Shanika kembali berkata “Wanita yang kamu cintai itu… sepertinya bukan manusia,” yang seketika itu juga membuat Karis segera memejamkan matanya, setelah itu menundukkan kepalanya.
Dan membuat Shanika langsung tersadar dan berhenti melihat memori masa lalunya “Hah!!!” tarik nafas Shanika secara kasar, sambil mengusap dadanya sendiri secara berulang kali.
“Uwa! Kenapa tiba-tiba aku bisa melihat masa lalumu?!” panik Shanika yang masih tidak menyangka dengan kekuatan matanya saat ini.
Tapi, bukannya menyauti perkataan Shanika. Karis yang murung justru berkata “Jadi, begitulah caraku mati,” dengan ekspresi sedihnya dihadapan Shanika “Ya? ah… benar, itu lah yang aku lihat,” balas Shanika yang saat itu juga langsung merendahkan nada bicaranya.
“Sepertinya… kamu sudah salah mencintai seseorang, karena wanita itu pada akhirnya hanya memanfaatkanmu,” sambung Shanika dengan nada bicaranya yang jauh lebih lembut dan pelan kepada Karis.
__ADS_1
Karis yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung menganggukkan kepalanya dan kembali berkata “Itulah dosa terbesarku,” dengan perasaan kacaunya.
“Sekarang, karena aku sudah berhasil memastikannya. Aku ucapkan terima kasih, Shanika dan maafkan aku, karena sudah merepotkanmu.” Sambung Karis sambil memasang senyuman tipisnya dihadapan Shanika yang saat ini masih terus mengusap dadanya karena rasa sesak yang masih tersisa.
“Ya, senang bisa membantu… eh?!” sebelum Shanika selesai bicara, detik itu juga Karis yang merupakan malaikat maut itu langsung pergi menghilang dari pandangan Shanika dan berhasil membuat Shanika merasa kesal.
“Ugh, setidaknya… sebelum pergi, bantulah aku berdiri terlebih dulu!” keluh Shanika sambil berusaha bangkit dari jatuh terduduknya menggunakan kedua tangannya yang menopang meja di dekatnya.
Beberapa detik kemudian, Shanika pun bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu dan tiba-tiba ia kepikiran akan sesuatu hal yang cukup mengganjal hatinya “Tapi, apa Karis sudah tahu siapa wanita yang membunuhnya itu?” dengan ekspresi bingungnya, sebelum ia melangkah keluar dari dalam ruangan kelas yang kosong.
***
Sekitar lima menit berlalu, Shanika yang baru saja bicara dengan Karis entah kenapa merasa sangat lemas dan ia pun memutuskan untuk pergi menyendiri terlebih dahulu di halaman belakang kampusnya sambil menikmati minuman dinginnya.
Dan tepat pada saat Shanika sedang menikmati minuman dinginnya, tiba-tiba ia merasakan aura beberapa hantu yang mendekatinya “Ah… kenapa hari ini aku populer sekali?!” keluh Shanika lagi dengan reflek sambil menghela nafasnya secara kasar.
Para hantu wanita yang mendengar keluhan Shanika itu pun langsung tertawa pelan dan salah satu dari mereka mulai memiringkan kepalanya dihadapan Shanika yang sedang duduk, sambil mengajukan pertanyaan “Bagaimana kamu bisa mengenal Tuan Malaikat Maut?!” dengan wajah pucatnya yang cukup menyeramkan.
“Ey! Wajahmu terlalu dekat!” balas Shanika dengan reflek sambil menggeser tempat duduknya saat ini untuk menjauhi para hantu wanita yang menatapnya.
Tapi, tanpa peduli dengan perasaan kesal Shanika. Detik itu juga para hantu wanita saling bicara satu sama lain “Setelah Iblis tampan… dia juga mengenal Malaikat Maut! Dia hebat sekali,” dengan ekspresi kagum mereka kepada Shanika.
__ADS_1
“Ya, aku juga mengenal kalian!” balas Shanika sambil berusaha menahan tawanya, karena pujian aneh yang dilontarkan oleh para hantu untuknya, walaupun para hantu di dekatnya itu terlihat cukup mengerikan di matanya.
“Hm… kalau dipikir-pikir hidupku benar-benar sudah sangat kacau! Tidak ada yang normal sedikit pun dari hidupku ini,” sambung Shanika yang tiba-tiba menyadari keanehan pada dirinya sendiri, karena setiap hari selalu berkomunikasi dengan berbagai makhluk tak kasat mata di sekitarnya.
Setelah bicara pada dirinya sendiri, tidak lama kemudian salah satu hantu wanita yang sudah sering bicara dengan Shanika menatap Shanika dengan lekat dan mendekati Shanika sambil berkata “Ada yang berubah dari auramu!” yang seketika itu juga membuat Shanika terdiam dan kebingungan.
“Auraku berubah? Apa maksudmu?” balas Shanika dengan ekspresi bingungnya.
“Auramu jauh lebih bercahaya daripada sebelumnya! Iya, kan teman-teman?!” ucap hantu wanita berwajah pucat dihadapan Shanika itu lagi, sambil bertanya kepada teman-teman hantu yang lainnya.
Para hantu yang tadinya tidak memperhatikan Shanika, detik itu juga langsung menatap Shanika dengan sangat lekat dan membuat Shanika merasa sangat tidak nyaman “Kalian ini, apa-apaan sih?” keluh Shanika sambil berusaha mengalihkan pandangan matanya dari wajah para hantu yang menyeramkan.
Dan salah satu hantu di dekat Shanika pun kembali berkata “Oh, tanda! Sepertinya Iblis tampan itu sudah memberimu tanda kepemilikannya ya!” sambil menepuk tangannya dengan cukup kencang, yang seketika itu juga membuat bebarapa hantu yang lain menjadi gaduh.
Sedangkan hantu wanita berwajah pucat dihadapan Shanika langsung mengajukan pertanyaannya lagi “Jadi, kamu sudah menyatakan perasaanmu kepada pria itu?!” dengan ekspresi ceria dan tatapan lekatnya lagi kepada Shanika.
“Eh… soal itu.” Gumam Shanika dengan perasaan malunya sambil mengusap leher bagian belakang dengan tangan kanannya.
Sebelum Shanika menjawab pertanyaan hantu dihadapannya itu, tiba-tiba salah satu wanita yang lainnya berkata “Bukan hanya menyatakan perasaan… mereka juga sudah berhubungan panas!” yang membuat semua hantu bersorak dan langsung menggoda Shanika dengan wajah aneh meraka.
Shanika yang merasa sangat malu, dengan reflek langsung berteriak “Hei! Jaga omongan kalian!” setelah itu langsung membekap mulutnya sendiri sambil memastikan ada orang lain atau tidak disekitarnya.
__ADS_1
“Ugh… aku benar-benar sudah tidak waras!” keluh Shanika lagi sambil menutup seluruh wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya dan membuat para hantu di dekatnya kembali tertawa untuk menggodanya.
“Sial sekali,” gerutu Shanika sambil menghentakkan kedua kakinya, karena para hantu di dekatnya itu tidak mau berhenti menggodanya dalam waktu yang cukup lama.