
Dengan reflek Shanika mendorong tubuh Xyan dan menarik tangannya dari genggaman Xyan dengan sangat kasar sambil bangkit dari duduknya “Coba apanya?! Kamu kira aku wanita murahan?!” bentak Shanika dengan ekspresi panik dan perasaan campur aduknya.
“Pft! Haha!” tawa Xyan dengan reflek juga, yang seketika itu juga membuat Shanika kesal sambil menggigit bibirnya sendiri.
“Itu lah reaksi yang aku ingin lihat sejak tadi!” ucap Xyan sambil terus tertawa dihadapan Shanika “A-apa katamu?” balas Shanika dengan ekspresi tidak percayanya.
Tidak lama kemudian, Xyan pun berhenti tertawa dan kembali menatap Shanika sambil terus duduk di atas sofanya dengan santai “Dengar, walaupun kamu tidak takut pada manusia setengah Iblis sepertiku… setidaknya kamu harus tetap berhati-hati, karena aku pria! Okay?” ucap Xyan dengan nada bicaranya yang terdengar sangat dewasa dan penuh perhatian kepada Shanika.
“Hah, yang benar saja! Cara bercandamu tidak lucu tahu!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang meninggi lagi kepada Xyan.
“Ini, perban sendiri tanganmu itu!” sambung Shanika sambil melemparkan kain yang sejak tadi ia pegang ke arah Xyan, yang seketika itu juga membuat Xyan sedikit tersentak “Eh? Kamu mau kemana?” tanya Xyan dengan tatapan bingungnya.
“Aku mau pulang! Bagaimana pun juga, kamu harus pakai perban itu selama beberapa hari! Mengerti, kan?” pinta Shanika dengan nada bicaranya yang tegas dan penuh penekanan.
“Ya, aku mengerti!” balas Xyan dengan ekspresi malasnya.
Dan tanpa berlama-lama lagi, Shanika segera mengambil kotak kainnya yang sudah kosong setelah itu bergegas untuk keluar dari Apartement Xyan. Sedangkan Xyan yang melihat kepergian Shanika, dengan reflek berkata “Besok jangan bolos Kuliah lagi!” dengan suaranya yang agak keras, agar Shanika mendengar perkataannya.
“Ck, memangnya aku anak kecil? pakai diingatkan segala,” gerutu Shanika sambil menutup pintu Apartement Xyan dari luar dengan kasar.
Dengan perasaan kacaunya, Shanika pun melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam lift dan sesampainya ia di dalam Apartementnya sendiri, saat itu juga Shanika kembali teringat dengan sentuhan, ucapan, tatapan bahkan hingga hembusan nafas Xyan yang sekali lagi berhasil membuatnya merinding.
__ADS_1
“Ugh! Aku pasti sudah kehilangan akal sehatku!” keluh Shanika sambil melempar kotak yang ada di tangannya, setelah itu langsung mengacak-acak rambutnya sendiri dengan sangat kasar.
“Hah! Bisa-bisanya dia melakukan candaan yang berbahaya seperti itu kepadaku!” sambung Shanika lagi dengan ekspresi kesalnya, sambil melanjutkan langkah kakinya lagi dan istirahat di atas tempat tidurnya “Sudah-sudah! Ayo kita lupakan saja, Shanika!” ucap Shanika kepada dirinya sendiri sambil menepuk pipinya menggunakan kedua tangannya secara bersamaan.
***
Keesokan harinya, untuk yang kesekian kalinya Shanika mengecek benang putih yang masih aman di pergelangan tangan kanannya sebelum ia berangkat ke Kampusnya. Tapi, walaupun ada benang putih yang dapat melindunginya, Shanika tetap merasa kesal karena semua hantu yang sudah mengetahui pengelihatannya terus berusaha mengganggunya di dalam kelas.
“Ugh! Mengganggu sekali,” gumam Shanika sambil menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya dengan perasaan kesalnya, karena selama pelajaran ia terus melihat wajah mengerikan dari para hantu yang dengan sengaja ingin mengusiknya.
Hingga beberapa jam kemudian, saat pelajaran dari kelas ke tiga selesai. Saat itu juga Shanika tidak segera keluar dari dalam kelasnya, justru ia menunggu sampai semua orang di dalam kelas pergi keluar dan ia tinggal seorang diri.
Dengan percaya diri, Shanika menutup pintu kelas dan saat semua hantu di belakangnya mulai tertawa, tanpa banyak berpikir lagi Shanika segera menghampiri semua hantu yang ia lihat dan berusaha menyentuh hantu yang ada disekitarnya, agar mereka semua kapok karena sudah mengganggunya.
“I-ini pertama kalinya kami merasa sakit saat menyentuh manusia, aneh sekali!” kata salah satu hantu wanita berwajah pucat.
“Ah, jadi kalian sudah biasa meremehkan manusia, begitu?” balas Shanika sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“Tidak! Bukan begitu… kami hanya senang, saat tahu kalau ada manusia yang bisa melihat kami!” jawab hantu wanita muda dengan ekspresi sedihnya
Detik itu juga, satu per satu hantu dihadapan Shanika meminta maaf dan berjanji kalau mereka tidak akan mengganggu Shanika lagi, yang seketika itu juga membuat Shanika menghela nafas panjangnya dan kembali berkata “Aku juga meminta maaf, karena sudah melakukan kekerasan kepada kalian. Lain kali… mohon kerja samanya ya,” dengan senyuman lebarnya yang memiliki banyak arti tersembunyi.
__ADS_1
Bagi Shanika yang sudah tidak takut pada hantu, tidak ada salahnya kalau sesekali ia meminta bantuan dari para hantu yang mendiami ruang kelas selama jam pelajaran “Anggap saja ini hukuman untuk mereka semua,” pikir Shanika dengan perasaan santainya.
Setelah bicara dengan para hantu dan membuat kesepakatan yang cukup menguntungkan, Shanika segera melangkah keluar dari dalam kelas dan pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sejak tadi sudah kelaparan.
Tapi, perasaan santai dan damainya dalam seketika berubah, saat tiba-tiba Shanika mendengar suara Nadine yang memanggil namanya dan berkata “Oh, kamu sedang makan sendirian! Kenapa tidak ajak-ajak aku?” tanya Nadine sambil duduk tepat di samping Shanika, yang sedang menyantap makan siangnya.
Tanpa membalas perkataan Nadine, detik itu juga Shanika hanya tersenyum dan kembali menyantap makan siangnya dengan lebih cepat.
“Kemarin aku mencarimu. Tapi, kamu tidak ada!” kata Nadine lagi sambil terus menatap Shanika dengan lekat dari samping tubuhnya.
“Hm… kemarin aku sedang ada urusan di luar kampus,” balas Shanika yang seketika itu juga membuat Nadine menganggukkan kepalanya dan memasang ekspresi tidak pedulinya di belakang Shanika.
Sekitar sepuluh menit kemudian, tepat pada saat Shanika sudah menghabiskan makan siangnya tiba-tiba Nadine memanggil seorang pria yaitu Elvan, yang seketika itu juga membuat Shanika merasa sedikit panik dan takut, karena seperti yang ia tahu ada sosok hantu wanita bermata merah yang terus mengikuti Elvan.
“Hai, Nadine!” sapa Elvan saat pria itu sudah berdiri tepat dihadapan Shanika dan Nadine yang hingga saat ini masih terduduk “Hari ini pakaianmu keren sekali!” puji Nadine dengan wajah super cerianya.
“Hm, terima kasih,” balas Elvan dengan senyuman tipisnya.
Tidak seperti Nadine yang memperhatikan penampilan Elvan. Detik itu juga, dengan penuh waspada Shanika berusaha melihat ke bagian belakang tubuh Elvan dan betapa bingungnya Shanika, karena saat ini tidak ada sosok hantu wanita bermata merah itu di belakang tubuh Elvan “Hm? Tidak ada?” gumam Shanika dengan ekspresi bingungnya.
Sedangkan Elvan yang baru saja menolehkan kepalanya kepada Shanika, dengan penuh percaya diri segera menyapa Shanika “Hai, Shanika! Kamu masih mengingatku, kan?” sambil memasang senyuman terbaiknya dihadapan Shanika, yang seketika itu juga membua Shanika cukup kaget.
__ADS_1
“Eh? Apa pria ini memang selalu ramah kepada wanita?” pikir Shanika saat ia merasakan pandangan Elvan yang sangat berbeda kepada dirinya.