
***
Di sisi lain, Shanika yang baru saja memasukkan Xyan ke dalam mobil mewahnya tiba-tiba mendengar suara Zoya yang menjerit kesakitan dari dalam rumah tua di belakangnya, yang seketika itu juga membuat Shanika kembali menolehkan kepalanya dan memasang ekspresi terkejutnya.
Sedangkan Gavin yang baru saja selesai memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Xyan, dengan cepat juga langsung menarik tangan Shanika sambil berkata “Nona! Kita harus pergi dari sini sekarang juga!” dengan nada bicaranya yang sangat tegas.
“I-iya,” balas Shanika yang dengan cepat juga langsung masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Xyan, sambil sesekali menolehkan kepalanya ke arah rumah tua yang saat ini harus segera ia jauhi.
Tanpa berlama-lama lagi, Gavin yang tidak bisa merasakan aura Iblis pada Xyan memutuskan untuk segera membawa Tuannya itu ke Rumah Sakit dan sesampainya di Rumah Sakit, ia tidak pernah menyangka kalau Tuannya itu harus sampai menjalani operasi besar.
“Hah… tidak masuk akal sekali,” gumam Gavin dengan tubuh lemasnya saat terduduk di bangku tunggu, tepat di depan ruang operasi Xyan saat ini.
“Apanya yang tidak masuk akal?” tanya Shanika dengan tatapan lekat dan ekspresi bingungnya kepada Gavin.
“Tuan adalah manusia setengah Iblis yang sangat kuat! Tapi, hanya karena energi Iblisnya habis… ia harus menjalani operasi darurat seperti ini,” jawab Gavin sambil menghela nafas lelahnya yang panjang dengan terdengar sangat frustasi di telinga Shanika.
Shanika yang mendengarkan perkataan Gavin itu pun langsung menganggukkan kepalanya dan benar-benar memahami perasaan kacau yang Gavin rasakan saat ini kepada kondisi Xyan yang menjadi sangat lemah bagaikan manusia normal pada umumnya.
“Tapi, bagaimana dengan mata Nona?” tanya Gavin tiba-tiba sambil menolehkan kepalanya lagi ke arah Shanika “Apa Nona baik-baik saja, tanpa adanya Mata Pengantin Iblisnya?” sambung Gavin dengan pertanyaannya.
__ADS_1
“Se-sebelumnya aku sempat panik karena tidak bisa melihat apapun… Tapi, sekarang aku baik-baik saja,” jawab Shanika sambil menyentuh kelopak matanya secara sekilas dengan tangan kanannya.
Setelah mendengar jawaban Shanika, Gavin pun kembali menundukkan kepalanya sambil bergumam “Hm, jadi… Tuan benar-benar menghabiskan semua sisa kekuatannya untuk orang yang ia sayang,” sambil menganggukkan kepalanya secara perlahan.
Beberapa menit kemudian, Gavin pun bangkit dari duduknya dan meminta kepada semua anak buah Xyan yang lain untuk pulang dan istirahat di rumah mereka masing-masing. Setelah itu, Gavin juga mengurus semua keperluan dan pembayaran perawatan Rumah Sakit untuk Xyan hingga tuntas.
Sedangkan Shanika yang masih mengkhawatirkan kondisi Xyan di dalam ruang operasi, detik itu juga menyadari kalau mulai saat ini ia tidak akan bisa melihat makhluk tak kasat lagi dengan mudah seperti sebelumnya “Aku menjadi manusia normal lagi, seperti sebelum mengalami kecelakaan,” batin Shanika dengan perasaannya yang
terasa sedikit mengganjal.
Dan tidak lama kemudian, Shanika juga mendapatkan kabar dari kedua orang tuanya yang baru saja siuman di Rumah Sakit itu juga dan tanpa banyak berpikir lagi, Shanika segera berlari untuk menemui kedua orang tuanya di salah satu kamar rawat.
“Kreet!” dengan cukup kencang, Shanika membuka pintu kamar rawat dihadapannya dan dapat dengan jelas ia melihat wajah kedua orang tuanya yang saat ini sedang di periksa kondisi kesehatannya oleh seorang perawat wanita.
“Hiks! Semuanya salahku! Karena aku… kalian jadi selalu dalam bahaya!” tangis Shanika yang semakin pecah, saat tiba-tiba ia teringat dengan apa yang sebelumnya ia rasakan karena ancaman yang diberikan oleh Zoya.
“Tidak, ini semua bukan salahmu,” balas Ayahnya Shanika yang tidak tahan menahan tetesan air matanya saat melihat putri satu-satunya itu menangis.
Detik itu juga, satu ruangan kamar rawat jadi dipenuhi dengan tangisan dan air mata dari Shanika dan kedua orang tuanya. Hingga beberapa menit kemudian orang tua Shanika memutuskan untuk kembali istirahat, sedangkan Shanika harus menemui Dokter yang menangani orang tuanya.
__ADS_1
“Syukurnya, kedua orang tua anda tidak mengalami luka bakar sama sekali. Tapi, karena sempat menghirup banyak asap kebakaran… ada baiknya jika di rawat inap selama beberapa hari dulu,” ucap Dokter dihadapan Shanika dengan sangat serius.
“Saya mengerti, Dokter. Terima kasih banyak,” balas Shanika sambil menundukkan kepalanya dengan penuh sopan santun.
Setelah bicara serius, tiba-tiba Dokter dihadapan Shanika kembali berkata “Semua ini pasti ulahnya Nona Zoya, kan?” yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan melebarkan kedua bola matanya untuk menatap Dokter dihadapannya “Ya?” kaget Shanika.
“Hm, sebenarnya… saya sudah sangat mengenal Tuan Xyan sebagai Iblis dan memahami kalau belakangan ini Nona Zoya sedang mengincar nyawanya. Tapi, tidak saya sangka, Tuan akan sampai mengalami operasi besar seperti ini,” ucap Dokter dihadapan Shanika dengan panjang lebar, yang seketika itu juga membuat Shanika
merasa cukup bersalah kepada pengorbanan yang Xyan berikan untuk menyelamatkannya.
“Selain itu… bagaimana dengan kondisi Nona Zoya? Kalau Tuan Xyan sampai kritis seperti itu… bagaimana dengan Nona Zoya?!” tanya Dokter dihadapan Shanika lagi sambil menatap Shanika lekat dan dengan penuh rasa penasarannya.
“Ah, soal itu,” gumam Shanika dengan suara pelannya, sambil mengingat suara jeritan Zoya yang sempat ia dengar sebelum pergi membawa Xyan ke Rumah Sakit “Saya juga belum mendapatkan kabar terbarunya,” sambung Shanika dengan membalas tatapan Dokter dihadapannya itu dengan lekat juga.
Yang saat itu juga membuat Dokter dihadapan Shanika menganggukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Shanika kalau dirinya sudah terlalu banyak bicara atau terlalu banyak ingin tahu, dengan penuh sopan santunnya.
Sekitar lima menit kemudian, Shanika pun melangkah keluar dari dalam ruangan Dokter dan kembali berjalan menuju ruang operasi Xyan yang sudah sejak tadi masih belum selesai. Tapi, betapa kagetnya Shanika saat sesampainya ia di depan ruang operasi dan melihat ada dua orang perawat sedang berlarian untuk mengambil persediaan darah yang kurang untuk operasi besar Xyan.
Dengan perasaan bersalah dan perasaan takutnya, Shanika mulai mengaitkan kedua tangannya menjadi satu dan seakan sedang berdoa, Shanika memohon untuk keselamatan Xyan dengan penuh tangisannya “Aku mohon… biarkan Xyan hidup! Aku tidak mau kehilangannya, hiks!” ucap Shanika dengan kedua tangannya yang bergetar.
__ADS_1
Sedangkan Gavin yang melihat Shanika sedang menangis dan memohon keselamatan Xyan dari kejauhan, saat itu juga dapat merasakan perasaan tulus dari Shanika kepada Tuannya dan dengan reflek langsung menghela nafas panjangnya sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari Shanika.
“Hah… aku harap hari ini cepat berlalu!” gumam Gavin sambil menatap keluar jendela Rumah Sakit dan melihat bulan purnama yang saat ini menyala terang di langit malam.