Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Bertemu Malaikat Maut!


__ADS_3

Gavin yang hanya fokus pada jalan dan menyetir mobil, detik itu juga kembali berkata “Tuan bahkan sudah berkali-kali terkena teguran dari malaikat maut. Ujung-ujungnya saya juga yang kerepotan,” ucap Gavin panjang lebar tanpa mengetahui perasaan Shanika yang mendengarkan perkataannya sejak tadi.


Tapi, karena Shanika tidak memberikan reaksi apapun lagi, beberapa detik kemudian Gavin pun menolehkan kepalanya kepada Shanika dan melihat wajah pucat Shanika secara sekilas, yang seketika itu juga membuat Gavin berkata “Ah, Nona! Saya bicara seperti ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti anda! Sungguh,” panik Gavin.


“Te-tentu saja, aku mengerti kok,” balas Shanika sambil menunjukkan senyuman palsunya kepada Gavin.


“Tapi… anda terlihat sangat ketakutan,” gumam Gavin dengan perasaan tidak enak sekaligus khawatirnya kepada Shanika.


“Tidak-tidak, aku baik-baik saja!” balas Shanika lagi sambil mengibaskan kedua tangannya kepada Gavin dan terus menunjukkan senyuman terbaiknya, walaupun merasa sedikit terpaksa.


Setelah saling membalas perkataan, Shanika dan Gavin pun terdiam yang seketika itu juga membuat suasana di dalam mobil menjadi sangat sunyi, hingga beberapa detik kemudian Gavin kembali berkata untuk mencairkan suasana “Tapi, Nona… seharusnya anda tidak perlu takut kepada Tuan,” ucap Gavin dengan nada bicaranya yang lebih tenang dari sebelumnya.


Yang saat itu juga membuat Shanika dengan reflek kembali menolehkan kepalanya ke arah Gavin “Karena apapun yang Tuan lakukan adalah untuk menjaga Nona,” sambung Gavin dengan wajah seriusnya.


Shanika yang mendengarkan perkataan Gavin itu pun langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Gavin dan menghela nafasnya, setelah itu berkata “Kenapa?” tanya Shanika singkat tanpa menolehkan kepalanya lagi ke arah Gavin.


“Ya?” gumam Gavin yang kebingungan sambil terus fokus ke arah jalan raya.


“Kenapa Xyan sangat menjagaku?” tanya Shanika lagi dengan nada bicaranya yang semakin memelan, yang seketika itu juga membuat Gavin kesulitan untuk mendengar dan merasa semakin kebingungan “Ya? barusan Nona bicara apa?” balas Gavin sambil sesekali menolehkan kepalanya ke arah Shanika.

__ADS_1


“Hm, lupakan saja!” balas Shanika dengan senyuman tipisnya, setelah itu Shanika berpikir “Sudah pasti, Xyan selalu menjagaku karena ada hubungannya dengan mataku ini… bukannya karena ia menyukaiku, kan?” dengan perasaan sedihnya.


***


Sekitar dua puluh menit kemudian, sesampainya Shanika yang diantar oleh Gavin di Rumah Sakit, saat iu juga Shanika berkata kepada Gavin “Tidak perlu menungguku, kamu langsung pulang saja, ya.” sambil melepaskan sabuk pengamannya dengan cepat.


“Ba-baik, Nona.” Balas Gavin sambil melihat Shanika yang bergegas keluar dari dalam mobil dan saat Gavin memperhatikan langkah Shanika yang sedang memasuki gedung Rumah Sakit, saat itu juga ia berpikir kalau sepertinya ia sudah salah bicara kepada Shanika.


“Ah, aku bodoh sekali!” keluh Gavin kepada dirinya sendiri, yang sebelumnya melihat ekspresi sedih dari wajah Shanika.


Sedangkan di sisi lain, Shanika yang baru saja memasuki gedung Rumah Sakit tanpa berlama-lama lagi segera bergegas pergi ke ruang rawat Ayahnya dan tidak lupa juga untuk melihat kondisi Ibunya yang saat ini sudah jauh lebih membaik dari sebelumnya.


“Astaga! Ayah sudah kelaparan, ya?” goda Shanika dengan wajah cerianya “Tunggu sebentar di sini ya, biar aku belikan makanan di kantin Rumah Sakit dulu,” sambung Shanika, setelah ia mengajak Ayah dan Ibunya itu pergi ke taman belakang Rumah Sakit yang memiliki pemandangan malam yang sangat indah.


Dengan kecepatan penuh, Shanika berlari untuk membeli makanan. Hingga sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya Shanika kembali menghampiri kedua orang tuanya sambil membawa bungkusan makanan.


Tapi, tepat sebelum Shanika mendekati Ayah dan Ibunya itu, tiba-tiba Shanika melihat pria berpakaian serba hitam yang sedang bicara sendiri “Seharusnya pria yang disana mengalami kematian hari ini, kan? apa aku salah kira lagi?” sambil menatap ke arah Ayahnya Shanika dari kejauhan yang sedang bercanda gurau dengan istrinya.


Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan pria berpakaian serba hitam itu pun langsung mengerutkan dahinya dan merasa tidak terima dengan perkataan pria itu, yang seketika itu juga dengan berani Shanika mendekati pria itu dan berkata “Apa katamu barusan?! Ayahku seharusnya mati hari ini?!” bentak Shanika dengan ekspresi marahnya kepada pria dihadapannya itu.

__ADS_1


Pria berpakaian serba hitam yang Shanika tegur itu pun langsung mengalihkan pandangannya dari buku catatan kecil yang ada di tangannya, setelah itu segera menolehkan kepalanya ke segala arah untuk memastikan apa benar wanita yang ada di dekatnya itu sedang bicara dengannya “Ka-kamu bicara denganku?” tanya pria itu kepada Shanika dengan wajah bingungnya.


“Tentu saja, memangnya aku bicara dengan siapa lagi kalau bukan kamu?” balas Shanika dengan nada bicaranya yang ketus dan tatapan matanya yang tajam kepada pria berpakaian serba hitam dihadapannya itu.


Pria berpakaian serba hitam yang mendengar perkataan Shanika dan merasakan tatapan mata Shanika secara langsung itu pun langsung tersentak, setelah itu kembali mengajukan pertanyaan “Bagaimana bisa kamu melihatku? Kamu bukan hantu ataupun orang yang akan segera mengalami kematian,” dengan nada bicaranya yang semakin memelan, sambil terus memperhatikan Shanika yang terlihat sangat normal.


“A-apa maksudmu? Kenapa kamu bicara seperti itu?” balas Shanika dengan firasatnya yang tiba-tiba menjadi buruk sekaligus takut “Tunggu! Ja-jangan bilang… kamu bukan manusia?” sambung Shanika dengan ekspresi takut sekaligus waspadanya, sambil melangkah mundur dengan reflek.


Tapi, bukannya membalas pertanyaan Shanika dengan benar. Detik itu juga pria berpakaian serba hitam dihadapan Shanika segera menatap mata Shanika dengan semakin lekat, setelah itu berkata “Ah, aku kira kamu anak indigo! Ternyata karena mata itu kamu jadi bisa melihatku!” ucap pria dihadapan Shanika dengan penuh percaya diri.


Yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan berpikir “Lagi-lagi tentang mataku ini!” dengan perasaan lelahnya.


“Tidak aku sangka akan bertemu dengan pemilik mata itu lagi! Tapi, bukannya tahun ini pemiiik mata itu sudah meninggal dunia, karena bunuh diri, ya?” ucap Pria dihadapan Shanika lagi, yang seakan sedang bicara kepada dirinya sendiri, yang saat itu juga kembali membuat Shanika kebingungan “A-apa katamu?” tanya Shanika


dengan reflek.


Dan lagi-lagi, bukannya menjawab pertanyaan Shanika. Pria berpakaian serba hitam dihadapan Shanika itu justru memasang senyuman tipisnya, setelah itu kembali berkata “Lain kali, jika kamu melihatku… lebih baik jangan bicara kepadaku, karena orang-orang akan menganggapmu aneh!” sambil memiringkan kepalanya sekilas.


Shanika yang mendengar perkataan pria dihadapannya itu pun dengan reflek langsung menolehkan kepalanya ke sekitar dirinya dan benar saja, saat ini ada beberapa orang yang sedang memperhatikan dirinya yang terlihat seperti sedang bicara sendiri “Ugh, sial! Memalukan sekali,” gerutu Shanika dan pria berpakaian serba hitam dihadapannya itu pun bergegas untuk pergi dari hadapan Shanika, tanpa mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


Dan beberapa detik kemudian, Shanika baru tersadar “Malaikat maut? Pria itu pasti malaikat maut!” batin Shanika sambil terus memperhatikan punggung pria berpakaian serba hitam itu, yang saat ini sedang berjalan semakin jauh dari pandangannya.


__ADS_2