
Shanika yang dapat dengan jelas merasakan ketulusan Xyan, saat itu juga merasa cukup takut kalau kebahagiannya akan segera berakhir, hingga akhirnya ia memutuskan untuk terus menghabiskan waktunya bersama dengan Xyan sepanjang hari dan meminta kepada Xyan untuk berjanji, kalau ia tidak akan pergi kemana-mana dulu selama satu hari penuh.
Yang seketika itu juga membuat Xyan menganggukkan kepalanya dan segera mengajak Shanika untuk makan bersama di Apartementnya “Pas sekali… aku sudah kelaparan sejak tadi!” ucap Shanika dengan ekspresi dan nada bicaranya yang sangat ceria kepada Xyan, yang lagi-lagi berhasil membuat Xyan tersenyum.
***
Beberapa jam kemudian, setelah selesai membersihkan semua peralatan makan malamnya Xyan pun menolehkan kepalanya ke arah Shanika dan melihat Shanika yang tertidur di atas sofa, sambil menghadap ke layar televisi yang masih menyala “Hm, pasti dia mengantuk sekali,” gumam Xyan dengan senyuman tipisnya.
Setelah itu, Xyan pun mengalihkan pandangan matanya dari Shanika ke arah telapak tangan kanannya yang saat ini sudah sembuh total dari luka sebelumnya, walaupun harus memakan waktu yang cukup lama dalam penyembuhannya “Ah, akhirnya sembuh juga,” gumam Xyan lagi sambil menghela nafas leganya.
Tanpa banyak berpikir tentang dirinya sendiri lagi, tidak lama kemudian Xyan pun berjalan mendekati Shanika untuk mematikan layar televisinya, setelah itu ia juga segera mengangkat tubuh Shanika secara perlahan untuk ia bawa ke dalam kamar tidurnya.
Dengan penuh perhatian Xyan meniduri Shanika di atas tempat tidurnya dan memberikan selimut di atas tubuh Shanika agar tidak merasa kedinginan, setelah itu Xyan duduk terdiam di dekat Shanika sambil memperhatikan wajah wanita dihadapannya itu dengan sangat lekat.
Hingga beberapa detik kemudian, Xyan mendapatkan pesan dari Gavin melalui handphone pribadinya yang isi pesannya mengatakan kalau saat ini Gavin dan beberapa anak buahnya sudah berhasil menemukan tempat persembunyian para Iblis berwujud hewan.
Yang seketika itu juga membuat emosi terdalam Xyan kembali muncul dan ia pun ingin segera pergi menyusul Gavin. Tapi, pada saat Xyan sudah bangun dari duduknya, tiba-tiba Shanika menggapai tangannya sambil bertanya “Mau pergi ke mana?” dengan ekspresi wajahnya yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidur.
“Ah, maaf. Apa aku sudah membangunkanmu?” kaget Xyan saat tiba-tiba ia melihat Shanika terbangun dan menahan kepergiannya.
Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Xyan. Detik itu juga Shanika berusaha untuk terduduk dari tidurnya dan kembali menatap Xyan dengan matanya yang masih terasa sangat lengket, sambil berkata “Jangan bilang, kalau kamu mau pergi meninggalkanku sendirian di sini? Kamu kan sudah berjanji akan seharian bersamaku,” keluh Shanika dengan ekspresi cemberutnya.
Yang saat itu juga membuat Xyan jadi merasa serba salah dan dengan reflek segera kembali duduk di dekat Shanika sambil berkata “Tidak, aku tidak akan pergi kemana-mana… kembalilah tidur,” pinta Xyan dengan senyuman tipisnya.
__ADS_1
“Aku tidak mau tidur lagi!” balas Shanika dengan reflek sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya untuk mengusir rasa kantuknya.
Xyan yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung menggapai kedua tangan Shanika dan menggenggam kedua tangan Shanika itu dengan sangat erat, sambil mengatakan “Aku tidak akan pergi dari sini, jadi kamu bisa kembali tidur… hm?” dengan tatapan lekat dan nada bicaranya yang penuh kehangatan kepada Shanika.
“Bagaimana aku bisa percaya kepadamu?” gerutu Shanika dengan ekspresi wajahnya yang masih terlihat cemberut.
Detik itu juga, Xyan yang melihat ekspresi kesal di wajah Shanika, entah kenapa malah merasa sangat senang dan menganggap Shanika sangatlah manis, yang saat itu juga membuatnya ingin segera memeluk tubuh Shanika dengan sangat erat “Ugh!” keluh Shanika saat tiba-tiba dipeluk oleh Xyan.
“Aku tidak akan pergi. Jadi, ayo tidur bersama!” ucap Xyan sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menarik Shanika untuk tertidur di dalam pelukannya “A-apa? Kenapa cara bicaramu terdengar sangat agresif sekali,” balas Shanika sambil berusaha menyembunyikan perasaan malunya dari Xyan.
“Diamlah dan kembali tidur!” pinta Xyan dengan nada bicaranya yang serius sambil terus memeluk dan mengusap-ngusap punggung Shanika dengan lembut sambil memejamkan matanya, yang saat itu juga membuat Shanika merasa senang dan menuruti perkataan Xyan untuk memejamkan matanya lagi, sambil membalas pelukan Xyan
dengan erat.
Setelah itu Xyan berusaha mencari cara untuk pergi meninggalkan Shanika tanpa membiarkan Shanika sendirian di Apartementnya, yang seketika itu juga membuat Xyan segera mencari handphone pribadi milik Shanika untuk mengirimkan pesan singkat kepada kedua orang tuanya.
“Ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan,” ucap Xyan sambil mengembalikan handphone milik Shanika ke dalam tas kuliahnya, setelah itu Xyan pun kembali tidur di samping Shanika sambil menatap wajah Shanika dengan penuh perhatian.
***
Keesokan harinya, saat matahari sudah terbit dan jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, secara perlahan Shanika mulai membuka matanya dan meregangkan kedua tangannya sambil berusaha menyadarkan dirinya “Ugh… tidurku nyenyak sekali!” ucap Shanika sambil terduduk dari tidurnya.
Beberapa detik kemudian, Shanika pun tersadar kalau Xyan sudah tidak ada di dekatnya lagi dan dengan perasaan paniknya, Shanika segera berusaha untuk mencari Xyan. Tapi, sebelum ia melangkah keluar dari dalam kamarnya, Shanika langsung merasa lega karena ia mendengar suara air menyala di dalam kamar mandinya.
__ADS_1
“Ah… aku kira dia pergi kemana, ternyata ada di dalam kamar mandi,” gumam Shanika dengan perasaan leganya, karena itu artinya Xyan tidak pergi meninggalkannya sesuai dengan janji di antara mereka berdua.
Shanika yang awalnya ingin mengetuk pintu kamar mandi dan menyapa Xyan, tiba-tiba menghentikan gerakkannya karena mendengar suara bel Apartementnya yang berbunyi “Ting-Nung!” yang seketika itu juga membuatnya kembali bergumam “Hm? Siapa yang datang pagi-pagi begini?” dengan ekspresi bingungnya.
Tanpa banyak berpikir lagi, Shanika pun segera melangkah keluar dari dalam kamarnya untuk membukakan pintu Apartementnya. Shanika yang awalnya mengira orang yang datang adalah Gavin, detik itu juga langsung dibuat terkejut, karena yang datang ke Apartementnya saat ini adalah Ibu dan Ayahnya.
“I-ibu… A-ayah?! Kenapa tiba-tiba kalian datang?!” tanya Shanika dengan ekspresi kaget sekaligus takut.
“Hm? Apa maksudmu… kamu kan yang meminta Ibu dan Ayah datang pagi ini juga! Katanya kamu sedang sakit, ini Ibu bawakan makanan kesukaanmu!” jawab Ibunya Shanika sambil melangkah masuk ke dalam Apartement Shanika dengan langkah santainya.
Shanika yang mendengar jawaban Ibunya itu pun langsung mengerutkan dahinya dan memasang ekspresi bingungnya, karena ia sama sekali tidak pernah menghubungi Ibu dan Ayahnya sejak kemarin apalagi meminta kedua orang tuanya itu untuk datang ke Apartementnya.
“Sepertinya… ada yang salah,” gumam Shanika dengan perasaan serba salahnya.
Sedangkan Ayahnya Shanika yang saat ini sedang melepas sepatunya, dengan reflek langsung tertawa pelan karena melihat ekspresi aneh putrinya, setelah itu juga berkata “Memang apa salahnya juga kalau tiba-tiba Ayah dan Ibu datang?” dengan nada bicaranya yang jahil.
“Ya?” kaget Shanika sambil menolehkan kepalanya ke arah Ayahnya.
“Jangan bilang, kamu sedang menyembunyikan pria di Apartement ini!” sambung Ayahnya Shanika sambil berjalan melewati Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika semakin panik tidak karuan “A-apa maksud Ayah!” balas Shanika dengan ekspresi mencurigakan.
Yang seketika itu juga membuat Ayahnya langsung mempercepat langkah kakinya untuk menggeledah seluruh tempat yang bisa dijadikan tempat sembunyi di dalam Apartement Shanika “Ah, Tu-tunggu Ayah!” ucap Shanika saat Ayahnya tiba-tiba memasuki kamarnya dan “Trak!” membuka pintu kamar mandinya, yang ternyata tidak ada siapapun di dalamnya walaupun air di dalam bathup menyala.
“Hm… tidak ada siapa-siapa,” gumam Ayahnya Shanika sambil memasang senyuman lebarnya dan menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung, sedangkan Shanika yang melihat kamar mandinya kosong, detik itu juga langsung memikirkan Xyan yang saat ini entah pergi kemana.
__ADS_1