Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Terkunci dan Menghilang


__ADS_3

Karena tatapan aneh dari Shanika, seketika itu juga Xyan mengerutkan dahinya dan kembali membuka mulutnya untuk berkata “Kenapa? Apa tidak bisa?” dengan nada bicaranya yang sedikit meninggi kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika menarik nafasnya dan berkata “A-apa mereka akan percaya kalau aku memperkenalkanmu se-sebagai… pacarku?” dengan nada bicaranya yang terdengar gugup.


Xyan yang melihat reaksi gugup Shanika itu pun langsung tersenyum tipis, setelah itu berkata “Benar juga sih… kedua orang tuamu pasti tidak akan percaya, kalau sampai putrinya punya pacar sekeren ini!” ucap Xyan sambil menganggukkan kepalanya secara perlahan dan menunjukkan pesonanya dengan begitu sombong dihadapan Shanika.


“Ugh, menyebalkan sekali!” balas Shanika dengan reflek, sambil menunjukkan ekspresi kesalnya.


“Sudahlah,kamu cukup pikirkan saja cara menolong kedua orang tuaku. Kalau soal memperkenalkanmu… biar aku sendiri yang mengurusnya,” sambung Shanika sambil melangkahkan kakinya mendekati sofa untuk mengambil jaketnya.


Setelah itu, tanpa mau berlama-lama lagi Shanika segera berpamitan kepada Xyan untuk pulang ke Apartementnya sendiri dan beberapa detik kemudian, sesampainya Shanika di dalam Apartementnya ia langsung menyenderkan tubuhnya pada pintu masuk Apartementnya sendiri sambil mengusap dadanya.


“Hah… bagaimana bisa dia bicara dengan seringan itu?” gumam Shanika setiap ia mengingat perkataan Xyan yang ingin diperkenalkan sebagai pacarnya.


“Sebenarnya dia itu menganggapku sebagai apa sih?! Ah, lupakan saja!” sambung Shanika dengan ekspresi kesalnya sambil melanjutkan langkah kakinya untuk memasuki daerah dapur di dalam Apartementnya.


Sebelum menyiapkan makan malamnnya, Shanika pun memutuskan untuk menghubungi Neneknya terlebih dulu karena saat ini Neneknya pasti sedang menemani Ibunya di rumah sakit dan tepat pada saat Neneknya mengangkat telepon darinya, saat itu juga Shanika berusaha untuk mengatur emosinya agar tidak kembali bersedih.


“Kamu baik-baik saja kan, Sha?” tanya Nenek Shanika dengan suara yang agak bergetar.


“Hm, aku baik-baik saja, Nek.” Jawab Shanika sambil berusaha mempertahankan nada bicaranya yang tenang.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, sesuai dengan perkataan Shanika kemarin. Akhirnya Xyan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit bersama dengan anak buahnya yaitu Gavin “Tuan… anda yakin akan melakukan hal ini? terakhir kali anda membuat beberapa manusia terluka, seorang malaikat maut langsung memberikan peringatan lho,” tanya Gavin dengan perasaan ragunya.


“Para malaikat memang suka sekali memberikan peringatan, bukannya hal seperti itu sudah biasa terjadi?” balas Xyan dengan nada bicaranya yang santai, sambil terus melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lobi rumah sakit yang sangat luas.


“Mereka memberikan peringatan, karena anda terus ikut campur dengan hidup dan matinya manusia,” ucap Gavin lagi dengan wajah memelasnya dihadapan Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan merasa sedikit kesal dan dengan reflek berkata “Tutup mulutmu,” dengan nada bicara yang cukup mengancam.


“Hm, baik!” balas Gavin lagi yang saat itu juga langsung merapatkan bibirnya dengan serapat mungkin.


Tidak lama kemudian, Xyan dan Gavin pun melihat kedatangan Shanika yang menyambut mereka dari kejauhan dan saat Shanika sudah berdiri dihadapan mereka, saat itu juga Shanika berkata “Tidak aku sangka, kamu akan langsung datang hari ini juga! Terima kasih,” ucap Shanika dengan wajah cerianya kepada Xyan.


Xyan yang mendengar ucapan terima kasih dari Shanika itu pun langsung menganggukkan kepalanya sambil berusaha menahan senyumannya, sedangkan Gavin yang mendengar perkataan Shanika itu langsung berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Xyan dengan perasaan senangnya.


Detik itu juga, Shanika segera mengantar Xyan dan Gavin untuk pergi menemui Ayahnya yang sedang tertidur pulas tanpa ditemani oleh para saudaranya yang sedang pergi membeli makanan dan tanpa berlama-lama, Xyan segera melihat kondisi cedera Ayahnya Shanika sambil mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Ayahnya


Bagi orang normal mungkin saat ini Xyan terlihat seperti tidak melakukan apa-apa. Tapi, di mata Shanika Xyan seperti sedang mengobati Ayahnya, karena dengan samar Shanika bisa melihat asap putih yang keluar dari dalam telapak tangan Xyan secara perlahan mulai menyelimuti seluruh kaki Ayahnya yang sakit.


Hingga beberapa menit kemudian, Xyan menurunkan tangannya dan menolehkan kepalanya kepada Shanika sambil berkata “Cedera serius pada kaki Ayahmu akan segera sembuh dan di rumah sakit ini pasti akan sedikit heboh,” ucap Xyan dengan wajah seriusnya kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa lega.


Setelah memperbaiki kondisi Ayahnya Shanika, Xyan pun diantar oleh Shanika lagi untuk menemui Ibunya yang saat ini mengalami kondisi Koma. Tapi, tepat pada saat Xyan dan Gavin melangkahkan kaki mereka ke dalam ruang rawat Ibunya Shanika, saat itu juga mereka berdua menjadi lebih waspada daripada sebelumnya.


“Ada yang tidak beres di sini,” gumam Gavin dengan suara yang sangat pelan, sambil menolehkan kepalanya ke setiap sudut ruangan.

__ADS_1


“Kamu jaga di depan pintu saja,” pinta Xyan kepada Gavin, yang saat itu juga membuat Gavin menganggukkan kepalanya dan segera berdiri di depan pintu kamar rawat Ayahnya Shanika untuk berjaga-jaga.


Sedangkan Shanika yang tidak tahu apa-apa hanya berdiri diam memperhatikan Xyan dari samping tubuh Xyan dengan tatapan lekatnya, hingga beberapa detik kemudian Xyan mulai memeriksa kondisi tubuh Ibunya Shanika yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.


Awalnya semua terasa baik-baik saja. Tapi, tiba-tiba Xyan dikejutkan dengan aura Iblis lain yang seakan tertanam di dalam tubuh Ibunya Shanika “Apa-apaan ini?” ucap Xyan sambil mengerutkan dahinya dan memasang ekspresi tidak sukanya.


“Kenapa? apa ada masalah?” tanya Shanika dengan tatapan khawatirnya kepada Xyan.


Sebelum menjawab pertanyaan Shanika, Xyan pun kembali memeriksa kondisi tubuh Ibunya Shanika dan sesuai dengan dugaannya, saat ini ada Iblis lain yang sedang melakukan hal buruk kepada Ibunya Shanika “Sial,” gerutu Xyan yang seketika itu juga membuat Shanika merasa semakin khawatir sekaligus kebingungan.


“Katakan padaku… Apa yang terjadi?” tanya Shanika lagi dengan tatapan matanya yang semakin intens kepada Xyan.


“Terkunci,” jawab Xyan singkat.


“Apanya yang terkunci?” tanya Shanika yang masih kebingungan.


Xyan pun memperbaiki posisi berdirinya dihadapan Shanika dan sebelum bicara menarik nafasnya terlebih dulu “Saat ini, tubuh Ibunya terkunci, sepertinya itu penyebab dari kondisi koma Ibumu saat ini,” jawab Xyan dengan wajah seriusnya.


“Ba-bagaimana bisa terkunci?!” panik Shanika dengan kedua bola matanya yang melebar kepada Xyan.


“Kalau soal itu,” perkataan Xyan terputus dengan perasaan ragunya, karena ia tidak ingin kalau Shanika sampai tahu mengenai adanya Iblis lain yang saat ini sedang berusaha mengincar keluarga atau dirinya.

__ADS_1


Dan detik itu juga, tiba-tiba fokus Shanika beralih ke hal lain “Tapi, ngomong-ngomong… kenapa sejak tadi aku tidak melihat arwah Ibuku? Seharusnya Ibu ada di sini,” tanya Shanika dengan wajah khawatirnya sambil menolehkan kepalanya ke setiap sudut ruang rawat Ibunya itu, yang seketika itu juga membuat Xyan ikut kebingungan dan memutuskan untuk segera mencari arwah Ibunya Shanika sampai ketemu.


__ADS_2