Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Rahasia Terbesar Xyan


__ADS_3

***


Di sisi lain, dengan perasaan takutnya Shanika terus berlari tanpa mau menolehkan kepalanya sedikit pun sambil berpikir “Mataku tidak sempat berpapasan dengan matanya, kan?” setiap ia mengingat sosok hantu bermata merah yang mengikuti pria bernama Elvan itu.


Karena terus berlari, tiba-tiba kaki Shanika terkilir yang seketika itu juga membuat dirinya terjatuh ke aspal dengan cukup kencang “Ugh!”keluh Shanika yang dengan cepat segera berusaha untuk bangkit dari jatuhnya.


Saat Shanika berhasil bangkit dari jatuhnya, saat itu juga ia mendengar suara wanita dari belakang tubuhnya “Kamu baik-baik saja?” yang membuat Shanika dengan reflek menjawab “Iya, aku baik-baik saja.” sambil menolehkan kepalanya ke belakang.


Tapi, betapa kagetnya Shanika saat tahu kalau yang barusan mengajukan pertanyaan bukanlah manusia melainkan sosok hantu wanita berwajah pucat dan rambut yang sangat berantakan “Kya!” jerit Shanika yang hampir saja membuatnya kembali terjatuh.


“Hihi, ternyata benar… kamu bisa melihatku,” ucap hantu wanita itu sambil memasang senyuman menyeringainya, yang seketika itu juga membuat Shanika kembali berlari walaupun kakinya terasa sangat nyeri.


“Hei, tunggu dulu!” ucap hantu wanita itu lagi saat ia melihat Shanika berlari dengan sangat ketakutan.


Tanpa banyak berpikir lagi, Shanika segera mencari mobil taksi untuk pulang ke Apartementnya dan betapa sialnya ia, karena sebelum berhasil menemukan taksi tiba-tiba langit menjadi sangat mendung dan hujan mulai turun membasahi tubuhnya.


“Hah… Apa tidak bisa lebih buruk lagi?!” gerutu Shanika sambil menghentikan salah satu mobil taksi dan segera masuk ke dalam mobil taksi dihadapannya itu dalam kondisi tubuh yang sudah setengah basah.


“Nona, anda baik-baik saja? saat ini anda terlihat sangat berantakkan,” tanya supir taksi yang melihat kondisi kacau Shanika saat ini “Sa-saya baik-baik saja, tidak perlu khawatir pak! Tolong antar saya ke Apartement XX,” jawab Shanika dengan senyuman ramahnya yang secara paksa ia tunjukkan kepada supir taksi.


“Tapi Nona, lebih baik anda gunakan ini untuk luka anda,” ucap supir taksi lagi sambil memberikan handuk kecil yang masih bersih kepada Shanika, sebelum ia mulai mengendarai mobil taksinya.

__ADS_1


“Luka? Ah! Pantas saja terasa perih. Terima kasih, pak!” balas Shanika yang baru saja menyadari kalau dengkul kakinya sedikit mengeluarkan darah dan telapak tangannya terlihat penuh luka kecil, sambil menerima handuk kecil pemberian supir taksi.


Selama berada diperjalanan pulang, Shanika yang masih membersihkan luka ditelapak tangannya terus merenung dan memikirkan hari esok yang harus bisa ia lalui lagi. Shanika bahkan dibuat lebih pusing lagi, saat ia ingat kalau di Kampusnya sudah ada satu hantu yang menyadari pengelihatannya “Gawat sekali,” gumam Shanika dengan perasaan frustasinya.


Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, karena hujan semakin lebat Shanika tidak akan bisa sampai di Apartementnya dengan cepat dan beberapa detik kemudian, tiba-tiba supir taksi dihadapan Shanika berkata “Sepertinya jalan di depan ditutup karena ada kecelakaan, Nona.” Dengan ekspresi bingungnya.


“Ya? kecelakaan?” kaget Shanika dengan ekspresi bingungnya juga.


“Dengar itu, ada suara ambulan. Begini Nona… dari sini sepertinya anda harus jalan kaki,” kata supir taksi dengan perasaan tidak enaknya kepada Shanika. Tapi, mau bagaimana lagi karena jalanan sedang di tutup dan mobil tidak akan bisa lewat untuk sementara waktu, kecuali ia mengambil jalan berputar yang sangat jauh.


“Baiklah kalau begitu,” balas Shanika dengan sangat pasrah sambil memberikan uang bayaran taksinya kepada supir taksi.


Tapi, tepat sebelum Shanika melangkah keluar dari dalam mobil taksi, tiba-tiba firasat buruknya datang karena saat ini jalanan terlihat cukup gelap walaupun hujan sudah mereda “Nona?” panggil supir taksi saat melihat Shanika yang terus diam.


Tanpa berlama-lama lagi, Shanika pun melanjutkan langkah kakinya sambil berusaha menenangkan dirinya dan meyakinkan dirinya sendiri kalau semua baik-baik saja. Tapi, bukannya merasa tenang, Shanika justru semakin merasa takut, karena saat ini ia merasa kalau ada banyak makhluk tak kasat mata yang sedang memperhatikannya dari setiap sudut jalan yang gelap.


Karena gangguan demi ganggguan mulai Shanika rasakan, detik itu juga ia mempercepat langkah kakinya walaupun rasa nyeri terus menggerogoti kakinya. Bahkan Shanika sempat berpapasan dengan sosok hantu pria tanpa lengan. Tapi, dengan sekuat tenaga ia berusaha mengabaikan dan melewati hantu itu seakan hantu itu tidak


terlihat di matanya.


Padahal gedung Apartement-nya sudah terlihat sangat dekat. Tapi, entah kenapa Shanika merasa kalau jalanan yang saat ini sedang ia lalui sangatlah panjang. Hingga beberapa menit kemudian, saat Shanika berpikir kalau ujiannya sudah selesai, tiba-tiba langkah kakinya terhenti dan ia melihat sosok arwah pria muda penuh luka yang baru saja mengalami kecelakaan maut di dekat mobil Ambulan.

__ADS_1


Saat pria muda itu menyadari jika Shanika dapat melihatnya, dengan cepat Shanika mengalihkan pandangannya dan kembali mempercepat langkah kakinya untuk memasuki kawasan gedung Apartementnya.


Sambil menangis, pria muda itu berusaha memanggil dan menggapai Shanika dengan kedua tangannya yang dipenuhi darah. Sedangkan Shanika yang merasa sangat ketakutan langsung berlari dan tanpa sengaja melihat Xyan yang baru saja keluar dari dalam mobil mewahnya.


“Xy-xyan!” panggil Shanika dengan suara yang sangat bergetar, yang seketika itu juga membuat Xyan dengan reflek menolehkan kepalanya dan melihat Shanika yang sedang berlari ke arahnya.


“Shanika?” gumam Xyan dengan tatapan bingungnya.


Dengan perasaan frustasi, takut dan sedih Shanika segera memeluk Xyan dari depan “Sruk!” dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Xyan dengan sangat erat “Hiks!” tangis Shanika dengan perasaan leganya.


“A-ada apa denganmu?” kaget Xyan sambil berusaha melepaskan pelukan Shanika dari tubuhnya.


Tapi, bukannya berhasil melepaskan pelukan Shanika, saat itu juga Shanika justru semakin erat memeluknya dan menangis dengan semakin kencang “Ugh! Kamu membuatku sesak!” keluh Xyan dengan perasaan terganggunya.


“Aku mohon, bantu aku! Hantu… hantu-hantu itu membuatku ketakutan!” tangis Shanika dengan suara yang semakin mengeras.


Xyan yang mendengar perkataan Shanika itu pun segera menolehkan kepalanya dan dengan tatapan tajamnya, Xyan mulai menatap arwah pria muda penuh darah yang sebelumnya sempat mengejar Shanika “Dia belum seharusnya mati. Haruskah aku memusnahkannya?” tanya Xyan yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak.


“A-apa katamu?” tanya Shanika sambil mendangakkan kepalanya untuk melihat wajah Xyan yang hingga saat ini masih ia peluk dengan erat.


“Katakan saja keinginanmu. Aku akan memusnahkannya dari dunia ini untukmu,” jawab Xyan sambil membalas tatapan mata Shanika dengan sangat lekat, yang saat itu juga membuat Shanika dapat dengan jelas melihat mata Xyan menjadi merah pekat bagaikan monster.

__ADS_1


“Kamu… bukan manusia?” balas Shanika sambil melepaskan pelukannya dan Xyan yang mendengar perkataan Shanika hanya bisa terdiam tanpa sepatah kata pun.


__ADS_2