
***
Sekitar beberapa menit kemudian, saat kedua orang tua Shanika dibawa dan dirawat di rumah sakit, Xyan pun segera mengurus semua keperluan dan membayar biaya rumah sakitnya karena ia tahu betul betapa Shanika menyayangi kedua orang tuanya itu, walaupun Xyan sendiri masih belum tahu bagaimana dengan kondisi Shanika saat ini.
Dan dengan perasaan beratnya, Xyan bicara kepada seorang Dokter pria untuk selalu mengawasi kondisi kedua orang tua Shanika dan memberikan perawatan terbaiknya, yang saat itu juga langsung dituruti oleh sang Dokter dengan penuh kepatuhan dan keramahannya kepada Xyan.
Setelah itu Xyan pun kembali menatap kedua orang tua Shanika yang saat ini masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius dan di dalam hatinya, Xyan berjanji kalau ia akan menemukan dan menyelamatkan Shanika untuk kedua orang tuanya itu.
Hingga sekitar lima menit, akhirnya Xyan membalik tubuhnya dan melangkah keluar dari dalam kamar rawat kedua orang tua Shanika. Dengan perasaan tidak tenangnya, tiba-tiba Xyan melihat anak buahnya yaitu Gavin sedang berlari kecil di lorong rumah sakit untuk menemuinya “Apa sudah ketemu?” tanya Xyan dengan wajah seriusnya.
“Sepertinya Tuan harus keluar dari sini terlebih dulu,” balas Gavin yang saat itu juga membuat Xyan dengan reflek segera melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari dalam gedung Rumah Sakit.
Tidak lama kemudian, saat Xyan dan Gavin sudah berada di halaman belakang gedung Rumah Sakit, saat itu juga salah seorang karyawan Siluman Xyan menunjukkan seekor burung gagak hitam yang sudah berhasil mereka kurung di dalam sangkar burung besi.
“Burung gagak ini… Clay?” ucap Xyan sambil menatap burung gagak berwarna hitam pekat yang ada dihadapannya itu dengan sangat lekat.
“Clay? Apa maksud Tuan?” tanya Gavin dengan ekspresi bingungnya kepada Xyan, yang saat itu juga membuat Xyan kembali berkata “Burung ini adalah burung Iblis kesayangan Zoya,” jawab Xyan dengan nada bicaranya yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Ah! Maksud anda… burung pintar yang bisa bicara dan memanggil kawanannya itu?” balas Gavin dengan ekspresi takjubnya sambil terus menatap burung gagak hitam yang sejak tadi hanya membalas tatapan mereka semua dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Salah satu karyawan Siluman yang mendengar perkataan Gavin pun dengan reflek kembali bertanya “Tapi, kenapa sejak tertangkap dia tidak bicara sedikit pun? Padahal jika dia bisa bicara, kita bisa segera tahu keberadaan Nona Shanika,” dengan ekspresi bingungnya kepada burung gagak hitam dihadapannya itu.
“Tentu saja dia tidak akan mau bicara, karena dia hanya akan bicara di depan majikannya!” jawab Xyan dengan nada bicaranya yang ketus dan tatapan matanya yang semakin mengancam kepada burung gagak dihadapannya itu.
Burung Gagak hitam yang merasakan aura Iblis di dalam tubuh Xyan, detik itu juga merasa sangat terintimidasi dan dengan reflek langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Xyan untuk meredakan rasa takutnya sendiri.
“Tidak ada cara lain, kita harus membakarnya!” sambung Xyan yang seketika itu juga membuat Buruk Gagak hitam dihadapannya panik, sedangkan Gavin dan semua Karyawan Silumannya tersentak dan memasang ekspresi bingung mereka lagi kepada Xyan.
“Karena abunya lah yang akan menuntun kita ke tempat persembunyian Zoya,” sambung Xyan lagi sambil menunjuk wajah Burung Gagak dihadapannya itu dengan jari telunjuknya.
Tanpa perasaan ragu dan tanpa berlama-lama lagi, Xyan pun segera mengeluarkan api tak kasat mata dari dalam telapak tangannya dan menjentikkan jari jemarinya, yang seketika itu juga membuat Burung Gagak yang ada di dalam sangkar burung merasa kepanasan dan mulai mengeluarkan asap dari dalam mulutnya, hingga seluruh tubuhnya benar-benar terbakar.
“Baik, Tuan!” balas semua anak buah Xyan dengan sangat patuh.
Xyan yang juga segera memasuki mobilnya bersama Gavin, tanpa banyak berpikir lagi segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai mengendarai mobilnya untuk mengikuti abu Burung Gagak hitam yang mulai berterbangan menuju satu arah, yang hanya bisa dilihat oleh Xyan.
“Shanika, tunggu aku!” batin Xyan selama ia mengikuti arahan dari Abu Burung Gagak, yang diikuti juga oleh semua anak buahnya dari belakang mobilnya yang melaju dengan sangat cepat.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Shanika yang sempat jatuh pingsam mulai menggerakkan kedua bola matanya dan mengerutkan dahinya, karena secara samar ia dapat melihat bayang-bayang kedua orang tuanya yang saat ini sudah selamat dan sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit.
Dengan perasaan leganya, Shanika pun bergumam “Syukurlah,” tanpa menyadari keberaannya saat ini yang entah ada di mana.
“Syukurlah, katamu?” tanya Zoya, yang seketika itu juga membuat Shanika tersentak dan mengangkat kepalanya. Tapi, karena kedua matanya ditutupi oleh kain, Shanika sama sekali tidak bisa melihat apapun dan ia pun baru tersadar, kalau sejak tadi kedua tangannya terikat ke belakang kursi kayu yang sedang ia duduki dengan sangat erat.
“Ugh! Di mana aku?” ucap Shanika sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya.
Detik itu juga, Zoya yang melihat pergerakkan kasar dari Shanika langsung bangkit dari duduknya untuk mengambil air minum sambil berkata “Tenanglah, sekarang kamu masih berada di dunia manusia. Karena aku pikir, Xyan akan mudah untuk menemuimu selama masih di dunia ini,” ucap Zoya sambil tertawa pelan dan mulai meneguk air minumnya dengan sangat santai.
Shanika yang mendengar perkataan Zoya itu pun langsung mengerutkan dahinya dan dengan reflek kembali berkata “Kamu… membuatku menjadi umpan?” dengan perasaan takut sekaligus khawatirnya kepada Xyan, yang belakangan ini sudah mulai kehilangan kekuatan pemulihannya.
“Dengan kondisinya saat ini, Xyan tidak akan bisa menang kalau harus melawan Zoya,” batin Shanika dengan perasaan khawatirnya.
Dan Zoya yang bisa mendengar suara hati manusia, saat itu juga langsung menganggukkan kepalanya dan berkata “Benar sekali, Xyan tidak akan bisa melawanku! Akhirnya kamu sadar juga, kalau aku jauh lebih kuat darinya!” ucap Zoya sambil memasang senyuman tipisnya.
Dengan perasaannya yang sangat kacau, Shanika pun berusaha untuk tetap tegar hingga pada akhirnya ia kembali berkata “Memang bukan Xyan yang akan melawanmu! Entah siapa… Tapi, dia akan membunuh ragamu dan mengurung jiwamu untuk selamanya,” ucap Shanika saat ia melihat bayangan samar dengan kekuatan dari Mata Pengantin Iblis miliknya.
“Apa… katamu?” gumam Zoya dengan ekspresi kagetnya sambil meletakkan gelas minumnya dengan cukup kasar dihadapan Shanika.
__ADS_1
Sambil menunjukkan senyuman sinisnya, Shanika pun kembali berkata “Hah, sepertinya ada orang lain yang jauh lebih membencimu daripada aku, ya!” dengan nada bicaranya yang sangat ketus dan penuh ancaman di telinga Zoya, yang seketika itu juga membuat Zoya merasa tidak tenang.