Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Bantuan dan Penolakan Xyan


__ADS_3

Secara perlahan-lahan tubuh Shanika yang kehilangan tenaga kembali terasa segar dan Shanika yang kehilangan kesadarannya, akhirnya mulai membuka matanya. Detik itu juga, Shanika pun segera melihat ke setiap sudut ruangan dan memastikan bahwa dirinya sudah aman.


“Ah! Semua yang aku lihat itu pasti hanya mimpi!” ucap Shanika sambil mengusap wajahnya sendiri dan terduduk dari tidurnya.


Tidak lama kemudian, Shanika dikagetkan dengan interior ruangan yang sama sekali tidak ia kenal “A-aku ada dimana?!” ucap Shanika dengan wajah paniknya dan ia semakin panik lagi, saat tiba-tiba mendengar suara pria “Kamu sudah bangun,” yang seketika itu juga membuat Shanika menjerit dan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.


“Kya! Siapa?!” jerit Shanika sambil menarik selimut yang ada dihadapannya sampai menutupi sebagian wajahnya.


“Tenanglah, aku bukan orang jahat!” balas seorang pria dari kejauhan dan saat Shanika semakin memfokuskan tatapannya, akhirnya ia mengenali kalau pria yang ia lihat itu adalah Xyan yang merupakan tetangganya di lantai atas.


“Ke-kenapa?!” tanya Shanika dengan tatapan bingungnya ke arah Xyan.


Dan dengan santainya Xyan berjalan mendekati Shanika sambil membawa segelas air mineral, setelah itu berkata “Kamu jatuh pingsan. Jadi, aku terpaksa membawamu ke sini. Tenang saja, aku tidak melakukan hal buruk sedikitpun kepadamu,” kata Xyan yang berusaha menenangkan Shanika yang terlihat sangat takut sekaligus bingung di matanya.


Shanika yang memahami maksud baik dari Xyan itu pun menganggukkan kepalanya dan segera menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Tapi, sebelum ia berhasil mengangkat tubuhnya, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit “Ugh, kepalaku sakit sekali,” keluh Shanika sambil memegang bagian kepala sebelah kanannya yang terasa nyeri.


“Ah! Maafkan aku, saat menggendongmu ke dalam lift… bagian kanan kepalamu sempat terbentur pintu,” ucap Xyan dengan perasaan bersalahnya, yang seketika itu juga membuat Shanika dengan reflek melirikkan tatapan tajamnya.


“Hah… ya setidaknya kamu sudah berusaha membantuku!” balas Shanika sambil berusaha menenangkan emosinya, saat ia mengingat kebaikan Xyan yang sudah ingin menolongnya.


Tanpa banyak bicara, Xyan pun menyodorkan gelas yang berisikan air mineral kepada Shanika dan lagi-lagi Shanika melirikkan tatapan tajamnya “Ini hanya air biasa! Aku tidak meletakkan obat apapun! Jadi, minumlah.” Ucap Xyan setelah melihat perilaku super waspada yang ditunjukkan oleh Shanika kepadanya.

__ADS_1


Walaupun sempat ragu, Shanika pun menerima gelas yang diberikan oleh Xyan dan meneguk air mineral di dalam gelas itu secara perlahan-lahan. Tapi, belum sampai Shanika selesai menghabiskan air mineralnya tiba-tiba Xyan berkata “Syukurlah kamu tidak sampai kehilangan akal sehatmu,” yang seketika itu juga membuat Shanika tersedak.


“Uhuk-ukh! A-apa katamu?” tanya Shanika dengan kedua bola matanya yang melebar kepada Xyan yang saat ini sedang berdiri di samping tempat tidurnya.


“Sudah aku pastikan kalau sejak kemarin malam, kamu tidak bisa istirahat dengan benar karena terus merasa diganggu dan siang ini… Energimu terus terserap hingga kamu jatuh pingsan, pasti karena kamu sempat bertemu dengan sosok makhluk yang kuat!” kata Xyan panjang lebar dengan ekspresi dan nada bicaranya yang sangat


serius.


Sedangkan Shanika yang mendengarkan perkataan Xyan, beberapa detik kemudian mulai memberanikan dirinya untuk bertanya “Jadi, kamu tahu apa yang terjadi padaku saat ini?” dengan tatapan yang sangat lekat.


“Hm, bisa dibilang begitu,” jawab Xyan sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh percaya diri.


Selama beberapa detik Shanika pun terdiam, hingga akhirnya ia kembali berkata “Benar… aku sempat bertemu dengan sosok yang sangat mengerikan! Hm? Kamu hebat sekali! Padahal aku belum menceritakan apapun!” kata Shanika sambil bangkit dari duduknya dan berdiri tepat dihadapan Xyan.


“Untuk sementara?” kaget Shanika dengan perasaan takutnya yang kembali secara mendadak.


“Ya, hanya sementara. Karena bagaimana pun juga kamu harus segera menyesuaikan diri!” balas Xyan dengan nada bicaranya yang penuh penekanan kepada Shanika.


“Ke-kenapa tiba-tiba hidupku jadi tidak normal begini?” gumam Shanika sambil mempererat genggaman kedua tangannya pada gelas yang sempat diberikan oleh Xyan.


Xyan yang melihat ekspresi bingung sekaligus takut dari wajah Shanika, detik itu juga merasa cukup prihatin. Tapi, dalam seketika perasaan prihatinnya kepada Shanika menghilang saat tiba-tiba wanita itu berkata “Ngomong-ngomong… bagaimana kamu bisa memahami hal seaneh ini? Apa… kamu seorang dukun?” tanya Shanika dengan

__ADS_1


wajah polosnya kepada Xyan.


Xyan yang mendengar pertanyaan bodoh dari mulut Shanika itu pun langsung tersentak, bahkan otaknya sempat memberku “Ha! Haha! Du-dukun katamu?!” balas Xyan sambil memasang ekspresi anehnya dihadapan Shanika.


“Kalau bukan dukun apalagi?” tanya Shanika lagi dengan wajah tidak bersalahnya.


Xyan yang tidak habis pikir dengan pertanyaan Shanika, detik itu juga berkata “Keluar!” dan segera mengambil gelas miliknya dari tangan Shanika, setelah itu mulai mendorong tubuh kecil Shanika untuk keluar dari Apartementnya “Akh! Ah tunggu!” panik Shanika yang tiba-tiba diusir keluar oleh Xyan.


Dengan cepat Shanika menahan pintu Apartement Xyan dengan sangat erat sambil berkata “Bagaimana bisa kamu mengusirku seperti ini?! Bagaimana kalau aku sampai bertemu sosok menyeramkan lagi? hm?!” tanya Shanika dengan wajah memelasnya, yang seakan-akan sedang menahan tangisan.


“Bukan urusanku,” jawab Xyan sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Shanika yang terus memegang erat pintu Apartementnya.


“Ah, ayolah! Saat ini hanya kamu yang memahami kondisiku! Jadi, hanya kamu juga yang bisa menolongku!” pinta Shanika sambil terus merengek di depan pintu Apartement Xyan.


“Sudah aku bilang, itu bukan urusanku! Pergi!” balas Xyan saat ia berhasil melepaskan tangan Shanika dari pintu Apartementnya dan dengan cepat langsung menutup pintu Apartementnya dengan sangat kasar dihadapan Shanika yang masih dalam keadaan takut.


“Hm? Hiks, bagaimana ini!” gumam Shanika sambil berusaha menahan air matanya, setelah Xyan menutup pintu Apartementnya.


Sedangkan Xyan yang masih berdiri di balik pintu Apartementnya hanya bisa menarik dan menghebuskan nafasnya berulang kali, setelah itu berkata “Merepotkan sekali, sejak awal seharusnya aku tidak membantunya!” gerutu Xyan dengan ekspresi kesalnya.


“Hah! Apa katanya? Dukun?! Bagaimana bisa penampilan tampan seperti ini menjadi seorang dukun?” sambung Xyan dengan perasaannya yang campur aduk, sambil sesekali mengintip lubang pintu Apartementnya untuk memastikan apa Shanika masih ada di depan pintu Apartementnya atau tidak.

__ADS_1


“Dia sudah kembali ke Apartementnya sendiri, kan?” batin Xyan yang sebenarnya cukup merasa khawatir kepada kondisi Shanika saat ini. Tapi, mau bagaimana pun juga menurut Xyan ada bagusnya jika Shanika bisa mulai membiasakan dirinya dengan kehidupan barunya yang dapat dibilang sedikit tidak normal.


__ADS_2