Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Ulah Iblis Jahat Lagi!


__ADS_3

Shanika yang tidak terima dengan perkataan terakhir Nadine yang seakan mengutuk hidupnya itu pun segera bangkit dari duduknya juga dan bergegas melangkahkan kakinya untuk menyusul Nadine, yang belum lama ini keluar dari dalam cafe.


Setelah itu Shanika langsung menarik lengan kanan Nadine sambil berkata “Tarik kembali ucapanmu yang barusan!” dengan nada bicaranya yang tinggi dan cukup keras.


Nadine yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung mengerutkan dahinya dan dengan reflek menghempaskan tangan Shanika yang memegang lengannya dengan kasar, sambil berkata “Kenapa? kamu takut kalau omonganku bisa jadi kenyataan?!” tanya Nadine dengan nada bicaranya yang ketus lagi.


“Tidak bisakah kita berhenti bertengkar? Aku sudah sangat lelah,” pinta Shanika dengan suara yang bergetar dan juga menunjukkan ekspresi sedih sekaligus frustasinya kepada Nadine yang saat ini masih berdiri di hadapannya.


“Jangan mimpi!” balas Nadine dengan cepat dan tanpa banyak bicara lagi langsung melanjutkan langkah kakinya untuk pergi dari hadapan Shanika.


Kali ini, Shanika yang melihat kepergian Nadine sampai menaiki sebuah bus hanya bisa terdiam sambil menghela nafas panjangnya dengan kasar. Hingga beberapa menit kemudian tiba-tiba Shanika mendengar suara wanita yang berkata “Keterlaluan sekali,” dari belakang tubuhnya.


Yang seketika itu juga membuat Shanika merasa bingung dan dengan reflek menolehkan kepalanya ke belakang, yang saat itu juga membuat dirinya melihat dengan sangat jelas sosok Zoya yang merupakan Kakak tirinya Xyan.


Dengan wajah cantiknya, Zoya mulai melirikkan matanya ke arah Shanika dan memasang senyuman tipisnya, setelah itu kembali berkata “Temanmu itu benar-benar tidak tahu terima kasih, ya?” yang saat itu juga membuat Shanika mengerutkan dahinya.


“Haruskah aku membuatnya bertekuk lutut di hadapanmu?” sambung Zoya dengan menunjukkan senyuman yang semakin lebar kepada Shanika.


Shanika yang mendengar pertanyaan Zoya itu pun langsung tersentak dan dengan reflek segera berjalan mendekati Zoya sambil berkata “Kalau kamu sampai menyentuh temanku, aku tidak akan tinggal diam!” dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Yang saat itu juga berhasil membuat Zoya tertawa pelan dan membalas perkataan Shanika “Memangnya apa yang bisa kamu lakukan kepadaku? Selama ini kamu kan hanya bisa bersembunyi di balik Xyan saja,” dengan nada bicara dan ekspresi yang sangat merendahkan Shanika.


Shanika pun terdiam dan ia menganggap kalau apa yang barusan saja Zoya katakan memang benar “Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, sial!” batin Shanika sambil berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.


Tapi, tidak seperti Shanika yang hanya terdiam. Detik itu juga, Zoya menolehkan kepalanya ke arah jalan raya dan bergumam “Ini waktu yang sangat cocok untuk sebuah kecelakaan,” sambil mendangakkan kepalanya sedikit untuk melihat langit yang sedikit mendung.


“Apa katamu?!” tanya Shanika dengan reflek dan saat itu juga, dapat secara jelas Shanika melihat kumpulan asap hitam yang keluar dari kaki Zoya dan secara tidak beraturan, asap hitam itu berterbangan menuju jalan raya yang ada di sekitar Shanika.


“Apa yang kamu lakukan?!” tanya Shanika lagi dengan nada bicaranya yang meninggi dan ekspresi paniknya kepada Zoya.


“Lihat saja, apa yang akan segera terjadi,” jawab Zoya sambil memasang senyuman lebarnya lagi kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat langit bergemuruh dengan sangat kencang dan udara di sekitar tubuh Shanika menjadi sangat dingin.


“Ti-tidak!” ucap Shanika dengan ekspresi terkejutnya sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya, saat ia melihat kecelakaan besar di tengah-tengah jalan raya sekaligus juga melihat jatuhnya bus besar yang sebelumnya Nadine naiki.


***


Butuh waktu yang cukup lama untuk mengevakuasi para korban kecelakaan beruntun ke rumah sakit dan dengan perasaan takut sekaligus khawatirnya, Shanika juga langsung bergegas pergi mengikuti mobil ambulan ke rumah sakit terdekat untuk menemui Nadine yang menjadi salah satu korban kecelakaan.


“Tidak-tidak!” gumam Shanika secara berulang kali saat ia memasuki rumah sakit dan melihat ada begitu banyak korban yang baru saja masuk bersama dengan para petugas ambulan ke dalam UGD.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Shanika kembali dibuat terkejut dan juga panik saat ia berhasil menemukan Nadine yang saat ini kehilangan kesadarannya dan tubuhnya dipenuhi dengan banyak luka “Hiks! Nadine… maafkan aku,” gumam Shanika sambil berusaha menggapai tangan Nadine dengan kedua tangannya yang bergetar hebat karena rasa takutnya.


Tapi, tepat sebelum Shanika berhasil menggapai tangan Nadine tiba-tiba seorang perawat wanita menghampiri Shanika dan menanyakan siapa wali Nadine, yang seketika itu juga membuat Shanika memutuskan untuk segera menghubungi keluarga Nadine menggunakan handphone yang ada di dalam tasnya.


Sekitar lima menit kemudian, setelah menghubungi keluarga Nadine. Shanika yang menangis segera di tenangkan oleh seorang perawat wanita dan dipinta untuk duduk di bangku tunggu di luar ruang UGD.


Hingga beberapa detik kemudian, saat Shanika merasa kalau dirinya sudah jauh lebih tenang tiba-tiba ia kembali dikejutkan dengan kemunculan pria berpakaian serba hitam yang sudah ia kenal sebagai malaikat maut di depan pintu masuk UGD.


Shanika bahkan dibuat lebih kaget lagi, karena pria yang merupakan malaikat maut itu terus menerus menatap Nadine yang saat ini masih terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Tanpa pikir panjang lagi, Shanika segera bangkit dari duduknya dan bergegas untuk menarik lengan pria berpakaian serba hitam itu hingga keluar dari rumah sakit.


“A-akh! Sakit sekali!” keluh malaikat maut itu saat lengannya tersengat oleh benang yang masih ada di pergelangan tangan kanan Shanika.


“Sedang apa kamu di sini?! Jangan bilang, kamu ingin mencabut nyawa temanku?!” tanya Shanika setelah memastikan kalau di sekitarnya tidak ada orang lain, sambil melepaskan genggaman tangannya dari lengan malaikat maut dihadapannya itu.


“Ka-kamu?! Seharusnya aku yang tanya kenapa kamu ada di sini? Tunggu… jadi, wanita tadi adalah temanmu?” balas malaikat maut dihadapan Shanika itu dengan kedua bola matanya yang melebar seakan tidak percaya dengan perkataan Shanika.


Shanika yang mendengar perkataan malaikat maut dihadapannya dan melihat reaksi kaget dari wajah malaikat maut itu langsung mengerutkan dahinya dan memiringkan kepalanya dengan tatapan matanya yang penuh curiga.


“Aku berada di sini, bukan untuk mencabut nyawa! Aku datang ke sini, karena hari ini seharusnya tidak ada kecelakaan maut sekacau tadi! Hah… kenapa juga aku menjelaskan hal ini kepadamu?” ucap malaikat maut dihadapan Shanika dengan panjang lebar dan penuh frustasi.

__ADS_1


“Kecelakaan ini pasti ada kaitannya denganmu dan Iblis lagi, kan?” sambung malaikat maut dihadapan Shanika lagi, sambil menatap Shanika dengan tatapan yang sangat lekat dan intens, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa sangat terintimidasi.


__ADS_2