Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Memberikan Bantuan


__ADS_3

Sekitar sepuluh menit kemudian, Xyan yang sudah selesai membersihkan noda darah di lantai Apartementnya kembali menatap Shanika sambil berkata “Obati lukanya dengan benar, dengan begitu… lukanya tidak akan meninggalkan bekas,” dengan wajah dan nada bicaranya yang sangat serius.


“Hm… Apa kamu tidak bisa menyembuhkan lukaku ini dengan kekuatanmu?” tanya Shanika dengan wajah polosnya, yang seketika itu juga membuat Xyan cukup terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang barusan ia dengar sendiri.


“Tentu saja, tidak bisa!” jawab Xyan dengan sangat tegas.


“Kenapa?!” tanya Shanika lagi dengan kedua bola matanya yang melebar.


Xyan yang merasa cukup lelah dengan pertanyaan Shanika itu pun kembali menghela nafas panjangnya dengan kasar, setelah itu kembali membuka mulutnya untuk bicara “Kamu benar-benar deh… mulai hari ini kamu harus memahami konsep Iblis dulu,” ucap Xyan sambil merapikan isi kotak obat yang ada didekat Shanika.


“Konsep Iblis?” gumam Shanika dengan ekspresi bingungnya.


“Saat meminta bantuan atau apapun itu kepada Iblis, terkadang manusia harus membuat kontrak atau perjanjian dulu!” sambung Xyan yang berusaha menjelaskan dengan setenang mungkin kepada Shanika, agar wanita dihadapannya itu dapat memahami perkataannya dengan mudah.


“Kontrak? Contohnya?” tanya Shanika lagi sambil terus menatap Xyan dengan lekat.


Untuk beberapa detik Xyan pun terdiam, hingga akhirnya ia kembali berkata “Contohnya seperti… Iblis akan membantumu, dengan syarat... kamu akan memberikan jiwamu kepadanya!” dengan ekspresi dan nada bicaranya yang santai.


“A-apa?! Tapi, selama ini kamu sudah sering membantuku!” panik Shanika sambil bangkit dari duduknya dengan reflek sambil berusaha menahan rasa nyeri disekitar kakinya.


“Ya, aku memang sudah terlalu baik kepadamu!” balas Xyan dengan tatapan matanya yang menyipit dan menajam kepada Shanika yang saat ini berdiri tepat dihadapannya.


Shanika yang mendengar balasan dari Xyan itu pun langsung menundukkan kepalanya dan menghela nafasnya yang terasa sangat berat, setelah itu secara tiba-tiiba Shanika teringat dengan arwah pria muda yang sebelumnya sempat mengejarnya di depan gedung Apartement “Ah, soal hantu pria yang aku temui di depan gedung Apartement. Kenapa kamu bilang… kalau dia belum mati?” tanya Shanika dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


“Karena dia memang belum mati, sepertinya dia mengalami mati otak!” jawab Xyan sambil menyimpan kembali kotak obatnya ke dalam laci meja yang tidak jauh dari tempat Shanika berdiri.


“Lalu… kenapa dia mengejarku? Apa dia ingin melukaiku?” tanya Shanika lagi dengan tatapan khawatirnya.


“Terkadang… mereka yang bertemu dengan manusia sepertimu hanya ingin diakui keberadaannya atau meminta bantuan. Asal kamu tahu saja, tidak semua dari makhluk tak kasat mata itu jahat! Jadi, jangan berlebihan menilai mereka,” jawab Xyan panjang lebar.


Yang seketika itu juga membuat Shanika menganggukkan kepalanya sambil bergumam “Meminta bantuan, ya?” dengan wajah seriusnya.


“Hei, kamu mendengarkan perkataanku, kan?” tanya Xyan sambil mengibaskan tangannya kepada Shanika yang sempat terhanyut dalam pikirannya sendiri.


“Ya! Aku dengar!” jawab Shanika dengan senyuman lebarnya.


“Aku peringatkan! Jangan pernah berpikiran macam-macam,” ancam Xyan sambil menunjuk wajah Shanika dengan jari telunjuknya sambil terus menatap Shanika dengan tatapan tajamnya “Ck! Macam-macam apanya sih? Sudahlah… aku mau pulang ke Apartementku sendiri saja,” balas Shanika tanpa merasa takut sedikitpun, sambil


mengambil tas selempangnya yang masih tergelatak di atas sofa.


Setelah beberapa detik menyentuh pergelangan tangan kanan Shanika, Xyan pun mengangkat kedua tangannya dan dapat dengan jelas Shanika melihat benang berwarna putih melingkari pergelangan tangan kanannya itu “Benang apa ini?” tanya Shanika lagi.


“Mulai sekarang, jika ada makhluk tak kasat mata atau hantu yang berusaha menyentuhmu… mereka akan merasa kesakitan, seperti tersengat listrik.” Jawab Xyan yang seketika itu juga membuat Shanika merasa jauh lebih lega “Tapi, dengan satu syarat! Benang ini tidak boleh putus,” sambung Xyan lagi.


“Jika benangnya putus, kamu bisa membuatnya lagi!” balas Shanika dengan reflek.


“Tidak semudah itu!” balas Xyan dengan reflek juga “Oh, maafkan aku.” Gumam Shanika dengan senyuman tipisnya.

__ADS_1


***


Dengan perasaan senangnya Shanika pun segera meninggalkan Apartement Xyan, sedangkan Xyan yang ingin segera istirahat saat itu juga menutup pintu Apartementnya. Tapi, tiba-tiba ia mendengar suara anak buahnya yang bukan lain adalah Gavin dari belakang tubuhnya.


“Apa tuan tidak terlalu berlebihan dalam menjaga wanita itu?” tanya Gavin yang seketika itu juga membuat Xyan menolehkan kepalanya dan membalas tatapan Gavin dengan lekat.


“Tidak seperti wanita yang memiliki mata pengantin sebelumnya. Keinginannya untuk tetap hidup sangatlah besar!” jawab Xyan sambil melangkahkan kakinya untuk melewati Gavin.


Sedangkan Gavin yang mendengar perkataan Xyan, entah kenapa merasakan getaran yang berbeda dari kebiasaan tuannya itu. Yang seketika itu juga membuat Gavin berpikir kalau Xyan memiliki perasaan khusus kepada Shanika.


“Tapi, apa tuan sudah memberitahunya? Kalau gangguan yang ia rasakan akan semakin meningkat dan berbahaya?” tanya Gavin lagi, karena saat manusia semakin memahami dunia tak kasat mata, hal-hal berbahaya akan semakin mendekatinya.


“Iblis lain mungkin juga akan segera menjadikannya target,” sambung Gavin dengan tatapan khawatirnya kepada Xyan.


“Aku sudah pernah bilang, kan? Aku tidak akan pernah memaksa manusia atau wanita mana pun untuk datang kepadaku lagi! Jadi, kita tunggu saja… sampai dia ingin datang dengan sendirinya,” balas Xyan dengan nada bicaranya yang sangat santai, sambil menuang air dingin ke dalam gelas minumnya.


Yang seketika itu juga membuat Gavin kembali pasrah dan mau tidak mau segera menyetujui perkataan Tuannya, tanpa banyak mengajukan pertanyaan lagi.


***


Dan keesokan harinya, Shanika yang baru terbangun dari tidurnya merasa sangat percaya diri dan segar, karena benang putih yang ada dipergelangan tangannya itu. Bahkan tanpa sadar, Shanika jadi terus menerus menatap pergelangan tangannya itu untuk memastikan kalau benang putih tetap aman.


Tanpa berlama-lama lagi Shanika pun segera merapikan dirinya dan mengambil tasnya untuk pergi kuliah. Tapi, dalam beberapa menit tujuannya berubah, karena tiba-tiba ia melihat arwah pria muda yang kemarin sempat mengejarnya sedang duduk sendirian di depan pagar gedung Apartementnya dalam kondisi yang masih bersimbah darah.

__ADS_1


Walaupun sempat merasa ragu, akhirnya Shanika memberanikan dirinya untuk mendekati arwah pria muda itu dan berkata “Jangan bilang, kamu sedang menungguku!” dengan suaranya yang pelan dan pandangan matanya yang sesekali melihat ke arah lain, agar dirinya tidak dianggap gila oleh orang sekitar.


Sedangkan arwah pria muda yang mendengar perkataan Shanika itu langsung bangkit dari duduknya dan berkata “Hanya kamu yang bisa aku andalkan!” sambil memasang senyuman tipisnya dan tatapan lekatnya yang penuh harap kepada Shanika, yang saat itu juga membuat Shanika merasa iba kepada kondisi arwah dihadapannya.


__ADS_2