Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Perpisahan Mungkin Akan Terjadi


__ADS_3

Dan sekitar tiga puluh menit kemudian, dengan penuh perhatian Xyan mengajak Shanika untuk makan bersama dengannya di meja makan dan detik itu juga Shanika teringat dengan perkataan hantu gaun merah yang sempat menginginkan matanya “Kenapa? kenapa hantu itu menginginkan mataku?” pikir Shanika dengan wajah murungnya.


Sedangkan Xyan yang sudah selesai menyiapkan makanan untuk Shanika dan duduk tepat dihadapan Shanika langsung memasang ekspresi bingungnya, karena Shanika tidak kunjung makan juga “Kenapa diam saja? ayo dimakan, sebelum semuanya dingin,” pinta Xyan sambil meletakkan sendok di tangan kanan Shanika.


“Oya, aku lupa memakaikan benang putih itu lagi,” sambung Xyan saat ia melihat pergelangan tangan kanan Shanika dan tanpa banyak berpikir, Xyan langsung menggenggam pergelangan tangan kanan Shanika selama beberapa detik dan saat ia melepaskannya, benang putih pun kembali terikat di pergelangan tangan Shanika.


“Ah, terima kasih,” balas Shanika saat ia melihat benang putih yang selama ini dapat melindunginya kembali terpasang di pergelangan tangannya.


Setelah mendengar ucapan terima kasih dari Shanika, Xyan pun menunjukkan senyumannya dan kembali berkata “Sepertinya ada yang ingin kamu tanyakan kepadaku, ya?” yang seketika itu juga membuat Shanika dengan reflek membalas tatapan mata Xyan.


“Apa? Tanyakan saja,” sambung Xyan sambil terus menatap Shanika dengan sangat lekat.


“Eh… menanyakan,” gumam Shanika dengan perasaan ragunya dan detik itu juga ia kembali teringat dengan perkataan hantu bergaun merah yang mengatakan kalau dirinya adalah pemilik dari mata pengantin Iblis “Apa maksudnya dari mata pengantin Iblis… haruskah aku menanyakan hal itu kepada Xyan?” batin Shanika dengan perasaan ragunya lagi.


Xyan yang melihat ekspresi serius dari wajah Shanika itu pun kembali mengajukan pertanyaan “Shanika? Kenapa melamun?” dengan tatapan bingungnya, yang seketika itu juga membuat Shanika kembali berkata “Ah, aku baru ingat! A-ada yang ingin aku tanyakan kepadamu,” dengan nada bicaranya yang terdengar agak canggung dan


gugup.


“Apa?” tanya Xyan sambil menunjukkan senyumannya lagi kepada Shanika.


“Hm… mata… mataku ini,” ucap Shanika dengan suara yang sangat pelan, yang detik itu juga membuat Xyan mengerutkan dahinya dihadapan Shanika.

__ADS_1


“Ah, maksudku! Si-siapa hantu wanita bergaun merah itu? Kenapa dia bisa menjadi hantu penunggu tanah di Kampusku?” tanya Shanika dengan reflek dan ucapannya yang sangat cepat.


Xyan yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung menarik nafasnya dan kembali berkata “Ceritanya dulu cukup terkenal,” dengan nada bicaranya yang sangat serius kepada Shanika.


“Hantu wanita bergaun merah itu adalah seorang bangsawan kaya raya di masanya, dia memiliki hobi yang sangat mengerikan… seperti melukai diri sendiri atau menyiksa para pelayannya, bahkan dia tega untuk membunuh orang yang tidak mau menurutinya,” sambung Xyan yang seketika itu juga membuat Shanika merasa cukup merinding.


“Awalnya dia bisa sangat berkuasa. Tapi, tiba-tiba hobi mengerikannya itu ketahuan oleh para warga dan sebelum para warga mendatangi rumahnya, ia sudah membantai seluruh pelayan dan melakukan bunuh diri di dalam rumahnya yang mewah,” sambung Xyan lagi dengan nada bicaranya yang penuh penekanan disetiap perkataannya.


Shanika yang serius mendengarkan perkataan Xyan itu pun langsung menelan ludahnya dengan sangat kasar, setelah itu berkata “Jadi… kemarin… aku berhadapan langsung dengan hantu yang sekejam itu?!” tanya Shanika dengan suara yang bergetar dan perasaan takutnya yang kembali muncul lagi.


“Tenanglah, sekarang hantu itu sudah tidak ada lagi,” balas Xyan sambil menggenggam kedua tangan Shanika dengan penuh kasih sayang, yang seketika itu juga berhasil membuat Shanika merasa jauh lebih tenang “Kamu benar,” ucap Shanika sambil menunjukkan senyuman manisnya kepada Xyan.


Setelah menceritakan kisah hantu wanita bergaun merah, Xyan pun kembali meminta kepada Shanika untuk makan dan menghabiskan semua makanan sehat yang sudah ia buatkan secara perlahan-lahan.


***


Keesokan harinya, saat Shanika sudah merasa jauh lebih baik dengan kondisi tubuhnya, saat itu juga ia bergegas untuk pergi ke Kampusnya dan sesampainya di gedung kampusnya, Shanika merasakan aura di seluruh gedung kampusnya itu benar-benar sudah sangat berubah dan jauh lebih nyaman daripada sebelumnya.


“Oya, aku harus menemui Dosen!” panik Shanika saat ia kembali teringat dengan tujuan dari kedatangannya ke kampus hari ini dan tanpa banyak berpikir lagi, Shanika segera berlari menaiki tangga dan memasuki ruangan Dosen dengan perasaan khawatirnya.


Tidak lama kemudian, saat Shanika berhasil berhadapan langsung dengan Dosen salah satu mata kuliahnya ia langsung meminta atau memohon perpanjang waktu pengumpulan tugasnya dan dengan ekspresi serius, Dosen dihadapan Shanika berkata “Baiklah, waktunya diperpanjang satu hari saja!” yang seketika itu juga membuat Shanika kembali ceria.

__ADS_1


“Terima kasih, pak!” balas Shanika sambil menundukkan kepalanya secara berkali-kali dihadapan Dosennya itu.


“Kamu juga sudah beberapa kali tidak mengikuti kelas saya, kan? kalau begini terus bisa tidak saya luluskan lho,” kata Dosen dihadapan Shanika itu lagi, yang saat itu juga membuat Shanika merasa tidak enak “Maafkan saya, pak. Tidak akan saya ulangi lagi,” balas Shanika dengan nada bicaranya yang penuh dengan sopan santun kepada Dosennya.


Sekitar lima menit kemudian, Shanika pun melangkah keluar dari dalam ruangan Dosennya dan dengan nafasnya yang berat, Shanika segera melanjutkan langkah kakinya untuk memasuki toilet kamar mandinya.


Dan saat kamar mandi itu sepi dari manusia, saat itu juga Shanika merasakan aura kedatangan hantu wanita berwajah pucat dan dengan reflek hantu itu berkata “Terima kasih, Shanika! Karena kamu… aku bisa kabur dengan selamat dari dunia lain itu!” sambil menunjukkan ekspresi cerianya kepada Shanika.


“Ya, syukurlah,” balas Shanika sambil membasuh tangannya di wastafel.


“Oya… Tapi, kenapa kamu bisa kenal dengan pria tampan, ah maksudku… iblis tampan itu?” tanya hantu wanita berwajah pucat itu dengan tatapan lekatnya kepada Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika berkata “Hm... kami bertemu secara kebetulan saja,” jawab Shanika dengan senyuman tipisnya.


Hantu wanita berwajah pucat yang mendengar perkataan Shanika itu pun langsung mengerutkan dahinya dan kembali berkata “Kebetulan? Kamu percaya kalau di dunia ini ada yang namanya kebetulan?” dengan nada bicaranya yang penuh penekanan kepada Shanika, yang saat itu juga membuat Shanika terdiam dan memikirkan


hubungan dirinya dengan Xyan.


“Apa lagi matamu itu! Pasti ada hubungan khususnya dengan Iblis tampan itu. Iya, kan?” sambung hantu wanita berwajah pucat itu lagi dengan wajah seriusnya.


“Kalau soal itu,” gumam Shanika dengan perasaan ragu dan bingungnya.


“Coba tanyakan langsung saja kepadanya! Lagipula… iblis tampan itu terlihat seperti sangat menyayangimu,” ucap hantu wanita berwajah pucat itu yang dengan sengaja memotong perkataan Shanika dengan cepat.

__ADS_1


Tapi, detik itu juga Shanika berpikir kalau sepertinya akan lebih baik jika dia tidak mengetahui apapun dari Xyan, karena jika dia mengetahui mengenai hubungan atau asal usul matanya saat ini “Mungkin aku dan Xyan tidak akan bisa terus bersama,” batin Shanika dengan perasaan takutnya.


__ADS_2