Mata Pengantin Iblis

Mata Pengantin Iblis
Ingatan Pahit di Masa Lalu


__ADS_3

“Xyan! Aku mohon, hentikan sekarang juga!” pinta Shanika dengan nada bicaranya yang penuh penekanan, sambil berbisik kepada Xyan.


Xyan yang mendengar permintaan Shanika itu pun langsung melirikkan matanya ke sekitar dan benar saja, saat ini ada banyak orang yang sedang memperhatikan dirinya “Lepaskan tanganmu, jangan buat dirimu menjadi tontonan banyak orang,” pinta Shanika lagi sambil berbisik dan menyentuh lengan tangan Xyan sekilas.


Tanpa berlama-lama lagi, Xyan pun menuruti perkataan Shanika untuk melepaska cengkraman tangannya dari kerah pakaian Zoya dan perasaannya menjadi semakin kesal lagi, saat melihat Zoya tersenyum puas seakan baru saja memenangi pertandingan.


“Ah, adikku ini bercandanya memang selalu kasar, ya?” ucap Zoya dengan nada bicara dan ekspresi santainya sambil merapikan kerah pakaiannya dengan kedua tangannya, yang saat itu juga membuat semua orang yang awalnya memperhatikan dirinya dan Xyan segera melangkah pergi.


“Dasar tidak waras!” gerutu Xyan sambil terus berusaha menahan emosinya kepada Zoya yang saat ini masih berdiri di hadapannya.


Beberapa detik kemudian, Zoya pun kembali menolehkan kepalanya ke arah Shanika dan berkata “Coba pertimbangkan saranku yang tadi, dengan begitu… hidupmu akan jauh lebih mudah, Shanika.” Dengan senyuman tipisnya yang dengan sengaja ia tunjukkan kepada Shanika.


“Kalau begitu, sampai jumpa!” sambung Zoya sambil menolehkan kepalanya ke arah Xyan, setelah itu langsung melangkah pergi melewati Xyan dan Shanika dengan wajah cerianya.


Sedangkan Shanika yang mendengar perkataan Zoya, detik itu juga langsung menghela nafasnya dengan kasar dan merasa semakin frustasi “Benar-benar tidak ada cara lain, ya?” pikir Shanika dengan perasaan kacaunya.


“Shanika, kamu baik-baik saja, kan? apa ada yang terluka?” tanya Xyan dengan tiba-tiba sambil berdiri menghadap Shanika dan memegangi kedua pundak Shanika, yang seketika itu juga membuat Shanika bergegas untuk menganggukkan kepalanya “Ah, syukurlah!” sambung Xyan sambil menghela nafas leganya.


Shanika yang melihat ekspresi lega dari wajah Xyan itu pun dengan reflek mengajukan pertanyaan “Apa kamu tidak penasaran, dengan apa yang Kakak tirimu katakan kepadaku?” sambil menatap Xyan dengan sangat lekat.


“Yang penting kamu tidak terluka, itu sudah sangat cukup bagiku,” jawab Xyan sambil menggapai tangan kanan Shanika dan menggenggam tangan itu dengan sangat erat, yang saat itu juga membuat Shanika cukup terkejut.

__ADS_1


“Ke-kenapa tiba-tiba kamu menggenggam tanganku begini?” tanya Shanika dengan ekspresi paniknya, sambil berusaha menutupi perasaan malu sekaligus senangnya karena sentuhan sederhana dari Xyan.


“Agar kamu tidak bisa kabur dariku lagi,” jawab Xyan sambil terseyum lebar kepada Shanika, yang lagi-lagi berhasil membuat Shanika terkejut dan merasa semakin malu dengan kejadian kemarin malam “Ugh, memalukan sekali!” gerutu Shanika sambil mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Xyan.


Xyan yang saat ini sedang memperhatikan ekspresi malu Shanika yang sangat lucu, entah kenapa tiba-tiba merasakan getaran aneh dari tangan kanan Shanika yang ia genggam dan di dalam kepalanya langsung muncul wajah seseorang “Apa… hari ini kamu bertemu dengan Karis lagi?” tanya Xyan dengan nada bicaranya yang


terdengar cukup ragu.


“Karis? Siapa dia?” tanya Shanika dengan ekspresi bingungnya.


“Malaikat maut yang belum lama ini kamu temui di rumah sakit, namanya semasa hidupnya dulu adalah Karis,” jawab Xyan dengan ekspresi wajahnya yang secara mendadak menjadi sangat serius.


Shanika yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung memutar otaknya dan kembali berkata “Iya, tanpa sengaja aku bertemu dengannya lagi. Tapi, kamu mengenalnya semasa hidup sebagai manusia?” tanya Shanika lagi dengan tatapan matanya yang lekat dan penuh rasa penasaran.


“Ya? kamu mau pergi kemana?” tanya Shanika lagi saat tiba-tiba Xyan berjalan pergi meninggalkannya “Xyan?!” panggil Shanika karena Xyan sama sekali tidak menjawab pertanyaannya dan hanya terus melangkahkan kakinya untuk pergi entah kemana.


***


Sekitar satu jam kemudian, sesampainya Xyan di depan salah satu rumah yang sudah tidak layak huni, saat itu juga Xyan melangkahkan kakinya untuk mendekati pagar tua dan tanpa merasa ragu langsung membuka pagar tua dihadapannya itu untuk masuk ke dalam rumah.


Saat Xyan memasuki rumah yang gelap dan penuh debu itu, saat itu juga Xyan mendengar suara langkah kaki dari lantai atas rumah, yang seketika itu juga membuat Xyan segera melanjutkan langkah kakinya untuk menaiki tangga.

__ADS_1


“Sesuai dugaanku, cepat atau lambat kamu akan datang ke sini,” ucap Xyan saat ia melihat seorang pria berpakaian serba hitam sedang melihat-lihat bebarapa foto di dalam bingkai yang sudah sangat usang seorang diri.


Pria berpakaian serba hitam yang bukan lain adalah Karis itu pun langsung menolehkan kepalanya saat mendengar suara Xyan dan dengan ekspresi bingungnya ia berkata “Kamu, sebelumnya kita bertemu di rumah sakit,” sambil menunjuk wajah Xyan.


Xyan yang melihat ekspresi bingung pria dihadapannya itu, beberapa detik kemudian kembali berkata “Kamu pasti bingung… kenapa aura Iblis yang mengincar Shanika, terasa sangat tidak asing bagimu dan kenapa rumah ini terasa seperti terus memanggilmu,” ucap Xyan dengan nada bicara dan ekspresi seriusnya.


Karis yang mendengar perkataan Xyan itu pun langsung mengerutkan dahinya dan hanya bisa terdiam memperhatikan Xyan dengan serius, yang saat itu juga membuat Xyan melangkahkan kakinya untuk semakin dekat kepadanya.


“Awalnya aku tidak mau melakukan ini. Tapi, karena dia terus mengusikku… aku terpaksa harus membalasnya!” ucap Xyan lagi dengan nada bicaranya yang penuh penekanan dan tatapan matanya yang menjadi merah pekat kepada Karis, yang seketika itu juga membuat tubuh Karis terasa sangat kaku dan ia pun langsung jatuh “Bruk!” bertekuk lutut tepat dihadapan Xyan.


Dengan ekspresi paniknya Karis pun mendangakkan kepalanya untuk menatap Xyan sambil berkata “Apa yang kamu lakukan padaku?!” dengan nada bicaranya yang meninggi.


“Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa menjadi kelemahannya, karena itu aku akan membantumu mengingat kembali kehidupan masa lalumu,” jawab Xyan dengan nada bicaranya yang santai sambil mengulurkan tangannya dan mengarahkan telapak tangannya tepat di atas kepala Karis.


Karis yang sama sekali tidak memahami maksud dari perkataan Xyan sejak tadi bertemu itu pun tiba-tiba melihat asap hitam yang keluar dari telapak tangan Xyan dan asap hitam itu mulai mengelilingi kepalanya, bahkan memasuki seisi kepalanya yang seketika itu juga membuat Karis merasa sangat kesakitan seakan ada seseorang


yang sedang meremas otaknya.


Beberapa detik kemudian, Karis yang memejamkan matanya dengan sangat rapat secara samar melihat dirinya sendiri yang sedang bersama dengan orang-orang kesayangannya dan rasa sakit di kepalanya, secara perlahan berubah menjadi rasa sesak di dalam dadanya yang amat sangat menyedihkan.


Karena setelah ia melihat orang-orang kesayangannya, ia juga melihat hidupnya yang hancur karena cintanya “A-apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Karis sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


“Tidak seru jika aku langsung mengembalikan semua ingatanmu, sisanya… coba kamu ingat-ingat sendiri!” ucap Xyan lagi sambil melangkah mundur dari hadapan Karis, setelah itu langsung berjalan pergi meninggalkan Karis yang masih meratapi perasaannya di masa lalunya.


__ADS_2