
Hingga beberapa detik kemudian, karena Shanika tidak melepaskan pelukannya juga akhirnya Xyan kembali membuka mulutnya untuk berkata “Tapi, Shanika… bukannya kamu bilang, mulai hari ini kita harus menjaga batasan?” yang seketika itu juga membuat Shanika tersadar dan segera mendorong tubuh Xyan dari pelukannya.
“Ah,” keluh Xyan dengan wajah datarnya saat tiba-tiba Shanika mendorongnya dengan kasar.
Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung menunjukkan ekspresi paniknya dan segera berkata “Perlu kamu tahu, setiap aku merasa takut… senang atau sedih! Biasanya aku akan memeluk Ayahku dengan sangat erat!” dengan nada bicaranya yang sedikit meninggi kepada Xyan.
Karena perkataan Shanika, Xyan pun memiringkan kepalanya dan menatap Shanika dengan tatapan bingungnya sambil bertanya “Apa maksudmu?” dengan tatapan mata yang secara perlahan-lahan menjadi tajam.
“Maksudku… saat ini aku sudah menganggapmu seperti sosok Ayahku! Karena itu… tanpa sadar aku selalu memelukmu,” jawab Shanika dengan nada bicaranya yang canggung dan terasa seperti alasan yang tidak masuk akal bagi Xyan.
“Ka-kamu menyamakan aku dengan Ayahmu?!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang meninggi dan ekspresi tidak percayanya, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan segera melangkah mundur dari hadapan Xyan sambil menganggukkan kepalanya.
Xyan pun langsung tertawa aneh sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika “Wah! Haha, benar-benar tidak masuk akal!” keluhnya dengan perasaan kesalnya.
“Hm? Kamu marah?” tanya Shanika reflek dengan tatapan polosnya.
“Siapa yang marah?! Aku?! Tidak tuh!” jawab Xyan dengan reflek juga sambil menatap Shanika dengan tatapan tajamnya yang terlihat penuh amarah “Ah… kamu marah,” gumam Shanika setelah ia melihat reaksi Xyan.
“Kalau begitu, lain kali peluk Ayahmu saja sana! Jangan peluk aku lagi, ugh… rasanya kotor sekali” sambung Xyan sambil membersihkan pakaiannya dengan kedua tangannya secara kasar dihadapan Shanika.
SedangkanShanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung merasa sangat terhina dan dengan reflek berkata “Ko-kotor katamu?! Jaga ucapanmu,” dengan nada bicaranya yang ikut meninggi juga.
__ADS_1
“Lupakan! Sekarang pulanglah ke Apartementmu sendiri,” balas Xyan yang dalah hitungan detik merubah ekspresinya menjadi ekspesi datar, setelah itu tanpa banyak bicara lagi Xyan segera berjalan melewati Shanika untuk pergi ke dalam pintu lift.
“Menyebalkan sekali, kenapa aku selalu merasakan krisis identitas setiap bicara dengannya?” gerutu Xyan di belakang Shanika dengan suara yang sangat pelan.
Tapi, tepat sebelum Xyan melangkahkan kakinya ke dalam lift, saat itu juga Shanika mengajukan pertanyaan “Soal Kak Elvan… aku dengar kamu yang membantu hantu bermata merah itu untuk melukainya. Apa benar begitu?” yang seketika itu juga membuat langkah kaki Xyan terhenti.
Dan Xyan pun segera menolehkan kepalanya lagi ke arah Shanika sambil berkata “Kalau benar kenapa? Apa kamu akan memarahiku?” tanya Xyan dengan nada bicaranya yang ketus dan tatapan matanya yang terasa dingin.
“Aku juga dengar… kamu melakukan itu untuk melindungiku dari rasa takut,” sambung Shanika, yang saat itu juga membuat tatapan dingin Xyan mencair dan Xyan pun segera mengalihkan pandangannya dari wajah Shanika lagi sambil berkata “Percaya diri sekali, untuk apa juga aku melindungimu,” gerutu Xyan sambil berusaha menahan
senyuman tipisnya.
“Aku tahu… seharusnya aku tidak merasa senang dengan apa yang Kak Elvan alami. Tapi, aku ucapkan terima kasih kepadamu, karenamu… sekarang aku merasa lebih aman,” sambung Shanika lagi dengan senyuman lebarnya kepada Xyan.
“Seperti yang kamu tahu, aku bisa melakukan apapun dengan mudah dan terkadang caraku dalam menyelesaikan… mungkin akan cukup berbahaya,” ucap Xyan panjang lebar kepada Shanika.
“Hm? Bicara apa sih?” tanya Shanika sambil mengerutkan dahinya dan menatap Xyan dengan tatapan bingungnya “Lupakan saja kalau tidak mengerti,” balas Xyan dengan ketus, yang saat itu juga membuat Shanika dengan reflek tertawa.
Sedangkan Xyan yang melihat Shanika tertawa, detik itu juga berpikir “Padahal perkataanku barusan adalah peringatan. Aku akan selalu berusaha menjagamu. Tapi, dengan cara yang kejam Shanika!” dengan perasaannya yang terasa sedikit berat.
***
__ADS_1
Setelah berpisah dengan Shanika, Xyan pun segera melangkahkan kakinya untuk pergi ke rooftop Apartement sambil berpikir kalau semua yang dialami Shanika bukanlah sekedar kebetulan dan pasti ada seseorang yang sudah mengaturnya, sama seperti wanita pemilik mata pengantin sebelum-sebelumnya.
“Jika Shanika tahu… kehidupannya akan terus berada dalam bahaya karena dia adalah pengantinku. Pasti dia akan membenciku dan tidak merasa aman lagi,” gumam Xyan dengan tatapan sedihnya sambil merasakan hembusan angin malam di atas rooftop Apartementnya itu.
Hingga sekitar lima menit kemudian, Xyan pun merasakan kehadiran anak buahnya yaitu Gavin dan tanpa berlama-lama lagi Gavin segera mendekati Xyan untuk berkata “Sesuai dugaan anda… Raja Iblis sudah kembali mengutus seseorang untuk melawan anda,” ucap Gavin dengan sangat berhati-hati karena ia merasakan aura mencekam
disekitar Xyan.
Xyan yang mendengar perkataan Gavin itu pun segera memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya secara perlahan, setelah itu kembali berkata “Hah… mau sampai kapan dia membenciku?” dengan perasaannya yang sangat kacau.
“Tuan, bukannya akan jauh lebih baik jika anda memberitahu Nona Shanika dengan apa yang kemungkinan akan segera ia alami?” tanya Gavin dengan nada bicaranya yang penuh perhatian dan tatapan khawatirnya kepada Xyan.
“Jika aku memberitahunya… Apa menurutmu ia masih akan mau menerimaku?” balas Xyan yang seketika itu juga membuat Gavin terdiam dan merasa serba salah.
“Dengan dirinya yang bisa menerima identitasku sebagai manusia setengah Iblis saja, aku sudah sangat bersyukur!” sambung Xyan sambil memasang senyuman tipisnya saat tiba-tiba ia kembali teringat dengan ucapan terima kasih yang sering Shanika lontarkan kepada dirinya.
“Aku ingin ia tetap merasa membutuhkanku, Gavin.” Sambung Xyan lagi sambil menolehkan kepalanya ke arah Gavin, yang detik itu juga membuat Gavin melihat tatapan mata Xyan yang untuk pertama kalinya terlihat sangat cerah dan penuh harapan.
“Saya mengerti, Tuan.” Balas Gavin sambil menundukkan kepalanya dengan sangat patuh dihadapan Xyan.
Dengan reflek Xyan pun menepuk pundak Gavin dan kembali berkata “Kali ini, bagaimana pun caranya kita harus berhasil menangkap utusan Raja Iblis! Dengan begitu, semuanya akan bisa dikendalikan dengan mudah,” ucap Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat serius dan pandangan matanya yang sangat berapi-api.
__ADS_1
“Saya siap membantu anda, Tuan.” Balas Gavin dengan senyuman dan tatapan yang sangat meyakinkan di mata Xyan “Tentu saja kamu harus siap!” ucap Xyan dengan senyuman menyeringainya kepada Gavin yang saat ini masih berdiri dihadapannya.