Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Kehadiranmu Untukku!


__ADS_3

***


Di sisi lain, saat waktu terus berlalu dan langit sudah terlihat gelap, Shanika yang duduk termenung di depan jendela kamarnya hanya bisa mendoakan keselamatan Xyan yang entah bagaimana kabarnya saat ini.


Hingga beberapa menit kemudian, Ibunya datang memasuki kamarnya sambil membawakan segelas susu hangat “Walaupun jarak dari sini ke Kampus cukup jauh, ditahan-tahan dulu saja untuk tinggal bersama Ibu dan Ayah… sampai pindah ke Apartement lagi,” ucap Ibunya Shanika sambil memberikan gelas susunya kepada Shanika.


“Aku bukannya sedang melamunkan hal itu,” balas Shanika sambil menerima gelas susu pemberian Ibunya.


Ibunya Shanika yang mendengarkan perkataan putrinya itu pun langsung terduduk tepat di samping Shanika dan mulai menatap Shanika dengan lekat sambil bertanya “Lalu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini?” dengan perasaan yang sangat penasaran.


“Aku sedang merindukan seseorang,” jawab Shanika sambil menunjukkan senyum-senyum malu dihadapan Ibunya “Ya?” kaget Ibunya Shanika dengan ekspresi tidak percayanya.


“Dia salah satu orang yang berharga di hidupku, setelah Ibu dan Ayah!” sambung Shanika dengan senyuman lebarnya, yang seketika itu juga membuat Ibunya Shanika memiringkan kepalanya dan dengan yakin berkata “Jadi, kamu benar-benar sudah punya pacar?!” dengan kedua bola matanya yang melebar.


Shanika yang mendengar suara Ibunya menjadi sangat kencang itu pun langsung panik dan dengan reflek berkata “Pelankan suara Ibu!” dengan berbisik-bisik, sambil sesekali melihat ke arah pintu kamarnya yang saat ini sedikit terbuka.


“Kalau Ayah sampai tahu, bisa sangat merepotkan!” sambung Shanika dengan ekspresi memelasnya, yang seketika itu juga membuat Ibunya tertawa pelan.


“Pft! Apa kamu sangat menyukainya?” tanya Ibunya Shanika lagi dengan tiba-tiba, yang saat itu juga membuat Shanika sedikit terkejut dan dengan reflek menganggukkan kepalanya dihadapan Ibunya itu.


“Lain kali, coba perkenalkan Ibu dengannya,” pinta Ibunya Shanika setelah ia melihat anggukkan kepala putrinya.


“Hm, tentu saja,” balas Shanika dengan senyuman tipisnya, karena perasaann ragunya yang tidak yakin bisa bertemu dengan Xyan lagi atau tidak.


***


Keesokan harinya, Shanika pun memutuskan untuk mengabaikan pikirannya mengenai Xyan dan fokus pada Kuliahnya saat ini, ditambah lagi karena sekarang ia sudah tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata lagi, semua mata kuliahnya dapat Shanika pelajari dengan lebih mudah.

__ADS_1


“Hidupku yang tiba-tiba kembali menjadi normal… seharusnya aku bersyukur, kan?” pikir Shanika saat ia sudah menyelesaikan semua mata kuliahnya hari ini dan melangkahkan kakinya untuk pergi ke ruang perpustakaan di gedung belakang kampusnya, yang orang bilang cukup angker.


“Jika aku datang ke sini, saat mataku bisa melihat segalanya… aku pasti tidak akan berani lama-lama berada di sini,” pikir Shanika lagi sambil mengambil beberapa buku penting yang ingin ia pelajari di dalam Perpustakaan.


“Semua hal buruk yang aku alami… terasa seperti mimpi,” pikir Shanika lagi dan lagi setelah ia bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk keluar dari dalam Perpustakaan karena langit sudah mulai terlihat Sore.


Dengan langkah santainya, Shanika keluar dari dalam gedung Kampusnya dan melihat bangku-bangku kosong yang sebelumnya sering ia duduki seorang diri untuk bicara dengan para hantu di Kampusnya.


“Ah, ada apa denganku? Untuk apa juga aku mengenang hal-hal menyeramkan itu?” gerutu Shanika sambil memegangi keningnya yang terasa penat dan setelah itu langsung kembali melanjutkan langkah kakinya.


Beberapa detik kemudian, saat Shanika hanya fokus pada jalannya saat ini, tiba-tiba ia melihat mobil mewah berwarna hitam yang sudah tidak asing lagi sedang terparkir di depan halaman Kampusnya, yang seketika itu juga membuat Shanika menghentikan langkah kakinya dan menatap mobil mewah itu dari kejauhan dengan sangat lekat.


Hingga tidak lama kemudian, Shanika melihat pintu mobil mewah itu terbuka dan seorang pria keluar dari dalam mobil dengan pakaian rapinya, yang saat itu juga membuat jantung Shanika seperti terpukul “Dheg!” dan kedua bola matanya melebar sambil bergumam “Xyan?” dengan ekspresi tidak percayanya.


“Shanika!” panggil Xyan saat ia sudah keluar dari dalam mobilnya dan berdiri menghadap ke arah Shanika dengan senyuman lebarnya.


Shanika yang sempat terpaku melihat kehadiran Xyan, detik itu juga langsung berlari ke arah Xyan dan memeluk tubuh Xyan dengan sangat erat, yang seketika itu juga membuat Xyan segera mengusap kepalanya dan berkata “Maafkan aku sudah membuatmu khawatir,” dengan nada bicaranya yang sangat lembut.


“Maafkan aku juga karena tidak bisa langsung menemuimu… karena mulai sekarang, aku membutuhkan waktu yang agak lama untuk dapat menemukan keberadaanmu,” ucap Xyan panjang lebar sambil terus membalas pelukan erat Shanika.


Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan Xyan dengan reflek melepas pelukan eratnya dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Xyan, sambil berkata “Jadi… sekarang,” perkataan Shanika pun terputus saat melihat Xyan menganggukkan kepalanya.


“Sekarang aku hanya manusia biasa,” ucap Xyan sambil menunjukkan senyuman termanisnya dihadapan Shanika, yang tidak lama kemudian juga ikut tersenyum dengan wajah cerianya.


***


Untuk melepas rindu, Xyan pun mengajak Shanika untuk pergi bersenang-senang ke salah satu tempat kemah dan tanpa terasa langit sudah semakin gelap “Padahal aku masih ingin bersamamu,” gumam Xyan sambil menggenggam tangan Shanika dengan erat.

__ADS_1


“Ya, aku juga!” balas Shanika dan tiba-tiba Shanika dikejutkan dengan telepon masuk dari Ayahnya “Tunggu sebentar, Ayah meneleponku!” panik Shanika yang dengan reflek langsung melepas genggaman tangan Xyan dan melangkah pergi untuk mengangkat telepon dari Ayahnya.


Sedangkan Xyan yang memperhatikan Shanika dari jauh, tidak lama kemudian menatap api unggun dihadapannya yang bergerak dengan sangat aneh, hingga beberapa detik kemudian Xyan juga merasakan aura dingin dari sebelah kirinya dan saat Xyan menolehkan kepalanya, dapat dengan jelas Xyan melihat Karis sang Malaikat Maut.


“Kamu benar-benar sudah menjadi manusia… Tapi, syukurnya kamu masih bisa melihat makhluk sepertiku,” ucap Karis sambil berjalan mendekati Xyan dengan pakaian serba hitamnya.


Sebelum mendengar balasan dari Xyan, dengan cepat Karis mengambil belati pemberian Xyan dari dalam pakaiannya dan langsung memberikan belati itu kepada Xyan sambil berkata “Aku pikir, kamu lah yang berhak menyimpan belati ini dan jiwa Zoya yang terkurung di dalamnya,” sambung Karis dengan wajah seriusnya.


Tanpa banyak berpikir, Xyan pun menerima belati pemberian Karis itu dan langsung melemparkan belati itu ke dalam api unggun, yang seketika itu juga membuat Karis terkejut dan melihat belati beserta jiwa Zoya yang terkurung terbakar.


“Sifat kejammu masih saja ada,” ucap Karis dengan ekspresi tidak percayanya setelah melihat tingkah Xyan yang dengan mudahnya memusnahkan barang yang menyimpan jiwa Kakaknya.


Xyan yang mendengar perkataan Karis itu pun langsung memasang senyuman tipisnya, setelah itu berkata “Jiwanya terlalu berbahaya untuk di simpan oleh manusia,” yang saat itu juga membuat Karis merasa kalau pemikiran Xyan sangatlah masuk akal “Ya, ada benarnya juga,” sambil menganggukkan kepalanya.


“Oya, seperti dirimu yang menjadi manusia… Aku juga akan segera reinkarnasi kembali, walaupun masih butuh waktu yang cukup lama,” ucap Karis dengan senyuman lebarnya kepada Xyan “Kabar yang bagus! Selamat,” balas Xyan yang seketika itu juga membuat Karis merasa sangat berterima kasih kepada Xyan yang sudah memberikannya kesempatan.


Beberapa detik kemudian, Karis pun menolehkan kepalanya ke arah Shanika dan sambil melangkah mundur dari hadapan Xyan, Karis berkata “Semoga kamu dapat menemukan kebahagiaanmu bersamanya,” sambil menunjuk Shanika yang baru saja selesai mematikan telepon dari Ayahnya.


“Tentu saja,” balas Xyan lagi dan Karis pun langsung pergi menghilang dari pandangannya, tepat pada saat Shanika berjalan mendekatinya.


“Hm? Barusan kamu bicara dengan siapa?” tanya Shanika dengan ekspresi bingungnya kepada Xyan, yang dengan cepat langsung Xyan jawab “Karis,” dan membuat Shanika tersentak “Maksudmu, malaikat maut itu?!” dengan ekspresi cerianya.


“Apa yang dia katakan?” tanya Shanika lagi dengan nada bicaranya yang sangat bersemangat “Semuanya sudah berakhir,” jawab Xyan sambil mengusap kepala Shanika dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang, yang seketika itu juga membuat Shanika tersenyum lebar.


Dengan reflek Shanika pun langsung merangkul lengan Xyan, setelah itu berkata “Hm… Sudah aku putuskan! Hari ini aku tidak akan pulang! Hehe,” dengan nada bicaranya yang terdengar seperti anak kecil di telinga Xyan.


“Eh? Apa maksudmu? Dasar anak nakal!” balas Xyan sambil menggoda Shanika dengan mencubit pipinya sekilas, yang saat itu juga membuat mereka berdua tertawa bersama.

__ADS_1


*** TAMAT ***


“Bagiku bertemu denganmu adalah sebuah keajaiban dan dapat hidup bersamamu adalah surga kebahagiaanku!” Ucap Shanika untuk Xyan yang selalu ada untuknya di masa-masa terburuknya.


__ADS_2