Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Sudah Tak Tertahan Lagi


__ADS_3

***


Sejak penangkapan pelatih basket itu, Shanika pun memutuskan untuk terus mengikuti jejak arwah Nadine yang berkeliling di sekitar kantor polisi ataupun rumah kedua orang tuanya, hingga arwah Nadine menjadi jauh lebih tenang dan ikhlas dengan kematiannya sendiri.


“Tenanglah, aku janji akan menjaga kedua orang tuamu… dan soal pelatih basket itu, akan aku pastikan dia mendapatkan hukuman maksimal di penjara,” ucap Shanika kepada arwah Nadine yang saat ini sudah ingin berpamitan kepada dirinya.


Nadine yang mendengar perkataan Shanika, detik itu juga merasa semakin tenang dan juga senang. Tidak ia sangka, orang yang selama ini ia hina dan ia jauhi akan membantunya sampai maut menjemputnya “Terima kasih dan maafkan aku, karena tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu, Shanika.” Ucap Nadine dengan wajah sedihnya.


“Apa maksudmu? Kamu adalah satu-satunya teman dekatku! Jadi, jangan berpikir seperti itu… atau aku akan sedih!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang terdengar cukup serius dan penuh perhatian kepada Nadine yang saat ini sedang mengusap air matanya.


Tapi, beberapa detik kemudian tiba-tiba pembahasan Nadine berubah saat matanya melirik ke arah Xyan yang saat ini sedang berdiri agak jauh sedikit dari Shanika “Tapi, sejak kapan kamu punya kenalan setampan dia?” tanya Nadine sambil memasang senyuman jahilnya.


Yang seketika itu juga membuat Shanika menolehkan kepalanya ke arah Xyan dan membuat Xyan sadar kalau dirinya sedang dibicarakan “Hm, terima kasih pujiannya!” balas Xyan dengan senyuman lebarnya.


“Ahaha! Ceritanya cukup panjang… dan aku tidak memperkenalkannya kepadamu, karena aku takut kamu akan terbawa dalam masalah!” jawab Shanika dengan reflek sambil menghalangi pandangan Nadine dari wajah Xyan.


“Masalah katamu?!” gerutu Xyan dari belakang tubuh Shanika.


Sedangkan Nadine yang mendengar perkataan Shanika yang dibalas oleh Xyan, saat itu juga langsung tertawa pelan dan berinisiatif untuk mengakhiri pembicaraannya dengan Shanika, karena ia merasa harus pergi sekarang juga.

__ADS_1


Xyan yang paham maksud dari perkataan penutup Nadine, beberapa detik kemudian berkata “Nah, kamu lihat cahaya yang ada di belakang sana, kan?” sambil menunjuk ke belakang tubuh Nadine, yang seketika itu juga membuat Nadine menoleh ke belakang dan Shanika melihat ke arah yang Xyan tunjuk.


“Teruslah berjalan mengikuti cahaya itu dan saat di ujung cahayanya, kamu akan bertemu dengan seorang malaikat. Jangan takut dan percaya saja kepadanya, dia akan membawamu ke tempat terbaikmu.” Sambung Xyan dengan nada bicaranya yang serius kepada Nadine, yang saat itu juga membuat Nadine menganggukkan kepalanya dan segera mengikuti arahan dari Xyan sambil melambaikan tangannya ke arah Shanika sebelum ia melangkah pergi.


Shanika yang melihat kepergian temannya itu pun hanya bisa terdiam sambil terus berusaha memasang senyumannya. Hingga beberapa detik kemudian Shanika menundukkan kepalanya dan menangis dengan hati yang sangat terluka, karena pada akhirnya ia tidak bisa melindungi Nadine.


Xyan yang merasakan kesedihan Shanika, dengan reflek langsung merangkul dan mengusap punggung Shanika sambil berkata “Ayo, kita pulang sekarang.” Dengan nada bicaranya yang sangat lembut kepada Shanika yang masih menangis.


Tanpa berlama-lama lagi, Shanika pun segera mengikuti langkah kaki Xyan sambil berusaha menghentikan tangisannya hingga ia masuk ke dalam mobil mewah milik Xyan “Apa menurutmu… Nadine akan masuk ke dalam surga?” tanya Shanika dengan wajah murungnya.


“Entahlah. Apa menurutmu surga mudah untuk dimasuki manusia?” balas Xyan sambil memasang sabuk pengaman Shanika dan segera menyalakan mesin mobilnya.


Xyan yang mendengar keluhan Shanika, bukannya merasa bersalah ia justru merasa senang dan dengan reflek tertawa sambil mengendarai mobil mewahnya untuk pulang ke apartementnya “Ck, malah tertawa!” keluh Shanika lagi dengan nada bicaranya yang terdengar sangat imut di telinga Xyan.


***


Sekitar dua puluh menit kemudian, sesampainya Xyan dan Shanika di gedung Apartement, mereka berdua segera memasuki salah satu pintu lift dan sesampainya di lantai apartement Shanika, dengan reflek Shanika berkata “Terima kasih karena sudah menemaniku… selamat malam dan selamat istirahat,” sambil menundukkan kepalanya sekilas.


Setelah itu, tanpa melihat wajah Xyan lagi Shanika segera melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari dalam lift dan berjalan mendekati pintu Apartementnya. Tapi, tepat setelah Shanika membuka pintu Apartementnya tiba-tiba Xyan berjalan mendekatinya dan menahan tangan kananya “A-ada apa?” kaget Shanika sambil menolehkan kepalanya dan menatap Xyan dengan ekspresi bingungnya.

__ADS_1


Dengan jantung yang berdebar-debar, Xyan pun membalas tatapan mata Shanika dan berkata “Apa hanya aku saja yang tidak ingin berpisah?” yang seketika itu juga membuat jantung Shanika ikut berdebar-debar tidak karuan.


“Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba kamu bicara begitu?” panik Shanika sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Xyan dari pergelangan tangan kanannya.


“Maafkan aku Shanika. Tapi, sepertinya aku sudah tidak bisa menahannya lagi,” sambung Xyan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Shanika dan mulai memberikan kecupan-kecupan lembut pada bibir Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan hanya bisa memejamkan matanya karena sentuhan lembut yang Xyan berikan.


Tanpa sadar, Xyan yang terus memangut bibir Shanika dengan lembut mulai mendorong tubuh Shanika hingga mereka berdua masuk ke dalam Apartement Shanika yang sejak tadi pintunya sudah terbuka “Mph, Xyan!” ucap Shanika sambil mendorong tubuh Xyan untuk menghentikan kecupan manis Xyan kepadanya.


“Kalau kamu tidak mau, aku masih akan memberimu kesempatan untuk menolak.” Bisik Xyan yang seketika itu juga membuat sekitar tubuh Shanika terasa memanas dan semakin penuh dengan debaran.


Dengan perasaan gugup dan malu, Shanika pun membalas perkataan Xyan “Kenapa tiba-tiba sekali?” sambil berusaha menghindari tatapan mata Xyan yang sangat intens kepadanya.


“Tidak tiba-tiba, karena sudah sejak lama aku menahannya,” jawab Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat bergairah dan penuh pesona di telinga Shanika “A-apa?!” kaget Shanika sambil melangkah mundur dan tubuhnya mulai terhimpit pada tembok apartementnya.


Xyan yang melihat reaksi malu-malu dari Shanika itu pun langsung tersenyum tipis dan dengan reflek kembali berkata “Jadi, bagaimana? kamu ingin aku pergi dari sini?” sambil mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Shanika yang memerah.


Detik itu juga, Shanika yang mendengar pertanyaan Xyan merasa semakin gugup dan ia benar-benar kebingungan dengan apa yang harus ia katakan, karena seperti yang Shanika tahu, ia sama sekali tidak memiliki pengalaman.


“Hm… baiklah, aku akan pergi saja. Selamat istirahat,” sambung Xyan sebelum ia mendengar jawaban pasti dari Shanika, sambil mengusap kepala Shanika sekilas.

__ADS_1


Shanika yang melihat Xyan membalik tubuhnya, dengan reflek langsung berkata “Tunggu!” dan saat Xyan menolehkan kepalanya kembali sambil tersenyum, tanpa berpikir panjang lagi Shanika mengaitkan kedua tangannya pada leher Xyan sambil memberikan kecupan lembut pada bibir Xyan, yang langsung dibalas juga oleh Xyan dengan lebih intens.


__ADS_2