Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Semua Rasa Sakitku Untukmu


__ADS_3

Dengan perasaan ragunya, mau tidak mau Gavin segera berlari mendekati Shanika dan langsung menarik tangan Shanika dengan cukup kasar, karena Shanika terus meronta-ronta dan tidak mau pergi meninggalkan Xyan seorang diri dalam keadaan sekarat.


“Aku tidak mau meninggalkan Xyan! Xyan! Aku mohon!” ucap Shanika sambil terus berteriak dan berusaha menahan tarikan kencang yang Gavin lakukan padanya.


Sedangkan Xyan yang mendengar perkataan Shanika dan tangisan Shanika, sama sekali tidak mau menolehkan kepalanya yang seketika itu juga membuat Zoya merasa kalau dirinya sudah menang, walaupun harus membiarkan Shanika dan anak buah Xyan bebas.


“Nona! Ayo kita pergi!” pinta Gavin sambil terus menarik Shanika hingga hampir sampai di depan pintu keluar rumah tua itu.


Tapi, tepat sebelum Gavin dan Shanika berhasil keluar melewati pintu. Tiba-tiba pintu besar dihadapan mereka berdua kembali terbuka sendiri dan seorang pria berpakaian serba hitam sedang berjalan lurus seakan ingin memasuki rumah tua itu.


“Hm? Tuan Malaikat Maut?” gumam Gavin yang seketika itu juga langsung menghentikan langkah kakinya dan melepaskan tarikan tangannya pada kedua tangan Shanika, sedangkan Shanika yang tidak bisa melihat apapun kecuali pintu yang terbuka sendiri, detik itu juga langsung berhenti menangis dan bertanya “Siapa?” dengan tatapan bingungnya.


“Malaikat Maut datang,” balas Gavin dengan perasaan leganya, yang seketika itu juga membuat Shanika berpikir “Maksudmu… Karis?” sambil berusaha mencari-cari keberadaan Karis sang Malaikat Maut yang saat ini sudah tidak bisa ia lihat lagi dengan kedua bola matanya yang normal seperti manusia pada umumnya.


Xyan yang merasakan kehadiran Karis, detik itu juga langsung menolehkan kepalanya dan memasang senyuman tipisnya sambil berkata “Akhirnya datang juga,” dengan perasaan leganya, sambil terus berusaha menahan rasa sakitnya yang semakin menggerogoti tubuhnya.


Di lain sisi, Zoya yang saat ini masih berdiri di lantai atas rumah tua. Dengan ekspresi bingungnya terus memperhatikan siapa orang yang sudah berani datang untuk mengacaukan rencananya, hingga beberapa detik kemudian ia terkejut saat melihat orang yang datang adalah Karis, manusia yang dulu pernah ia cintai dan saat ini sudah bereinkarnasi menjadi Malaikat Maut.


“Untuk apa dia datang ke sini?” pikir Zoya dengan ekspresi bingungnya.

__ADS_1


Karis yang melangkah masuk ke dalam rumah tua itu pun tidak lama kemudian menghentikan langkah kakinya, setelah itu menatap Gavin dan juga Xyan sambil berkata “Kalian bertiga bisa pergi sekarang, biar aku yang urus Iblis itu,” dengan wajah datarnya.


Yang seketika itu juga membuat Xyan mengangguk dan segera berusaha menghampiri Gavin, setelah itu langsung menarik tangan Shanika untuk keluar bersama-sama dengannya. Dengan ekspresi bingungnya, Shanika hanya bisa mengikuti langkah Xyan dan Gavin dengan cepat tanpa bertanya sedikitpun.


Zoya yang melihat kepergian Xyan bersama dengan Shanika dan anak buahnya itu pun segera berusaha menghadang menggunakan aura gelapnya. Tapi, entah dengan apa Karis bisa menghalau kekuatan Zoya hanya dengan mengangkat telapak tangannya yang sudah tertuliskan sebuah mantra kuno.


“Hah! Beraninya… Malaikat Maut rendah sepertimu menggagalkan rencanaku!” bentak Zoya sambil melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga kayu yang ada dihadapannya dengan langkah kakinya yang cepat.


Karis yang mendengar dan melihat reaksi marah Zoya, detik itu juga kembali berkata “Aku mengingatmu,” yang seketika itu juga membuat langkah kaki Zoya terhenti dan ekspresi marahnya berubah menjadi ekspresi terkejutnya, seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut Karis.


“Tapi, aku yakin… kamu yang jauh lebih mengingatku!” sambung Karis dengan senyuman tipisnya yang terlihat sangat miris di mata Zoya yang menatapnya lekat saat ini.


“Aku… tidak mengerti dengan apa yang sedang kamu bicarakan,” balas Zoya yang berusaha menghindari topik pembicaraan Karis kepadanya.


“Sudah lama aku ingin menanyakan pertanyaan itu kepadamu,” sambung Karis sambil tersenyum dengan miris lagi dihadapan Zoya yang hanya bisa terdiam.


Beberapa detik kemudian, Zoya yang tidak ingin berpura-pura lagi atau menutup-nutupi kenyataan yang sudah lama terjadi. Detik itu juga membuka mulutnya untuk berkata “Aku memang belum bahagia. Tapi, setidaknya… aku tidak merasa menyesal setelah membunuhmu!” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat santai, seakan tidak ada beban sedikitpun yang ia rasakan.


“Apa… katamu?” gumam Karis dengan perasaannya yang sesak.

__ADS_1


“Saat itu… kamu hanyalah kelemahanku dan aku benci menjadi lemah! Jadi, tidak ada salahnya… menghancurkan kelemahanku terlebih dulu, sebelum yang lain tahu,” sambung Zoya sambil tertawa pelan dan mengangkat kedua tangannya, seakan sedang menyepelekan perasaan tulus Karis kepadanya.


Karis yang mendengar setiap kata yang Zoya lontarkan dengan sangat jelas, tidak lama kemudian menundukkan kepalanya dan mulai tertawa dengan aneh, yang seketika itu juga membuat Zoya mengerutkan dahinya dan merasa bingung dengan reaksi Karis.


“Haha!! Ternyata keputusanku untuk membencimu… juga sudah benar!” ucap Karis sambil mengeluarkan belati pemberian Xyan dari dalam saku pakaiannya dan menggenggamnya dengan erat menggunakan tangan kanannya.


Sedangkan Zoya yang tidak merasa takut sedikitpun kepada Karis, detik itu juga langsung menghela nafas lelahnya dan kembali berkata “Memangnya apa yang bisa kamu lakukan dengan membenciku?” dengan tatapan santainya dan ekspresi tidak pedulinya kepada Karis.


“Terima kasih, karena sudah menunjukkan jati dirimu yang sesungguhnya kepadaku… Zoya,” ucap Karis sambil mengangkat belati tajam yang ia genggam dengan erat dihadapan Zoya.


Dan tanpa banyak bicara lagi, Zoya yang awalnya sudah bersiap-siap untuk menerima serangan dari Karis langsung terkejut dan melebarkan kedua bola matanya, karena tiba-tiba Karis menusuk belati kepada dirinya sendiri “Sruk!!!” secara kasar.


Tapi, bukannya Karis yang merasakan rasa sakit akibat tusukan belati di tubuhnya. Detik itu juga, Zoya merasa dadanya sangat sakit dan ia pun langsung batuk darah “Uhuk! Ukh… apa yang terjadi?!” kaget Zoya saat ia melihat darah di kedua telapak tangannya.


Karis pun langsung menarik kembali belati yang sudah ia tusukkan kepada tubuhnya sendiri secara kasar, yang seketika itu juga membuat Zoya merasa semakin kesakitan dan langsung jatuh bertekuk lutut dihadapan Karis “Uakh!!” sambil berusaha menahan rasa sakitnya yang seperti tersayat-sayat.


Karis yang melihat Zoya merasa sangat kesakitan itu pun langsung memasang senyuman menyeringainya dan kembali berkata “Belati ini adalah belati keramat pemberian Xyan… Aku dengar, Iblis yang terluka karena belati ini tidak akan cepat pulihnya… hm, kekuatannya hampir mirip seperti kekuatan Mata Pengantin Iblis, kan?” ucap Karis dengan nada santainya sambil menatap belati tajam yang saat ini masih ada di tangannya dengan lekat.


Sedangkan Zoya yang masih batuk darah, secara perlahan mulai merasa mati rasa dan telinganya sedikit berdengung, yang saat itu juga membuatnya mau tidak mau harus mengeluarkan semua energi Iblisnya.

__ADS_1


Tapi, Karis yang tidak ingin membiarkan Zoya pulih, saat itu juga kembali menusuk dirinya sendiri “Sruk!” pada bagian lehernya, yang seketika itu juga membuat Zoya menjerit kesakitan dengan kedua bola matanya yang memerah bagaikan monster.


“Akh!! Bagaimana bisa?!” jerit Zoya sambil melirikkan tatapan tajamnya kepada Karis, yang dengan santainya kembali melepas tusukan belati pada lehernya yang tidak bisa terluka sedikitpun, setelah itu berkata “Sejak kamu merenggut jantungku, sepertinya raga kita saling terhubung… bagaikan boneka, jika ada yang berusaha melukaiku… kamu lah yang akan terluka, Zoya!” ucap Karis dengan tatapan lekatnya kepada Zoya yang masih merasa sangat kesakitan pada seluruh tubuhnya “Akh!!!” jerit Zoya hingga terdengar sampai keluar rumah tua itu.


__ADS_2