
Sejak hari pemeriksaan tubuh Ayahnya itu, keesokan paginya Ayah Shanika harus melakukan latihan berjalan dan melakukan banyak gerakan olahraga untuk melatih ototnya lagi ditemani oleh para perawat pria di rumah sakit, dengan prosedur kesehatan yang sangat ketat.
Sedangkan Ibunya Shanika yang masih mengalami Koma harus tetap dijaga kondisi tubuhnya secara bergantian dan karena hari ini Shanika harus masuk kuliah, mau tidak mau Neneknya Shanika yang menjaga Ibunya di rumah sakit sepanjang hari.
“Jangan khawatir dan belajarlah dengan rajin, Nenek akan menjaga Ibunya dengan sebaik mungkin!” isi pesan yang dikirim oleh Nenek kepada Shanika sebelum Shanika berangkat kuliah.
Setelah membaca pesan dari Neneknya, Shanika pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil taksi yang sudah ia pesan dan tiba-tiba teringat dengan Xyan, yang sejak kemarin sore tidak bertemu dengannya “Apa aku sudah terlalu menekannya ya?” pikir Shanika dengan perasaan khawatirnya kepada Xyan.
Tidak lama kemudian, sesampainya Shanika di kampus kesayangannya itu. Ia langsung bergegas untuk memasuki kelas pertamanya dan duduk di bangku dekat jendela sambil mengeluarkan buku catatannya.
Dengan serius Shanika membaca buku catatannya, walaupun sesekali fokusnya beralih ke hal lain karena beberapa mahasiswa di dalam kelas terus bergosip mengenai kondisi menyedihkan senior tampan mereka yaitu Elvan.
Hingga beberapa menit kemudian, fokus Shanika kembali teralihkan saat tiba-tiba seorang mahasiswa wanita berkata “Tapi, hari ini… entah kenapa suasana di sini terasa nyaman ya? atau hanya perasaanku saja?” dengan ekspresi bingungnya kepada teman-temannya.
“Tidak, aku juga merasa begitu! Biasanya kan kita terus kedinginan bahkan sampai merinding,” balas salah satu temannya sambil tertawa pelan.
Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan mereka, detik itu juga langsung menolehkan kepalanya ke setiap sudut ruangan kelas dan ia pun baru menyadari kalau sejak kedatangannya di kampus, ia sama sekali belum melihat hantu berlalu lalang ataupun asap hitam yang biasanya memenuhi langit-langit kelasnya.
“Hm? Aku tidak tahu… ini merupakan pertanda baik atau buruk ya?” batin Shanika dengan perasaan bingungnya sambil menolehkan kepalanya keluar jendela yang berada tepat di samping tubuhnya “Hari ini memang sangat damai,” gumam Shanika dengan suara yang sangat pelan.
__ADS_1
***
Beberapa jam berlalu dan kelas terakhir yang harus Shanika hadiri sudah selesai juga, yang seketika itu juga membuat Shanika segera merapikan semua barang bawaannya ke dalam tas dan bergegas untuk pulang.
Tapi, tepat pada saat Shanika berjalan di lorong kelas, saat itu juga ia melihat teman dekatnya Nadine yang sudah lama marah kepadanya dan tidak seperti dirinya yang selalu sendirian, saat ini Shanika melihat Nadine yang sedang berbincang dengan banyak teman baru.
“Syukurlah,” ucap Shanika sambil melanjutkan langkah kakinya untuk pergi keluar dari gedung kampusnya itu.
Sesampainya Shanika di luar gedung kampus, tiba-tiba Shanika mendengar suara ramai dari gerombolan pria “Wah, mantap! Cantik sekali! Bentuk tubuhnya juga sangat tipeku,” dengan nada bicara mereka yang penuh semangat dan sedikit terdengar menyebalkan bagi Shanika.
“Apa-apaan sih mereka?” gerutu Shanika yang ikut menolehkan kepalanya ke arah wanita yang gerombolan pria itu maksud.
Dan benar saja, pada saat Shanika melihat wanita yang mereka maksud, saat itu juga Shanika merasa terpesona “Uwa, kecantikannya diluar nalar manusia!” ucap Shanika dengan reflek, bahkan hampir semua orang di sekitar kampus jadi memperhatikan wanita itu dengan perasaan kagum.
Karena merasa ketahuan sudah menatap wanita itu dalam waktu yang cukup lama, dengan cepat Shanika melanjutkan langkah kakinya. Tapi, tiba-tiba wanita itu memanggil dan menunjuknya “Kamu yang di sana,” yang seketika itu juga membuat langkah kaki Shanika terhenti secara tiba-tiba.
Dengan perasaan ragunya, Shanika menolehkan kepalanya ke arah wanita cantik itu sambil bertanya “Kamu… memanggilku?” dengan wajah bingungnya yang terlihat aneh.
“Ya, memangnya siapa lagi kalau bukan kamu,” balas wanita cantik itu sambil berjalan mendekati Shanika dengan langkah ringannya.
__ADS_1
“Ya? a-apa kamu mengenalku?” tanya Shanika lagi sambil menunjuk dirinya sendiri dihadapan wanita cantik itu.
Wanita cantik yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung memasang senyumannya, setelah itu kembali berkata “Tentu saja aku mengenalmu! Karena belakang ini kamu sangat populer,” dengan nada bicaranya yang penuh penekanan dan terasa sedikit mengintimidasi bagi Shanika.
“Maaf. Tapi, aku bukan tipe orang yang populer tuh,” balas Shanika dengan tatapan bingung dan perasaan anehnya kepada wanita dihadapannya itu “Sepertinya kamu sudah salah orang,” sambung Shanika sambil menundukkan kepalanya sekilas.
“Hm? Aku tidak mungkin salah orang,” balas wanita cantik dihadapan Shanika dengan tatapan matanya yang semakin lekat dan intens kepada Shanika.
Setelah bicara singkat dengan wanita cantik itu, Shanika pun berpamitan dengan sopan dan membalik tubuhnya untuk melangkah pergi. Tapi, sebelum Shanika melangkah jauh, tiba-tiba wanita cantik itu kembali berkata “Berhati-hatilah dengan genangan air,” yang seketika itu juga sempat membuat Shanika merasa semakin aneh dengan wanita cantik itu.
“Abaikan saja… dia wanita yang aneh,” gumam Shanika kepada dirinya sendiri, sambil menggelengkan kepalanya dan terus melanjutkan langkah kakinya tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun ke belakang.
Tapi, tidak sesuai dengan dugaannya. Perkataan wanita cantik yang Shanika abaikan tiba-tiba benar terjadi, karena pada saat Shanika melihat genangan air tepat di jalan biasanya ia menunggu taksi, saat itu juga ada motor yang mengebut dengan sangat kencang dan membuat genangan air di jalan membasahi pakaiannya.
“Akh?!” kaget Shanika yang dengan reflek langsung melangkah mundur sambil melihat pakaiannya yang basah sekaligus juga kotor karena genangan air.
Dan detik itu juga, Shanika langsung teringat dengan perkataan wanita cantik yang sebelumnya ia abaikan “Ah… yang benar saja!” gerutu Shanika sambil berusaha memperbaiki pakaiannya yang basah dengan kedua tangannya.
“Ck, sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa aku merasa dia seperti sedang mengutukku?!” gerutu Shanika lagi sambil melirikkan tatapan tajam penuh amarahnya ke arah gedung kampusnya yang ada di belakangnya.
__ADS_1
Tanpa mau berlama-lama lagi, Shanika segera mencari taksi untuknya pulang dan dengan perasaan kesalnya ia segera masuk ke dalam mobil taksi, sambil terus menerus meminta maaf kepada supir taksinya, karena ia jadi mengotori mobil taksi yang saat ini ia tumpangi.
“Ugh, menyebalkan sekali,” batin Shanika sepanjang di perjalanan menuju gedung Apartementnya.