
***
Sedangkan di tempat lain, Gavin dan beberapa anak buah Xyan yang saat ini sudah membawa Xyan ke dalam salah satu ruang kosong di bagian belakang gedung Rumah Sakit, tanpa berlama-lama lagi segera melakukan ritual hingga malam bertemu malam kembali.
Gavin bahkan merelakan dirinya sendiri untuk terluka dan memberikan tetesan darahnya sepanjang ritual pembukaan portal dunia kegelapan yang saat ini masih ia lakukan. Hingga sekitar tiga puluh menit kemudian dan jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, secara perlahan Gavin dan beberapa anak buah Xyan melihat pusaran hitam yang melayang dihadapannya.
Pusaran hitam itu terlihat semakin besar dan aura mengerikan yang membuat siapa saja merinding dapat Gavin rasakan dengan sangat jelas. Tapi, dengan sekuat tenaganya Gavin berusaha untuk tetap tenang dan tidak merasa terintimidasi.
“Sekarang, kita harus membawa Tuan melewati pusaran hitam itu,” ucap Gavin sambil menolehkan kepalanya ke arah beberapa anak buah Xyan yang sejak kemarin sudah menemaninya melakukan ritual.
“Kamu pegang lengan dan kamu bagian kakinya,” perintah Gavin dengan wajah seriusnya, sambil berjalan mendekati Xyan yang saat ini masih terbaring lemas di atas ranjang rumah sakitnya.
“Baik!” balas semua anak buah Xyan secara bersamaan, sambil berjalan mendekati tubuh Xyan juga seperti Gavin.
Tapi, tepat sebelum mereka menyentuh Xyan. Tiba-tiba mereka semua termasuk juga Gavin tersentak, karena tubuh Xyan mengeluarkan aura hitam yang sangat pekat dari dalam bagian dadanya dan aura hitam itu langsung terhisap ke dalam pusaran hitam atau portal dunia kegelapan dengan begitu cepat.
“Barusan itu apa?!” kaget salah satu anak buah Xyan dengan ekspresi bingungnya.
Gavin yang juga tidak tahu apa yang barusan terjadi kepada Tuannya, lagi-lagi kembali dikejutkan dengan portal dunia kegelapan yang secara tiba-tiba tertutup dengan angin yang sangat kencang “Whuss!!” dan menghilang dalam sekejap.
“Hah?!! Apa yang terjadi?!” panik salah satu anak buah Xyan dari belakang tubuh Gavin.
__ADS_1
“Portalnya menghilang?” gumam Gavin yang juga terkejut dengan apa yang barusan terjadi di depan matanya.
Gavin yang masih tidak mau menyerah, detik itu juga segera mempersiapkan dirinya untuk melakukan ritual pembukaan portalnya lagi, dengan gerakkan tangannya yang sangat tergesa-gesa sambil berkata “Tidak ada waktu lagi! Kita harus membuka portalnya lagi, kalau tidak Tuan akan mati!” panik Gavin sambil bergegas menyalakan lilin dan menata ulang semua barang ritualnya.
“Apa yang kalian tunggu?! Cepat bantu aku!” bentak Gavin sambil menolehkan kepalanya sekilas ke arah semua anak buah Xyan yang saat ini masih berdiri di dekat Xyan.
Tapi, bukannya menuruti perkataan Gavin, saat itu juga tiba-tiba salah satu anak buah Xyan berkata “Tu-tuan… Xyan? Barusan… tangannya bergerak,” yang seketika itu juga membuat semua pergerakan tangan Gavin terhenti.
Dan tepat pada saat Gavin menolehkan kepalanya ke belakang, saat itu juga Xyan membuka matanya dan berkata “Aku ada dimana?” dengan ekpresi bingungnya.
“Tu-tuan?!” teriak Gavin bersamaan juga dengan semua anak buah Xyan, yang saat itu juga membuat Xyan mengerutkan dahinya dan dengan reflek terduduk dari tidurnya “Apa-apaan kalian semua?” balas Xyan dengan wajah bingungnya.
***
seperti anak indigo.
“Ja-jadi… Darah Iblis dan kekuatan Iblis Tuan sudah tidak ada lagi?” tanya Gavin dengan ekspresi seriusnya kepada Dokter pria yang saat ini berdiri dihadapannya “Ya, benar begitu,” jawab Dokter pria sambil menolehkan kepalanya ke arah Xyan yang saat ini sedang menyantap makanan sehatnya.
“Karena sekarang aku manusia normal… aku jadi terus merasa lapar!” ucap Xyan dengan ekspresi bingungnya “Itu hal yang wajar,” jawab Dokter pria dihadapan Gavin.
Gavin yang awalnya merasa tidak terima kalau Tuannya menjadi lemah atau menjadi manusia, saat ini mau tidak mau ia harus bersyukur, karena setidaknya Xyan tidak mati dan meninggalkannya “Ya, sampai kapan pun Tuan Xyan akan menjadi pemimpinku!” batin Gavin dengan senyuman tipisnya saat melihat Xyan menyantap makanannya dengan sangat lahap.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, saat Dokter pria yang memeriksa kondisi Xyan sudah keluar dari dalam kamar rawat Xyan, tiba-tiba Xyan teringat dengan wajah Shanika dan menanyakan keberadaan Shanika saat ini kepada Gavin.
Tapi, karena sejak kemarin Gavin hanya fokus pada kondisi Xyan, Gavin sama sekali tidak tahu keberadaan Shanika saat ini ada dimana, di tambah lagi karena Gedung Apartement mengalami kerusakan parah akibat kebakaran, sudah pasti Shanika tidak ada di Apartementnya.
“Hah… Selain membuka portal dunia kegelapan tanpa izinku. Ternyata kalian juga mengabaikan kondisi Shanika, ya?” keluh Xyan tiba-tiba dengan nada bicaranya yang terdengar sangat ketus, sambil mengusap keningnya dengan tangan kanannya.
“Ya?” kaget Gavin, yang seketika itu juga membuat semua anak buah Xyan merasa ngeri dan saling bertatap-tatapan dengan perasaan gugup mereka.
“Sekarang juga… cari dia ada dimana!” perintah Xyan sambil melirikkan tatapan tajamnya dengan nada bicaranya yang sangat tegas dan terdengar penuh ancaman.
“Ba-baik, Tuan!” balas semua anak buah Xyan termasuk juga Gavin dan tanpa berlama-lama langsung bergegas berlari keluar dari dalam kamar rawat Xyan, dengan perasaan takut mereka.
Gavin yang melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, detik itu juga meminta sebagian anak buah untuk pergi ke perusahaan dan beberapanya lagi harus mengikutinya untuk mencari keberadaan Shanika.
Setelah itu, tepat pada saat Gavin sudah duduk di bangku kemudi mobilnya, saat itu juga Gavin bergumam “Walaupun sudah menjadi manusia biasa, Tuan tetap saja menyeramkan! Astaga,” dengan jantungnya yang masih berdebar.
Sedangkan Xyan yang saat ini memperhatikan pergerakkan semua anak buahnya dari jendela kamar rawatnya, hanya bisa tersenyum dan merasakan nafas hingga detak jantungnya yang terasa sangat jauh berbeda dari biasanya.
Hingga beberapa detik kemudian, Dokter pria yang sebelumnya sudah pergi keluar kembali menemui Xyan dan memberitahu Xyan untuk istirahat selama beberapa hari sambil menjalankan perawatan penuh di Rumah Sakit, karena tubuhnya saat ini masih belum sepenuhnya terbiasa menjadi manusia normal.
“Bisa juga, setelah ini akan ada efek samping… saya akan meresepkan beberapa vitamin,” ucap Dokter pria itu lagi dengan wajah seriusnya kepada Xyan.
__ADS_1
“Ya, aku mengerti,” balas Xyan sambil menganggukkan kepalanya secara perlahan dihadapan Dokter karena ia sendiri sudah sangat paham kalau menjadi manusia normal, itu artinya ia harus menerima segala penyakit yang kemungkinan bisa menyerang kesehatan tubuhnya kapan pun itu.