Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Getaran Aneh di Hatiku


__ADS_3

Karena perasaan takutnya yang semakin meluap, Shanika terus berusaha mencari cara untuk kembali ke dunia nyata. Tapi, lagi-lagi Shanika tersentak saat tiba-tiba sosok hantu wanita dihadapannya itu tertawa cekikikan sambil menundukkan kepalanya.


“Kamu tidak akan bisa pergi dari sini… sebelum berjanji untuk menolongku!” ucap hantu wanita itu dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar dan aura disekitarnya menjadi semakin gelap.


“Kamu tidak bisa memaksa seperti ini,” balas Shanika sambil berusaha menyembunyikan perasaan takutnya dan secara perlahan mulai melirikkan matanya untuk melihat benang putih di pergelangan tangan kanannya yang entah kenapa terus memancarkan cahaya.


Sosok hantu wanita itu pun kembali tertawa dengan suara yang semakin aneh, sedangkan Shanika yang masih menatap benang putih dipergelangan tangan kanannya, secara samar mendengar suara Xyan yang memanggil namanya.


Dan saat Shanika dengan reflek menyebutkan nama “Xyan?” saat itu juga tubuhnya terasa seperti tertarik ke belakang “Ukh!” yang seketika itu juga membuat Shanika tersadar dari pingsannya dan kembali berada di dalam kamarnya dalam posisi terlentang di lantai.


“Hah?! Hah… syukurlah,” ucap Shanika sambil terduduk dan mengusap dadanya sendiri dengan perasaan leganya.


Beberapa detik kemudian, Shanika pun dikejutkan dengan suara gedoran pintu Apartementnya “Duk-duk-duk!” yang diselingi juga dengan suara bel Apartementnya “Ting-Nung!” secara bergantian dan berkali-kali, setelah itu juga disusul dengan suara Xyan yang terdengar sangat panik memanggil namanya dari balik pintu masuk Apartementnya.


“I-iya… tunggu sebentar,” ucap Shanika sambil berusaha bangkit dari duduknya dan menahan rasa sakit dibagian belakang kepalanya yang sempat terbentur lantai.


Dengan langkahnya yang tertatih-tatih, akhirnya Shanika berhasil membukakan pintu Apartementnya untuk Xyan yang seketika itu juga membuat Xyan merasa lega dan segera memeriksa kondisi Shanika “Kamu baik-baik saja, kan? Apa hantu gila itu mencekikmu?” tanya Xyan sambil memeriksa tangan hingga leher Shanika dengan serius.


“Tidak… hantu itu bahkan tidak sampai menyentuhku,” jawab Shanika dengan tatapan bingungnya, karena reaksi berlebihan dari Xyan kepada dirinya.


“Hah, syukurlah! Untung saja kamu segera menyebutkan namaku… kalau tidak, dia akan menahan jiwamu di dunia lain!” balas Xyan dengan nafasnya yang terengah-engah dan ekspresi khawatirnya kepada Shanika.

__ADS_1


Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan Xyan, saat itu juga langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya dan kembali berkata “Sa-sampai seburuk itu?!” dengan ekspresi tidak percayanya.


“Ya, karena itu aku bilang kalau hantu bermata merah seperti dia sangat berbahaya bagimu!” jawab Xyan sambil berusaha menenangkan dirinya yang masih terlihat kelelahan “Tapi, sekarang tenanglah. Hantu itu sudah pergi dari sini,” sambung Xyan saat ia kembali melihat ekspresi takut dari wajah Shanika.


Setelah bicara panjang lebar, Xyan pun melangkahkan kakinya untuk melewati Shanika dan masuk ke dalam Apartement Shanika sambil melepas sepatunya, sambil berkata “Sekarang… berikan aku air! Aku sangat kehausan,” pinta Xyan sambil berjalan ke arah sofa dan duduk di atas sofa dengan santainya.


Shanika yang melihat tingkah Xyan itu pun segera menutup pintu Apartementnya kembali dan mengambilkan air dingin untuk Xyan sambil berkata “Terima kasih, sepertinya… gara-gara aku, kamu sampai berlarian dan kehabisan energi,” dengan nada bicaranya yang penuh rasa syukur, sambil berjalan mendekati Xyan.


“Ya, baguslah kalau kamu tahu aku sangat kewalahan!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang ketus, sambil mengambil gelas berisikan air dingin dari tangan kanan Shanika setelah itu langsung meneguk air dinginnya hingga habis dengan sangat cepat.


“Ck! Padahal aku tidak pernah memintamu untuk menolongku,” gerutu Shanika yang seketika itu juga membuat Xyan merasa tidak enak dengan perkataannya sendiri dan baru menyadari kalau sikapnya sudah sangat berlebihan.


“Apa maksudmu?” balas Xyan dengan tatapan bingungnya.


“Hantu itu… sempat meminta bantuanku! Sepertinya, jika aku tidak membantunya… dia akan terus menerorku,” sambung Shanika dengan perasaan serba salahnya, sambil mengusap kedua tangannya sendiri secara bergantian karena merasa sangat gugup.


“Kamu tidak perlu melakukan apapun. Bagaimana pun juga, manusia tidak boleh ikut campur dengan urusan makhluk lain,” balas Xyan lagi dengan nada bicaranya yang sangat tegas.


Tapi, Shanika yang masih kepikiran dengan hantu wanita itu lagi-lagi berkata “Barusan kan aku bilang, kalau aku tidak membantu… dia bisa terus menerorku!” dengan nada bicaranya yang penuh penekanan disetiap katanya.


“Jadi, bagaimana? kamu akan membantunya untuk membunuh?!” tanya Xyan dengan tatapan dan nada bicaranya yang sangat serius kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan kehabisan kata-katanya.

__ADS_1


Xyan yang melihat Shanika terdiam itu pun langsung menghela nafas panjangnya dengan kasar, setelah itu kembali berkata “Akan aku pastikan hantu itu tidak berani mendekatimu lagi. Jadi, jangan khawatir,” dengan nada bicaranya yang lebih memelan daripada sebelumnya.


Shanika pun menganggukkan kepalanya dan beberapa detik kemudian kembali mengajukan pertanyaan kepada Xyan “Tapi… menurutmu, kenapa hantu seperti dia mau membunuh manusia?” dengan tatapan bingungnya kepada Xyan.


“Sudah pasti karena dendam, kan? Aku yakin dia punya ceritanya sendiri. Tapi, sudahlah… abaikan saja dia,” pinta Xyan dengan tatapan lekatnya lagi kepada Shanika, karena ia tahu kalau saat ini Shanika mempunyai rasa penasaran yang sangat tinggi.


“I-iya, aku mengerti!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang agak meninggi, sambil mengambil kembali gelas kosong yang ada di tangan Xyan setelah itu langsung bergegas bangkit dari duduknya dan kembali berkata “Karena sudah aman, kamu sudah boleh kembali!” dengan wajah seriusnya.


Sedangkan Xyan yang mendengar perkataan Shanika langsung tersentak dan tidak habis pikir dengan apa yang barusan ia dengar “Kamu sedang mengusirku?” keluh Xyan dengan tatapan tajamnya.


“Hm? Kenapa kamu berpikir begitu? Ini kan sudah malam… tidak baik berduaan dengan wanita muda sepertiku!” balas Shanika dengan nada bicaranya yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Xyan.


“Hah! Apa-apaan itu? Kamu kira… kamu itu type-ku?” keluh Xyan sambil bangkit dari duduknya dan menatap Shanika dengan tatapan merendahkannya, yang seketika itu juga entah kenapa membuat Shanika merasa tersinggung.


Dengan perasaan kesalnya, Shanika pun melangkahkan kakinya untuk berdiri tepat dihadapan Xyan sambil kembali berkata “Aku yakin kamu menyukaiku!” dengan tatapan matanya yang penuh percaya diri.


“Apa?” gumam Xyan sambil mengerutkan dahinya.


“Kalau tidak, untuk apa kamu sampai berlari ke sini dan memastikan kondisiku?” sambung Shanika dengan tatapan matanya yang semakin intens kepada Xyan, seakan sedang menantang Xyan dalam adu pandang.


Xyan yang tidak mau kalah, saat itu juga membalas tatapan mata Shanika dengan lebih intens dan lekat lagi, yang secara perlahan membuat Shanika merasakan getaran aneh di dalam hatinya dan kebingungan sendiri dengan perasaannya kepada Xyan.

__ADS_1


__ADS_2