
Gavin yang melihat reaksi sedih sekaligus kacau dari Shanika setelah ia menjelaskan apa yang harus dilakukan untuk menolong Xyan, detik itu juga langsung berusaha memegangi lengan kanan Shanika agar tidak terjatuh, sambil bertanya “Nona baik-baik saja, kan?” dengan tatapan khawatirnya.
“I-iya, aku baik-baik saja,” balas Shanika yang dengan reflek juga berusaha melepaskan pegangan tangan Gavin dari lengan kanannya.
Setelah itu, tanpa bicara sedikit pun Shanika segera membalik tubuhnya dan berusaha melangkah pergi dari dalam kamar rawat Xyan. Sedangkan Gavin yang menginginkan jawaban pasti dari Shanika, saat itu juga bergegas mengikuti langkah Shanika dari belakang.
Dan sesampainya di koridor rumah sakit, Gavin kembali mengajukan pertanyaannya “Nona… Jadi, bagaimana menurut pendapat anda soal saran saya tadi?” yang seketika itu juga membuat langkah kaki Shanika terhenti.
Sambil berpegangan pada tembok di koridor rumah sakit, Shanika pun sedikit menolehkan kepalanya dan berkata “Jika aku bilang tidak boleh… kamu akan tetap melakukan ritual dan membawa Xyan ke dunia kegelapan, kan?” tanya Shanika dengan nada bicaranya yang terdengar cukup ketus kepada Gavin.
Dengan perasaan bersalahnya kepada Shanika, Gavin pun berkata “I-iya, semua ini demi keselamatan Tuan,” sambil menganggukkan kepalanya secara perlahan.
“Kalau begitu, lakukan saja dan jangan tanya kan pendapatku lagi,” balas Shanika sambil berusaha menahan perasaan sedihnya, setelah itu langsung bergegas untuk melanjutkan langkah kakinya di koridor rumah sakit itu.
Gavin yang mendengar jawaban dan melihat langkah kepergian Shanika, detik itu juga merasa sangat kacau. Tapi, mau bagaimana lagi karena sarannya adalah satu-satunya cara untuk menolong Xyan yang bisa mati kapan saja.
“Gavin, anda memanggil saya?” tiba-tiba Gavin pun mendengar suara seorang Dokter pria yang disusul juga dengan suara langkah kakinya yang semakin dekat pada Gavin, yang seketika itu juga membuat Gavin mengalihkan pandangannya dari punggung Shanika yang semakin jauh kepada Dokter pria yang ada di belakangnya.
“Tolong siapkan ruangan di rumah sakit ini, yang bisa digunakan untuk ritual,” pinta Gavin kepada Dokter pria dihadapannya itu.
__ADS_1
“A-anda benar-benar akan membuka portal ke dunia kegelapan?! Bagaimana jika Tuan Xyan sampai tahu dan marah besar?” kaget Dokter pria yang sudah lama mengenal Xyan dan Gavin sebagai manusia jadi-jadian.
“Biar aku yang bertanggung jawab!” balas Gavin dengan wajah seriusnya dan penuh keyakinannya.
***
Di sisi lain, Xyan yang masih belum sadarkan dirinya setelah sukses dengan operasi daruratnya. Detik ini juga merasa seperti sedang berjalan di tempat yang sangat indah dan menyejukkan “Aku ada dimana? Aku yakin, ini bukan di dunia manusia ataupun dunianya para Iblis,” batin Xyan dengan ekspresi bingungnya sambil terus menelusuri jalan penuh bunga.
Tidak lama kemudian, secara samar Xyan mendengar suara tangisan Shanika dari belakang tubuhnya yang seketika itu juga membuatnya bergegas menolehkan kepalanya, sambil menyebutkan nama Shanika dengan perasaan rindunya.
Hingga beberapa detik kemudian, Xyan juga mendengar suara wanita yang memanggil namanya dari sebuah cahaya yang ada di atas kepalanya “Siapa? Siapa yang barusan memanggilku?” tanya Xyan sambil berusaha menghindari cahaya terang yang menyerang matanya dengan tangan kirinya.
“Mulai sekarang, aku akan membawa lagi Mata Pengantin Iblis itu bersamaku,” ucap suara wanita yang sepertinya adalah Ibu Xyan dari dalam cahaya di atas kepala Xyan saat ini, dengan nada bicaranya yang sangat lembut.
“A-apa?” gumam Xyan dengan ekspresi bingungnya.
“Karena sepertinya, aku tidak perlu mengawasimu atau mengkhawatirkanmu lagi,” sambung suara wanita Ibunya Xyan dengan penuh kasih sayangnya.
Xyan yang mendengar perkataan wanita yang menurutnya adalah Ibunya itu pun langsung mengerutkan dahinya dan kembali bertanya “Kenapa? Aku sangat tidak mengerti… kenapa selama ini kamu terus mengawasi dan mengkhawatirkanku, dengan spirit dari matamu itu?” tanya Xyan sambil mengepalkan kedua tangannya, untuk menahan perasaan sedihnya.
__ADS_1
“Aku tahu, selama ini… Mata pengantin Iblisku sudah membuatmu kewalahan. Tapi, ini adalah satu-satunya cara agar kamu tidak dapat dipengaruhi oleh Iblis lain,” jawab suara Ibunya Xyan dengan nada bicaranya yang detik itu juga berhasil menenangkan emosi Xyan.
Xyan yang merasa kalau perkataan suara Ibunya itu sangatlah masuk akal, saat itu juga langsung terdiam dan tidak lama kemudian, suara Ibunya itu kembali berkata“Sejak kamu bayi, mereka para Iblis sudah mengincarmu… dan kamu yang terus hidup sebagai setengah manusia, tanpa Ibu. Ibu takut kamu tidak akan bisa merasakan
kehangatan di dunia manusia dan akhirnya mengikuti jalan kegelapan,” ucap panjang lebar Ibunya Xyan.
“Soal itu… jujur saja, aku pernah hampir menyerah,” ucap Xyan di dalam hati terdalamnya, karena sebagai setengah manusia ia pernah juga merasakan kesepian dan penolakan dari orang-orang di sekitarnya.
“Walaupun sempat beberapa kali salah menentukan wanita untuk menyimpan Mata Pengantin Iblis ini, akhirnya Ibu berhasil menemukan Shanika yang pantas bersamamu,” sambung Ibunya Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan cukup tersentak karena mendengar Ibunya menyebutkan nama Shanika.
Dengan perasaan senangnya, Ibunya Xyan pun seakan sedang membelai kepala Xyan dari dalam cahaya, setelah itu kembali berkata “Mulai sekarang kamu akan hidup sebagai manusia seutuhnya… para Iblis akan berhenti menyerangmu dan dari sini, Ibu akan pergi sambil menutup rapat semua portal dunia kegelapan yang ada di sekitarmu,” ucap Ibunya Xyan dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan.
“A-apa? Aku akan hidup sebagai manusia seutuhnya?” kaget Xyan dengan kedua bola matanya yang melebar, karena perasaan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari Ibunya.
Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Xyan. Cahaya di atas kepala Xyan secara perlahan mulai menjauh dan suara Ibunya Xyan hanya terdengar secara samar, yang mengatakan “Pergilah dari sini… dan temui kekasihmu, Shanika. Aku harap hidupmu selalu penuh dengan kebahagian, anakku,” dengan suara yang berhasil menggetarkan hati Xyan.
“Terima kasih, Ibu.” Ucap Xyan dengan suaranya yang pelan dan penuh rasa syukur, sambil terus melihat cahaya yang membawa suara Ibunya pergi semakin jauh dan tinggi dari posisinya berdiri saat ini.
Dan setelah itu, tiba-tiba pengelihatan Xyan menjadi sangat gelap dan energi Iblisnya yang berwarna hitam seakan terlepas dari dalam tubuhnya dengan sangat mudah, yang diikuti juga dengan kondisi tubuhnya yang secara perlahan-lahan menjadi sangat segar dan terasa sangat sehat.
__ADS_1
“Sekarang… aku hanyalah manusia biasa,” ucap Xyan sambil tersenyum tipis dengan perasaan leganya, seakan semua hal buruk yang selama ini ia bawa-bawa sudah hilang tanpa tersisa di dalam dirinya.