Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Jebakan Terencana


__ADS_3

Dari kejauhan Shanika terus memperhatikan gerak gerik Elvan dan ia sama sekali tidak menemukan hal berbahaya dari pria itu, yang seketika itu juga membuat Shanika berpikir “Hantu itu pasti hanya membual saja!” setelah itu juga bergumam “Ya, lagipula Nadine sudah berhasil aku pulangkan!” dengan perasaan leganya.


“Aku dengar kamu junior kami di kampus ya?” tiba-tiba salah satu wanita yang sebelumnya menarik Shanika ke dalam Cafe bicara kepada Shanika dengan nada bicaranya yang santai ramah “I-iya kak,” jawab Shanika dengan senyuman canggungnya.


“Bagaimana kamu bisa kenal Elvan?” tanya salah satu wanita yang ada di dekat Shanika juga “Karena temanku,” jawab Shanika lagi dengan singkat.


“Oh… haha, entah siapa yang sedang Elvan incar ya!” balas wanita di samping Shanika dengan tiba-tiba sambil tertawa pelan, yang seketika itu juga membuat Shanika mengerutkan dahinya dan memasang ekspresi bingungnya.


Tidak lama kemudian, salah satu wanita di dekat Shanika pun kembali berkata “Dari yang aku tahu, Elvan hanya mengincar wanita yang menyukainya!” dengan nada bicaranya yang sangat santai.


“Benar! Wanita yang mudah dibodohi! Haha,” balas wanita yang lainnya lagi, yang saat itu juga membuat Shanika merasa penasaran.


“Oya, belum lama ini… aku mendengar rumor, kalau ada wanita yang sampai bunuh diri hanya karena dicampakkan oleh Elvan lho!” kata salah satu wanita di dekat Shanika lagi, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan teringat dengan hantu wanita bermata merah yang belum lama ini ia temui.


“Menurut rumornya… wanita itu hamil muda, kan?” balas wanita yang lainnya lagi, yang dengar reflek dibalas lagi “Kita mana tahu kalau korban Elvan itu ada banyak! Karena dia anak orang kaya yang punya banyak koneksi, pasti mudah baginya untuk menutupi rumor buruknya!” dengan lirikkan tajamnya sesekali ke arah Elvan yang sedang bersenang-senang bersama anggota basketnya.


Shanika yang sejak tadi serius mendengarkan perkataan para senior wanita disekitarnya hanya bisa terdiam, hingga beberapa detik kemudian ada seorang wanita berkata “Kamu harus memberitahu temanmu untuk berhati-hati! Elvan itu berbahaya,” sambil menepuk pundak Shanika dengan sangat akrab.


“Pft! Kamu bicara seperti itu, karena dulu pernah ditolak oleh Elvan kan!” goda temannya yang lain sambil tertawa pelan kepada wanita yang sebelumnya bicara kepada Shanika “Hah! Yang benar saja!” gerutu wanita itu dengan reflek sambil mengibaskan rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


Detik itu juga, Shanika berpikir kalau rumor yang ada tidak mungkin hanyalah sebuah kebetulan, apalagi yang membicarakan rumor mengenai Elvan adalah teman-teman seangkatannya “Jadi… hantu pendendam itu benar-benar korbannya Kak Elvan?” pikir Shanika dengan wajah seriusnya.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba seorang pelatih basket berjalan mendekati Shanika dan para senior wanita yang sedang berkumpul dalam satu meja, setelah itu membagikan botol susu untuk mereka minum “Nah… sudah seperti tradisi kita, minum susu ini!” dengan wajah cerianya.


“Ah, pak pelatih! Kita kan bukan anak kecil lagi!” keluh salah satu senior wanita saat menerima botol susu dari pelatih basket itu.


“Aku menyuruh kalian minum susu seperti ini agar kalian segera sadar dari mabuk! Jangan sampai ada kecelakaan saat pulang dari sini!” balas pelatih basket itu dengan nada bicaranya yang tegas dan sangat perhatian.


Sedangkan Shanika yang tidak minum alkohol sedikit pun, detik itu juga hanya meletakkan botol susu miliknya di atas meja, karena ia pikir tidak perlu baginya untuk meminum susunya.


Tapi, tiba-tiba pelatih basket itu berkata “Mau minum atau tidak minum alkohol, kalian semua harus menghabiskan susunya! Karena minuman itu sehat dan sangat mahal bagiku,” yang seketika itu juga membuat Shanika merasa terpaksa.


Tidak lama kemudian, pesta di cafe mewah itu pun selesai dan sebelum pulang, Shanika memutuskan untuk pergi ke toilet terlebih dulu karena entah kenapa tiba-tiba ia merasa agak mual “Hah… kenapa tiba-tiba aku begini?” gumam Shanika setelah ia membasuh mulutnya dengan air di wastafel.


Secara perlahan-lahan kepala Shanika juga terasa sakit dan matanya mulai tidak fokus, yang seketika itu juga membuat Shanika segera menopang tubuhnya dengan memegangi pinggir meja wastefel dihadapannya dengan kedua tangannya.


“Apa ini gara-gara minum susu? Tapi, yang lain terlihat baik-baik saja!” pikir Shanika sambil terus berusaha untuk menjaga keseimbangannya tubuhnya, agar tidak terjatuh.


“Tunggu! Jangan bilang… ada yang memasukkan sesuatu ke dalam botol susuku?!” panik Shanika dengan pikirannya sendiri dan saat itu juga dengkulnya terasa sangat lemas, yang dengan reflek membuat Shanika segera jatuh terduduk “Bruk!” di lantai depan meja wastafel.

__ADS_1


“Ugh! Sadarlah Shanika! Ukh… tubuhku? Panas sekali,” ucap Shanika yang secara perlahan mulai kehilangan kendali pada dirinya sendiri, karena suhu tubuhnya yang entah kenapa menjadi sangat panas dan penuh gairah.


Beberapa detik kemudian, Shanika pun mendengar suara langkah kaki yang disusul juga dengan suara pria yang mengatakan “Dia ada di dalam, pasti sekarang dia sudah sangat lemah!” yang seketika itu juga membuat Shanika yang masih setengah sadar merasa sangat katakutan.


“Haruskah kita bawa dia ke hotelnya sekarang? Elvan sudah menunggunya, kan?” balas pria yang lainnya lagi, yang saat itu juga membuat Shanika merasa semakin takut sekaligus yakin kalau Elvan sudah berbuat sangat buruk kepada dirinya.


“Ugh! Aku tidak akan memaafkannya!” ucap Shanika sambil berusaha untuk bangkit dari jatuhnya dan segera mengambil kotak tisu berbahan kaca yang ada di dekat wastafel.


Walaupun sudah sangat lemah, Shanika tetap bertekad untuk melawan dan benar saja, pada saat pria-pria di depan pintu toilet memasuki toilet, dengan cepat Shanika memukul kepala salah satu pria dengan kotak tisu “Prak!” hingga pecah menjadi serpihan kaca.


“Argh! Sial,” saat salah satu pria itu menjerit kesakitan, Shanika bergegas untuk berlari. Tapi, tiba-tiba pria yang satunya lagi berhasil menahan Shanika dengan manarik rambutnya “Akh!” jerit Shanika saat rambutnya dijambak dengan sangat kasar.


“Mau pergi kemana, hah?!” bentak pria yang menjambak rambut Shanika “Ukh! Lepaskan!” pinta Shanika sambil terus meronta-ronta dan menahan rasa sakit.


Shanika yang kalah dengan tenaga pria-pria itu pun pingsan dalam seketika saat leher bagian belakangnya dipukul “Akh sial! Dia kuat sekali! Kenapa Elvan tiba-tiba memilih wanita seperti ini sih?” keluh salah satu pria yang menopang tubuh Shanika hingga keluar dari dalam Cafe.


Tapi, tepat sebelum mereka berhasil membawa Shanika pergi dengan mobil mereka. Tiba-tiba mereka dihadang oleh seorang pria berpakaian serba hitam yang entah muncul dari mana di jalanan sepi dan pada saat mereka turun dari mobil untuk marah kepada pria itu, detik itu juga seluruh kaca mobil yang mereka naiki pecah dan ban mobil mereka meledak, yang seketika itu juga membuat pria-pria yang menahan Shanika ketakutan dan segera kabur.


Sedangkan Shanika yang masih pingsan di dalam mobil mulai membuka matanya secara perlahan dan secara samar melihat wajah Xyan, yang saat ini sedang berusaha mengeluarkannya dari dalam mobil “Xyan?” gumam Shanika sebelum ia kembali pingsan.

__ADS_1


__ADS_2