
Detik itu juga, Shanika segera mengajak arwah Ibunya untuk mengikutinya pergi ke tempat sepi dan sesampainya di rooftop gedung rumah sakit yang sepi, Shanika menarik nafasnya dan menghembuskannya secara teratur sebelum kembali berhadapan dengan awrah Ibunya itu.
Sedangkan Ibunya Shanika yang masih terkejut dengan kemampuan Shanika yang bisa melihatnya dalam keadaan seperti ini mulai kembali membuka mulutnya untuk berkata “Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa melihat Ibu yang seperti ini?” dengan tatapan sedihnya.
Yang seketika itu juga membuat Shanika segera membalik tubuhnya dan membalas tatapan Ibunya dengan sangat lekat “Seharusnya aku tidak menceritakan ini… Hm, sejak aku dapat melihat lagi dan tinggal di Apartement seorang diri, aku bisa melihat apa yang seharusnya tidak boleh aku lihat seperti sekarang,” dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar.
Ibunya Shanika yang mendengar perkataan putri kesayangannya itu pun langsung tersentak dan ia tidak pernah menyangka kalau selama ini putrinya dapat melihat hal-hal mengerikan seperti yang ia alami saat ini seorang diri.
“Tapi, aku tidak pernah menyangka… kalau aku akan melihat arwah Ibuku sendiri seperti ini,” sambung Shanika sambil berusaha menahan tangisannya dihadapan Ibunya.
“Maafkan Ibu, Shanika,” balas Ibunya Shanika sambil berusaha menggapai tangan Shanika. Tapi, dengan reflek Shanika segera menghindari gapaian tangan Ibunya sambil berkata “Ja-jangan sentuh aku, Bu… aku tidak mau Ibu terluka,” sambil menggelengkan kepalanya.
“Apa maksudmu?” tanya Ibunya Shanika dengan tatapan bingungnya.
“Saat ini aku memiliki semacam pelindung untuk menghindari makhluk tak kasat mata… yang jelas, Ibu bisa terluka jika menyentuhku,” jawab Shanika panjang lebar dengan perasaan serba salahnya yang terasa terus semakin kacau.
Karena perkataan Shanika itu, detik itu juga Ibunya Shanika merasa sedikit lega. Sedangkan Shanika dengan cepat kembali berkata “Tapi, saat ini bukan itu masalahnya! Tapi, kondisi Ibu saat ini… kenapa Ibu bisa keluar dari dalam tubuh Ibu sendiri?” tanya Shanika dengan kedua bola matanya yang melebar kepada Ibunya.
“Entahlah, saat tubuh Ibu berada di dalam ruang operasi… tiba-tiba Ibu sudah berada di luar tubuh Ibu sendiri seperti ini,” jawab Ibunya Shanika dengan ekspresi bingung sekaligus takutnya.
Shanika pun langsung berusaha memutar otaknya dengan sangat serius sambil bergumam “Apa ini yang dinamakan dengan koma?” setelah itu kembali menatap Ibunya sambil bertanya “Apa Ibu sudah berusaha untuk kembali masuk ke dalam tubuh Ibu sendiri?” dengan tatapan seriusnya.
“Tentu saja. Tapi, tidak berhasil… seakan ada sesuatu yang terus mendorong Ibu untuk keluar,” jawab Ibunya Shanika dengan ekspresi sedihnya lagi.
__ADS_1
“Kacau sekali, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan!” batin Shanika yang ikut merasa sedih setelah melihat ekspresi Ibunya itu.
***
Sekitar lima belas menit kemudian, Shanika pun memutuskan untuk kembali menemui Ayahnya yang saat ini sudah mengetahui kalau istrinya mengalami koma dan lagi-lagi Shanika merasa semakin sedih karena Ayahnya terlihat sangat murung, sedangkan arwah Ibunya tidak bisa melakukan apapun walaupun berada di dekat Ayahnya.
“Ibu janji… Ibu akan segera kembali,” ucap Ibunya Shanika sambil mengusap pundak suaminya itu dengan sangat lembut dan penuh perhatian.
Yang seketika itu juga membuat Shanika segera mengalihkan pandangannya dari Ayah dan Ibunya sambil berusaha menahan air matanya yang sejak tadi sudah siap untuk jatuh “A-ayah… aku akan pergi sebentar untuk membeli makanan,” ucap Shanika sambil melangkah pergi dari dalam kamar rawat Ayahnya itu.
“Hm, hati-hati di jalan,” balas Ayahnya Shanika dengan suaranya yang lemas, sambil terus duduk di atas tempat tidurnya.
Dengan langkah kakinya yang cepat Shanika pun berlari ke dalam toilet dan mengurung dirinya di dalam toilet untuk menangis sejadi-jadinya. Saat ini ia merasa kalau kemalangan yang terjadi kepada kedua orang tuanya adalah kesalahannya “Seharusnya aku tidak mengajak Ibu dan Ayah untuk berpiknik… hiks! Bagaimana ini? hiks!” tangis Shanika sambil membekap wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.
“Ayahmu baru saja tertidur, letakkan saja makanannya di atas meja,” pinta Ibunya Shanika sambil mengusap matanya sekilas.
“Baik,” balas Shanika sambil menganggukkan kepalanya, setelah itu ia segera bergagas untuk meletakkan makanan kesukaan Ayahnya itu di atas meja.
“Sekarang, lebih baik kamu kembali saja ke Apartementmu dan pergi istirahat, kamu pasti sangat kelelahan,” sambung Ibunya Shanika lagi sambil terus menatap Shanika dengan lekat “Aku akan pergi setelah menghubungi Paman dan Tante,” balas Shanika sambil mengeluarkan handphonenya dan mengabari beberapa kerabat Ayah
dan Ibu yang ia kenal.
Setelah menghubungi kerabat Ayah dan Ibunya itu pun Shanika memutuskan untuk menunggu di lobi rumah sakit yang terus ditemani oleh arwah Ibunya, hingga tidak lama kemudian Shanika melihat Paman dan Tantenya yang sedang berlari memasuki gedung rumah sakit.
__ADS_1
“Paman, Tante!” panggil Shanika sambil berjalan mendekati kedua kerabatnya itu.
“Ah, Shanika! Bagaimana kondisi Ayahmu saat ini?” tanya Pamannya Shanika dengan reflek “Ayah baik-baik saja… hanya saja, kaki Ayah… kata Dokter tidak akan bisa senormal dulu,” jawab Shanika dengan perasaan sedihnya.
Tapi, bukannya merasa lega setelah mendengar perkataan Shanika kalau saudaranya baik-baik saja. Paman dan Tantenya Shanika justru menunjukkan ekspresi kecewa mereka yang seketika itu juga membuat Shanika sedikit terkejut “Apa mereka mengharapkan kondisi yang lebih buruk lagi dari Ayahku?” dengan perasaan tidak percayanya.
“Syukurlah… bagaimana dengan Ibumu?” sambung Tantenya Shanika setelah beberapa detik dengan ekspresi canggungnya “I-ibu dinyatakan koma oleh Dokter,” jawab Shanika dengan suara yang memelan.
“Ya, setidaknya Ibumu itu tidak memiliki bisnis apapun! Jadi, tidak akan ada masalah,” balas Pamannya Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika mengerutkan dahinya “Apa?” gumam Shanika dengan tatapan tajamnya.
“Lebih baik sekarang Paman dan Tante pergi menemui Ayahmu dulu ya,” ucap Tantenya Shanika dengan reflek sambil menarik tangan suaminya itu untuk segera pergi dari hadapan Shanika yang terlihat sangat marah.
“Akhirnya mereka menunjukkan sikap asli mereka,” pikir Shanika sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.
Shanika yang ditinggalkan oleh Paman dan Tantenya itu pun langsung berusaha untuk menenangkan emosinya, sedangkan arwah Ibunya berkata “Perkataan mereka ada benarnya, Shanika. Jadi, tenanglah,” dengan nada bicaranya yang ramah dan terdengar pasrah.
“Bagaimana bisa Ibu bicara seperti itu di saat seperti ini?” gerutu Shanika sambil berusaha menahan tangisannya lagi “Bagaimana dengan perasaanku?” sambung Shanika lagi dengan tatapan tajamnya kepada arwah Ibunya.
“Shanika,” gumam Ibunya dengan perasaan bersalahnya.
Shanika pun segera mengalihkan pandangannya dari wajah Ibunya lagi, setelah itu kembali berkata “Sebentar lagi Nenek dan Tante akan datang untuk menjenguk Ibu. Jadi, Ibu tunggu saja mereka di dalam kamar rawat Ibu. Aku mau pulang,” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tegar dan tegas, setelah itu Shanika segera melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari dalam gedung rumah sakit meninggalkan arwah Ibunya seorang diri.
“Shanika, hati-hati di jalan,” kata Ibunya Shanika saat melihat kepergian Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa sedih sekaligus kesal “Sial,” keluhnya sambil terus melangkah pergi tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun ke belakang.
__ADS_1