
Shanika yang tidak ingin terlihat lemah walaupun merasa takut, saat itu juga dengan sekuat tenaganya ia berhasil kembali menggerakkan tangannya dan berkata “Beraninya kamu mengancamku!” setelah itu Shanika pun menjatuhkan jaket beserta jimat yang ada ditangannya ke lantai.
Dan tanpa berlama-lama lagi segera membalik tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan hantu wanita itu “Aku tidak mengancammu. Tapi, memberimu peringatan!” balas hantu wanita dihadapan Shanika itu dengan ekspresi takut dan tidak percayanya kalau Shanika bisa lepas dari pengaruhnya dengan mudah.
“Peringatan? Aku tidak butuh itu,” ucap Shanika sambil bergegas untuk menggapai hantu wanita dihadapannya, yang seketika itu juga membuat hantu wanita bermata merah itu kesakitan “Akh! Menjauh dariku!” jeritnya, karena tersengat oleh gelang putih yang melindungi Shanika.
Shanika yang melihat betapa kesakitan hantu wanita bermata merah dihadapannya itu pun kembali berkata “Lihat, kamu sudah berurusan dengan orang yang salah!” dengan nada bicaranya yang penuh percaya diri, setelah itu Shanika pun segera menyimpan kembali jimat kertas ke dalam jaket milik Elvan dan menyimpan jaket itu ke dalam lokernya lagi.
Sedangkan hantu wanita bermata merah yang masih kesakitan itu hanya bisa terdiam diri dan terus berkata “Tidak! Kamu harus menghancurkan jimat itu!” pinta hantu wanita itu dengan ekspresi kesal sekaligus sedihnnya.
“Temanmu berada dalam bahaya!” sambung hantu wanita itu lagi, yang seketika itu juga membuat Shanika menghela nafas panjangnya dengan kasar dan kembali berkata “Biar aku sendiri yang mengurus temanku!” dengan sangat tegas.
“Bodoh sekali!” balas hantu wanita itu sambil memasang senyuman menyeringainya dan mulai menunjukkan aura gelap disekitar tubuhnya, seakan-akan sudah siap untuk menyerang Shanika “Cukup! Aku sudah tidak takut kepadamu lagi,” ancam Shanika sambil mengangkat tangan kanannya seakan ingin memukul, yang saat itu juga membuat hantu wanita dihadapannya menciut.
Tanpa banyak bicara lagi, Shanika pun bergegas dari dalam ruangan ganti baju itu dan langsung melangkah pergi dengan sikap santainya, sambil berpikir kalau keputusannya saat ini sudah yang paling benar, karena jika Shanika menghancurkan jimat milik Elvan, hantu pendendam seperti hantu wanita itu akan semakin berbahaya.
***
Sekitar tiga jam kemudian, setelah perlombaan basket selesai dan tim basket Elvan dinyatakan menang, dengan perasaan senang mereka semua mengadakan pesta di salah satu cafe mewah yang tentunya diikuti juga oleh semua pendukung kenalan mereka.
__ADS_1
Elvan yang terus mencari-cari keberadaan Shanika, detik itu juga mulai memasang ekspresi kesalnya karena wanita itu tidak datang menemuinya lagi setelah perlombaan selesai.
“Kak Elvan! Ternyata kakak di sini? Kenapa tidak duduk di dalam bersama yang lain?” tanya Nadine sambil berjalan mendekati Elvan yang berdiri sendirian di balkon cafe.
“Oh, Nadine! Kamu tidak bersama dengan Shanika?” tanya Elvan dengan reflek, yang seketika itu juga membuat Nadine merasa kesal dan mengerutkan dahinya sambil berkata “Shanika? Aku pikir dia tidak datang,” jawab Nadine sambil berusaha menyembunyikan perasaan marahnya.
“Saat perlombaan aku sempat bertemu dengannya. Tapi, sepertinya dia tidak ikut ke sini ya,” kata Elvan lagi dengan senyuman tipisnya kepada Nadine.
Beberapa detik kemudian, Elvan yang memperhatikan ekspresi Nadine tiba-tiba tersadar kalau wanita dihadapannya itu sedang berusaha menarik perhatiannya dan setiap ia menyebut nama Shanika, Nadine pasti akan terlihat murung.
Yang seketika itu juga membuat Elvan berpikir untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emasnya “Kalau begitu, kamu saja yang menemaniku! Ayo kita bersenang-senang di dalam,” ucap Elvan dengan senyuman manisnya yang selalu berhasil memikat semua wanita dengan mudah.
“Haha, dengan senang hati!” balas Nadine sambil merangkul lengan Elvan dengan wajah cerianya.
Awalnya Elvan hanya mengajak Nadine untuk bernyanyi dan menari bersama. Tapi, lama kelamaan Elvan juga menyodorkan minuman dengan kadar alkohol yang ringan kepada Nadine, yang mau tidak mau Nadine harus habiskan.
Dan saat keadaan semakin ramai, Nadine yang sudah mulai merasa pusing tiba-tiba disodorkan minuman lagi oleh Elvan dengan kadar alkohol yang jauh lebih besar dari sebelumnya “Maaf kak, sepertinya aku sudah cukup minumnya,” ucap Nadine dengan senyuman tipisnya.
“Hah? Tidak boleh begitu, semua yang ada disini saja masih minum… masa kamu sudah tidak minum lagi!” balas Elvan dengan tawa dan tatapan tajamnya, seakan sedang memaksa Nadine untuk minum lagi.
__ADS_1
Tepat pada saat Nadine akan menerima gelas minuman dari Elvan, saat itu juga tiba-tiba ada seseorang yang mengambil gelasnya sambil berkata “Hentikan! Kamu sudah mabuk,” yang seketika itu juga membuat Elvan segera menolehkan kepalanya dan dapat dengan jelas melihat wajah Shanika.
“Oh… aku kira kamu tidak datang ke sini!” ucap Elvan dengan wajahnya yang mendadak menjadi sangat ceria.
“Kakak seharusnya tidak memaksa Nadine untuk minum alkohol sebanyak ini,” belum selesai Shanika bicara, dengan cepat Nadine bangkit dari duduknya dan mengambil gelas minum yang ada ditangan Shanika dengan kasar sambil berkata “Apa urusannya denganmu? Sial,” dengan ekspresi marahnya kepada Shanika.
“Nadine?!” kaget Shanika saat Nadine langsung meneguk semua minuman alkohon di gelasnya hingga tidak tersisa, yang seketika itu juga membuat semua orang yang melihat keberanian Nadine bersorak.
Sedangkan Elvan hanya bisa terdiam dan memasang senyuman puasnya saat melihat pertengkaran diantara Shanika dan Nadine “Menarik sekali,” batin Elvan.
***
Tanpa berlama-lama lagi, Shanika yang melihat Nadine sudah mabuk berat segera menarik Nadine dan memasukkan temannya itu ke dalam mobil taksi pesanannya untuk dibawa pulang ke rumah orang tuanya “Hah, hampir saja dia berada dalam masalah!” ucap Shanika sambil menghela nafas leganya.
“Kamu benar-benar sangat peduli kepadanya, ya!” tiba-tiba Shanika mendengar suara Elvan dari belakang tubuhnya, yang saat itu juga membuat dirinya dengan reflek menoleh ke belakang dan segera menatap Elvan dengan tatapan tajamnya.
“Kamu juga sudah menghancurkan pestaku ini,” sambung Elvan sambil membalas tatapan mata Shanika dengan sangat intens.
Shanika yang tidak ingin merasa terintimidasi atau takut kepada Elvan itu pun dengan santainya berkata “Biar aku saja yang menggantikan Nadine. Jadi, jangan sentuh dia lagi!” ucap Shanika dengan nada bicaranya yang tegas.
__ADS_1
“Pft! Apa maksudmu?” keluh Elvan dengan ekspresi tidak pedulinya, setelah itu segera melangkah masuk ke dalam Cafe mewah lagi.
Sedangkan Shanika yang sempat merasa ragu untuk mengikuti langkah kaki Elvan, saat itu juga berpikir “Haruskah aku kabur? Firasatku buruk!” tapi, tepat sebelum Shanika melangkah pergi tiba-tiba ada beberapa wanita kenalannya Elvan menggandeng lengan tangannya dan mengajak Shanika untuk kembali masuk ke dalam Cafe “Tu-tunggu!” panik Shanika yang tidak bisa kabur lagi.