Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Kehilangan Shanika


__ADS_3

Shanika yang tidak ingin kalah atau terlihat lemah dihadapan Zoya, detik itu juga mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat dan berkata kepada Zoya “Kalau sampai terjadi hal buruk kepada Ayah dan Ibuku! Aku tidak akan pernah memaafkanmu,” dengan nada bicaranya yang lantang.


Yang seketika itu juga membuat Zoya tertawa, setelah itu berkata “Bodoh sekali! Pikirkan saja nasibmu sendiri,” sambil melangkahkan kakinya untuk semakin dekat kepada Shanika yang saat ini berusaha mengatur nafasnya, karena asap kebakaran yang semakin pekat.


“Lagipula, saat ini kamu tidak bisa melihat dengan jelas dan memanfaat kekuatan matamu itu! Jadi, tidak ada gunanya melawan,” sambung Zoya dengan senyuman sinisnya yang hanya bisa Shanika lihat secara sekilas dari balik asap kebakaran yang semakin pekat dan membuatnya sesak.


Detik itu juga, Shanika berusaha untuk tetap waspada sambil menutup hidung hingga mulutnya menggunakan lengan tangannya. Setelah itu dengan reflek Shanika kembali berkata “Aku akan membunuhmu, Zoya! Dan aku pastikan, kematianmu akan sangat menyakitkan!” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang penuh penekanan dan rasa dendamnya.


Zoya yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung berjalan semakin mendekati Shanika dan tanpa aba-aba sedikit pun Zoya yang sudah berada di dekat Shanika langsung menarik rambut Shanika ke belakang dengan sangat kasar, yang seketika itu juga membuat Shanika menjerit kesakitan.


“Akh! Le-lepaskan!!” jerit Shanika sambil meronta-ronta seakan ingin membalas perbuatan Zoya. Tapi, karena asap membuatnya sesak Shanika benar-benar mulai kehilangan kesadarannya.


“Beraninya kamu mengancam dan mengutukku!” ucap Zoya dengan nada bicara yang meninggi dan ekspresinya yang terlihat sangat marah kepada Shanika “Ukh! Hentikan,” pinta Shanika dengan suara yang semakin memelan.


“Sudah cukup bermain-mainnya! Setelah kamu menginjak harga diriku… aku tidak akan pernah membiarkanmu bebas!” sambung Zoya dengan nada bicaranya yang terdengar sangat mengerikan dan penuh dengan ancaman di telinga Shanika.


Setelah itu, Zoya pun langsung mendorong kepala Shanika dengan kasar sampai membuat tubuh Shanika kehilangan keseimbangannya dan terjatuh dari tangga yang penuh dengan asap sekaligus juga api disekitar temboknya “Brak!” dan karena kepala Shanika sempat terbentur kayu, detik itu juga Shanika jatuh pingsan.


“Ck, manusia yang merepotkan!” keluh Zoya sambil membersihkan telapak tangan kaanannya yang dipenuhi dengan rerontokkan rambut Shanika yang sebelumnya sempat ia tarik.

__ADS_1


Di saat Zoya sedang fokus kepada dirinya sendiri, tiba-tiba ia mendengar suara desisan Iblis berwujud ular yang disusul juga dengan suaranya “Jangan bilang dia sudah mati?” sambil menatap Shanika yang jatuh pingsan di tangga darurat.


“Belum, dia belum mati! Ayo, bawa dia pergi dari sini,” balas Zoya dengan nada bicaranya yang santai, yang seketika itu juga membuat Iblis ular menurut dan segera melilit tubuh Shanika untuk dibawa pergi ke tempat lain, sebagai sandera.


***


Di sisi lain, setelah sekitar tiga puluh menit kemudian akhirnya pemadam kebakaran bisa menjinakkan kobaran api dan membuat semua api di gedung Apartement padam, walaupun kerusakan pada bangunan sudah tidak bisa diselamatkan lagi.


Dan Karis yang merupakan malaikat maut pun datang, dengan tatapan mirisnya ia melihat semua kejadian tragis itu dari atas gedung lain yang tidak jauh dari gedung Apartement yang terbakar, bersama dengan satu teman malaikat mautnya juga.


“Ada yang tidak beres dengan kebakaran ini,” ucap teman malaikat maut Karis dengan perasaan tidak nyamannya saat melihat beberapa korban evakuasi yang sedang dirawat oleh para petugas medis di depan gedung Apartement.


Sedangkan Karis yang mendengar perkataan temannya itu hanya bisa terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat sambil berpikir “Ini perbuatan Iblis,” dengan perasaan bersalahnya, sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


Karis yang mendapatkan arahan dari temannya itu, tanpa berlama-lama lagi langsung menuruni atap gedung dan berjalan mendekati beberapa arwah yang sedang duduk terdiam di samping tubuhnya sendiri yang mengalami luka bakar dan akan segera di bawa ke rumah sakit terdekat.


“Ikutlah denganku,” ucap Karis kepada salah satu wanita tua yang sudah pasti dinyatakan akan meninggal dunia.


Wanita tua yang mendengar perkataan Karis itu pun langsung menangis dan mengatakan kalau ia masih ingin hidup dan melihat cucunya yang akan segera lahir di dunia. Tapi, karena sudah menjadi takdir kematiannya, Karis sama sekali tidak bisa membantu dan hanya bisa menunjukkan jalan kehidupan baru bagi wanita tua itu.

__ADS_1


Dengan perasaan yang berat, Karis terus menunjukkan jalan bagi sebagian arwah yang ada di sekitar halaman gedung Apartement. Hingga beberapa menit kemudian ia melihat Xyan yang sedang berlari-lari mencari seseorang.


Karis yang tahu siapa yang sedang Xyan cari saat ini, detik itu juga langsung berjalan mendekati Xyan dan menepuk pundak Xyan sekilas, yang seketika itu juga membuat Xyan menolehkan kepalanya dan menatapnya dengan lekat.


“Shanika tidak ada di sini. Tapi, kedua orang tuanya mengalami sesak nafas yang cukup akut di sana,” ucap Karis sambil menunjuk salah satu mobil ambulan dengan jari telunjuknya.


Xyan yang mendengar perkataan Karis itu pun langsung menghela nafasnya dengan kasar, ia benar-benar merasa menyesal karena sudah meninggalkan Shanika “Sial!” ucap Xyan dengan penuh frustasinya.


Karis yang melihat reaksi kesal Xyan, detik itu juga dengan reflek kembali berkata “Ini semua ulah Iblis itu (Zoya), kan?” dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar dan perasaannya yang terasa sesak setiap ia mengingat Zoya.


Dengan penuh amarahnya, Xyan pun berjalan semakin mendekati Karis sambil berkata “Kamu sudah tahu ini semua perbuatan dia! Tapi, kenapa kamu masih belum melakukan apa-apa?!” dengan tatapan tajamnya yang terlihat sangat mengancam di mata Karis.


Karis yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung tersentak dan ia hanya bisa terdiam seribu bahasa dihadapan Xyan yang terlihat masih sangat marah. Tapi, tetap berusaha untuk mengendalikan emosinya.


“Ini bukan waktunya untuk aku berdebat denganmu,” sambung Xyan sambil berjalan melewati Karis dengan mendorong pundak Karis dengan pundaknya secara kasar, yang seketika itu juga hanya bisa membuat Karis menghela nafasnya dan melihat Xyan yang ingin menghampiri kedua orang tua Shanika.


Saat Karis terdiam dan merasa kalau dirinya sangat tidak berguna bagi siapa pun, tiba-tiba ia mendengar suara pria yang memanggilnya dari belakang tubuhnya dan saat Karis menolehkan kepalanya dapat dengan jelas ia melihat Gavin, yang bukan lain adalah anak buah Xyan.


“Mohon dimaklumi sikap kasarnya Tuan Xyan… dan kembalilah bekerja, Tuan Malaikat!” ucap Gavin dengan penuh perhatian dan ketulusan di ekspresi wajahnya yang Karis lihat.

__ADS_1


“Tuan Malaikat?” gumam Karis dengan ekspresi bingungnya “Benar! Tuan Malaikat. Kembalilah bekerja, tanpamu… jiwa manusia tidak akan bisa menemukan arah tujuannya lagi!” sambung Gavin lagi yang seakan sedang berusaha memotivasi Karis untuk kembali semangat menjalankan kehidupan barunya sebagai Malaikat Maut.


Yang seketika itu juga membuat Karis menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan pekerjaan sucinya untuk menunjukkan jalan terbaik kepada setiap arwah manusia yang kehilangan arah di dunia.


__ADS_2